Sudah tiga hari ini, Dirga tidak masuk sekolah. Panji dan Eki sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Sejak malam itu, ponsel Dirga tidak bisa dihubungi. Setiap kerumah Neneknya, selalu tidak ada orang disana. Tapi mereka tidak menyerah, pagi ini sebelum berangkat mereka menyempatkan untuk mampir. Dan benar saja, Nenek Dirga sudah bersiap untuk pergi.
Panji dan Eki segera menghampiri mereka, sebelum mobil itu melaju.
"Assalamu'alaikum, Nek!" ucap Panji dan Eki bersamaan.
"Walaikumsalam, kalian siapa?" tanya Kakek pada Panji dan juga Eki.
"Kek, ini Panji sama Eki! Masa Kakek lupa," sahut Panji.
"Panca kaki? Maksudnya gimana?" tanya Kakek yang memang sudah mengalami gangguan pendengaran.
"Yaa Allah, gue lupa Aki si Dirga budeg!" batin Panji lalu menatap Eki.
"Nek, Dirga kok udah tiga hari gak masuk sekolah?" tanya Eki pada Nenek Dirga.
Tanpa menjawab, Nenek Dirga meminta keduanya masuk kedalam mobil.
"Lho kok mereka dibawa?" tanya Kakek pada sang istri.
"Mereka itu sahabat baiknya Dirga," jawab Nenek.
"Oh guru yoga, kok pake seragam sekolah? Temennya kali," ucap sang Kakek.
"Yaa Allah, Nenek bisa sabar ya ngomong sama orang budeg," celetuk Panji.
"Kamu ngatain saya budeg?!" kesal Kakek.
"Yaaahhh.. Dia nyaut," ucap Panji sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kini mereka sudah sampai di Rumah Sakit, Panji dan Eki saling menatap. Sebelumnya mereka sudah meminta ijin pada guru BK dengan alasan menengok Dirga.
"Nek, Dirga baik-baik aja kan?" tanya Panji saat mereka melihat ruangan bertuliskan ruang jenazah.
"Kamu kira Dirga mati?!" ketus Nenek membuat Panji gelagapan.
"Gak gitu konsepnya, Nenek! Abis serem lewat sini," Panji bergidik ngeri.
"Dirga itu mau bunuh diri, untung aja ada yang nyelametin," celetuk Kakek mambuat Panji dan Eki tersentak kaget.
"Apaaa?!! Bunuh diri?!!" teriak Eki dan Panji bersamaan.
"Kalian pikir Kakek budeg?! Pake teriak dikuping segala!" kesal Kakek, pasalnya mereka berdua berteriak disisi dan dikanan sang Kakek.
Panji dan Eki kini hanya menurut berjalan mengikuti Kakek dan Nenek Dirga. Mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Kini mereka sudah sampai di ruangan Anggrek, sebuah ruangan VVIP yang tak sembarang orang bisa masuk. Mereka sangat tercengang, bahkan mereka lupa jika Dirga adalah anak dari Agung Dirgantara. Hati mereka meringis ketika melihat Dirga terkulai lemas dengan infus ditangannya.
Orangtua Dirga menyambut Panji dan juga Eki, tepatnya hanya Mama Dirga. Mereka tau jika keduanya adalah sahabat baik Dirga selama ini.
"Panji, Eki, kalian apa kabar?" tanya Mama Dirga.
"Baik tante, Dirga gimana keadaannya?" tanya Panji to the point.
"Dirga masih gak mau makan dan gak mau ngomong sama kami, tolong bujuk Dirga supaya mau makan ya," lirih Mama Dirga.
"Kita usahain tante," ucap Eki lalu menghampiri Dirga yang tengah berbaring dengan tatapan kosong.
Demi Tuhan, hati Panji dan Eki terasa sangat sakit. Dirga adalah orang yang tak pernah mengeluhkak apapun, dia adalah anak yang kuat. Siapa sangka, Dirga akan seperti ini.
"Bro! Kangen gua, kagak ada lu disekolah sepi!" ucap Eki membuyarkan lamunan Dirga.
"Panji? Eki? Lu berdua ngapain disini?" tanya Dirga yang kaget.
"Jengukin elu lah, bambang!" celetuk Panji membuat Dirga tersenyum.
"Kalian bolos sekolah?" tanya Dirga lagi.
"Enak aja, kagak ada ya murid teladan kaya gua bolos! Udah ijin kali gua sama Bu Tati, lagian lu ngilang gitu aja kek jin!" celetuk Panji membuat Dirga sedikit tertawa.
Kedua orangtua Dirga bernafas lega, kini Dirga kembali seperti biasanya. Tapi sayangnya, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama.
"Ji, tolong dong suruh mereka pergi! Gerah, terlalu banyak neraka disini," ucap Dirga membuat Panji dan Eki hanya bisa saling tatap, sedangkan Papa Dirga murka.
"Dirga! Jaga bicaramu!" bentak Papa Dirga.
"Kalo enggak, hubungin suster deh, Ki! Gue mau balik!" ucap Dirga tanpa memperdulikan ucapan sang Papa.
Akhirnya kedua orangtua Dirga mengalah, mereka menunggu diluar ruangan.
"Sialan! Anak itu mengacuhkanku, besar kepala sekali dia!" geram Papa Dirga.
"Gak enak rasanya diacuhkan?! Itulah yang dirasakan oleh cucuku selama ini! Hanya karena mitos, kamu hampir menghilangkan nyawa cucuku!" teriak Nenek Dirga.
"Cukup! Sekarang bagiku, yang terpenting Dirga bisa seperti dulu! Sudah cukup aku mengabaikan putraku satu-satunya, dan jangan egois!" sentak Mama Dirga pada suaminya.
Sementara didalam, Dirga akhirnya mau makan dengan lahapnya.
"Anjay, ngeri gua! Lu kaya kagak makan tiga hari aja," celetuk Panji.
"Emang gue gak makan tiga hari!" ucap Dirga dengan mulut penuh makanan.
"Kagak usah ngomong, nyembur kemana-mana lu kalo ngomong!" kesal Eki.
"Kayak mbah dukun lu, nyembur-nyembur!' ucap Panji sambil memakan jeruk yang ada dimeja.
"Kaga tau malu lu, Ji! Bukannya bawa makanan kalo nengok, lu malah ngabisi!" Eki menatap tajam Panji sambil melipat tangan didada.
Panji hanya nyengir kuda, lalu berhenti memakan jeruk dan membantu Dirga membereskan piring yang berisi sisa makanan. Kini mereka sedang berbincang-bincang.
"Ga! Lu kenapa bisa nekat sih? Gua khawatir tau, mana yang luka?" tanya Eki.
"Kagak ada yang luka, racunnya dalem tubuh gue mungkin," jawab Dirga dengan polosnya.
"Emang lu bunuh dirinya gimana?" tanya Eki yang penasaran.
"Cuman minum baygon sebotol doang," ucap Dirga dengan mudahnya.
"Yaa Allah, Yaa Tuhan kami! Sebotol lu bilang doang? Heh sendal jepit pak sapto, lu pikir bisa mati minum gituan?! Kenapa kaga nabrakin diri aja ke truk atau terjun dari lantai 10 aja lu sekalian?! Empet gua sama lu, Ga!" geram Panji.
"Heh! Lu ngasih motivasi apa gimana itu?!" Kesal Eki menoyor kepala Panji.
Dirga tertawa terbahak-bahak, dia merasa kondisinya jauh lebih baik setelah bertemu dengan sahabat-sahabatnya itu.
"Thanks, ya! Lu bedua udah jengukin gue kesini, gue ngerasa punya keluarga sekarang!" ucap Dirga memeluk Eki dan Panji berbarengan.
"Ga, mohon maaf nih ya! Sory dory and mory, gua geli lu peluk-peluk begini! Gua masih lurus, kaga mau belok gua," celetuk Panji dan ditoyor oleh Dirga dan Eki.
"Sialan lu! Gua juga masih normal kali!" kesal Dirga hingga akhirnya mereka tertawa terbahak-bahak.
* * *
Sementara itu, Indira dan Fika kini tengah berada disebuah Perpustakaan di Pusat Kota. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Lomba Matematika se-Kota Bandung. Fika dan Indira akan menjadi perwakilan dari sekolah mereka. Jika mereka sedang asyik, berbeda dengan Carel yang bertugas sebagai asisten alias pengawal mereka berdua. Sudah 5 jam, Carel menunggu kedua gadis yang sedang asyik bersama buku mereka masing-masing.
Karena kesal, Carel lebih memilih keluar darisana dan menunggu di Cafe.
"Emang dasar dua-duanya kutu buku, eh bukan deh! Kutu kupret! Ngapain sih lama banget disana, lagian belajar jadi hobby! Mancing kek, renang kek, olahraga kek! Itu baru hobby!" gerutu Carel.
Fika dan Indira kini sedang memeriksa soal-soal yang sejak tadi mereka kerjakan.
"Wah, hebat kamu Dira! Gak ada satupun yang salah," ucap Fika terkagum.
"Nih, kamu juga sama! Semoga kita menang ya, Fik," Indira sangat berharap bisa berhasil membawa piala kejuaraan kali ini.
"Aamiin, eh ngomong-ngomong dimana Carel?" tanya Fika san Indira mengangkat kedua bahunya seolah tak ingin tau.
"Mungkin di Cafe, dia kan keselan kalo soal belajar," ucap Indira.
"Emang!" Fika berucap membuat Indira tertawa.
Akhirnya mereka berdua mencari Carel di Cafe yang tak jauh darisana, mereka bisa melihat Carel tengah bermain game di ponselnya.
"Heh! Dicariin malah enak-enakan disini," ketus Indira.
"Bodo! Lu bedua aja ngacangin gua, malah pada anteng sama tu buku!" kesal Carel.
"Ya lu kalo ke perpus emang mau ngapain? Ya baca buku, belajar lah!" kesal Fika.
"Iya dah, iya! Dua lawan satu mah gua kalah," ucap Carel mengalah.
Indira memesan tiga buah cake dan dua gelas air putih, Carel dan Fika saling tatap.
"Lu kelaperan apa kesetanan? Banyak banget!" Carel menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dipesan oleh Indira.
"Jangan demo! Aku laper!" ketus Indira lalu memakan satu cake dengan lahap.
"Gila! Badan kecil, tapi cemilan porsi kang angkot," ucap Fika tak percaya.
"Wah parah lu, Fik! Masa si Dira dikatain kang angkot," Carel memanasi Indira.
"Kagak usah jadi kompor, aku sama Fika mah bestie! Kagak ngaruh!" ucap Indira.
Carel mencebik kesal, memang Indira dan Fika itu sahabat baik hingga mereka sulit untuk dipecah belah.
"Emang ya, kalian bedua itu udah kaya pinang dibelah duren!" celetuk Carel.
"Dibelah dua woy! Pikiran lu ngeres aje, main dibelah duren," kesal Fika.
"Iya itulah pokoknya! Aduh gua jadi traveling gegara salah ngomong!" Carel menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lagian, otak ngeres! Sapuin sana, biar kaga jadi toxic," ucap Indira menunjuk sapu.
"Duh emang ya! Gua salah mulu kalo sama kalean," kesal Carel melipat kedua tangan didadanya.
Indira tersenyum, dia bahagia memiliki sahabat baik seperti Carel dan Fika.
"Sahabat sejati adalah dia yang menemanimu saat semua orang menjauhimu, seorang sahabat adalah seseorang yang memberikanmu kebebasan sepenuhnya pada dirimu. Sahabat sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak persamaan, tapi mereka yang memiliki pengertian terhadap setiap perbedaan. Sahabat yang baik akan membantumu menemukan hal-hal penting yang kamu hilangkan. Senyummu, harapanmu, dan keberanianmu. Hadiah terbesar dalam hidup ini adalah persahabatan. Dan aku telah mendapatkannya, kalian berdua adalah hadiah terindah untukku Carel, Fika," batin Indira ketika melihat Carel dan Fika yang tengah asyik memperdebatkan hal konyol.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Tha Ardiansyah
CUMA....gila aje, sebotol di bilang cuma, segelas aja udah di kata banyak apalagi sebotol
2022-04-07
0
Sweet_Girl
next thor😁
2022-02-01
1
Mey
bener banget.. sahabat sejati akan ada disaat susah maupun senang..n akan selalu menenangkan disaat gundah..memberi kesejukan dikala gersang..n memberi senyum dikala sedih..🤗🤗🤗
lanjut neng.....💪❤️❤️❤️❤️
2022-01-31
1