Malam penuh bintang menjadi saksi kebahagiaan dua anak manusia yang telah memasrahkan diri pada takdir Allah. Setelah seharian menghabiskan waktu, kedua sejoli itu kini sudah lebih lega dengan perasaan masing-masing. Indira menatap ponselnya, tadi siang mereka sempat berfoto bersama. Dan mungkin hal itu akan menjadi kenangan satu hari yang indah, bagi Indira dan juga Dirga. Sepulang mengantar Indira, Dirga menemui seseorang untuk menerima sebuah hukuman.
Dirga kini sudah berada di Barak, dia sudah siap dengan hukuman yang akan dia terima.
"Sudah kamu antarkan dia?" tanya seseorang itu.
"Siap! Sudah Jendral!" jawab Dirga.
"Bagus! Sekarang kamu harus terima hukuman, temani saya main game ludo sampe pagi," ucap sang Jendral yang ternyata adalah Ayah Fahri.
"Siap Jendral!" ucap Dirga.
Flashback On
Sejak kejadian terlukanya Indira di perkemahan, Ayah Fahri sudah mengetahui siapa orang yang menyelamatkan Indira. Jujur, Ayah Fahri sudah jatuh hati saat pertemakali mendengar jika yang menyelamatkan putrinya adalah Dirga. Karena sikap Dirga yang dingin, mengingatkannya pada dirinya sendiri.
Saat di Pulau Tidung, Ayah Fahri mendengar semua percakapan Dirga dan juga Indira. Dia juga tau, jika selama ini putrinya itu telah jatuh hati pada sosok Dirga. Dia bertambah yakin, ketika Dirga lagi-lagi menyelamatkan Indira.
"Temui saya nanti malam, di sisi pantai," ucap Ayah Fahri.
"Siap laksanakan!" jawab Dirga.
Malam itu selepas menemui Indira, Dirga menemui sang Jendral sesuai perintah.
"Apa kamu mencintai putriku?" tanya Ayah Fahri membuat Dirga tersentak kaget.
"Siap salah! Saya memang mencintai Indira," ucap Dirga.
"Saya disini sebagai seorang Ayah, bukan seorang Jendral. Jadi saya juga ingin meminta kamu untuk menjaga jarak dengan putri saya," tegas Ayah Fahri.
"Siap! Saya akan menjaga jarak dengan putri bapak," jawab Dirga membuat Ayah Fahri tersenyum samar.
"Apa kamu tidak ingin memperjuangkan putriku?" selidik Ayah Fahri.
Dirga belum menjawab, dia hanya tersenyum dan mengambil segenggam pasir.
"Saya takut Syafa seperti pasir ini, semakin saya genggam maka akan semakin terkikis. Saya tidak ingin Syafa terluka, apalagi luka itu saya yang membuatnya. Saya hanya ingin mengikuti skenario yang sudah Allah siapkan untuk hidup Syafa dan juga hidup saya. Karena saya yakin, jika memang kami berjodoh maka kami akan dipersatukan dengan cara Allah yang paling indah," jawab Dirga tanpa ada keraguan.
"Baiklah kalo begitu, siapkan dirimu dengan baik! Dan pastikan tugasmu selesai, tugas utamamu adalah pulang dengan selamat! Itu perintah!" tegas Ayah Fahri.
"Siap! Saya akan mengingat semua ucapan bapak," ucap Dirga.
Sebelum mengajak Indira untuk bolos kuliah, tentu saja Dirga sudah meminta izin pada sang Jendral. Bahkan Ayah Fahri sendiri menceritakan tentang pertemuannya dulu bersama sang istri. Dirga ingin memiliki waktu luang untuk dia habiskan bersama Indira. Sebab waktu keberangkatannya tidak lama lagi.
"Saya beri waktu kamu untuk pergi bersama putriku seharian ini, tapi ingat jam 7 malam pastikan dia selamat sampai rumah! Dan kamu harus bersiap menerima konsekuensinya hukuman dari saya!" tegas Ayah Fahri.
"Siap laksanakan!" jawab Dirga yang tak kalah tegasnya.
"Dasar bocah jatuh cinta! Syafa, panggilannya unik," Ayah Fahri tersenyum melihat kepergian Dirga bersama sang putri.
Flashback Off
Dan disinilah Dirga dan Ayah Fahri malam ini, mereka benar-benar bermain Ludo semalaman. Dirga bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ayah malam ini. Dirga melihat Ayah Fahri sudah mulai terlelap, Dirga menyelimuti Ayah Fahri dengan menggunakan selimut miliknya.
"Terimakasih, Om. Malam ini saya bahagia, saya seperti mendapatkan kasih sayang seorang Ayah," lirih Dirga.
"Maka jadilah putraku, maka kamu akan lebih sering menerima kasih sayang dariku," ucap Ayah Fahri membuat Dirga tersentak kaget.
Ayah Fahri membuka matanya, dia bisa melihat wajah gugup dan terkejut seorang Dirga Agung Prayoga.
"Apa kamu benar-benar tidak akan mengikat putriku sebelum kepergianmu?" tanya Ayah Fahri sekali lagi dan Dirga menggelengkan kepalanya.
"Saya akan pergi selama 13 bulan, dan saya tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Saya tidak mau menyakiti Syafa, bagi saya lebih baik jika dia bisa berbahagia dengan orang lain daripada harus menanti sebuah ketidakpastian yang saya berikan," ucap Dirga.
"Kalo begitu panggil saya Ayah, itu adalah sebuah perintah dan sebuah hadiah! Saya bangga dengan sikapmu yang sangat mencerminkan seorang perwira!" ucap Ayah Fahri memeluk erat tubuh Dirga.
* * *
Mentari pagi bersinar dengan cerahnya, Indira sudah selesai menyiapkan sarapan pagi bersama sang Bunda.
"Ayah kemana, Bun? Kok belum keliatan," tanya Indira.
"Ayah semalam tidur di Barak, katanya sekalian ngasih wejangan-wejangan buat para perwira dan prajurit yang akan berangkat nanti," ucap Bunda Gisya.
"Bun, aku boleh minta tupperware nya tiga ya! Tapi itu gak akan balik lagi," pinta Indira.
"Apa?! Tiga?! Banyak banget, buat apa?" kaget Bunda Gisya.
"Jangan kepo dulu, Bun! Bunda boleh potong dari uang jajan aku," Indira memohon pada sang Bunda dan akhirnya Bunda Gisya mengangguk.
Indira mulai memasukan makanan-makanan yang dia siapkan tadi kedalam tupperware. Hari ini adalah keberangkatan Dirga ke Lebanon, dia bertekad akan memberikan bekal makanan untuk Dirga sebagai salam perpisahan. Sebelum memberikannya, Indira sudah menuliskan sepucuk surat. Berharap Dirga akan selalu mengingat Indira.
Para perwira yang akan berangkat ke Lebanon sudah bersiap di Lapangan. Banyak sekali ibu-ibu Persit yang tengah menangis, sebab mereka akan ditinggalkan oleh sang suami. Dan jujur saja, hal itu adalah yang paling Indira benci. Dia tidak ingin mengalami rasa sakitnya, tapi pada akhirnya Indira jatuh pada ucapannya sendiri.
Dengan berjalan sedikit cepat, Indira menghampiri Dirga yang ternyata tengah memeluk seorang Nenek yang terlihat cukup tua.
"Syafa," panggil Dirga ketika melihat Indira akan berbalik arah.
"Eh, iya Kak!" gugup Indira ketika Dirga memanggilnya.
"Nek, ini Syafa. Perempuan yang selalu aku ceritain sama Nenek," ucap Dirga.
"MashaAllah cantiknya, pantes aja kamu selalu sumringah kalo menceritakan dia," ucap Nenek Dirga sambil memeluk Indira.
"Saya Indira Myesha Kirania Syafa, Nek," ucap Indira mencium tangan Nenek Dirga.
"Nenek tau, setiap pulang anak nakal ini akan selalu menceritakan kamu. Kalian ngobrol saja dulu, Nenek mau merayu aki-aki yang lagi ngambek," ucap Nenek Dirga membuat keduanya tertawa.
Kini mereka berdua tengah duduk bersama, Indira memberikan kotak bekal itu pada Dirga.
"Apa ini?" tanya Dirga melihat dua kotak bekal dan sebotol minuman.
"Didalem sini ada makanan, sengaja aku buat dengan tangan aku sendiri. Berharap Kakak bakalan selalu inget sama aku," ucap Indira sambil menahan airmatanya.
"Aku pasti akan selalu mengingatmu, Syafa. Dengan atau tanpa makanan ini, aku mohon jangan nangis! Hatiku sakit, Syafa," Dirga menghapus airmata Indira yang lolos begitu saja.
"Pokoknya Kak Yoga harus kembali dengan selamat, apalagi bawa tiga tupperware kesayangan Bunda! Kalo sampe ilang, siap-siap aja," ucap Indira mencoba mencairkan suasana yang cukup tegang.
"Mari kita ikuti alur yang sudah Allah berikan, mari kita meminta pada yang maha kuasa. Apapun yang Allah takdirkan, sudah pasti itu hal terbaik untuk kita. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan mengingatku jika itu membuatmu menangis," ucap Dirga menangkup kedua pipi Indira.
Indira memeluk tubuh Dirga dengan sangat erat, begitupun sebaliknya.
"Syafa, aku mencintai dan menyayangimu," ucap Dirga.
"Aku juga cinta dan sayang sama kamu, Kak! Jangan lupa makan dan jaga kesehatan, kalo boleh aku minta tolong jaga hatimu! Sisakan sedikit ruang untukku," lirih Indira.
"Separun hatiku sudah terisi dirimu, Syafa," ucap Dirga membuat Indira tersenyum.
"Kembalilah dengan selamat, Mas Yoga. Alright, let's follow the path of life that Allah has determined. I will follow all your words, Mas Yoga. Karena kewajiban makmum adalah menuruti imamnya," ucap Indira mengecup pipi Dirga lalu pergi begitu saja.
Dirga tersentak kaget, lalu kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia takut jika Ayah Fahri akan melihat tingkah putrinya itu.
"Syafa, kamu benar-benar bisa membuatku gila! Panggilan manis itu, bagaimana bisa aku melupakanmu, jika sikapmu seperti ini," gumam Dirga sambil memegang pipinya.
Satu persatu sudah masuk kedalam Truk, Nenek Dirga menangis memeluk sang cucu.
"Semoga kamu akan kembali dengan selamat, Nenek tua renta ini ingin melihatmu menikah dan memberikanku cicit yang banyak," isak Nenek Dirga.
"Tentu saja, aku akan menikah dan memiliki banyak anak. Maka dari itu, aku akan terus meminta pada Allah agar Allah selalu memberikan kesehatan dan umur yang panjang buat Nenek," ucap Dirga lalu mengecup kening sang Nenek.
Semua perlahan pergi, Indira mengantarkan kepergian Dirga dalam bertugas dengan senyuman di wajahnya. Dia sudah berjanji pada Dirga tidak akan menangis. Indira juga sudah mengantarkan Nenek Dirga menuju mobilnya. Mereka sudah bertukar nomor ponsel, bahkan janjian untuk bertemu di hari Minggu. Di truk, Dirga membuka bekal yang diberikan Indira. Dia menemukan sepucuk surat disana, Dirga tersenyum saat membaca surat yang diberikan oleh Indira.
🌼🌼🌼🌼🌼
Teruntuk yang kusayang, Mas Yoga.
Hai, Mas! Gimana? Suka dengan panggilanku yang baru? 😉
Aku buat masakan ini dengan penuh cinta, meskipun hanya makanan sederhana.. Uang jajanku sampe dipotong lho Mas, supaya tupperware ini bisa kamu bawa ke Lebanon bersama cinta tulusku untukmu.. Maka dari itu, aku mohon sama kamu, Mas.. Kembalilah dengan selamat, supaya kalo tupperware ini ilang kamu bisa mempertanggung jawabkan itu sama Bunda.. Okelah, Mas! Kita ikuti alur yang sudah Allah berikan untuk kita, sekalipun suatu saat nanti kamu telah menemukan orang yang membuatmu nyaman.. Tapi ingatlah selalu, bunga matahari ini akan tetap menyimpan sinarmu dan merindukan kehangatanmu.. Mari kita bertemu di Taman Telkom Gasibu, 13 bulan kemudian.. Aku harap Allah akan mendengarkan seluruh do'a-do'a kita..
Dari Syafa, bunga mataharimu 🌼
* * *
Selepas mengantar kepergian Dirga, Indira kembali kerumahnya. Dan ternyata, Athaya sudah berada disana. Jujur saja, Indira bimbang dengan hatinya. Dia selalu tidak tega, ketika melihat perjuangan seorang Athaya untuknya.
"Dira, kamu darimana? Dari kemaren aku gak bisa ngehubungin kamu," ucap Athaya.
"Maaf Athaya, ponsel aku rusak!" bohong Indira.
"Kemaren kamu pulang kampus jam berapa? Aku nyariin kamu kemaren," tanya Athaya.
"Aku gak enak badan, jadi kemaren aku minta pulang duluan. Aku masuk kedalem dulu, ya. Kepala aku agak pusing," terpaksa Indira berbohong lagi pada Athaya.
"Yaudah kamu istirahat, ya. Nanti sore aku balik lagi kesini, bawain makanan buat kamu," ucap Athaya dan Indira menganggukkan kepalanya.
Athaya menatap kepergian Indira, dia sungguh sangat mencintai gadis itu.
"Matamu menatapku, ragamu di dekatku. Suaramu jelas terdengar namun hatimu entah di mana bernaung. Cinta itu kosong. Cinta itu hampa. Cinta bukanlah cinta, jika yang kamu cintai bukan aku. Aku bahkan tidak bisa menjelaskan perasaan macam apa yang aku rasakan saat ini," gumam Athaya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Nonengsupartika
sebenarnya aku kasian sm athaya, tp gmn lg ya aku tetep dukung dirga
2022-05-18
1
Okie Larasati
uluuuuhuluhh,,mas Yoga😍😍
2022-02-15
0
pasutri gaje
langsung lah thor si dirga pulang. 😁
2022-02-09
1