Bab 19. Cinta Tak Mungkin Berhenti

6 bulan kemudian....

Alunan nyanyian dari seorang Indira menggema di sudut Cafe, lagu ini selalu dinyanyikan oleh Indira. Malam ini adalah malam minggu, dimana setiap muda-mudi akan nongkrong di cafe ini. Setiap akan menyanyi, Indira akan menyesuaikan lagu sesuai isi hatinya. Dan kali ini, dia menyanyikan lagu 'Cinta Tak Mungkin Berhenti'.

"Tidak bisa memilikinya, bukan berarti berhenti mencintainya. Jika pada akhirnya kamu tidak bisa bersama dengan orang yang kau sebut namanya dalam do'amu, mungkin kamu ditakdirkan untuk bersama dengan orang yang diam-diam menyebut namamu dalam do'anya. Saya Syafa, inilah lagu persembahan dari saya malam ini,"

Tak ada kisah tentang cinta..

Yang bisa terhindar dari air mata..

Namun kucoba menerima..

Hatiku membuka, siap untuk terluka..

Cinta tak mungkin berhenti..

Secepat saat aku jatuh hati..

Jatuhkan hatiku kepadamu..

Sehingga hidupku pun berarti..

Cinta tak mudah berganti..

Tak mudah berganti jadi benci..

Walau kini aku harus pergi..

Tuk sembuhkan hati..

Walau seharusnya bisa saja..

Dulu aku menghindar..

Dari pahitnya cinta..

Namun kupilih begini..

Biar kuterima, sakit demi jalani cinta..

Athaya selalu berada disamping Indira, sejak kejadian malam itu kini Indira lebih terbuka padanya. Meskipun Athaya tau, jika hati Indira bukan miliknya. Sedangkan disudut lainnya, seorang laki-laki tengah menatap kagum pada gadis yang bernyanyi didepan sana. Masih mengenakan seragam kebanggannya, dia menatap penuh kerinduan pada Indira. Hari ini, dia baru saja sampai di tanah air. Kondisinya kini sudah mulai membaik, meskipun sakit didadanya kadang selalu menyerang begitu saja.

"Syafa, if God heard my prayers tonight, convey this sense of love to him a million, I miss you so much."

Indira turun dari panggung, dia akan segera pulang sebab kini waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Pengunjung semakin ramai di cafe milik Cyra, Athaya dan Indira berpisah dijalan sebab Athaya harus menjenguk ibunya yang berada dirumah sakit. Mereka sengaja menggunakan sepeda motor. Ayah Fahri yang merasa bersalah terhadap Indira, pada akhirnya mengijinkan Indira untuk membawa motor sendirian.

"Hati-hati ya! Langsung pulang, jangan belok-belok dulu!" Athaya berpesan pada wanita yang paling dia cintai itu.

"Iya bawel! Salam buat Ummi, Abi dan Umma ya!" ucap Indira dan Athaya mengangguk.

Memang Indira ingin langsung pulang, tapi hati dan tubuhnya bertolak belakang. Indira membelokkan sepeda motornya menuju taman gasibu. Tepat hari ini, dimana seharusnya Indira dan Dirga bertemu di Taman ini. Setelah memarkirkan motornya, Indira berjalan menyusuri taman. Banyak muda-mudi berpasangan tengah berbincang-bincang.

Sebuah buku catatan selalu Indira bawa kemanapun, Indira mengeluarkan buku catatan dan sebuah kalung yang masih dia simpan hingga saat ini.

"Aku terlalu bodoh, sampe saat ini aku masih mengharapkan kamu bisa menemuiku disini, ditempat ini. Aku terlalu naif, hingga masih mengharapkan kamu bisa menepati janjimu setahun yang lalu," lirih Indira menunduk dan mulai terisak.

Sedangkan dibalik pohon itu, Dirga bisa mendengar semua ucapan Indira. Hatinya sungguh terasa sangat sakit. Ingin rasanya dia memeluk dan meluapkan kerinduannya pada gadis itu.

"Aku menepati janjiku, Syafa. Aku disini, hanya aku terlalu pengecut untuk menampakkan diriku dihadapanmu," Dirga sungguh sangat merindukan Indira, gadis yang selama ini sudah mengambil separuh hatinya.

Indira masih menangis dalam diam, dia tak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Dia mendekap dan mencium kalung itu, kerinduan sungguh membuncah dalam dirinya. Dirga sudah tak sanggup lagi, dia memutuskan untuk menemui Indira.

"Maafkan aku, Syafa. Aku menepati janjiku untuk menemuimu disini," Dirga memeluk Indira dari belakang hingga Indira memekik kaget.

"Ma-mas Yoga," lirih Indira. "Yaa Allah, jika ini hanya halusinasiku tolong biarkan aku seperti ini. Aku mohon Yaa Allah, satu jam saja! Sampe aku bahagia buat mengakhiri segalanya," Indira terus menangis sesegukan mendekap tangan yang memeluk dirinya.

Hati Dirga sungguh bagai tersayat sembilu, dirinya tak menyangka sedalam itu luka yang sudah dia torehkan.

"Maafkan aku, Syafa. Aku sudah menorehkan luka dalam hatimu," lirih Dirga memegang bahu Indira dan membuat mereka saling berhadapan.

"Kenapa? Kenapa Allah selalu membuat kita menjauh? Dan sekarang, kamu sudah gak bisa lagi aku jangkau, Mas! Apakah ini yang kamu maksud mengikuti takdir Allah? Kenapa semuanya menyakitkan buat aku, Mas!" Indira memukuli Dirga, dia sangat merindukan laki-laki dihadapanya itu tapi dia juga kecewa.

Mati-matian Dirga menahan rasa sakit didadanya, dia membiarkan wanita itu untuk melampiaskan seluruh isi hatinya. Pukulan Indira perlahan melemah, dia melepaskan pelukan Dirga dan menjauhinya.

"Sudah satu jam, terimakasih sudah mengizinkan aku merasakan bahwa perasaan itu pernah ada. Semoga kamu berbahagia dengannya! Dengan dia yang sudah menyelamatkan nyawamu. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia," Indira berucap dengan menahan tangisnya, dia menyambar tas miliknya dan berniat pergi.

Grep

Dirga memeluk tubuhnya dan membawa Indira dalam dekapannya. Dia memeluk gadis itu dengan erat, sambil sesekali menciumi pucuk kepala Indira.

"Jangan buat aku semakin berat melepasmu, Mas Yoga," sambil menangis Indira terus mencoba untuk melepaskan pelukan laki-laki itu.

"Ikut aku, sebentar saja!" Dirga melepaskan pelukannya, dia menarik tangan Indira untuk masuk kedalam mobilnya.

"Aku bawa motor, Mas!" ucap Indira berusaha melepaskan genggaman tangannya.

"Nanti temen Mas yang bawa," ucap Dirga.

Selama perjalanan, Indira hanya diam menatap jendela luar. Dia sungguh tidak pernah mengerti, perasaan dan hubungan macam apa ini.

"Kita mau kemana?!" Indira mulai panik, sebab membaca petunjuk jalan jika itu adalah arah menuju ke jalan tol pasteur.

"Mas mau bawa kamu kabur," Dirga sengaja menggoda Indira agar semakin panik.

"Berhenti didepan, Mas! Aku gak mau kabur sama kamu kaya gini," pekik Indira.

"Kenapa? Mas mau kawin lari aja sama kamu," goda Dirga.

"Mas! Kamu pikir aku mau?! Berhenti, Mas!" Indira mulai menangis terisak.

"Jangan menangis, Syafa! Mas cuma bercanda," Dirga mengusap kepala Indira dengan sangat lembut.

Demi apapun, Indira sangat membenci dipermainkan seperti itu. Dia hanya menunduk, menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Syafa! Kita sudah sampai," ucapan Dirga membuat Indira membuka tangannya dan menghapus airmata yang mengalir di pipinya.

"Ngapain kita kesini?! Aku mau pulang," ketus Indira tanpa menoleh kearah Dirga.

"Kita masuk dulu! Mas tau, kamu belum makan malam. Kita makan malam bersama, anggap saja ini salam perpisahan dari Mas,"

Deg deg deg!

Hatinya terasa sakit, jantungnya berdegup kencang seakan akan pecah dan berhenti berdetak. Ucapan Dirga sungguh sangat membuat Indirs terluka.

"Baiklah," Indira turun dan membanting pintu dengan kencang.

"Astaghfirullohaladzim, Syafa! Kamu sungguh menggemaskan," gumam Dirga sambil memegang dadanya yang kaget.

Mereka makan disebuah Rooftop Cafe yang cukup terkenal di Bandung. Pemandangan Indah bisa mereka saksikan disana.

"Kamu mau pesen apa?" tanya Dirga dengan lembut.

"Terserah!" ketus Indira. "Huft, sepertinya jurus perempuan memang selalu membuat kami para laki-laki tak berkutik," batin Dirga.

"Pesan satu nasi goreng tanpa bawang ya, Mbak! Sama satu strawberry juice yang satu tanpa susu dan gulanya sedikit," pinta Dirga membuat Indira melototkan matanya. Bagaimana Dirga bisa tau makanan kesukaan dan kebiasaannya memesan makanan.

Satu piring nasi goreng dan satu gelas jus strawberry kini sudah ada dihadapan mereka.

"Kok cuman satu?" Indira mengerenyitkan dahinya.

"Biar romantis! Lagian gaji Mas sebagai tentara kan kecil," goda Dirga.

"Yaudah, Mas aja yang makan! Aku gak mau sepiring berdua sama calon suami orang, apalagi demi keromantisan," ketus Indira.

"Syafa! Angga aja ini permintaan terakhir, Mas mohon!" Dirga menggenggam erat tangan Indira. Akhirnya dengan sedikit memaksa, Indira mau makan sepiring berdua dengannya.

Selesai makan, Indira berdiri dan menatap indahnya kelap kelip lampu Kota Bandung.

"Aku mau balikin ini, Mas," Indira mengeluarkan kalung itu dari dalam tas miliknya.

"Bolehkah Mas minta kamu untuk tetap menyimpannya?" tanya Dirga.

"Calon istrimu lebih pantas menyimpannya, bukan aku," tegas Indira.

"Syafa! Tatap mataku!" ucap Dirga agak sedikit membentak.

Mata keduanya saling berpandangan, terlihat binar kerinduan yang mendalam dimata keduanya. Dirga mengusap airmata yang lolos dari mata indah gadis yang dicintainya itu.

"Kamu masih percaya kan pada jalan takdir Allah? Masih kamu sebut kan nama Mas dalam do'amu? Allah maha membolak-balikan hati manusia, Mas dari bandara langsung ke taman untuk menemuimu, Syafa. Mas masih percaya, jika Allah akan memberikan takdir terbaik untuk kita. Inilah alasan kenapa Mas gak mau kamu nungguin dan terikat dengan seorang abdi negara seperti Mas! Dan satu hal yang selalu harus kamu tau, hanya nama kamu yang selama ini Mas sebut dalam do'a! Dan hanya nama kamu yang ada dihati dan pikiran Mas!" dengan segera Dirga mendekap tubuh Indira dan keduanya menangis menahan luka yang mereka buat sendiri.

Dirga mencium kening Indira dengan lama, dan mengecup pipi Indira sekilas.

"Maaf, aku terlalu pengecut untuk kehilanganmu, tapi juga tak bisa selalu membahagiakanmu. Tapi hingga saat ini, selama nafasku masih berhembus hanya kamu yang aku harapkan bisa disisiku. Walau kenyataannya tak mungkin, cintaku tak akan mungkin berhenti. Cintaku akan selalu mengalir untukmu,"

* * * * *

Semoga suka dengan ceritanya...

Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

Dukung Author terus ya!

Salam Rindu, Author ❤

Terpopuler

Comments

Nurul Hidayati

Nurul Hidayati

Ada yg nyangkut di tenggorokan ku...
Sakit rasanya, Sama seperti hatiku....
Teganya kamu Thor.....
Permainkn cintaaa Mereka..

2022-05-28

1

Lili Suryani Yahya

Lili Suryani Yahya

Mengaliiiiiirrrr truuusssss

2022-02-12

1

Latifah Muhtadin

Latifah Muhtadin

ahhh aku PD mu KA rindu😁😘bisa bngt bikin gereget SMA Dirga 😁

2022-02-12

1

lihat semua
Episodes
1 1. I'M INTROVERT
2 Bab 2. Berkemah
3 Bab 3. Menemukan, tapi ternyata Bukan kamu
4 Bab 4. Dirga Agung Prayoga
5 Bab 5. Sahabat Baik
6 Bab 6. Panji Sang Penakluk
7 Bab 7. Kisah kasih di sekolah
8 Bab 8. New Chapter
9 Bab 9. HUJAN
10 Bab 10. Kisah Hidup Athaya
11 Bab 11. Cinta yang Rumit
12 Bab 12. Selalu ada luka
13 Bab 13. Persimpangan Dilema
14 Bab 14. Sebuah Rahasia
15 Bab 15. Tentang Seseorang
16 Bab 16. Mengikuti Alur
17 Bab 17. You're Mine
18 Bab 18. Kesedihan Indira
19 Bab 19. Cinta Tak Mungkin Berhenti
20 Bab 20. Lamaran
21 Bab 21. Rencana Aini
22 Bab 22. KKN di Sukabumi
23 Bab 23. Kebetulan macam apa ini?!
24 Bab 24. Tanggung Jawab
25 Bab 25. Rasa Kehilangan
26 Bab 26. Sebuah Kenyataan
27 Bab 27. Penyesalan
28 Bab 28. Sebuah Keputusan
29 PENGUMUMAN
30 Bab 29. Dua Cincin
31 Bab 30. Siuman
32 Bab 31. Menunggu
33 Bab 32. Ada apa dengan Cinta
34 Bab 33. Niat Baik Athaya
35 Bab 34. Perjuangan
36 Bab 35. Nikah Dadakan
37 Bab 36. Jadi Ipar
38 Bab 37. Masalah
39 Bab 38. Orang Yang tepat
40 Bab 39. Sebuah tanggung jawab
41 Bab 40. Malang
42 Bab 41. Menghindar
43 Bab 42. Rumah Tangga
44 Bab 43. Drama Kejepit
45 Bab 44. Pelabuhan Ratu
46 Bab 45. Tugas Pertama
47 Bab 46. Hari ini, Mas Milikmu!
48 Bab 47. Pergi tuk kembali
49 Bab 48. Bibit Unggul
50 Bab 49. Ngidam?
51 Bab 50. Jeruk Bali
52 Bab 51. Kembali Pulang
53 Bab 52. Dirga vs Athaya
54 Bab 53. H-1 Akad Aini Athaya
55 Bab 54. Pelabuhan Terakhir
56 Bab 55. Madu Asmara
57 Bab 56. Kelahiran
58 Bab 57. Gemma Giacinta Indirga
59 Bab 58. Aqiqah Gemma
60 Bab 59. Sulitnya menjadi Ibu
61 Bab 60. Persimpangan Dilema
62 Kabar Bahagia
63 Bab 62. Kegiatan bersama
64 Ulang Tahun Pertama, Gemma.
65 Bab 64. Ujian Pernikahan
66 Bab 65. Kelahiran Adzka
67 Bab 66. Yang datang dan yang pergi
68 Bab 67. Duka diatas Luka
69 Bab 68. Memulai Kembali
Episodes

Updated 69 Episodes

1
1. I'M INTROVERT
2
Bab 2. Berkemah
3
Bab 3. Menemukan, tapi ternyata Bukan kamu
4
Bab 4. Dirga Agung Prayoga
5
Bab 5. Sahabat Baik
6
Bab 6. Panji Sang Penakluk
7
Bab 7. Kisah kasih di sekolah
8
Bab 8. New Chapter
9
Bab 9. HUJAN
10
Bab 10. Kisah Hidup Athaya
11
Bab 11. Cinta yang Rumit
12
Bab 12. Selalu ada luka
13
Bab 13. Persimpangan Dilema
14
Bab 14. Sebuah Rahasia
15
Bab 15. Tentang Seseorang
16
Bab 16. Mengikuti Alur
17
Bab 17. You're Mine
18
Bab 18. Kesedihan Indira
19
Bab 19. Cinta Tak Mungkin Berhenti
20
Bab 20. Lamaran
21
Bab 21. Rencana Aini
22
Bab 22. KKN di Sukabumi
23
Bab 23. Kebetulan macam apa ini?!
24
Bab 24. Tanggung Jawab
25
Bab 25. Rasa Kehilangan
26
Bab 26. Sebuah Kenyataan
27
Bab 27. Penyesalan
28
Bab 28. Sebuah Keputusan
29
PENGUMUMAN
30
Bab 29. Dua Cincin
31
Bab 30. Siuman
32
Bab 31. Menunggu
33
Bab 32. Ada apa dengan Cinta
34
Bab 33. Niat Baik Athaya
35
Bab 34. Perjuangan
36
Bab 35. Nikah Dadakan
37
Bab 36. Jadi Ipar
38
Bab 37. Masalah
39
Bab 38. Orang Yang tepat
40
Bab 39. Sebuah tanggung jawab
41
Bab 40. Malang
42
Bab 41. Menghindar
43
Bab 42. Rumah Tangga
44
Bab 43. Drama Kejepit
45
Bab 44. Pelabuhan Ratu
46
Bab 45. Tugas Pertama
47
Bab 46. Hari ini, Mas Milikmu!
48
Bab 47. Pergi tuk kembali
49
Bab 48. Bibit Unggul
50
Bab 49. Ngidam?
51
Bab 50. Jeruk Bali
52
Bab 51. Kembali Pulang
53
Bab 52. Dirga vs Athaya
54
Bab 53. H-1 Akad Aini Athaya
55
Bab 54. Pelabuhan Terakhir
56
Bab 55. Madu Asmara
57
Bab 56. Kelahiran
58
Bab 57. Gemma Giacinta Indirga
59
Bab 58. Aqiqah Gemma
60
Bab 59. Sulitnya menjadi Ibu
61
Bab 60. Persimpangan Dilema
62
Kabar Bahagia
63
Bab 62. Kegiatan bersama
64
Ulang Tahun Pertama, Gemma.
65
Bab 64. Ujian Pernikahan
66
Bab 65. Kelahiran Adzka
67
Bab 66. Yang datang dan yang pergi
68
Bab 67. Duka diatas Luka
69
Bab 68. Memulai Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!