Cristin yang baru selesai berlatih memilih untuk menyendiri. Bohong kalau dia bilang sudah melupakan semua kepahitan yang dialaminya bertubi-tubi.
Ia melangkah keluar dari ruang latihan itu dan pergi ke sebuah taman yang ada di sana. Gadis itu melihat beberapa bunga lili yang sangat indah berjejer di dekat pagar indah dari bambu runcing yang berbentuk bintang. Cristin sangat tertarik dan melangkah semakin dekat kesana.
"Bunga yang cantik" ucapnya pelan sambil tersenyum. Tiba-tiba ada seorang gadis seumurannya tapi mungkin dibawahnya beberapa bulan yang baru selesai berlatih menyusulnya.
"Hai ka" ucap gadis itu
"Hai, sudah selesai latihan ya?" ucap Cristin sambil menoleh kearah gadis itu.
"Sudah ka" ucapnya
"Siapa nama kakak?" tanya gadis kecil itu
"Aku Cristin, kamu siapa" tanya cristin sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman
"Intan" ucap gadis itu sambil menerima salaman dari Cristin
"Apa kamu sudah lama di sini?" tanya Cristin
"Iya ka, aku sudah lama sejak usia 16 tahun aku dibawa ke sini" ucap Intan
"Lalu keluargamu?" tanya Cristin penasaran
"Keluargaku mengalami musibah dan yang selamat cuma aku karena kakakku dibawa pergi oleh orang-orang yang membunuh orang tuaku" jelas Intan dengan wajahnya yang berubah sedih
"Kurang ajar ya orang-orang itu" ucap Cristin emosi
Flash Bach
Enam tahun lalu, Intan baru berusia 16 tahun sementara kakaknya Ana berusia 22 tahun. Keluarga Intan cukup berpengaruh di kota itu dan Ayahnya adalah orang yang sangat berwibawah serta jujur dalam segala hal.
Suatu malam, saat mereka lagi bersantai di ruang keluarga setelah makan malam, ada beberapa pria bertopeng datang dan membunyikan bel rumah mereka, pak Hendry ayah Intan dengan santai membuka pintu berpikir ada yang bertamu. Namun saat pintu terbuka sedikit, orang- orang itu langsung mendorong hingga pak hendry tersungkur. Dan ternyata para sekuriti yang menjaga malam ini sudah terbunuh.
Intan dan Ana menangis histeris karena melihat langsung ayah dan ibu mereka dibunuh secara tidak manusiawi. Saat orang-orang menyadari keberadaan kedua anak itu dan hendak berlaku buruk, Ana langsung menarik adiknya untuk berlari keluar melalui pintu belakang.
Ana merasa bahwa mereka tidak akan lolos malam ini sehingga ia meminta adiknya agar mereka berlari terpencar ke arah yang berlawanan. Saat di rasa adiknya telah jauh, Ana kembali memancing orang-orang itu agar mereka tidak lagi mengikuti adiknya.
Intan terus berlari hingga kecapaian dan tertidur di salah satu pohon dekat hutan kecil dan disanalah ia sadar saat ia sudah ada disebuah kamar mewah.
Sementara malam ini, malam yang sangat menyedihkan bagi Ana karena ia harus kehilangan kesuciannya di tangan atasan orang jahat itu.
Off
"Sejak malam itu aku tidak bertemu lagi dengan kak Ana" ucap Intan sedih
Cristin membawa sahabat barunya ini masuk dalam pelukannya. Ia bertekad akan membantu sahabatnya ini mencari kakaknya jika suatu saat ia sudah menguasai ilmu bela dirinya.
"Kamu yang sabar ya! walaupun kita seumuran tapi aku lebih dahulu lahir jadi anggaplah aku sebagai saudaramu karena kita sama-sama orang yang tidak punya keluarga di tempat ini" ucap Cristin yang turut meneteskan air mata tanpa disadari oleh Intan
Papa Alex yang baru keluar dari rumah kaca itu tersenyum melihat dua gadis yang saling menguatkan padahal sama-sama rapuh.
"Jika kalian masih ada, pasti papa akan sering melihat pemandangan seperti ini di mana kamu saling menguatkan apalagi kamu sedarah" gumam papa Alex sambil menatap kearah dua gadis itu.
Ia membiarkan mereka menikmati haru biru mereka dan melangkan masuk ke dalam mamsion.
Kedua gadis itupun melepaskan pelukan mereka dan saling tersenyum.
"Yuk, kita masuk" ucap Cristin
"Ayo" balas Intan sambil berdiri dari duduknya.
Keduanya melangkah masuk sambil bergandengan tangan.
"Di mana kamar kamu?" tanya intan
"Lantai 2 kamar nomor 3 setelah papa, kalau kamu" tanya Cristin
"Aku sama di lantai 2 dan kamar nomor 4. Berarti kita berdampingan" ucap Intan senang
Di lantai 2 ada 5 kamar, nomor 1 kamar papa Alex, nomor 2 ruang kerjanya, nomor 3 dan 4 kamar Cristin dan Intan.
Cristin dan Intan kini mulai membangung persaudaraan mereka dengan saling mendukung. Intan yang ilmu bela dirinya sudah diatas Cristin membuat mereka sering menghabiskan waktu di malam hari dalam ruang latihan.
Keduanya yang bertekad untuk menolong dan membantu orang-orang lemah membuat semangat berlatih mereka semakin tinggi. Intan yanh dulunya tidak terlalu fokus bersemangat karena gangguan pikiran akan kakaknya kini mulai berubah. Sementara Cristin yang memilih banyak aktivitas agar dapat melupakan semua masa lalunya bahkan keluarga yang telah membuangnya.
Walaupun tingkat ilmu bela diri mereka berbeda tapi kekuatan mereka sudah setarah karena Cristin yang begitu gigih berlatih siang dan malam.
Aktivitas mereka di malam hari itu tidak lepas dari pantauan papa Alex.
Suatu hari papa Alex meminta kedua gadis itu pergi ke kota untuk berbelanja, diantar seorang sopir pribadi papa Alex.
Kedua gadis itu bersiap dan Cristin tidak lupa dengan masker dan kaca mata gelapnya.
"Tin, kenapa gaya kamu nora begitu?" ucap Intan
"Aku hanya ingin melindungi diriku" jawabnya santai
"Lalu apa gunanya kamu berlatih siang dan malam?" tanya Intan bingung
"Kamu masih terlalu dini untuk mengerti masalah orang dewasa" ucap Cristin yang gemas dengan saudaranya yang keponya tingkat dewa
"Hei, usia kita cuma beda 2 bulan lebih jadi jangan gaya ya" ucap Intan tidak terima dikata anak kecil padahal mereka seumuran
"Tapi masalah ini kamu belum berpengalaman" ucap Cristin
"Memangnya kamu sudah pernah menikah?" tanya Intan semakin penasaran
"Iya" jawabnya singkat
"Whats???? sejak kapan? terus kenapa kamu tinggalkan dia? apa dia jelek atau dia sudah tua? dan...."
"Stop!!" ucap Cristin yang pusing dengan pertanyaan Intan yang seperti rem blong itu.
"Kamu itu kalau bertanya pakai spasi Tan???" ucap Cristin lagi
"Iya Tin tapi akukan penasaran, seperti apa sih suami kamu?" lanjut gadis bermulut lemes itu
"No... bukan suami tapi mantan suami oke?" ucap Cristin membenarkan ucapan Intan
"Whatss? Tin, kamu kog rahasianya banyak sekali?" ucap Intan
"Aku memang manusia misteri, aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri" ucap Cristin tenang
"Apa kamu amnesia Tin? jangan bicara yang serba ngaur, buatku jadi takut dekat denganmu" ucap Intan yang merasa aneh dengan sahabatnya
Sejak tadi ada sepasang telinga yang menyimak pembicaraan mereka dari balik guci besar yang ada di ruangan itu.
Gadis kecil yang hidupnya serba misteri itu membuatnya bingung, apalagi baru saja gadis itu mengakui bahwa dia pernah menikah.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Siti Komariyah
tan dan tin jadinya tan tin🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-08-26
0
Kar Genjreng
ah inten cere pakai banget aduh😁😁😁 kepo super tinggkat dewa
2022-08-05
0
Tri Wijayanti
ada yg ceppuuuuu
2022-08-02
1