Dirga Agung Prayoga adalah anak kedua dari keluarga Dirgantara. Salah satu pengusaha terbesar di Kota Bandung. PT. Dirgantara memiliki banyak bidang usaha, dimulai dari toko Elektronik hingga bengkel mobil dan sepeda motor. Namun sayangnya, Dirga seolah tak dianggap ada dikeluarga itu.
Sejak lahir, Dirga sudah diasuh oleh Kakek dan Neneknya. Alasan yang diberikan oleh kedua orangtua Dirga sangatlah aneh, menurutnya. Bagaimana bisa seorang anak dijual dengan harga sembilan ribu rupiah, hanya karena memiliki hari lahir yang sama dengan kedua orangtuanya. Kedua orangtua Dirga lahir dihari jum'at, dan Dirga pun lahir dihari jum'at. Konon katanya, jika tidak dibeli maka salah satu dari mereka akan tiada. Sejak mengetahui alasan itu, Dirga sangat membenci keluarganya.
Rasanya tak adil, Dirga yang beranjak dewasa pun ingin bisa merasakan sebuah kehangatan keluarga. Bukan keinginannya untuk lahir dihari yang sama dengan kedua orangtuanya.
"Nek, kenapa Dirga harus lahir dari rahim Mama jika harus diasingkan seperti ini? Harusnya mereka menggugurkan Dirga saja," ucap Dirga yang tengah tertidur dipangkuan sang nenek.
"Semuanya demi kebaikanmu, Nak. Mereka cuman gak mau kehilangan kamu, mereka itu sayang sama kamu. Bahkan mereka masih membiayaimu hingga sekarang," ucap Nenek memberikan pengertian pada Dirga.
"Lalu kenapa? Namaku Dirga Agung Prayoga? Bukan Handini Putri Dirgantara atau Aini Clarisa Putri Dirgantara? Kenapa namaku Prayoga, Nek?! Aku benci Papa dan Mama!" teriak Dirga lalu pergi meninggalkan sang Nenek.
Sejak saat itu, Dirga menjadi orang yang sangat dingin. Dia benci ketika melihat oranglain bahagia bersama keluarganya. Dirga mulai sering melakukan kesalahan, hanya untuk mendapatkan perhatian kedua orangtuanya. Dia sering berkelahi, bahkan hingga hampir dikeluarkan oleh sekolahnya. Tapi kekuatan keluarga Dirgantara, bisa membuat Dirga masih berada disana hingga saat ini. Dirga duduk dibangku kelas 3 SMA, dan sebentar lagi dia akan lulus.
Dirga baru saja selesai bermain futsal bersama teman-temannya, Dirga cukup tampan hingga dia memiliki banyak penggemar siswa siswi. Hanya saja, sifatnya yang begitu dingin membuat orang-orang segan padanya. Dirga juga termasuk salah satu orang yang introvert, dan secara kebetulan dia bertemu dengan introvert lainya.
Bruk!
Seorang gadis berjilbab tak sengaja menabraknya, gadis itu meminta maaf tanpa melihat dirinya. Ingin rasanya Dirga memarahi gadis itu tapi dia tak bisa, aneh bukan?
"Lain kali hati-hati ya, manis!" ucap Panji sahabat dekat Dirga.
"Terimakasih, Kak!" setelah mengucapkan itu, gadis itu berlalu begitu saja dari hadapan Dirga. Panji tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Cantik nya, Ga?! Duh jadi hayang boga kabogoh," celetuk Panji membuyarkan lamunan Dirga.
Tanpa menjawab ucapan Panji, Dirga bergegas menuju loker untuk mengambil baju seragam sekolahnya.
"Dasar gunung es, gunung batu, gunung kembar! Eh, naha jadi kadinya!" gumam Panji sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ji, nyebut ji! Kesurupan maneh?!" tanya sahabat Panji bernama Eki.
"Tuh si Dirga nu kesurupan mah!" ketus Panji lalu menyusul Dirga berganti baju.
Dirga akan kembali ke kelas, tapi langkahnya terhenti ketika melihat gadis tadi yang tengah di rundung oleh temannya. Panji melangkah ingin memisahkan, tapi Dirga mencegahnya dan menunjuk gadis itu dengan ujung matanya.
"Anjay! Hebat pisan euy eta adik kelas, abong anak Jenderal nya! Dilatih keras kaya nya teh, sampe bisa bela diri kitu," ucap Panji membuat Dirga menatap gadis itu.
"Apa dirimu sama sepertiku? Yang tak mendapatkan kasih sayang orangtua," batin Dirga.
Sepulang sekolah, Dirga akan pergi bersama teman-temannya ke Pasar Malam. Dirga memang tak pernah langsung pulang, karena dia tak ingin terlalu banyak berdiam diri dirumah yang membuatnya terus merasa tersakiti.
Tring
Ponsel Dirga berbunyi, tanda pesan masuk. Dirga melihat laporan SMS Banking yang diterimanya. Mama Dirga sudah mengirimkan uang, untuk uang jajan Dirga selama satu bulan. Tentu saja bukan nominal yang sedikit, tapi Dirga tak membutuhkan itu. Yang dia butuhkan hanyalah kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Sore hari, Dirga dan teman-temannya sudah berada dipasar malam. Mereka nongkrong disana, diatas motor CRF mereka masing-masing. Dirga memang sangat menyukai motor sejenis motor trail, dia bahkan setiap minggu pergi ke gunung untuk menikmati keindahan alam dengan motor trailnya.
Pandangan mata Dirga terhenti ketika melihat sebuah keluarga yang menurutnya bahagia. Ibu, Ayah dan dua orang anak yang tengah bermain wahana disana, hati Dirga terasa sakit. Sebab dia belum pernah merasakan hal itu.
Dirga pergi darisana secara tiba-tiba, membuat Panji dan yang lainnya khawatir dan segera menyusul Dirga.
"Jika ada orang tua yang membuang anaknya, maka dunia dan akhirat menjadi tempat yang tidak pernah tenang di kehidupannya. Bagaimana bisa orang tua tidak menyukai anaknya, bukannya anak itu buah dari hasil kasih sayang ayah dan ibunya? Hatiku yang terluka tidak bisa disembuhkan sekaligus. Itu lebih buruk lagi jika luka yang datang berasal dari kedua orangtua yang membuatmu berada didunia ini. Aku akan meresapi semua makna di balik kenangan pahit yang kau berikan itu, Papa. Dan akan kujadikan pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik," airmata Dirga tak bisa terbendung lagi, Dirga menangis sambil melajukan motornya dengan kencang.
Dirga tak kembali kerumah sang Nenek, tapi dia tengah berdiri didepan pagar rumah kedua orangtuanya. Dirga bisa melihat, kehangatan keluarga disana. Dirga melajukan motornya, menabrak pagar rumah yang sedikit terbuka. Hal itu membuat mereka tercengang, Papa dan Mama Dirga berhambur keluar begitupun juga dengan adik dan Kakaknya.
Papa Dirga menatapnya dengan geram, dan satu tamparan berhasil mendarat dipipinya.
"Mau jadi apa kamu ini?! Selalu bertingkah seenaknya!" teriak Papa Dirga.
"Kenapa aku harus lahir dari benihmu dan rahim istrimu, Agung Dirgantara?! Aku ini hanyalah anak buangan! Pernahkah kamu memikirkan aku, anak yang selama ini kau buang?!" teriak Dirga membuat Papanya semakin geram.
"Apa maksudmu?! Dasar anak tak tau di untung!" geram Papa Dirga.
"Bunuh saja aku! Aku ini hanyalah ampas dirimu! Dimana kalian ketika aku membutuhkan sedikit saja kasih sayang kalian? Dimana?! Kenapa aku harus dilahirkan?! Kenapa?!! Aku hanya ingin mendapatkan sedikit saja kasih sayang seperti Handini dan Aini! Ingatlah Agung Dirgantara! Suatu hari nanti, kamu akan mencariku dan berlutut dihadapanku!!" teriak Dirga lalu berjalan perlahan menuju motornya dengan penuh emosi.
Mama Dirga menyusul dan menahan tangannya, sambil memohon dan menangis.
"Maafkan Mama dan Papa, Nak. Kami hanya tidak ingin kehilanganmu," ucap Mama Dirga.
"Maaf? Apa anda bisa dikatakan seorang ibu? Ibu yang tidak pernah sedikitpun ingin merawat anaknya yang tengah sakit, ibu yang tak peduli pada anaknya," sentak Dirga.
"Cukup Dirga!! Dia adalah ibumu, ingatlah surga ada ditelapak kaki ibumu!" bentak Handini.
"Surga? Dikakinya? Itu hanya berlaku untukmu, HANDINI DAN AINI DIRGANTARA! Namaku Dirga Agung Prayoga! Dan aku bukanlah anak DIRGANTARA! Satu hal lagi, jika aku bisa memilih, aku ingin SURGAKU BERADA DALAM KAKI NENEK! Yang selama ini menyayangku dengan tulus!" teriak Dirga dengan airmata dipipinya.
Dirga pergi dengan motornya, dia menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Papa dan Mama Dirga teduduk lesu, mereka baru menyadari kesalahan mereka. Dulu mereka pikir Dirga adalah seorang anak laki-laki yang kuat, nyatanya dia rapuh tanpa kasih sayang kedua orangtuanya.
"Aini benci Papa dan Mama, karena kalian Kak Dirga juga membenci Aini!" teriak Aini.
"Pergi ke kamar Aini!" bentak Handini.
"Aku juga benci Kak Dini! Aku mau tinggal sama Nenek, yang jelas-jelas manusia!" teriak Aini membuat sang Mama semakin menangis kencang.
Dirga berhenti disebuah supermarket, dia membeli sebotol pembasmi serangga. Kali ini, Dirga sudah bertekad untuk mengakhiri hidupnya. Dia tak ingin hidup dalam kesakitan, kesepian dan kesendirian. Dirga sudah muak dengan dunia ini, diusianya yang masih labil Dirga enggan untuk melanjutkan hidupnya.
Setelah membeli pembasmi serangga, Dirga meneguknya hingga tandas dipinggir jembatan. Tubuhnya mulai lemas, mulutnya mulai mengeluarkan busa. Dan Dirga sudah tidak sadarkan diri. Hingga tak lama kemudian, datanglah segerombolan orang yang memakai baju seragam TNI AD menemukan Dirga dalam kondisi yang naas itu. Mereka segera membawa Dirga kerumah sakit terdekat, dan akhirnya Dirga dapat tertolong.
Siapa sangka, yang menemukan Dirga adalah Mirda yang baru saja pulang dari kedai Mas Bewok. Mirda mendengar dering ponsel, bertuliskan 'YANG KUBENCI'. Mirda mengangkat ponsel itu, dan mendengar suara isak tangis.
"Dirga! Kamu dimana, Nak? Maafkan Mama sayang," isak Mama Dirga.
"Maaf bu, saya menemukan putra ibu sudah tergeletak dipinggir jalan dengan mulut berbusa. Kami sudah membawa putra ibu ke Rumah Sakit Hasan Sadikin," ucap Mirda.
"Apa?!" panggilan itu terputus, sepertinya ponsel itu terjatuh.
Setengah jam kemudian, kedua orangtua Dirga beserta Kakek Nenek dan Adik Kakaknya tiba di Rumah Sakit. Dirga berada diruang ICU, sebab racun itu sudah masuk kedalam pencernaannya. Hingga kondisinya cukup buruk, mereka menangis tersedu-sedu.
"Dirga anakku! Aku ibu yang gagal, aku memang tidak pantas dipanggil sebagai seorang ibu!" histeris Mama Dirga.
"Cukup! Diamlah!" bentak Papa Dirga yang terlihat sangat frustasi, bagaimanapun Dirga adalah anak laki-laki satu-satunya yang diharapkan menjadi penerusnya.
"Maaf Pak, Bu. Ini ponsel milik Dirga, kami pamit karena harus kembali ke Asrama," ucap Mirda lalu memberikan ponsel itu pada Mama Dirga.
"Terimakasih, Nak," ucap Mama Dirga sambil mengelus pundak Mirda.
"Sama-sama, Bu. Semoga Dirga lekas sembuh," ucap Mirda lalu pergi.
Mama Dirga menangis, ketika dia melihat nomornya disimpan dengan nama 'YANG KUBENCI' sedangkan nomor suaminya disimpan dengan nama 'NERAKA HIDUPKU'. Mereka tertunduk lesu, sedangkan Kakek dan Nenek Dirga hanya terdiam membisu.
"Sesakit itukah hidupmu, Dirga. Maafkan Mama dan Papa, Nak," batin Mama Dirga.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Tha Ardiansyah
emangnya kita bisa milih sendiri hari dan tanggal untuk lahir ke dunia ini, woooyy...itu semua cuma mitos, kalopun benar adanya itu semua udah jadi takdir kita,
2022-04-07
0
Okie Larasati
ada gtu,yg hari lahirnya samaan trus djual,9 rebu lagi aah,,mitos dipercaya,,
2022-02-15
0
Maimunah Mh
memang the best deh author
2 novel author mah bikin greget slalu ada kejutan😘
tetap semangat thor💪😅
2022-01-31
1