Bab 11. Cinta yang Rumit

Di pagi yang cerah ini, Athaya tengah bersiap untuk menemani Indira di pesta pernikahan Kakaknya. Bahkan kali ini, Athaya mendapatkan baju seragam keluarga mereka. Athaya semakin bertekad untuk mendekati Indira. Inilah saatnya bagi Athaya, untuk memperjuangkan cintanya pada Indira.

Setelah upacara adat, kini pesta berlanjut pada upacara pedang pora. Sebab Kakak Indira menikah dengan seorang abdi negara. Indira dan Athaya bertugas menjaga Sweta, sebab yang lainnya sibuk mengurusi hal lain.

"Sweta laper ya?! Onty bawain dulu buah ya, Sweta pasti suka," ucap Indira pada Sweta.

"Biar gua aja yang bawain, liat antriannya lumayan!" ucap Athaya.

"Oke, makasih ya! Tolong ambilnya melon aja," pinta Indira dan Athaya mengangguk.

Athaya benar-benar menunjukkan bahwa dirinya akan selalu bisa di andalkan. Athaya ingin Indira jatuh hati pada sikapnya.

"Lagi ngapain disini lu?" tanya Alan kembaran dari Alana.

"Sweta laper, Dira mau suapin Sweta melon katanya, A," jawab Athaya.

"Udah sini! Kita kan yang punya pesta, masa iya harus ngantri!" ucap Alan.

"Hehehe, iya juga yak!" Athaya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Karena tamu semakin padat, Sweta mulai merasa kegerahan. Sedangkan balita itu tidak mau dilepaskan jilbabnya. Akhirnya Indira membawa Sweta keluar, karena dia rewel.

"Jangan rewel dong ponakan cantiknya onty," ucap Indira sambil menggendong Sweta dan tanpa sadar dia menabrak seseorang.

Bruk!

Deg! Deg! Deg!

Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan sigap menahan tubuh Indira yang hampir jatuh. Pasalnya Indira pun sedang menggendong Sweta. Jantung Indira berdegup kencang, tak biasanya Indira merasakan hal itu. Rasanya lebih dahsyat saat dia bersama Athaya.

"Eh, maaf saya gak sengaja nabrak," ucap Indira lalu menunduk.

"Gak apa-apa, lain kali hati-hati," ucap laki-laki itu sambil menoel pipi Sweta.

Indira berusaha menetralkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Masih terbayang dikepala Indira, mata tajam itu dan senyuman dinginnya. Athaya menyaksikan semuanya, dia sudah memegang sepiring potongan buah melon ditangannya. Dia segera menghampiri Indira, sungguh Athaya tak rela Indira dekat dengan oranglain.

"Yaa ampun, Dira! Gua cariin juga daritadi," kesal Athaya.

"Sorry, Sweta rewel kayaknya gerah juga makanya aku bawa kesini," ucap Indira.

"Yaudah nih, makan dulu buahnya sama Sweta. Nanti kita langsung kedalem, Ummi nyariin Sweta," tutur Athaya dan Indira mengangguk.

* * *

Sesuai perkataannya, Indira dan Athaya kini tengah duduk bersama Ummi Ulil. Ummi mengerti jika Indira dan Athaya butuh ruang untuk berdua, sebab sejak dimulainya acara mereka direpotkan oleh Sweta.

"Kalian berdua makan dulu, gih!" titah Ummi Ulil.

"Gak apa-apa kalo Ummi pegang Sweta dulu?" tanya Indira yang tak enak hati.

"Dira sayang, Sweta juga cucu Ummi! Masa iya Ummi keberatan, kalo gendong kamu baru Ummi keberatan," jawab Ummi Ulil.

"Yaudah Dira sama Athaya makan dulu ya, Mi," pamit Indira.

Athaya sungguh sangat menjaga Indira, bahkan saat ini mereka sudah seperti pasangan lainnya. Dengan telaten, Indira melayani Athaya.

"Saladnya mau gak?" tanya Indira.

"Mau, sekalian sama beef teriyakinya. Tapi jangan pake sayur ya!" pinta Athaya.

"Kenapa? Harus banyak makan sayur, biar sehat!" ucap Indira membuat Athaya tersenyum.

"Nanti aja, kalo udah nikah sama kamu ya! Dibanyakin makan sayurnya," sahut Athaya membuat Indira mencebik kesal.

Indira tak lagi menggubris ucapan Athaya, kini keduanya tengah duduk dibangku VIP yang disediakan untuk keluarga.

"Jangan belepotan dong kalo makan," Athaya mengusap ujung bibir Indira.

"Aku bisa sendiri," ucap Indira sambil menjauhkan tangan Athaya dari wajahnya.

"Kamu cantik, aku mau ajakin kamu ke Pesantren Abi, apa kamu mau?" tanya Athaya.

"Jangan ngomong kalo lagi makan," ucap Indira membuat Athaya tersenyum.

Pandangan Indira tertuju pada junior Kakak Iparnya, yang tengah menyanyi diatas panggung. Tak sengaja pandangan keduanya bertemu, dan hal itu membuat jantung Indira berdegup kencang.

"Apa aku sakit jantung ya? Kok gini amat," batin Indira.

"Kok ngelamun?" tanya Athaya membuat Indira tersentak kaget.

"Apaan sih?! Bikin kaget aja," kesal Indira.

"Hehe maaf cantik! Jadi gimana? Mau gak kalo aku ajakin kamu ke Pesantren Abi?" tanya Athaya lagi.

"Nanti aku pikirin, lagian aku mesti ijin sama Ayah," jawab Indira.

"Aku tunggu jawaban kamu, ya!" ucap Athaya.

Indira masih terfokus pada laki-laki yang tengah bernyanyi diatas panggung, terlebih dia sedang mengingat tatapan mata itu. Dia tidak bisa mengenali Dirga, sebab Dirga yang sekarang berbeda dengan Dirga yang ditemuinya saat SMA. Dirga yang sekarang berkulit hitam, dan jangan lupakan luka didahinya. Luka yang didapatkan Dirga ketika bertugas.

Selesai Dirga menyanyi, Indira diminta untuk bernyanyi diatas panggung oleh sang Kakak. Meskipun Indira sempat menolak, akhirnya dia naik keatas panggung dan bernyanyi.

"Buat Kak Rara dan Bang Mirda, selamat menempuh hidup baru. Semoga kehidupan kalian akan semakin bahagia, Dira akan nyanyikan salah satu lagu favorit Dira yang berjudul 'Tentang Rindu'," ucap Indira dan dia mulai menyanyi ketika mendengar suara musik.

Pagi telah pergi, mentari tak bersinar lagi..

Entah sampai kapan, ku mengingat tentang dirimu..

Kuhanya diam, menggenggam menahan segala kerinduan..

Memanggil namamu, disetiap malam..

Ingin engkau datang dan hadir dimimpiku, rindu..

Dan waktu kan menjawab, pertemuan ku dan dirimu..

Hingga sampai kini, aku masih ada disini..

Kuhanya diam, menggenggam menahan segala kerinduan..

Memanggil namamu, disetiap malam..

Ingin engkau datang dan hadir dimimpiku, rindu..

Dan bayangmu, akan selalu bersandar dihatiku..

Janjiku pastikan pulang, bersamamu..

Kuhanya diam, menggenggam menahan segala kerinduan..

Memanggil namamu, disetiap malam..

Ingin engkau datang dan hadir dimimpiku..

Kuhanya diam, menggenggam menahan segala kerinduan..

Memanggil namamu, disetiap malam..

Ingin engkau datang dan hadir, dimimpiku..

Selalu dimimpiku, Rindu..

Deg!

Kali ini jantung Dirga yang berdegup kencang, dia teringat kembali masa-masa SMA nya dulu. Dan ini adalah lagu yang Dirga nyanyikan saat di Perkemahan.

"Apakah kamu benar-benar tidak bisa mengenaliku?" batin Dirga menatap Indira.

Bukan hanya jantung Dirga yang berdegup kencang, tapi juga jantung Athaya. Dia menatap Indira penuh dengan tatapan cinta. Bahkan Athaya merasa, jika kali ini Indira sudah benar-benar membuka hati untuknya. Dengan percaya diri, Athaya maju kedepan dan memberikan bunga pada Indira yang baru saja selesai menyanyi. Sontak perbuatan Athaya itu membuat seluruh tamu undangan bersorak, dan hal itu membuat hati Dirga sakit.

Fika dan Panji juga turut hadir di hari bahagia Kak Elmira, mereka bisa melihat bagaimana kedekatan Indira dan Athaya. Dan mereka tau, hal itu pasti sangat menyakitkan bagi Dirga.

"Yank, kasian si Dirga! Masa iya sih, si Dira gak bisa inget mukanya si Dirga," kesal Panji menatap Indira yang tengah bersama Athaya.

"Dira itu gak pernah liat muka orang! Tau sendiri dia selalu nunduk kalo ketemu Kakak juga," kesal Fika yang tak ingin Panji menyalahkan sahabatnya.

"Aku kasian sama Dirga, aneh sih tu orang! Pake kaga mau mengungkapkan jati dirinya, si Dira diembat orang baru nyaho! Hareudang, hareudang panas panas panas dah ujungnya!" ucap Panji yang sangat gereget dengan keduanya.

"Iya, pada cinta tapi seolah kelu untuk berucap," ucap Fika yang tak kalah kesal.

Mereka tidak menyadari jika sejak tadi Dirga berada dibelakang mereka.

"Maksudnya apa? Indira cinta sama aku?" tanya Dirga mengagetkan keduanya.

"Yaa Alloh, gusti! Maneh dedemit, datang kaga di ondang pulang kaga diantar!" kesal Panji yang tersentak kaget.

"Itumah jaelangkung, bego!" kesal Dirga.

"Yah elah, sama aja sekelas mereka tuh! Jaelangkung tuh Kakak kelasnya dedemit," kilah Panji membuat Fika memutar bola matanya malas.

"Iya Kakak Jaelangkungnya, aku dedemitnya gitu!" kesal Fika.

"Eh, kaga gitu konsepnya sayang," panik Panji.

Dirga sungguh muak dengan tingkah kedua pasangan ini, tapi rasa penasaran masih memenuhi rongga dadanya.

"Coba bilang, maksud kamu Dira suka sama saya?" tanya Dirga.

"Bukan Kak Dirga, tepatnya Kak Yoga. Sampe sekarang, Indira masih sering diem-diem megangin liontin matahari itu. Tau lagu Tentang Rindu tadi? Itu lagu favorite Indira semenjak kejadian dulu," ucap Fika membuat Dirga merasa bersalah.

"Lah dia juga sama kale, tuh syal ampe sekarang masih ngejugrug aja ditaro disaku belakang!" ucap Panji menunjuk syal itu dengan dagunya.

"Kenapa Kak Dirga gak jujur aja sih?" Fika mencebik sebal pada Dirga.

"Indira gak mau punya calon seorang abdi negara, saya mendengar semua itu dari mulutnya sendiri," ucap Dirga membuat Fika dan Panji terdiam membisu.

"Cinta yang Rumit," batin Fika dan Panji.

* * *

Setelah acara selesai, Indira kembali kerumah diantarkan oleh Athaya. Sebelum pulang, Athaya diajak oleh keluarga Indira untuk berlibur besok.

"Beneran kamu gak ikut kami besok?" tanya Ayah Fahri.

"Nggak, Om. Besok Athaya harus temenin Abah sama Nenek dirumah, mereka lagi kurang sehat," tolak Athaya dengan lembut.

"Yasudah, salam buat Atok Danang ya! Semoga cepet sehat kembali," ucap Ayah Fahri.

"Aamiin, terimakasih, Om," ucap Athaya.

"Om tinggal dulu, ya. Kamu ngobrol aja sama Dira," Ayah Fahri berpamitan, dan Athaya mengangguk.

Kini tinggalah Athaya dan Indira tentu saja dengan Sweta dipangkuan Indira. Karena Indira tidak mau jika hanya berduaan dengan Athaya.

"Jadi gimana, kamu mau kan ketemu sama Abi sama Ummiku?" tanya Athaya.

"Aku butuh waktu, Athaya. Lagian jarak Pesantren kamu itu lumayan jauh, aku gak yakin Ayah bakalan ngijinin aku," jawab Indira.

"Kalo perlu, Ayah sama Bunda ikut aja. Biar kedua orangtua kita ketemu," sontak ucapan Athaya membuat Indira menoleh dan kemudian memalingkan wajahnya.

"Aku mau istirahat, kamu pulang! Udah sore," ucap Indira yang tak ingin pembicaraan ini berlanjut lebih dalam lagi.

"Oke aku balik sekarang, tapi inget! Aku masih selalu setia nunggu jawaban kamu, Dira. Karena aku serius sama ucapanku," tegas Athaya lalu berpamitan untuk pulang.

Selepas Athaya pergi, Indira memberikan Sweta pada Bundanya. Dan dia segera pergi ke kamar, sungguh hati Indira merasakan sakit yang entah apa alasannya. Selesai membersihkan diri, Indira memilih untuk duduk dimeja belajarnya dan menulis.

~ Cinta terlalu rumit untuk dipahami manusia manapun di alam semesta ini. Begitupun juga dengan hubungan antar manusia. Mirip dengan tumpukan jerami, kusut dan membingungkan hati. Apakah kita akan memintal kembali hubungan itu, seperti jerami yang akhirnya menjadi tali. Atau malah membakarnya untuk membesarkan api, dan beresiko melukai diri sendiri. Hanya waktu yang akan menjawab dengan tepat, rindu ini masih selalu dihati walaupun terasa menyakitkan. Suatu saat nanti, aku berharap dia akan mengungkapkan dirinya dan mengungkapkan segala yang terpendam.

* * * * *

Semoga suka dengan ceritanya...

Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

Dukung Author terus ya!

Salam Rindu, Author ❤

Terpopuler

Comments

Okie Larasati

Okie Larasati

kata2 dira tu musti pelan2 bacanya,,biar bsa merasuk ke hati,,bner2 calon penulis nih Dira,,

2022-02-15

0

Helen Dinda

Helen Dinda

kasian indira, dilema bngt,,

2022-02-10

1

Araya Raya

Araya Raya

ngomong dong dirga..bikin greget aja dech dirga

2022-02-06

2

lihat semua
Episodes
1 1. I'M INTROVERT
2 Bab 2. Berkemah
3 Bab 3. Menemukan, tapi ternyata Bukan kamu
4 Bab 4. Dirga Agung Prayoga
5 Bab 5. Sahabat Baik
6 Bab 6. Panji Sang Penakluk
7 Bab 7. Kisah kasih di sekolah
8 Bab 8. New Chapter
9 Bab 9. HUJAN
10 Bab 10. Kisah Hidup Athaya
11 Bab 11. Cinta yang Rumit
12 Bab 12. Selalu ada luka
13 Bab 13. Persimpangan Dilema
14 Bab 14. Sebuah Rahasia
15 Bab 15. Tentang Seseorang
16 Bab 16. Mengikuti Alur
17 Bab 17. You're Mine
18 Bab 18. Kesedihan Indira
19 Bab 19. Cinta Tak Mungkin Berhenti
20 Bab 20. Lamaran
21 Bab 21. Rencana Aini
22 Bab 22. KKN di Sukabumi
23 Bab 23. Kebetulan macam apa ini?!
24 Bab 24. Tanggung Jawab
25 Bab 25. Rasa Kehilangan
26 Bab 26. Sebuah Kenyataan
27 Bab 27. Penyesalan
28 Bab 28. Sebuah Keputusan
29 PENGUMUMAN
30 Bab 29. Dua Cincin
31 Bab 30. Siuman
32 Bab 31. Menunggu
33 Bab 32. Ada apa dengan Cinta
34 Bab 33. Niat Baik Athaya
35 Bab 34. Perjuangan
36 Bab 35. Nikah Dadakan
37 Bab 36. Jadi Ipar
38 Bab 37. Masalah
39 Bab 38. Orang Yang tepat
40 Bab 39. Sebuah tanggung jawab
41 Bab 40. Malang
42 Bab 41. Menghindar
43 Bab 42. Rumah Tangga
44 Bab 43. Drama Kejepit
45 Bab 44. Pelabuhan Ratu
46 Bab 45. Tugas Pertama
47 Bab 46. Hari ini, Mas Milikmu!
48 Bab 47. Pergi tuk kembali
49 Bab 48. Bibit Unggul
50 Bab 49. Ngidam?
51 Bab 50. Jeruk Bali
52 Bab 51. Kembali Pulang
53 Bab 52. Dirga vs Athaya
54 Bab 53. H-1 Akad Aini Athaya
55 Bab 54. Pelabuhan Terakhir
56 Bab 55. Madu Asmara
57 Bab 56. Kelahiran
58 Bab 57. Gemma Giacinta Indirga
59 Bab 58. Aqiqah Gemma
60 Bab 59. Sulitnya menjadi Ibu
61 Bab 60. Persimpangan Dilema
62 Kabar Bahagia
63 Bab 62. Kegiatan bersama
64 Ulang Tahun Pertama, Gemma.
65 Bab 64. Ujian Pernikahan
66 Bab 65. Kelahiran Adzka
67 Bab 66. Yang datang dan yang pergi
68 Bab 67. Duka diatas Luka
69 Bab 68. Memulai Kembali
Episodes

Updated 69 Episodes

1
1. I'M INTROVERT
2
Bab 2. Berkemah
3
Bab 3. Menemukan, tapi ternyata Bukan kamu
4
Bab 4. Dirga Agung Prayoga
5
Bab 5. Sahabat Baik
6
Bab 6. Panji Sang Penakluk
7
Bab 7. Kisah kasih di sekolah
8
Bab 8. New Chapter
9
Bab 9. HUJAN
10
Bab 10. Kisah Hidup Athaya
11
Bab 11. Cinta yang Rumit
12
Bab 12. Selalu ada luka
13
Bab 13. Persimpangan Dilema
14
Bab 14. Sebuah Rahasia
15
Bab 15. Tentang Seseorang
16
Bab 16. Mengikuti Alur
17
Bab 17. You're Mine
18
Bab 18. Kesedihan Indira
19
Bab 19. Cinta Tak Mungkin Berhenti
20
Bab 20. Lamaran
21
Bab 21. Rencana Aini
22
Bab 22. KKN di Sukabumi
23
Bab 23. Kebetulan macam apa ini?!
24
Bab 24. Tanggung Jawab
25
Bab 25. Rasa Kehilangan
26
Bab 26. Sebuah Kenyataan
27
Bab 27. Penyesalan
28
Bab 28. Sebuah Keputusan
29
PENGUMUMAN
30
Bab 29. Dua Cincin
31
Bab 30. Siuman
32
Bab 31. Menunggu
33
Bab 32. Ada apa dengan Cinta
34
Bab 33. Niat Baik Athaya
35
Bab 34. Perjuangan
36
Bab 35. Nikah Dadakan
37
Bab 36. Jadi Ipar
38
Bab 37. Masalah
39
Bab 38. Orang Yang tepat
40
Bab 39. Sebuah tanggung jawab
41
Bab 40. Malang
42
Bab 41. Menghindar
43
Bab 42. Rumah Tangga
44
Bab 43. Drama Kejepit
45
Bab 44. Pelabuhan Ratu
46
Bab 45. Tugas Pertama
47
Bab 46. Hari ini, Mas Milikmu!
48
Bab 47. Pergi tuk kembali
49
Bab 48. Bibit Unggul
50
Bab 49. Ngidam?
51
Bab 50. Jeruk Bali
52
Bab 51. Kembali Pulang
53
Bab 52. Dirga vs Athaya
54
Bab 53. H-1 Akad Aini Athaya
55
Bab 54. Pelabuhan Terakhir
56
Bab 55. Madu Asmara
57
Bab 56. Kelahiran
58
Bab 57. Gemma Giacinta Indirga
59
Bab 58. Aqiqah Gemma
60
Bab 59. Sulitnya menjadi Ibu
61
Bab 60. Persimpangan Dilema
62
Kabar Bahagia
63
Bab 62. Kegiatan bersama
64
Ulang Tahun Pertama, Gemma.
65
Bab 64. Ujian Pernikahan
66
Bab 65. Kelahiran Adzka
67
Bab 66. Yang datang dan yang pergi
68
Bab 67. Duka diatas Luka
69
Bab 68. Memulai Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!