6 bulan kemudian....
Alunan nyanyian dari seorang Indira menggema di sudut Cafe, lagu ini selalu dinyanyikan oleh Indira. Malam ini adalah malam minggu, dimana setiap muda-mudi akan nongkrong di cafe ini. Setiap akan menyanyi, Indira akan menyesuaikan lagu sesuai isi hatinya. Dan kali ini, dia menyanyikan lagu 'Cinta Tak Mungkin Berhenti'.
"Tidak bisa memilikinya, bukan berarti berhenti mencintainya. Jika pada akhirnya kamu tidak bisa bersama dengan orang yang kau sebut namanya dalam do'amu, mungkin kamu ditakdirkan untuk bersama dengan orang yang diam-diam menyebut namamu dalam do'anya. Saya Syafa, inilah lagu persembahan dari saya malam ini,"
Tak ada kisah tentang cinta..
Yang bisa terhindar dari air mata..
Namun kucoba menerima..
Hatiku membuka, siap untuk terluka..
Cinta tak mungkin berhenti..
Secepat saat aku jatuh hati..
Jatuhkan hatiku kepadamu..
Sehingga hidupku pun berarti..
Cinta tak mudah berganti..
Tak mudah berganti jadi benci..
Walau kini aku harus pergi..
Tuk sembuhkan hati..
Walau seharusnya bisa saja..
Dulu aku menghindar..
Dari pahitnya cinta..
Namun kupilih begini..
Biar kuterima, sakit demi jalani cinta..
Athaya selalu berada disamping Indira, sejak kejadian malam itu kini Indira lebih terbuka padanya. Meskipun Athaya tau, jika hati Indira bukan miliknya. Sedangkan disudut lainnya, seorang laki-laki tengah menatap kagum pada gadis yang bernyanyi didepan sana. Masih mengenakan seragam kebanggannya, dia menatap penuh kerinduan pada Indira. Hari ini, dia baru saja sampai di tanah air. Kondisinya kini sudah mulai membaik, meskipun sakit didadanya kadang selalu menyerang begitu saja.
"Syafa, if God heard my prayers tonight, convey this sense of love to him a million, I miss you so much."
Indira turun dari panggung, dia akan segera pulang sebab kini waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Pengunjung semakin ramai di cafe milik Cyra, Athaya dan Indira berpisah dijalan sebab Athaya harus menjenguk ibunya yang berada dirumah sakit. Mereka sengaja menggunakan sepeda motor. Ayah Fahri yang merasa bersalah terhadap Indira, pada akhirnya mengijinkan Indira untuk membawa motor sendirian.
"Hati-hati ya! Langsung pulang, jangan belok-belok dulu!" Athaya berpesan pada wanita yang paling dia cintai itu.
"Iya bawel! Salam buat Ummi, Abi dan Umma ya!" ucap Indira dan Athaya mengangguk.
Memang Indira ingin langsung pulang, tapi hati dan tubuhnya bertolak belakang. Indira membelokkan sepeda motornya menuju taman gasibu. Tepat hari ini, dimana seharusnya Indira dan Dirga bertemu di Taman ini. Setelah memarkirkan motornya, Indira berjalan menyusuri taman. Banyak muda-mudi berpasangan tengah berbincang-bincang.
Sebuah buku catatan selalu Indira bawa kemanapun, Indira mengeluarkan buku catatan dan sebuah kalung yang masih dia simpan hingga saat ini.
"Aku terlalu bodoh, sampe saat ini aku masih mengharapkan kamu bisa menemuiku disini, ditempat ini. Aku terlalu naif, hingga masih mengharapkan kamu bisa menepati janjimu setahun yang lalu," lirih Indira menunduk dan mulai terisak.
Sedangkan dibalik pohon itu, Dirga bisa mendengar semua ucapan Indira. Hatinya sungguh terasa sangat sakit. Ingin rasanya dia memeluk dan meluapkan kerinduannya pada gadis itu.
"Aku menepati janjiku, Syafa. Aku disini, hanya aku terlalu pengecut untuk menampakkan diriku dihadapanmu," Dirga sungguh sangat merindukan Indira, gadis yang selama ini sudah mengambil separuh hatinya.
Indira masih menangis dalam diam, dia tak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Dia mendekap dan mencium kalung itu, kerinduan sungguh membuncah dalam dirinya. Dirga sudah tak sanggup lagi, dia memutuskan untuk menemui Indira.
"Maafkan aku, Syafa. Aku menepati janjiku untuk menemuimu disini," Dirga memeluk Indira dari belakang hingga Indira memekik kaget.
"Ma-mas Yoga," lirih Indira. "Yaa Allah, jika ini hanya halusinasiku tolong biarkan aku seperti ini. Aku mohon Yaa Allah, satu jam saja! Sampe aku bahagia buat mengakhiri segalanya," Indira terus menangis sesegukan mendekap tangan yang memeluk dirinya.
Hati Dirga sungguh bagai tersayat sembilu, dirinya tak menyangka sedalam itu luka yang sudah dia torehkan.
"Maafkan aku, Syafa. Aku sudah menorehkan luka dalam hatimu," lirih Dirga memegang bahu Indira dan membuat mereka saling berhadapan.
"Kenapa? Kenapa Allah selalu membuat kita menjauh? Dan sekarang, kamu sudah gak bisa lagi aku jangkau, Mas! Apakah ini yang kamu maksud mengikuti takdir Allah? Kenapa semuanya menyakitkan buat aku, Mas!" Indira memukuli Dirga, dia sangat merindukan laki-laki dihadapanya itu tapi dia juga kecewa.
Mati-matian Dirga menahan rasa sakit didadanya, dia membiarkan wanita itu untuk melampiaskan seluruh isi hatinya. Pukulan Indira perlahan melemah, dia melepaskan pelukan Dirga dan menjauhinya.
"Sudah satu jam, terimakasih sudah mengizinkan aku merasakan bahwa perasaan itu pernah ada. Semoga kamu berbahagia dengannya! Dengan dia yang sudah menyelamatkan nyawamu. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia," Indira berucap dengan menahan tangisnya, dia menyambar tas miliknya dan berniat pergi.
Grep
Dirga memeluk tubuhnya dan membawa Indira dalam dekapannya. Dia memeluk gadis itu dengan erat, sambil sesekali menciumi pucuk kepala Indira.
"Jangan buat aku semakin berat melepasmu, Mas Yoga," sambil menangis Indira terus mencoba untuk melepaskan pelukan laki-laki itu.
"Ikut aku, sebentar saja!" Dirga melepaskan pelukannya, dia menarik tangan Indira untuk masuk kedalam mobilnya.
"Aku bawa motor, Mas!" ucap Indira berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Nanti temen Mas yang bawa," ucap Dirga.
Selama perjalanan, Indira hanya diam menatap jendela luar. Dia sungguh tidak pernah mengerti, perasaan dan hubungan macam apa ini.
"Kita mau kemana?!" Indira mulai panik, sebab membaca petunjuk jalan jika itu adalah arah menuju ke jalan tol pasteur.
"Mas mau bawa kamu kabur," Dirga sengaja menggoda Indira agar semakin panik.
"Berhenti didepan, Mas! Aku gak mau kabur sama kamu kaya gini," pekik Indira.
"Kenapa? Mas mau kawin lari aja sama kamu," goda Dirga.
"Mas! Kamu pikir aku mau?! Berhenti, Mas!" Indira mulai menangis terisak.
"Jangan menangis, Syafa! Mas cuma bercanda," Dirga mengusap kepala Indira dengan sangat lembut.
Demi apapun, Indira sangat membenci dipermainkan seperti itu. Dia hanya menunduk, menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Syafa! Kita sudah sampai," ucapan Dirga membuat Indira membuka tangannya dan menghapus airmata yang mengalir di pipinya.
"Ngapain kita kesini?! Aku mau pulang," ketus Indira tanpa menoleh kearah Dirga.
"Kita masuk dulu! Mas tau, kamu belum makan malam. Kita makan malam bersama, anggap saja ini salam perpisahan dari Mas,"
Deg deg deg!
Hatinya terasa sakit, jantungnya berdegup kencang seakan akan pecah dan berhenti berdetak. Ucapan Dirga sungguh sangat membuat Indirs terluka.
"Baiklah," Indira turun dan membanting pintu dengan kencang.
"Astaghfirullohaladzim, Syafa! Kamu sungguh menggemaskan," gumam Dirga sambil memegang dadanya yang kaget.
Mereka makan disebuah Rooftop Cafe yang cukup terkenal di Bandung. Pemandangan Indah bisa mereka saksikan disana.
"Kamu mau pesen apa?" tanya Dirga dengan lembut.
"Terserah!" ketus Indira. "Huft, sepertinya jurus perempuan memang selalu membuat kami para laki-laki tak berkutik," batin Dirga.
"Pesan satu nasi goreng tanpa bawang ya, Mbak! Sama satu strawberry juice yang satu tanpa susu dan gulanya sedikit," pinta Dirga membuat Indira melototkan matanya. Bagaimana Dirga bisa tau makanan kesukaan dan kebiasaannya memesan makanan.
Satu piring nasi goreng dan satu gelas jus strawberry kini sudah ada dihadapan mereka.
"Kok cuman satu?" Indira mengerenyitkan dahinya.
"Biar romantis! Lagian gaji Mas sebagai tentara kan kecil," goda Dirga.
"Yaudah, Mas aja yang makan! Aku gak mau sepiring berdua sama calon suami orang, apalagi demi keromantisan," ketus Indira.
"Syafa! Angga aja ini permintaan terakhir, Mas mohon!" Dirga menggenggam erat tangan Indira. Akhirnya dengan sedikit memaksa, Indira mau makan sepiring berdua dengannya.
Selesai makan, Indira berdiri dan menatap indahnya kelap kelip lampu Kota Bandung.
"Aku mau balikin ini, Mas," Indira mengeluarkan kalung itu dari dalam tas miliknya.
"Bolehkah Mas minta kamu untuk tetap menyimpannya?" tanya Dirga.
"Calon istrimu lebih pantas menyimpannya, bukan aku," tegas Indira.
"Syafa! Tatap mataku!" ucap Dirga agak sedikit membentak.
Mata keduanya saling berpandangan, terlihat binar kerinduan yang mendalam dimata keduanya. Dirga mengusap airmata yang lolos dari mata indah gadis yang dicintainya itu.
"Kamu masih percaya kan pada jalan takdir Allah? Masih kamu sebut kan nama Mas dalam do'amu? Allah maha membolak-balikan hati manusia, Mas dari bandara langsung ke taman untuk menemuimu, Syafa. Mas masih percaya, jika Allah akan memberikan takdir terbaik untuk kita. Inilah alasan kenapa Mas gak mau kamu nungguin dan terikat dengan seorang abdi negara seperti Mas! Dan satu hal yang selalu harus kamu tau, hanya nama kamu yang selama ini Mas sebut dalam do'a! Dan hanya nama kamu yang ada dihati dan pikiran Mas!" dengan segera Dirga mendekap tubuh Indira dan keduanya menangis menahan luka yang mereka buat sendiri.
Dirga mencium kening Indira dengan lama, dan mengecup pipi Indira sekilas.
"Maaf, aku terlalu pengecut untuk kehilanganmu, tapi juga tak bisa selalu membahagiakanmu. Tapi hingga saat ini, selama nafasku masih berhembus hanya kamu yang aku harapkan bisa disisiku. Walau kenyataannya tak mungkin, cintaku tak akan mungkin berhenti. Cintaku akan selalu mengalir untukmu,"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Nurul Hidayati
Ada yg nyangkut di tenggorokan ku...
Sakit rasanya, Sama seperti hatiku....
Teganya kamu Thor.....
Permainkn cintaaa Mereka..
2022-05-28
1
Lili Suryani Yahya
Mengaliiiiiirrrr truuusssss
2022-02-12
1
Latifah Muhtadin
ahhh aku PD mu KA rindu😁😘bisa bngt bikin gereget SMA Dirga 😁
2022-02-12
1