Waktu terus berlalu, kini Indira sudah naik ke jenjang baru dalam pendidikannya. Universitas Pendidikan Indonesia, kampus ini yang dipilih oleh Indira. Cita-citanya untuk menjadi seorang guru membuat Indira bertekad untuk kuliah disana. Dan ternyata, Fika dan juga Carel masuk di Universitas yang sama. Walapun di jurusan yang berbeda.
Indira lebih memilih mengambil FKIP ( Fakultas Ilmu Pendidikan) jurusan Teknologi Pendidikan. Dia ingin mempelajari teknologi, bagaimana merancang pendidikan lebih mudah, efisien dan mengikuti kemajuan zaman.
"Bismillah, selamat datang di Kampus Indira! Semangaaaat!" ucap Indira pada diri sendiri.
Dia melangkahkan kaki dengan tekad yang kuat. Setelah sebulan yang lalu dia mengikuti ospek, kini dia resmi bergelar Mahasiswa Baru.
"Diraaaaa!" panggil Fika sambil berlari menuju Indira.
"Ngapain lari-lari?" tanya Indira yang keheranan.
"Besok Kak Panji cuti, dan ngajak ketemuan! Temenin aku ketemu dia, ya!" rengek Fika.
"Hm, gak janji tapi! Soalnya lagi banyak tugas," ucap Indira.
"Janji lah! Aku juga minta Carel anterin, pleaseee temenin ya!" pinta Fika dan terpaksa Indira mengangguk.
Ya! Panji dan Fika menjalin hubungan hingga saat ini. Siapa sangka Panji memilih ikut bersama Dirga untuk melanjutkan pendidikannya disekolah Militer, kini mereka sudah resmi menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia berpangkat Letnan Dua (Letda). Selama empat tahun mereka mengenyam pendidikan di Akmil Secapa TNI AD. (Mohon dikoreksi apabila ada kesalahan 🙏)
Sedangkan Eki, sahabat mereka yang satu itu lebih memilih untuk berkuliah dengan mengambil jurusan Management Bisnis. Dirga dan Panji kini tengah bercengkrama.
"Gua kangen banget sama yayank gua," ucap Panji sambil menatap langit.
"Inget tugas! Bukan inget pacar," Dirga menoyor kepala Panji.
"Itu juga gua inget, Ga! Eh ngomong-ngomong, Babe lu masih sering ngehubungin lu?' tanya Panji dengan sangat hati-hati.
"Masih, gua kan pernah bilang. Suatu saat dia akan berlutut ke gua dan memohon sama gua," ucap Dirga membuat Panji menghela nafasnya.
Flashback On
Dirga baru saja menerima surat kelulusan dari sekolahnya, dia segera meminta bantuan pada Mirda untuk mendaftarkannya di Sekolah Calon Perwira (Secapa TNI AD) yang berada di Jl. Hegarmanah, Bandung.
"Abang sudah mendaftarkanmu, tapi semua itu memerlukan izin orangtua. Mau bagaimanapun, mereka adalah orangtuamu. Beritahu mereka baik-baik, kalo kamu ingin menjadi seorang TNI," titah Mirda.
"Siap, Bang! Nanti aku bilang sama keluargaku," ucap Dirga.
Rasanya dia muak jika harus bertemu dengan kedua orangtuanya, tapi seperti kata Mirda semuanya harus memiliki izin dari kedua orangtua.
"Aku mau meneruskan sekolahku di Secapa," ucap Dirga dengan wajah datarnya.
"Apa?! Enggak! Papa gak setuju, kamu itu penerus Dirgantara! Dan Papa mau kamu sekolah ke luar negeri," tegas Papa Dirga.
"Maaf tuan Agung Dirgantara, sepertinya anda lupa. Saya ini Dirga Agung Prayoga, dan meskipun anda tidak mengizinkan saya akan tetap menjadi seorang TNI!" tegas Dirga.
"Anak brengsek!" teriak Papa Dirga melayangkan tamparan.
Plaaakk!
Mama Dirga menyelamatkan sang putra dari tamparan suaminya, hingga pipinya yang terasa panas karena tamparan suaminya.
"Cukup! Biarkan dia menggapai cita-citanya sendiri, dia bukan bonekamu!" teriak Mama Dirga membuat sang suami terdiam menatap tangannya sendiri.
"Ck! Laki-laki seperti apa yang menampar suami dan anaknya sendiri seenaknya. Oops! Aku lupa, aku adalah anak dari keluarga Prayoga!" ketus Dirga.
"Ikut Mama, Nak! Sekarang!" pinta Mama Dirga dan dia menurut.
Ibu dan anak itu kini duduk berhadapan, Mama Dirga berlutut didepan putranya.
"Maafkan Mama, Nak. Mama sangat bersalah sama kamu, seharusnya Mama gak ikutin semua mitos yang ada dalam keluarga Papamu. Maafkan Mama," isak Mama Dirga.
"Cukup Ma, bangunlah! Dirga gak mau jadi anak durhaka, mau bagaimanapun Mama adalah Surga bagi Dirga. Maaf karena Dirga sudah pernah berucap yang mungkin menyakitkan hati Mama, tapi Dirga mohon! Tolong izinkan Dirga mecari jati diri, Dirga ingin hidup menurut keinginan Dirga," ucap Dirga memeluk sang Mama.
"Yaa Allah, Nak. Mama sayang Dirga, Mama akan selalu mendukung semua keputusan kamu sayang," ucap Mama Dirga.
Flashback Off
* * *
Pagi ini Indira akan menemani Fika untuk bertemu dengan sang pujaan hati, dengan Carel juga tentunya. Mereka kini tengah berada di Tafso Resto yang berada didaerah Punclut.
"Pokoknya traktir! Gua cape nyetir kali," ketus Carel.
"Itungan banget sih! Yaudah tar gue traktir," ucap Fika membuat keduanya bersorak.
"Gitu dong! Jadi nyamuk kan gak enak," celetuk Indira.
"Enak aja nyamuk, kebagusan! Kambing conge kita," ucap Carel merangkul Indira.
"Kita? Lo aja kali, gue mah enggak!" Indira berucap sambil melengos pergi.
Seperti biasa, sang introvert itu lebih memilih untuk duduk disebuah kursi yang tepat menghadap pemandangan yang sangat indah.
"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan," gumam Indira.
"Dira! Lu mau makan apaan?" teriak Carel yang berada dikursi dibelakangnya.
"Nasi Bali aja sama air putih," pinta Indira.
"Whokey!" jawab Carel.
Fika dan Panji berbincang bersama untuk meluapkan kerinduan.
"Itu si Dira masih doyan menyendiri aja," tunjuk Panji dengan dagunya.
"Dira mah emang gitu anaknya, Kak Dirga gak ikut?" tanya Fika.
"Dirga lagi balik kerumah Mamanya, katanya Mamanya sakit," jawab Panji.
"Yaa Allah, kasian Kak Dirga!" lirih Fika.
"Iya, emang! Dia itu baru ngerasain kasih sayang Mamanya, makanya dia khawatir banget pas tau Mamanya sakit," ucap Panji.
"Semoga aja Mamanya cepet sembuh ya, Kak!" do'a Fika.
"Aamiin, si Dirga sering nanyain si Dira! Apa si Dira udah punya pacar?" tanya Panji.
"Dira mah mana mau pacaran, dia mah pacarannya sama buku!" ucap Fika sambil menunjuk Indira dengan bukunya.
"Hm, Kakak sebenernya pengen comblangin mereka berdua. Tapi si Dirga bilang 'biarlah Allah yang menentukan'. Sebel banget! Kalo gak ada usahanya mah percuma," ucap Panji menghela nafasnya.
"Padahal dari segi nama juga cocok ya, Kak. Dirga dan Dira! Semoga aja semesta merestui mereka," ucap Fika menatap sang sahabat.
Karena ada kelas siang, Indira dan Carel berpamitan terlebih dahulu meninggalkan kedua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu. Setelah sampai dikampus, ternyata para dosen sedang mengadakan rapat. Indira bergegas menuju parkiran untuk menyusul Carel.
Matahari siang sudah mulai terik, Indira tengah kesal karena Carel malah pergi meninggalkannya begitu saja.
"Dasar Carel gilaaaaaa......!" kesal Indira sambil menendang sebuah kaleng minuman yang ada dihadapannya dengan kencang.
"Awww!" teriak seseorang membuat Indira menghentikan langkahnya.
Dengan gugup, Indira berbalik arah dan berjalan dengan cukup cepat.
"Ayo, jalan cepet Dira! Jalan cepet Dira!" gumam Indira sambil terus berjalan.
"Heit! Mau kemana lo!" ucap laki-laki itu memegangi tas gendong Indira.
"Apaan sih! Lepasin!" ucap Indira tanpa menoleh.
"Lo kan yang tendang ni kaleng?" tanya laki-laki itu sambil memperlihatkan kaleng ditangannya.
Indira sangat gugup, ini pertama kalinya dia berbicara dengan seorang laki-laki selain sahabatnya, Carel. Indira menutup matanya, sebisa mungkin dia bersikap tenang.
"Jawab gue! Lo kan yang nendang ni kaleng?!" bentak laki-laki itu.
"Mmmm.. Ituu, itu... Sorry! Aku gak sengaja," jawab Indira masih enggan berbalik.
"Lo ngomong sama gue? Apa sama angin?" ketus laki-laki itu membuat Indira berbalik.
Deg!
Cantik!
Begitulah tanggapan laki-laki itu ketika pertama kali melihat Indira. Gadis berjilbab, bertubuh mungil dan memikiki mata yang indah.
"Aku kan udah minta maaf, boleh lepasin tas aku?" tanya Indira.
"Lo harus tanggung jawab! Kepala gue benjol ini," ucap laki-laki itu sambil memperlihatkan kepalanya yang benjol karena lemparan kaleng.
"Haaah?? Yaudah ayo ke klinik!" ajak Indira dan laki-laki itu menggeleng.
Indira mengerenyitkan dahinya, dia heran melihat laki-laki dihadapannya itu.
"Gue gak butuh ke klinik, gue cuman mau lo temenin gue selama di kampus! Gue anak baru disini," ucap laki-laki itu sambil melipat tangan didada.
"What? Sorry, aku gak bisa! Kamu bisa cari temen laki-laki yang bisa nemenin kamu selama di kampus, aku gak terbiasa dengan laki-laki yang bukan mahramku," tolak Indira.
"Gue cuman butuh temen, lagian gue gak akan ngapa-ngapain lo!" ketus laki-laki itu.
Mendengar ucapan laki-laki itu, Indira kemudian mengingat Carel sahabat somplaknya.
"Mm, gini aja! Aku ada sahabat sekaligus sodara, namanya Carel. Biar dia yang bakalan nemenin kamu selama di kampus," ucap Indira membuat laki-laki itu tersenyum.
"Oke gak masalah! Nama gue Athaya Putra Rahadian, nama lo siapa?" tanya laki-laki bernama Athaya itu sambil mengulurkan tangannya.
"Nama aku, Indira. Indira Myesha Kirania Syafa," jawab Indira dengan tangan didada.
"Mmm okey, Kirania. Boleh kan gue panggil lo itu?" tanya Athaya.
"Terserah! Sekarang lepasin tas aku," ketus Indira.
"Oke gue lepas! Besok gue tunggu lo didepan kampus," ucap Athaya dan Indira mengangguk.
Tanpa berpamitan, Indira melenggang pergi sambil mendengus kesal.
"Semuanya gara-gara Careeeeellllll.....!" kesal Indira lalu dia memberhentikan taksi.
"Ke Ariella Boutique di jalan Riau, Pak," pinta Indira pada sang sopir.
"Siap, Neng!" jawab sopir tersebut.
Athaya adalah salah satu mahasiswa baru, dia adalah anak dari seorang kiayi pemilik pesantren yang cukup besar. Hanya saja, selama ini dia tinggal bersama Kakek dan neneknya di Turki. Athaya menatap kepergiaan Indira dengan tersenyum. Sejak melihat wajah Indira, dia sudah tertarik padanya.
"Gadis manis! Sayangnya dia sedikit galak," gumam Athaya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Tha Ardiansyah
hmmmm... sudah ku duga, pasti Athaya
2022-04-07
0
Mega Nurhasanah
bukannya Dira sama Dirga itu bedanya dua tahun ya, pas SMA Dirga kls 3 Indira klas 1, otomatis pas kuliah Dira baru masuk satubulan masa Dirga udah JD letda udah kuliah 4 tahun..
2022-02-21
0
Okie Larasati
teh Rindu,,Carel tu anak nya siapa,kok aq lupa.
2022-02-15
1