Sejak pagi tadi, hujan turun mengguyur kota Bandung dengan derasnya. Indira dan Fika kini tengah berada di Mesjid Raya Bandung. Mereka baru saja selesai mengajar anak-anak jalanan yang sering mengamen dan berjualan asongan disana.
"Huft! Hujan nya masih deras banget," keluh Fika.
"Allahumma sayyiban nafi'an, jangan mengeluh Fika! Karena hujan itu sebuah berkah bagi manusia, cuman manusia macem kamu nih yang gak bersyukur! Panas ngedumel, hujan juga ngedumel, sampe langit nanya 'aku kudu piye?'," ucapan Indira membuat Fika tertawa.
Karena hujan masih sangat deras, keduanya memutuskan untuk pergi ke basement Alun-alun untuk mencari makanan yang dapat menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan.
"Dira! Kayaknya makan cuankie enak deh," Fika menunjuk penjual cuankie.
"Boleh, lagian cuman disana tempat yang gak begitu rame," Indira dan Fika berjalan menghampiri sang penjual cuankie.
"Pak, cuankie nya 2 porsi ya!" pinta Fika.
"Siap neng, antosan!"
Mereka berdua menikmati cuankie sambil sesekali tertawa, mereka sedang membahas kelucuan anak-anak jalanan yang diasuhnya.
Dddrrttt ddrrrttt...
Getar ponsel milik Fika menghentikan obrolan mereka, Indira lebih memilih kembali menikmati sisa cuankie di mangkoknya.
"Dira! Kamu mau ikut aku sama Carel ke Cimahi gak? Kita mau survey tempat buat bikin rumah singgah, ikut ya!" ajak Fika dan Indira menggeleng.
"Gak ah! Kalian aja, aku mau ke butik Teh Alana," tolak Indira.
"Ish! Yaudah yuk, aku temenin kamu nyari taksi ya! Sekalian nunggu Carel di halte, apa mau sekalian aja kita anterin kamu dulu?" ujar Fika menyarankan.
"Gak usah, nanti kalian malah kesorean! Aku mah gampang, ada taksi ada ojek online juga," ucap Indira sambil beranjak.
Sebelum pergi, mereka membayar cuankie terlebih dahulu.
"Pak, totalnya berapa?" tanya Indira.
"18ribu aja neng," jawab sang penjual.
"Ini Pak, makasih ya!" ucap Indira lalu berpamitan.
"Neng, ini uangnya kebanyakan!" panggil penjual cuankie itu.
"Buat bapak, semoga dagangannya laris!" ucap Indira dan pergi darisana.
Sang penjual menatap lima lembar uang seratus ribuan ditangannya.
"Semoga Allah selalu melindungimu dan menjagamu serta menambahkan banyaknya rezeki untukmu," do'a tulus penjual cuankie itu pada Indira.
Sedangkan tak jauh disana, seorang laki-laki menatap Indira yang mulai menjauh.
"Hatimu memang sangat tulus dari dulu hingga sekarang, apakah kamu masih mengingatku?"
Indira dan Fika menunggu kedatangan Carel di halte bis, mereka duduk bersama. Disana tak begitu ramai, sebab orang lebih memilih berteduh dimasjid.
"Tuh Carel udah dateng!" tunjuk Indira pada sebuah mobil mungil berwarna kuning.
"Ck! Gak sedep banget dipandang, kenapa mesti pake si yellow sih," cebik Fika.
"Lho emang kenapa?" Indira menatap Fika dengen keheranan.
"Iyalah gak sedep! Kuning kan kalo ujan ngambang!" celetuk Fika membuat Indira kesal.
"Udah sana pergi!" usir Indira.
Carel membuka kaca mobilnya, dia kembali mengajak Indira bersama mereka.
"Beneran gak mau dianterin?" teriak Carel dari dalam mobilnya.
"Gak usah! Gampang nanti aku pake angkot atau taksi," jawab Indira sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"Awas hati-hati dijalan! Kalo ada apa-apa, hubungin kita!" pinta Carel dan Indira hanya menunjukan kedua jempolnya.
* * *
Selepas kepergian Carel dan Fika, dia kembali mendudukan dirinya dibangku halte. Hujan masih cukup deras, sedangkan sejak tadi angkot dan taksi seolah menghilang.
"Lumayan dingin juga ternyata," gumam Indira memeluk dirinya sendiri.
"Boleh saya duduk disini, bangku disana penuh," ucap seorang laki-laki berseragam TNI.
"Silahkan," jawab Indira tanpa melihat orang yang tengah berbicara.
Ada jarak diantara keduanya, tapi Indira bisa dengan jelas menghirup parfumnya.
"Wangi ini, kayak pernah cium bau parfumnya!" batin Indira.
"Angkot kalapa ledeng belun ada yang lewat ya?" tanya laki-laki itu.
"Iya belum ada, saya juga lagi nunggu," jawab Indira sambil menunduk, membuat laki-laki itu tersenyum puas sebab bisa berbicara dengan Indira.
"Apakah kamu tahu hal yang paling romantis dari hujan?" tanya laki-laki itu dan Indira menggelengkan kepalanya seolah tak peduli.
"Dia selalu kembali meski ia tahu ia akan selalu terjatuh. Langit menjatuhkan tetesan air hujan yang sedih, sakit, dan tak mampu menghapuskan dosa, apalagi kenangan," ucapnya lagi membuat Indira terpancing untuk menjawabnya.
"Daripada hanya memikirkan kenangan, lebih baik kita banyak bersyukur. Hidup ini penuh dengan keindahan. Perhatikan sekelilingmu ada lebah kecil, anak kecil, dan wajah-wajah yang penuh senyuman, hirup aroma hujan, dan rasakan anginnya. Jalani hidupmu dengan penuh pengharapan. Lebih baik, berjuanglah untuk mimpi terbesarmu," ucap Indira membuat laki-laki itu tersenyum.
Tak lama kemudian, datanglah angkot jurusan Kelapa ledeng. Sayangnya hanya bangku samping sopir yang kosong.
"Naik dua-duanya aja didepan, Pak! Udah gak ada yang ngetem dibelakang!" ucap sopir angkot itu membuat Indira menggelengkam kepalanya.
"Biar beliau aja yang naik, saya bisa memakai kendaraan lain," tolak Indira.
"Taksi susah neng, lagi pada demo! Mending masuk aja sekarang," titah sang sopir.
Akhirnya Indira mengalah, terlebih waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan hujan masih turun deras pula.
"Kamu kesempitan?" tanya laki-laki itu pada Indira.
"Sudah jelas kan? Jadi gak perlu saya jelaskan," ketus Indira membuatnya tertawa.
"Jangan galak-galak, nanti cantiknya hilang," gombal laki-laki itu sambil berbisik.
Indira tak menyauti ucapannya lagi, kini dia sudah sampai dijalan R. E. Martadinata atau lebih dikenal dengan jalan riau.
"Kiri depan, Pak!" pinta Indira pada sang sopir.
"Bisa turun dulu? Saya mau turun," ucap Indira membuat laki-laki itu turun terlebih dahulu.
"Hati-hati dijalan, nona cantik! Hujan masih deras!" ucap laki-laki itu sambil melambaikan tangannya.
Deg!
Jantung Indira berdegup kencang, dia melihat syal yang beberapa tahun lalu pernah terikat pada kakinya yang terluka.
"Apa dia Kak Yoga?! Arrrgghhh! Aku gak liat mukanya lagi tadi!" kesal Indira pada dirinya sendiri.
Dengan langkah gontai, dia berjalan masuk ke butik milik sang calon Kakak ipar.
"Kiran! Kirania," teriak Athaya dari parkiran sayangnya Indira tak menyaut.
"Hei! Lo daritadi gue panggil-panggil gak nyaut!" ucap Athaya menarik tas Indira.
"Lepas! Nama saya Indira, kalo kamu panggil saya dengan nama lain untuk apa saya menoleh," ketus Indira.
"Oke deh, oke! Gue panggil lo Dira aja!" Athaya melepaskan tas Indira.
Tanpa memperdulikan Athaya, Indira masuk kedalam butik.
"Teh Raya, kok Teh Alana gak ada?" tanya Indira.
"Lah barusan Teh Alana pergi sama Teh Elmira, emang gak ketemu tadi?" ucap Raya membuat Indira mendengus kesal.
"Enggak! Yaudah deh, aku pulang ya Teh," pamit Indira.
"Gue anter ya! Diluar masih hujan! Daripada lo sakit," bujuk Athaya.
"Gak usah, itu saya udah pesen taksi!" ketus Indira lalu pergi masuk kedalam taksi.
Athaya menatap taksi itu, dia semakin tertantang untuk mendekati gadis itu. Terlebih Athaya tau, jika Alana adalah calon kakak iparnya.
"Akan aku kejar kamu, Indira. Kamu semakin membuatku yakin, kalo kamu adalah perempuan yang tepat untuk menjadi belahan jiwaku," batin Athaya.
Sedangkan didalam taksi, Indira termenung menatap air hujan dan memegang sebuah liontin yang selalu tergantung dikalungnya.
"Aku selalu menitipkan rindu, pada hujan yang selalu lewat di depan kaca jendelaku. Aku ingin kau mengetahui, diam-diam aku selalu berharap agar hujan membawa harapanku yang sama. Aku berharap hujan ini segera reda, agar rindu ini tak terlalu dalam mengorek luka. Bila diibaratka ujan bagaikan tirai yang memisahkan kamu dan rindu. Dan jika harus memilih, maka kupilih untuk membuka tirai, agar bertemu dengan dirimu, Kak Yoga," batin Indira hingga tak terasa membuat airmatanya menetes dipipi.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
WD
Thor yg baik hati satu kan yoga ma Dira ya
2022-02-04
2
Araya Raya
ayo kak satuin dira sama dirga...
2022-02-04
2
Mey
menanti pelangi setelah hujan..menunggu waktu yg tepat untk menjadi indah...❤️❤️
sabar Dira..sabar...dia jg punya rasa yg sama..hanya tinggal menunggu waktu yg tepat...😍😍😍😍
lanjut neng...😔😘😘😘
2022-02-03
1