Bab 20. Lamaran

Malam itu Indira benar-benar mengalami dilema, dia tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Dirga. Dia menyatakan cinta, tapi dia juga mengatakan tidak bisa bersama. Terlebih, sebelum berpisah dia sempat mengatakan hal yang membuat Indira semakin rapuh hatinya. Bahkan Dirga mencium keningnya cukup lama.

"Aku tidak berhenti peduli, aku masih memperhatikanmu dari jauh. Hanya saja, aku sadar masih ada orang yang bisa membuat senyummu semakin indah. Aku mohon Indira, hiduplah dengan bahagia," pinta Dirga.

Belum reda kegalauannya semalam, siang ini Athaya datang kerumahnya bersama orangtua dan keluarganya. Indira tercengang, terlebih ketika tujuan Athaya adalah untuk melamar Indira. Bunda Gisya memanggil Indira yang sejak tadi terdiam membisu.

"Dira! Ayok kita turun, Nak. Athaya dan keluarganya sudah menunggu," ucap Bunda Gisya membuyarkan lamunan Indira.

"Ma-maksudnya gimana, Bun?" Indira masih belum paham dengan apa yang dikatakan oleh sang Bunda.

"Dek, kamu jangan becanda! Athaya sama orangtuanya udah ada dibawah buat ngelamar kamu, jangan bilang kalo kamu gak tau!" Bunda Gisya sangat kesal pada putrinya.

Tak ingin mempermalukan kedua orangtuanya, Indira terpaksa turun setelah berganti pakaian. Dia memaksakan senyum di wajahnya, meskipun jujur saja Indira kecewa terhadap Athaya. Sebab Athaya tidak pernah membicarakan mengenai lamarannya. Kini semuanya sudah terlanjur, Indira berpikir mungkin inilah takdir Allah yang diberikan untuknya.

Indira tak pecaya dengan apa yang dilihatnya, Athaya benar-benar diluar dugaannya. Halaman samping rumahnya sudah terpasang dekorasi, bahkan Mama Febri sedang sibuk menata makanan sekarang. Indira menoleh pada sang Bunda, ingin rasanya dia mempertanyakan semua ini. Tapi sepertinya itu tak mungkin, sebab semua tamu sudah datang.

Kini Athaya dan Indira sudah saling berhadapan, senyum merekah terlihat diwajah tampan Athaya. Berbeda dengan Indira yang memaksakan senyumnya.

"Bismillahirahmanirahim.. Indira Myesha Kirania Syafa, berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata. Dengan dirimu, aku selalu bahagia. Kamu adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kamu untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kamu untuk menjadi pilihanku? Menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kamu menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata?" tanya Athaya membuat Indira menunduk menahan rasa sakit yang terasa dalam dadanya.

Andai saja yang mengatakan semua itu adalah Dirga, maka dengan segenap hati dia akan mengiyakannya. Sayangnya semua itu hanyalah khayalannya, Dirga akan menjadi milik orang lain. Sambil menghela nafas, Indira mulai memberikan jawabannya.

"Bismillahirahmanirahim.. Sebelumnya aku minta maaf, jujur saja aku kaget mendengar kamu datang tanpa memberitahuku lebih dulu. Terlebih tujuanmu adalah untuk melamarku, tapi mungkin ini adalah jalan yang telah Allah berikan untukku. InshaAllah aku menerima lamaranmu, Athaya," Indira berucap tanpa menoleh, dia hanya menunduk.

"Alhamdulillah........"

Athaya bersyukur, sangat bersyukur sekali. Kini dia telah berhasil mengikat Indira dalam hubungan serius, hubungan menuju jenjang pernikahan. Bunda Gisya menyematkan cincin dijari manis milik Athaya, dan Ummi Athaya menyematkan cincin dijari manis milik Indira. Karena tak kuat menahan airmatanya, Indira meminta ijin untuk pergi ke kamarnya.

"Dira! Aku mau bicara," pinta Athaya menahan lengan Indira yang akan menaiki tangga.

"Aku mau ke kamar mandi," ucap Indira beralasan.

"Ini soal Mas Yoga mu!"

Deg!

Indira berbalik arah, dia mengajak Athaya untuk berbicara ditaman belakang.

"Apa maksud kamu?!" demi apapun Indira sangat kesal pada Athaya.

"Aku tau semalem kamu gak langsung pulang, kamu pergi sama dia kan?! Aku tau semuanya Indira!" Athaya menaikan satu oktaf suaranya.

"Jadi kamu ngikutin aku?! Sejak kapan kamu jadi seorang penguntit!" geram Indira.

"Ya! Aku ngikutin kamu, bahkan aku tau! Dia sudah mencium keningmu, bahkan berhasil menguasai seluruh hatimu!" Athaya menatap Indira dengan tatapan penuh amarah.

"Kalo kamu tau kenapa kamu maksain buat ngelamar aku, Athaya. Kenapa?" lirih Indira.

"Lantas dari kisah ini, aku yang terbawa perasaan atau kamu yang terlalu banyak memberikan harapan? Selama ini, setiap waktu aku selalu ada buat kamu Indira! Dan kemaren, aku tanya sama kamu soal lamaran ini, dan kamu ngangguk! Ingat-ingat itu, Indira!" karena kecewa Athaya pergi meninggalkan Indira yang tengah menangis sesegukan.

Dibalik tembok, Husain mendengarkan pembicaraan Indira dan juga Athaya. Sebagai seorang Kakak, dia tidak menyangka jika hubungan asmara adiknya itu lebih menyakitkan. Husain menghampiri Athaya yang kini tengah duduk sendirian didepan.

"Jangan nikahi seseorang yang kau bisa hidup dengannya, tapi nikahilah seseorang yang kau pikir tak bisa hidup tanpanya. Athaya, terkadang kita harus mengalah demi orang yang kita cintai. Jujur saja Abang kecewa pada Indira, dia terlalu introvert. Dia sendiri bahkan tidak pernah bisa mengatakan perasaan yang sesungguhnya," ucapan Husain membuat Athaya tertunduk lesu.

"Aku takut kehilangannya, Bang! Demi Allah, aku mencintainya. Hanya dia yang selalu kusebut dalam setiap do'aku," lirih Athaya.

Husain menepuk bahu Athaya, mencoba menguatkan laki-laki yang telah berjasa menemani istrinya selama di Turki dulu.

"Athaya, cinta selalu punya cara untuk menentukan arahnya sendiri. Dia akan datang tepat pada waktunya dan akan pergi jika memang sudah waktunya. Jadikanlah dirimu sebagai lautan yang luas, bagaimanapun sikap Indira harus kamu terima dengan tawakal dan dengan iman yang tebal. Semoga Indira memang jodohmu, dan sebagai Kakak aku memintamu untuk tidak menyakitinya," selesai mengatakan itu, Husain pergi meninggalkan Athaya.

Sedangkan dikamar, Indira tengah menangis dalam diam. Dia hanya meremas ujung sprei tempat tidurnya. Menyalurkan setiap rasa sakit yang membelenggu hatinya.

Ceklek

Ayah Fahri membuka pintu kamar Indira. Ketika melihat putrinya menangis, dia langsung berhambur memeluk tubuh anak bungsunya itu.

"Kenapa semuanya jadi gini, Ayah? Kenapa semesta gak pernah berpihak padaku? Hanya dia yang selalu kusebut dalam do'aku, Ayah!" lirih Indira dipelukan sang Ayah.

"Bukan semesta yang jahat, Nak. Tapi kita yang ditakdirkan untuk menjadi kuat. Apapun jalan yang Allah berikan, itu pasti yang terbaik untukmu," Ayah Fahri menasehati Indira sambil mengusap lembut kepala putrinya.

Indira masih menangis sesegukan, dia menumpahkan seluruh isi hatinya pada sang Ayah.

"Kenapa secara kebetulan, harus Dirga yang menjadi malaikat penolongku, Ayah! Kalo aja sampe sekarang aku gak tau siapa dia, mungkin aku gak akan sesakit ini," lirih Indira.

"Tidak pernah ada yang kebetulan didunia ini, sayang. Semua yang datang pada kita telah ditakdirkan oleh Allah. Mereka memiliki porsi untuk membentuk pribadi kita. Yang baik melatih kita untuk bersyukur dan yang buruk melatih kita untuk bersabar. Jadi ambilah hikmah dari semua ini, karena tahta tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan," ucap Ayah Fahri.

Tok tok tok

"Dira! Boleh aku bicara sebentar?" Athaya terkejut karena Ayah Fahri yang membukanya.

"Kalian bicaralah baik-baik, selesaikan urusan kalian berdua," titah Ayah.

"Makasih, Om!"

Kini Athaya dan Indira tengah duduk berdua, kamar Indira dibiarkan terbuka agar tidak menjadi fitnah. Lidah keduanya terasa kelu untuk berucap.

"Maafkan aku, Dira! Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperjuangkan cintaku. Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu," lirih Athaya.

"Semuanya sudah terjadi, Athaya. Dijari manis kita juga sudah tersemat cincin, jadi mari kita mencoba menjalani semuanya. Mungkin memang ini sudah jalannya," ucap Indira.

"Terimakasih Dira! Terimakasih banyak, aku mencintaimu karena Allah," Athaya mengelus lembut kepala Indira.

Setelah acara selesai, Athaya bersama keluarganya pulang. Indira kembali kekamar, dia menaruh kalung yang selalu menggantung dilehernya. Kalung yang diberikan oleh Dirga, dia menaruh semuanya dalam sebuah kotak.

"Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya. Bebaskan dia, aku akan mendo'akan kebahagiaan untuknya. Mungkin Allah membuat kisah hidup kita berjalan dengan seseorang hanya untuk sebagai teman di suatu masa. Tapi tidak sebagai pasangan selamanya, Mas Yoga semoga kamu selalu berbahagia bersama orang yang kau pilih," tangis Indira menetes di kalung milik Dirga.

Sedangkan kini, Dirga tengah terbaring bersiap untuk menjalani operasi kedua pada luka tembak di dadanya. Dia menghirup nafas panjang, sebelum menutup matanya dia menatap foto dirinya bersama Indira.

"Berbahagialah dengannya, Syafa. Semoga setelah ini, aku masih bisa melihat senyum indah di wajahmu. Meskipun bukan aku yang membuatmu tersenyum bahagia," batin Dirga.

* * * * *

Semoga suka dengan ceritanya...

Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

Dukung Author terus ya!

Salam Rindu, Author ❤

Terpopuler

Comments

Chelsea Aulia

Chelsea Aulia

Kau menebar kan banyak bawang kk author,,,, tetap jadikan satu antara syafa n mas yoga,,,,

2022-02-19

0

Maya Puspita

Maya Puspita

Thor tambah lg dong up nya

2022-02-13

1

Lili Suryani Yahya

Lili Suryani Yahya

Astagaaaa Dirga, yg sabar yaaaaa semoga cepat sembuh yaaaa💪💪💪💪😭😭😭

2022-02-13

1

lihat semua
Episodes
1 1. I'M INTROVERT
2 Bab 2. Berkemah
3 Bab 3. Menemukan, tapi ternyata Bukan kamu
4 Bab 4. Dirga Agung Prayoga
5 Bab 5. Sahabat Baik
6 Bab 6. Panji Sang Penakluk
7 Bab 7. Kisah kasih di sekolah
8 Bab 8. New Chapter
9 Bab 9. HUJAN
10 Bab 10. Kisah Hidup Athaya
11 Bab 11. Cinta yang Rumit
12 Bab 12. Selalu ada luka
13 Bab 13. Persimpangan Dilema
14 Bab 14. Sebuah Rahasia
15 Bab 15. Tentang Seseorang
16 Bab 16. Mengikuti Alur
17 Bab 17. You're Mine
18 Bab 18. Kesedihan Indira
19 Bab 19. Cinta Tak Mungkin Berhenti
20 Bab 20. Lamaran
21 Bab 21. Rencana Aini
22 Bab 22. KKN di Sukabumi
23 Bab 23. Kebetulan macam apa ini?!
24 Bab 24. Tanggung Jawab
25 Bab 25. Rasa Kehilangan
26 Bab 26. Sebuah Kenyataan
27 Bab 27. Penyesalan
28 Bab 28. Sebuah Keputusan
29 PENGUMUMAN
30 Bab 29. Dua Cincin
31 Bab 30. Siuman
32 Bab 31. Menunggu
33 Bab 32. Ada apa dengan Cinta
34 Bab 33. Niat Baik Athaya
35 Bab 34. Perjuangan
36 Bab 35. Nikah Dadakan
37 Bab 36. Jadi Ipar
38 Bab 37. Masalah
39 Bab 38. Orang Yang tepat
40 Bab 39. Sebuah tanggung jawab
41 Bab 40. Malang
42 Bab 41. Menghindar
43 Bab 42. Rumah Tangga
44 Bab 43. Drama Kejepit
45 Bab 44. Pelabuhan Ratu
46 Bab 45. Tugas Pertama
47 Bab 46. Hari ini, Mas Milikmu!
48 Bab 47. Pergi tuk kembali
49 Bab 48. Bibit Unggul
50 Bab 49. Ngidam?
51 Bab 50. Jeruk Bali
52 Bab 51. Kembali Pulang
53 Bab 52. Dirga vs Athaya
54 Bab 53. H-1 Akad Aini Athaya
55 Bab 54. Pelabuhan Terakhir
56 Bab 55. Madu Asmara
57 Bab 56. Kelahiran
58 Bab 57. Gemma Giacinta Indirga
59 Bab 58. Aqiqah Gemma
60 Bab 59. Sulitnya menjadi Ibu
61 Bab 60. Persimpangan Dilema
62 Kabar Bahagia
63 Bab 62. Kegiatan bersama
64 Ulang Tahun Pertama, Gemma.
65 Bab 64. Ujian Pernikahan
66 Bab 65. Kelahiran Adzka
67 Bab 66. Yang datang dan yang pergi
68 Bab 67. Duka diatas Luka
69 Bab 68. Memulai Kembali
Episodes

Updated 69 Episodes

1
1. I'M INTROVERT
2
Bab 2. Berkemah
3
Bab 3. Menemukan, tapi ternyata Bukan kamu
4
Bab 4. Dirga Agung Prayoga
5
Bab 5. Sahabat Baik
6
Bab 6. Panji Sang Penakluk
7
Bab 7. Kisah kasih di sekolah
8
Bab 8. New Chapter
9
Bab 9. HUJAN
10
Bab 10. Kisah Hidup Athaya
11
Bab 11. Cinta yang Rumit
12
Bab 12. Selalu ada luka
13
Bab 13. Persimpangan Dilema
14
Bab 14. Sebuah Rahasia
15
Bab 15. Tentang Seseorang
16
Bab 16. Mengikuti Alur
17
Bab 17. You're Mine
18
Bab 18. Kesedihan Indira
19
Bab 19. Cinta Tak Mungkin Berhenti
20
Bab 20. Lamaran
21
Bab 21. Rencana Aini
22
Bab 22. KKN di Sukabumi
23
Bab 23. Kebetulan macam apa ini?!
24
Bab 24. Tanggung Jawab
25
Bab 25. Rasa Kehilangan
26
Bab 26. Sebuah Kenyataan
27
Bab 27. Penyesalan
28
Bab 28. Sebuah Keputusan
29
PENGUMUMAN
30
Bab 29. Dua Cincin
31
Bab 30. Siuman
32
Bab 31. Menunggu
33
Bab 32. Ada apa dengan Cinta
34
Bab 33. Niat Baik Athaya
35
Bab 34. Perjuangan
36
Bab 35. Nikah Dadakan
37
Bab 36. Jadi Ipar
38
Bab 37. Masalah
39
Bab 38. Orang Yang tepat
40
Bab 39. Sebuah tanggung jawab
41
Bab 40. Malang
42
Bab 41. Menghindar
43
Bab 42. Rumah Tangga
44
Bab 43. Drama Kejepit
45
Bab 44. Pelabuhan Ratu
46
Bab 45. Tugas Pertama
47
Bab 46. Hari ini, Mas Milikmu!
48
Bab 47. Pergi tuk kembali
49
Bab 48. Bibit Unggul
50
Bab 49. Ngidam?
51
Bab 50. Jeruk Bali
52
Bab 51. Kembali Pulang
53
Bab 52. Dirga vs Athaya
54
Bab 53. H-1 Akad Aini Athaya
55
Bab 54. Pelabuhan Terakhir
56
Bab 55. Madu Asmara
57
Bab 56. Kelahiran
58
Bab 57. Gemma Giacinta Indirga
59
Bab 58. Aqiqah Gemma
60
Bab 59. Sulitnya menjadi Ibu
61
Bab 60. Persimpangan Dilema
62
Kabar Bahagia
63
Bab 62. Kegiatan bersama
64
Ulang Tahun Pertama, Gemma.
65
Bab 64. Ujian Pernikahan
66
Bab 65. Kelahiran Adzka
67
Bab 66. Yang datang dan yang pergi
68
Bab 67. Duka diatas Luka
69
Bab 68. Memulai Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!