Waktu terus berlalu, tak terasa sudah 6 bulan Dirga pergi bertugas. Dan sudah selama tiga bulan ini Indira tak mendapatkan kabar apapun darinya. Awalnya Indira mulai merasa gelisah, tapi semua itu kembali normal ketika mengingat ucapan sang Bunda.
"Jalani seperti air mengalir aja, jangan menggenggam terlalu erat takutnya ada yang patah. Yang penting kalo dia butuh kamu, kamu selalu ada. Kalo dia rindu, kamu selalu dihatinya. Hiduplah seperti kalian berdua belum saling mengenal, jangan dijadikan beban,"
Hingga saat ini nasehat Bundanya tiga bulan yang lalu terus terngiang ditelinganya. Karena memang tidak mudah untuk menjalani sebuah hubungan dengan seorang abdi negara. Apalagi hubungan yang dijalani itu LDR. Indira kini tengah menikmati suasana pagi ditaman yang saat ini menjadi tempat favoritnya.
Tadi pagi, kedua orangtuanya mengajak Indira untuk lari pagi disana.
"Dek! Kamu mau bubur ayam gak?" tanya Bunda Gisya.
"Boleh, Bun! Gak pake bawang-bawangan ya!" Indira memang tidak menyukai sesuatu hal yang berbau bawang-bawangan.
"Iya! Tunggu duduk yang manis sama Ayah," titah sang Bunda seolah Indira masih anak kecil.
Kini tinggalah Indira bersama Ayah Fahri yang tengah meluruskan kedua kakinya.
"Dek, boleh Ayah tanya sesuatu?" Ayah Fahri menatap Indira dengan wajah yang serius.
"Boleh, Ayah. Ada apa?" tanya Indira yang was-was.
"Hubungan kamu sama Athaya gimana sih? Ayah liat kalian makin sini makin deket aja, apa Athaya mau serius sama kamu?" pertanyaan Ayah Fahri membuat Indira tersenyum.
"Adek cuman menjalani aja, Ayah. Kita juga cuman sebatas teman, kok! Adek masih mau menggapai cita-cita Adek, Ayah," Indira mengulas senyum terbaiknya dihadapan sang Ayah.
Sejenak keduanya terdiam.
"Kalo Dirga yang ngelamar kamu gimana?" sontak pertanyaan Ayah Fahri membuat Indira terkesiap. Darimana Ayahnya bisa mengenal Dirga? Indira tak pernah terbuka pada sang Ayah.
Belum Indira menjawab, Bunda Gisya datang membawa bubur yang anehnya dia bersama Athaya. Entah kapan laki-laki itu datang, Indira hanya bisa memaksakan senyumnya.
"Ini buburnya, tanpa pake bawang-bawangan sesuai permintaan tuan putri," Athaya berucap sangat manis, jika yang berucap itu Dirga bisa jadi Indira bersorak senang.
"Makasih, ya!" sungguh Indira merasa dilema dengan hatinya sendiri. Disisi lain dia sangat mengharapkan Dirga, tapi disisi lain dia merasa nyaman ketika bersama Athaya.
Saat mereka tengah menikmati bubur ayam, Bunda Gisya mendapat telepon jika Elmira akan melahirkan. Dengan cepat Athaya mengantarkan Bunda Gisya ke rumah sakit, sedangkan Indira akan ke asrama sebab Sweta dititipkan pada Kak Betrys. Indira pergi bersama Ayah Fahri, sebab Ayah Fahri juga mendapat kabar jika Mirda baru saja kembali. Mengingat putrinya akan melahirkan, Ayah Fahri segera melajukan mobilnya.
Indira segera membawa Sweta, dia menjaga Sweta di asrama milik sang Kakak. Suasana asrama sangat ramai, sebab kepulangan para prajurit dimajukan lebih awal.
"Fikaaa!" panggil Indira ketika melihat Fika yang tengah membawa bucket bunga.
"Dira! Ah aku lega ternyata kamu disini," Fika memeluk Indira dengan erat.
"Kamu pasti mau ketemu Kak Panji, ya?" tanya Indira dan Fika mengangguk.
"Iya, aku udah kangen banget sama dia!" sungguh Indira sebal mendengar kebucinan Fika terhadap kekasihnya itu.
Indira menemani Fika menuju lapangan dekat Aula, terdengar suara isak tangis dari keluarga para prajurit yang gugur di medan perang. Kemudian mata Indira menangkap sosok panji yang terduduk dikursi roda. Melihat itu, Fika segera berhambur memeluk sang kekasih hati.
"Yaa Allah, Kak! Kamu kenapa sayang," Fika terisak memeluk tubuh Panji, bucket bunga yang dibawa nya pun terjatuh begitu saja.
Demi Allah, Indira menangis melihat kondisi Panji dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Panji mengalami luka tembak di kakinya, dan itu terjadi satu jam sebelum kepulangannya. Indira terbayang wajah Dirga yang kini sedang menjalani tugasnya, airmatanya lolos begitu saja. Terlebih ketika melihat Panji menatapnya dengan sendu.
"Dirga akan baik-baik saja, jangan khawatir! Dia pasti akan segera pulih," ucapan Panji membuat Indira terkesima.
"Maksud Kakak apa?!" sungguh Indira tak mengerti yang diucapkan oleh Panji.
Panji menghela nafasnya, rupanya ia salah bicara. Ternyata Indira belum mengetahui insiden yang menimpa pasukan kontingen garuda di Lebanon.
"Kak please! Ada apa?!" Panji dan Fika saling menatap bingung.
"Dua bulan yang lalu, terjadi ledakan bom yang dilakukan oleh pasukan Israel. Dirga waktu itu tengah berjaga malam, ledakan itu menimbulkan banyak korban. Dirga sedang mengevakuasi para warga sipil, tapi dia mendapat dua tembakan didada dan di bahunya. Apa Jendral gak ngasih tau kamu?" ucapan Panji membuat Indira melemas seketika.
Fika segera menghampiri sahabatnya itu, dia memeluk Indira dengan sangat erat.
"Kak Panji bohong kan?! Sekarang gimana kondisi Kak Dirga?" Indira menangis sesegukan membuat Sweta juga ikut menangis.
"Dia masih dalam perawatan, untung saja ada perawat asal Indonesia yang merawatnya dengan baik. Dan....." Fika melotot kearah sang kekasih.
"Dan apa?!" Indira bertanya penuh menyelidik.
"Dia hampir mati ketika menyelamatkan Dirga, dia akan menikahi perawat itu saat mereka kembali ke Indonesia," ucap Panji berhati-hati.
Duaaarrrrrrrr
Bagaikan disambar petir di siang bolong, hati Indira sungguh sakit mendengarnya. Tuhan, bolehkah Indira mengeluh padamu?! Indira sungguh kecewa, terlebih ketika mengingat percakapannya bersama sang Ayah tadi pagi. Dengan kasar Indira mengapus airmatanya, dia tak boleh lemah. Bukankah ini jalan yang dia ambil, lagi pula Dirga bukan siapa-siapa. Mereka tak ada ikatan apapun. Indira berpamitan pada Fika dan Panji, dia mulai menegarkan hatinya.
Fika dan Panji menatap kepergian Indira dengan perasaan bersalah.
"Maafkan aku, Dira! Aku terpaksa harus berbohong, karena itu keinginan Dirga. Dia ingin melihatmu bahagia, meski bukan bersamanya," batin Panji.
"Kak! Apa benar Kak Dirga bakalan nikah?!" Fika bertanya penuh selidik.
"Kalo Kakak bohong, aku bakalan akhiri hubungan kita cukup sampai disini! Kakak tau kan seberapa berartinya Indira buat aku?!" ancam Fika membuat Panji menelan ludahnya.
Akhirnya Panji menceritakan semuanya pada Fika, tanpa ada satu hal pun yang dia tutupi.
Flashback On
Dua bulan lalu, Panji sedang berada di Pos I. Dia baru saja selesai menelepon Fika, diatas mercusuar tentunya. Sebab hanya disana mereka mendapatkan sinyal.
Tring tring
Sebuah pesan masuk, ternyata itu adalah salah satu rekan mereka. Dia mengabari jika Dirga terluka saat mengevakuasi warga sipil pasca pengeboman. Dan dia menyampaikan pesan yang Dirga sampaikan padanya sebelum tak sadarkan diri.
"Sial! Dirga kenapa lu begini?! Kenapa lu nyerah sama cinta lu! Dasar cowok bego!" umpat Panji saat dia mendengar keinginan Dirga.
Panji memutar pesan suara yang dikirimkan oleh rekannya itu.
"Ji-ji, gu-gue mo-mohon bil-bilang pa-pada Sya-syafa ka-kalo di-dia harus ba-bahagia! Ja-jangan bi-biarin di-dia nu-nunggu gu-gue,"
Sungguh hati Panji teriris, dia membayangkan bagaimana kondisi sahabatnya itu. Panji menjambak rambutnya frustasi. Dia berusaha mencari alasan yang tepat untuk dia sampaikan pada Indira.
Flashback Off
Fika menatap Panji dengan tatapan membunuh.
"Jadi selama dua bulan itu Kakak mikir, dan alasan itu yang Kakak kasih?! Sumpah aku kecewa banget, Kak! Dira pasti sakit banget! Kakak jahat," Fika sungguh sangat kesal dengan manusia dihadapannya ini.
"Sumpah cuman itu yang ada dipikiran aku, yank! Kamu juga gak ngerti kan gimana rasanya ada di posisi aku!" Panji menghela nafasnya kesal.
Sementara itu, Indira kini sudah berada dirumah sakit. Tadi Athaya datang menjemputnya, sepanjang perjalanan Indira hanya diam memangku Sweta. Begitupun saat dirumah sakit, bahkan ketika Kakak Keduanya mengumumkan akan menikah Indira hanya bisa tersenyum kaku. Pikirannya masih melayang jauh.
Setelah menjenguk keponakannya, Indira langsung bergegas menuju Cafe milik Cyra. Kini Indira memiliki pekerjaan untuk menyanyi disana, selain sedang terjadi huru-hara dalam hatinya Indira juga tengah menghindari sang Ayah yang membuatnya kecewa.
Dengan perasaan berkecamuk, Indira mulai menyapa para anak muda yang tengah nongkrong disana.
"Ketika kita tahu ada seseorang di luar sana yang setia menanti kita, tetapi kita masih sering berharap orang itu bisa menjadi seperti dirinya yang saat ini menempati hatimu. Untuk kalian yang tengah bersedih, lagu ini aku persembahkan untuk kalian,"
Sepinya hari yang ku lewati..
Tanpa ada dirimu menemani..
Sunyi ku rasa dalam hidupku..
Tak mampu aku tuk melangkah..
Masih ku ingat indah senyummu..
Yang selalu membuatku mengenangmu..
Terbawa aku dalam sedihku..
Tak sadar kini kau tak di sini..
Engkau masih yang terindah..
Indah di dalam hatiku..
Mengapa kisah kita berakhir..
Yang seperti ini,.
Hampa kini yang ku rasa..
Menangis pun ku tak mampu..
Hanya sisa kenangan terindah..
Dan kesedihanku..
Indira menyanyikan lagu itu dengan deraian airmata di pipinya. Dan hal itu terekam dan terlihat jelas oleh Dirga. Dia meminta Aini, sang adik untuk mengawasi Indira. Bahkan beberapa orang sudah ditugaskan oleh Papa Dirga untuk menjaga Indira. Demi menebus kesalahan dimasalalu, Papa Dirga mengabulkan semua permintaan putranya itu.
"Maafkan aku, Syafa. Aku sudah menyakitimu," lirih Dirga.
Selama melihat Indira menyanyi, baru kali ini Dirga melihat dia menangis. Dirga menduga jika Indira baru saja bertemu dengan Panji. Selesai bernyanyi, Indira pergi begitu saja dengan airmata yang mengalir deras dipipinya. Dia menghentikan taxi, dan meminta taxi itu membawanya ke taman. Tempat dimama Dirga berjanji akan menemuinya disana.
"Kamu bohong, Mas Yoga! Aku sakit, Mas! Sakit," Indira menangis memegangi kalung yang bertuliskan nama Dirga Agung Prayoga.
Malam itu, Indira menumpahkan segala rasa sakit hatinya disana.
"Apakah ini takdir kami, Yaa Allah.. Astaghfirullohaladzim..," Indira memegangi dadanya yang sangat sesak, dia terus memohon ampunan dari Allah.
"Maafkan aku Yaa Allah, engkau pasti telah menyiapkan hal yang jauh lebih indah untukku.
Sementara ditempat lain, Athaya yang mendapatkan sebuah pesan singkat dari nomor yang tak dikenal segera bergegas menunju taman.
📩 +961 35264527
Temui Indira di Taman Gasibu depan gedung Telkom, dia membutuhkanmu.
Athaya yang baru saja sampai, membulatkan matanya ketika melihat Indira tengah dikerubungi orang-orang karena tak sadarkan diri.
"Indira!" teriak Athaya, lalu dia membawa Indira masuk kedalam mobilnya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Fitriyani Aulina Yunarya
iihhh teh rindu mah, kapan si bikin kisah ga ada haru2nya . kudu Bae pake mewek aku ini setiap baca bab kek gini huhuhu 😭😭,, kisah2 perjuangan cinta gini ngingetin aku sama suami dulu yg cinta terhalang restu orgtua 🤧 tapi akhirnya sama kaya kisah teh rindu ujungnya happy anding , , setiap baca karya teteh makin menguatkan cinta saya buat suami . . duuhhhh kann jadi curhat aku teh mohon maaf melunjak ini hihihiii
2022-02-24
0
Okie Larasati
Mas yoga jangan gtu aah, patah hati nie emak,,
2022-02-15
0
Ratih Sllu Trsenyum
huftt...moga Dirga m Dira ttp sa happy ending...
2022-02-11
1