Setelah pesta pernikahan kemarin, kini keluarga Indira tengah dalam perjalanan menuju Pulau Tidung. Mereka akan berlibur bersama-sama disana, sekalian menemani pengantin baru. Selama perjalanan menuju Jakarta, Indira hanya melamun didalam bis. Sesekali dia menghela nafas beratnya. Semalam Athaya terus bertanya, apakah Indira bersedia untuk bertemu dengan kedua orangtua Athaya.
Kini Indira dan keluarganya sudah berada di Marina Ancol. Mereka menikmati perjalanan selama satu jam setengah dengan bercanda tawa dan berbincang-bincang. Indira menikmati angin yang berhembus, dia menutup matanya dan dia teringat kembali sosok seseorang yang menjadi penyelamat hidupnya dulu.
Kini mereka sudah sampai di Pulau Tidung. Sebelum menuju penginapan, mereka terlebih dahulu mengunjungi ikon dari Pulau Tidung yaitu Jembatan Cinta. Setiap pasangan dalam keluarga Indira, berjalan melewati jembatan cinta sambil berpegangan tangan. Sebab ada mitos yang beredar jika kalian bergandengan bersama pasangan diatas jembatan ini, maka dapat membuat hubungan semakin langgeng.
Indira, Carel dan juga Aqeela berjalan dibelakang, sebab mereka tak membawa pasangan.
"Teh! Katanya kalo yang jomblo lewatin jembatan ini bisa dapet jodoh tau," ucap Aqeela sambil berjalan disamping Indira.
"Heh bocil! Jangan sok tau deh, udah ayok jalan aja!" ucap Carel sambil menjepit kepala Aqeela di keteknya. Indira tertawa melihat keduanya seperti itu.
"Cepetan jalannya Teteh!" teriak Aqeela.
"Duluan aja! Aku masih pengen menikmati pemandangan," teriak Indira.
Indira berjalan sendiri, dia menikmati angin laut yang menerpa tubuhnya. Sesekali dia mengambil foto selfi dirinya sendiri serta pemandangan disana. Sungguh, bagi seorang introvert seperti Indira ini sangat menyenangkan. Indira asyik sendiri, hingga tak menyadari jika didepannya itu ada segerombolan orang.
Bruk!
Indira menabrak tubuh seseorang hingga membuatnya hampir terjatuh, untung saja orang itu menahan tubuh Indira.
"Apa hobby mu itu menabrak orang?" ucap seseorang yang Indira kenali suaranya.
"Eh, ma-maaf saya gak sengaja," ucap Indira sambil membenarkan posisinya.
"Sudah dua kali, nona. Berhati-hatilah," ucapnya lalu pergi begitu saja bersama teman-temannya yang kini saling berbisik.
Laki-laki itu adalah Dirga Agung Prayoga, yang tengah menikmati masa cutinya. Kemarin, sejak pesta itu usai Mirda mengajak Dirga untuk berlibur bersama. Dirga dengan senang hati menerima tawaran itu, tapi dia menolak untuk pergi bersama keluarga Indira.
Dengan jantung yang masih berdegup kencang, Indira berlari melewati Dirga.
"Aqeela, tunggu!" teriak Indira.
"Dasar perempuan aneh, kamu masih saja ceroboh seperti dulu," batin Dirga saat melihat Indira berlari sambil berteriak.
"Lu ngapain lari-lari? Keserimpet baru tau rasa lu," ketus Carel.
"Dikejar beruang kutub!" kesal Indira mengingat ketusnya Dirga.
Setelah puas menikmati pemandangan jembatan cinta, kini mereka sudah berada di Cottage Pulau Tidung. Masing-masing sudah menempati kamar, sementara yang belum menikah mereka disatukan dalam satu kamar. Cyra, Theresia, Alana, Indira serta Aqeela menempati satu kamar. Begitupun dengan Thoriq, Alan, Husain serta Carel.
Indira tengah menyendiri diluar, menikmati senja yang tengah berpamitan untuk berganti malam. Dia menutup matanya, menikmati setiap hembusan angin.
"Dek? Lagi apa sendirian disini?" tanya Elmira membuat Indira tersentak kaget.
"Kakak! Bikin kaget aja deh!" kesal Indira.
"Lagian kamu ngapain coba sendirian disini? Yang lain pada kumpul tuh didalem, gak ikutan?" tanya Elmira dan Indira menggelengkan kepalanya.
Elmira menghampiri Indira dan merangkulnya, mereka bersandar satu sama lain.
"Kakak ngerti kamu ini introvert, tapi mereka keluarga kita. Kamu harus lebih terbuka, supaya tau dunia luar," ucap Elmira sambil mengelus kepala sang adik.
"Aku cuman lagi pengen sendiri aja, Kak," ucap Indira.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Elmira dan Indira menghela nafasnya.
"Athaya, dia ngajakin aku buat ngunjungin pesantren Papanya," ucap Indira.
"Jadi kamu daritadi mikirin hal itu?" heran Elmira sambil terkekeh.
Seolah mengerti, Elmira mengajak Indira untuk duduk bersama.
"Kamu cinta sama Athaya?" tanya Elmira dan Indira menggeleng.
"Aku gak ngerti apa itu cinta, Kak. Aku cuman ngerasa nyaman aja sama sikap Athaya, lagian aku masih mau fokus kuliah. Belum mau mikirin hal kaya gitu," jawab Indira.
"Dira sayang, mungkin Athaya ngajakin kamu kesana karena pengen ngenalin kamu sama orangtuanya. Tandanya, mungkin Athaya itu mau serius sama kamu," ucap Elmira.
"Kak, jujur aku memang nyaman banget sama Athaya. Apalagi waktu dia baca ayat suci Al-qur'an, jantung aku berdegup waktu mendengar semua itu. Tapi aku belum siap untuk menjalin sebuah hubungan, aku maunya ta'aruf langsung nikah," lirih Indira.
"Kamu bicarakan baik-baik sama Athaya, bilang kalo kamu belum bisa pergi kesana. Lagian Ayah juga belum tentu ngijinin, jadi... Jangan ngelamun lagi!" ucap Elmira sambil memeluk sang adik.
Melihat Kakak iparnya sudah berada disana, Indira berpamitan untuk pergi kembali ke kamarnya. Saking terburu-buru, Indira tidak memperhatikan pandangannya. Hingga lagi-lagi Indira menabrak tubuh seseorang.
Bruk!
"Sudah tiga kali kamu menabrakku, nona! Kalo jalan lihat kedepan, dan berhati-hatilah," ucap Dirga dengan wajah datar dan dinginnya.
"Saya hanya menundukkan pandangan, mungkin anda yang harus memposisikan diri anda agar tidak menghalangi jalan orang lain!" kesal Indira membuat Dirga terdiam.
"Ada apa dengan diriku?! Kenapa gadis itu masih saja selalu membuat jantungku seperti ini," batin Dirga menatap kepergian Indira.
Sesampainya dikamar, Indira berjalan menuju balkon. Dia membutuhkan ketenangan untuk meredakan emosinya. Sambil menatap langit, Indira memegang dadanya yang masih berdegup kencang.
"Senja tak pernah menolak langit saat sore telah tiba, meskipun ia berubah menjadi kelabu. Semesta, aku takut jatuh cinta. Karena ketika aku mencoba memahaminya, itu membuatku bingung dan tersesat," batin Indira menatap langit.
* * *
Mentari pagi mulai menampakkan dirinya, Indira tengah terduduk sendiri menikmati sunrise sambil menikmati teh lemon hangat. Indira sangat menyukai alam, tak jarang dia bepergian sendirian. Menikmati indahnya alam dengan kesendiriannya.
"Sepertinya kamu sangat menyukai langit," ucap Dirga yang mengagetkan Indira.
"Astaghfirullohaladzim!" sentak Indira yang terkaget membuat Dirga tersenyum tipis.
"Maaf mengagetkan, tapi sepertinya kamu terlalu menikmati menyaksikan matahari terbit. Sampe gak sadar saya ada disini sejak tadi," ucap Dirga.
"Mau kita menyaksikan atau tidak, matahari selalu terbit. Mau ditutup mendung atau kabut, matahari juga tetap terbit. Mau kita menyadari atau tidak, matahari tetap terbit," jawab Indira tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
"Hmm, kamu memang benar. Matahari akan selalu terbit, bagaimanapun cuacanya. Dan matahari tetap bersinar walau diselimuti mendung," ucap Dirga.
Tanpa sadar, mereka sama-sama tersenyum tipis. Semalam, Mirda meminta para juniornya itu untuk menginap bersama-sama disana.
"Nama saya Dirga, Dirga Agung Prayoga," ucap Dirga.
"Nama itu, sepertinya sangat familiar bagiku," batin Indira. "Saya Indira, Indira Myesha Kirania Syafa," ucapnya.
"Ternyata kamu memang benar-benar sudah melupakan semua tentangku, aku akan memperkenalkan diriku dari awal kembali," batin Dirga. "Baiklah, Syafa. Boleh kan saya memanggilmu dengan itu?" tanya Dirga.
"Silahkan, saya permisi duluan," ucap Indira, sebab dia mendengar tangisan Sweta.
"Berhati-hatilah, jangan salah nabrak lagi," celetuk Dirga.
Sementara dikamar, sang pengantin baru belum enggan beranjak dari tempat tidurnya.
"Bang, ayo kita jalan-jalan pagi di pantai!" rengek Elmira pada suaminya.
"Kita dikamar aja ya! Kan honeymoon sayang," ucap Mirda mengecup bibir sang istri.
"Gak gitu juga konsepnya, Abang! Yaudah aku mau jalan-jalan sama Sweta sama Bunda aja," ketus Elmira merajuk. Mirda tersenyum, dia menangkup kedua pipi istrinya.
"Oke, oke! Kita jalan-jalan, tapi sekali lagi ya!" bisik Mirda membuat Elmira melotot.
"Yaa ampun! Tenaganya kok gak abis-abis sih! Alamat gak bisa jalan ini mah," batin Elmira ketika sang suami memulai kembali aksinya.
Indira dan keluarganya akan berjalan-jalan ke Pantai. Semua orang tampak sudah siap dengan stelan pantainya, Indira tengah makan roti sambil menyuapi Sweta. Bunda Gisya tengah sibuk memasukkan makanan kedalam tupperware. Mama Febri dan Ummi Ulil sedang menyiapkan berbagai macam kebutuhan untuk piknik. Mereka ingin makan bersama-sama dipinggir pantai di Pulau Tidung ini.
Dirga dan teman-temannya berpamitan, mereka berencana akan pergi snorkeling.
"Permisi Bang, semuanya. Kami pamit dulu, mau snorkeling. Terimakasih sudah mengijinkan kami menginap disini," ucap Dirga pada Mirda.
"Eh Om Dirga mau kemana? Sarapan dulu sebelum snorkeling," sahut Elmira yang baru saja keluar dari dapur. Mirda tersenyum mendengar panggilan istrinya terhadap juniornya.
"Siap! Ijin Bu, kami sarapan diluar saja," tolak Dirga.
"Kalian sarapan disini aja, setelah itu kita pergi snorkeling sama-sama," ucap Ayah Fahri dengan suara baritonnya membuat Dirga tak bisa lagi menolak.
"Siap! Laksanakan!" jawab Dirga memberi hormat.
Selepas sarapan pagi kini mereka sudah sampai ditempat tujuan, para ibu-ibu sudah menggelar tikar yang cukup besar dipinggir pantai, dibawah pohon rindang. Sedangkan para anak muda sedang bersiap untuk pergi snorkeling.
"Dek, kamu gak ikut snorkeling?" tanya Bunda Gisya ketika melihat anak bungsunya tengah bermain bersama Sweta.
"Gak ah, Bun! Nanti aja mau main Jetski," jawab Indira.
"Haaaaa? Sendirian Neng?" tanya Ummi Ulil melotot.
"Nggih Ndoro," jawab Indira membuat sang Ummi semakin melotot.
"No, no, no! Bahaya kalo sendirian!" sahut Bunda Gisya.
"I'm okay, Bun. Lagian kan Adek dah bisa naik jetski sendirian," jawab Indira santai.
Mirda, Elmira dan yang lainnya sudah bersiap untuk snorkeling. Hanya saja mereka kekurangan satu orang, mereka memaksa Indira untuk ikut.
"Please dong, Dek! Ikut yaa," pinta Elmira memohon pada Indira.
"Iya Dira, kapan lagi kita snorkeling bareng. Please, nanti pulang dari sini Bang Ain sama A Alan beliin apapun mau kamu," ucap Alana memohon.
"Hm, bener gak dibeliin sesuatu?" tanya Indira.
"Iya dah, entar Aa beliin apapun kemauan kamu! Mau ganti hp samsung flip juga boleh deh, mau tiket konser kahitna juga Aa beliin," ucap Alan membuat mata Indira berbinar.
"Oke, janji ya!" ucap Indira sambil memberikan jari kelingkingnya.
"Dasar bocil, dengan sogokan begitu kamu mau ikut snorkeling," batin Dirga yang merasa gemas dengan sikap Indira.
Setelah bujuk rayu, akhirnya Indira setuju untuk ikut snorkeling. Merekapun naik perahu menuju ke tempat snorkeling, Dirga tanpa sengaja memotret Indira yang tengah menikmati angin laut.
"Cantik!" ucap Dirga membuat Mirda dan Elmira menoleh.
"Siapa yang cantik, Om?" goda Elmira pada Dirga.
"Eh itu, Bu! Air lautnya, cantik," jawab Dirga gugup.
"Kirain ipar saya yang cantik," goda Mirda membuat Dirga salah tingkah.
Kini mereka tengah menikmati pemandangan bawah laut, banyak ikan-ikan yang tengah mengelilingi mereka. Terumbu karang yang indah dan banyak hewan-hewan laut lainnya.
Tanpa sengaja Indira menginjak dan tergores terumbu karang, membuat kakinya sobek dan terluka cukup dalam hingga mengeluarkan banyak darah. Dia segera berenang ke permukaan dan naik keatas kapal. Dirga melihat itu, dan diapun mengikuti Indira.
Dirga melihat Indira tengah kesakitan memegangi kakinya, dia pun naik keatas kapal.
"Kaki kamu berdarah, Syafa! Biar saya lihat," ucap Dirga membuat jantung Indira berdegup kencang dengan nama panggilan itu. Karena Indira tidak menggubrisnya, Dirga menarik kaki Indira dan disimpan diatas paha nya.
"Aw! Sakit!" pekik Indira yang kesakitan.
"Kita balik ke pantai duluan aja, kaki kamu mesti di obatin, Syafa," ujar Dirga.
"Tapi mereka gimana?" tanya Indira.
"Mereka masih snorkeling, kita balik duluan aja ikut perahu yang disana," ucap Dirga.
"Tapi....." ucapan Indira terpotong, karena Dirga menyelanya.
"Saya tidak suka dibantah!" tegas Dirga dengan suara dinginnya.
Sepanjang perjalanan, hati Dirga terasa sakit ketika melihat darah yang terus mengalir dari kaki Indira. Dia kembali mengingat, dulu ketika Indira terluka karena jatuh ke tebing.
"Kenapa setiap pertemuan kita, kamu selalu terluka. Ingin rasanya aku menghancurkan semua batu karang yang sudah melukaimu, Syafa," batin Dirga.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
yanti sasongko
Om Dirga so sweet banget seh...
2022-06-05
0
Nonengsupartika
duh geregetan aku sm dirgantara
2022-05-18
1
Helen Dinda
aaaaaaa,,baper bngat aku dengan katanya si om dirga,,😊😊
2022-02-10
1