Malam itu Indira benar-benar mengalami dilema, dia tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Dirga. Dia menyatakan cinta, tapi dia juga mengatakan tidak bisa bersama. Terlebih, sebelum berpisah dia sempat mengatakan hal yang membuat Indira semakin rapuh hatinya. Bahkan Dirga mencium keningnya cukup lama.
"Aku tidak berhenti peduli, aku masih memperhatikanmu dari jauh. Hanya saja, aku sadar masih ada orang yang bisa membuat senyummu semakin indah. Aku mohon Indira, hiduplah dengan bahagia," pinta Dirga.
Belum reda kegalauannya semalam, siang ini Athaya datang kerumahnya bersama orangtua dan keluarganya. Indira tercengang, terlebih ketika tujuan Athaya adalah untuk melamar Indira. Bunda Gisya memanggil Indira yang sejak tadi terdiam membisu.
"Dira! Ayok kita turun, Nak. Athaya dan keluarganya sudah menunggu," ucap Bunda Gisya membuyarkan lamunan Indira.
"Ma-maksudnya gimana, Bun?" Indira masih belum paham dengan apa yang dikatakan oleh sang Bunda.
"Dek, kamu jangan becanda! Athaya sama orangtuanya udah ada dibawah buat ngelamar kamu, jangan bilang kalo kamu gak tau!" Bunda Gisya sangat kesal pada putrinya.
Tak ingin mempermalukan kedua orangtuanya, Indira terpaksa turun setelah berganti pakaian. Dia memaksakan senyum di wajahnya, meskipun jujur saja Indira kecewa terhadap Athaya. Sebab Athaya tidak pernah membicarakan mengenai lamarannya. Kini semuanya sudah terlanjur, Indira berpikir mungkin inilah takdir Allah yang diberikan untuknya.
Indira tak pecaya dengan apa yang dilihatnya, Athaya benar-benar diluar dugaannya. Halaman samping rumahnya sudah terpasang dekorasi, bahkan Mama Febri sedang sibuk menata makanan sekarang. Indira menoleh pada sang Bunda, ingin rasanya dia mempertanyakan semua ini. Tapi sepertinya itu tak mungkin, sebab semua tamu sudah datang.
Kini Athaya dan Indira sudah saling berhadapan, senyum merekah terlihat diwajah tampan Athaya. Berbeda dengan Indira yang memaksakan senyumnya.
"Bismillahirahmanirahim.. Indira Myesha Kirania Syafa, berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata. Dengan dirimu, aku selalu bahagia. Kamu adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kamu untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kamu untuk menjadi pilihanku? Menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kamu menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata?" tanya Athaya membuat Indira menunduk menahan rasa sakit yang terasa dalam dadanya.
Andai saja yang mengatakan semua itu adalah Dirga, maka dengan segenap hati dia akan mengiyakannya. Sayangnya semua itu hanyalah khayalannya, Dirga akan menjadi milik orang lain. Sambil menghela nafas, Indira mulai memberikan jawabannya.
"Bismillahirahmanirahim.. Sebelumnya aku minta maaf, jujur saja aku kaget mendengar kamu datang tanpa memberitahuku lebih dulu. Terlebih tujuanmu adalah untuk melamarku, tapi mungkin ini adalah jalan yang telah Allah berikan untukku. InshaAllah aku menerima lamaranmu, Athaya," Indira berucap tanpa menoleh, dia hanya menunduk.
"Alhamdulillah........"
Athaya bersyukur, sangat bersyukur sekali. Kini dia telah berhasil mengikat Indira dalam hubungan serius, hubungan menuju jenjang pernikahan. Bunda Gisya menyematkan cincin dijari manis milik Athaya, dan Ummi Athaya menyematkan cincin dijari manis milik Indira. Karena tak kuat menahan airmatanya, Indira meminta ijin untuk pergi ke kamarnya.
"Dira! Aku mau bicara," pinta Athaya menahan lengan Indira yang akan menaiki tangga.
"Aku mau ke kamar mandi," ucap Indira beralasan.
"Ini soal Mas Yoga mu!"
Deg!
Indira berbalik arah, dia mengajak Athaya untuk berbicara ditaman belakang.
"Apa maksud kamu?!" demi apapun Indira sangat kesal pada Athaya.
"Aku tau semalem kamu gak langsung pulang, kamu pergi sama dia kan?! Aku tau semuanya Indira!" Athaya menaikan satu oktaf suaranya.
"Jadi kamu ngikutin aku?! Sejak kapan kamu jadi seorang penguntit!" geram Indira.
"Ya! Aku ngikutin kamu, bahkan aku tau! Dia sudah mencium keningmu, bahkan berhasil menguasai seluruh hatimu!" Athaya menatap Indira dengan tatapan penuh amarah.
"Kalo kamu tau kenapa kamu maksain buat ngelamar aku, Athaya. Kenapa?" lirih Indira.
"Lantas dari kisah ini, aku yang terbawa perasaan atau kamu yang terlalu banyak memberikan harapan? Selama ini, setiap waktu aku selalu ada buat kamu Indira! Dan kemaren, aku tanya sama kamu soal lamaran ini, dan kamu ngangguk! Ingat-ingat itu, Indira!" karena kecewa Athaya pergi meninggalkan Indira yang tengah menangis sesegukan.
Dibalik tembok, Husain mendengarkan pembicaraan Indira dan juga Athaya. Sebagai seorang Kakak, dia tidak menyangka jika hubungan asmara adiknya itu lebih menyakitkan. Husain menghampiri Athaya yang kini tengah duduk sendirian didepan.
"Jangan nikahi seseorang yang kau bisa hidup dengannya, tapi nikahilah seseorang yang kau pikir tak bisa hidup tanpanya. Athaya, terkadang kita harus mengalah demi orang yang kita cintai. Jujur saja Abang kecewa pada Indira, dia terlalu introvert. Dia sendiri bahkan tidak pernah bisa mengatakan perasaan yang sesungguhnya," ucapan Husain membuat Athaya tertunduk lesu.
"Aku takut kehilangannya, Bang! Demi Allah, aku mencintainya. Hanya dia yang selalu kusebut dalam setiap do'aku," lirih Athaya.
Husain menepuk bahu Athaya, mencoba menguatkan laki-laki yang telah berjasa menemani istrinya selama di Turki dulu.
"Athaya, cinta selalu punya cara untuk menentukan arahnya sendiri. Dia akan datang tepat pada waktunya dan akan pergi jika memang sudah waktunya. Jadikanlah dirimu sebagai lautan yang luas, bagaimanapun sikap Indira harus kamu terima dengan tawakal dan dengan iman yang tebal. Semoga Indira memang jodohmu, dan sebagai Kakak aku memintamu untuk tidak menyakitinya," selesai mengatakan itu, Husain pergi meninggalkan Athaya.
Sedangkan dikamar, Indira tengah menangis dalam diam. Dia hanya meremas ujung sprei tempat tidurnya. Menyalurkan setiap rasa sakit yang membelenggu hatinya.
Ceklek
Ayah Fahri membuka pintu kamar Indira. Ketika melihat putrinya menangis, dia langsung berhambur memeluk tubuh anak bungsunya itu.
"Kenapa semuanya jadi gini, Ayah? Kenapa semesta gak pernah berpihak padaku? Hanya dia yang selalu kusebut dalam do'aku, Ayah!" lirih Indira dipelukan sang Ayah.
"Bukan semesta yang jahat, Nak. Tapi kita yang ditakdirkan untuk menjadi kuat. Apapun jalan yang Allah berikan, itu pasti yang terbaik untukmu," Ayah Fahri menasehati Indira sambil mengusap lembut kepala putrinya.
Indira masih menangis sesegukan, dia menumpahkan seluruh isi hatinya pada sang Ayah.
"Kenapa secara kebetulan, harus Dirga yang menjadi malaikat penolongku, Ayah! Kalo aja sampe sekarang aku gak tau siapa dia, mungkin aku gak akan sesakit ini," lirih Indira.
"Tidak pernah ada yang kebetulan didunia ini, sayang. Semua yang datang pada kita telah ditakdirkan oleh Allah. Mereka memiliki porsi untuk membentuk pribadi kita. Yang baik melatih kita untuk bersyukur dan yang buruk melatih kita untuk bersabar. Jadi ambilah hikmah dari semua ini, karena tahta tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan," ucap Ayah Fahri.
Tok tok tok
"Dira! Boleh aku bicara sebentar?" Athaya terkejut karena Ayah Fahri yang membukanya.
"Kalian bicaralah baik-baik, selesaikan urusan kalian berdua," titah Ayah.
"Makasih, Om!"
Kini Athaya dan Indira tengah duduk berdua, kamar Indira dibiarkan terbuka agar tidak menjadi fitnah. Lidah keduanya terasa kelu untuk berucap.
"Maafkan aku, Dira! Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperjuangkan cintaku. Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu," lirih Athaya.
"Semuanya sudah terjadi, Athaya. Dijari manis kita juga sudah tersemat cincin, jadi mari kita mencoba menjalani semuanya. Mungkin memang ini sudah jalannya," ucap Indira.
"Terimakasih Dira! Terimakasih banyak, aku mencintaimu karena Allah," Athaya mengelus lembut kepala Indira.
Setelah acara selesai, Athaya bersama keluarganya pulang. Indira kembali kekamar, dia menaruh kalung yang selalu menggantung dilehernya. Kalung yang diberikan oleh Dirga, dia menaruh semuanya dalam sebuah kotak.
"Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya. Bebaskan dia, aku akan mendo'akan kebahagiaan untuknya. Mungkin Allah membuat kisah hidup kita berjalan dengan seseorang hanya untuk sebagai teman di suatu masa. Tapi tidak sebagai pasangan selamanya, Mas Yoga semoga kamu selalu berbahagia bersama orang yang kau pilih," tangis Indira menetes di kalung milik Dirga.
Sedangkan kini, Dirga tengah terbaring bersiap untuk menjalani operasi kedua pada luka tembak di dadanya. Dia menghirup nafas panjang, sebelum menutup matanya dia menatap foto dirinya bersama Indira.
"Berbahagialah dengannya, Syafa. Semoga setelah ini, aku masih bisa melihat senyum indah di wajahmu. Meskipun bukan aku yang membuatmu tersenyum bahagia," batin Dirga.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Chelsea Aulia
Kau menebar kan banyak bawang kk author,,,, tetap jadikan satu antara syafa n mas yoga,,,,
2022-02-19
0
Maya Puspita
Thor tambah lg dong up nya
2022-02-13
1
Lili Suryani Yahya
Astagaaaa Dirga, yg sabar yaaaaa semoga cepat sembuh yaaaa💪💪💪💪😭😭😭
2022-02-13
1