Di pagi yang cerah ini, Athaya tengah bersiap untuk menemani Indira di pesta pernikahan Kakaknya. Bahkan kali ini, Athaya mendapatkan baju seragam keluarga mereka. Athaya semakin bertekad untuk mendekati Indira. Inilah saatnya bagi Athaya, untuk memperjuangkan cintanya pada Indira.
Setelah upacara adat, kini pesta berlanjut pada upacara pedang pora. Sebab Kakak Indira menikah dengan seorang abdi negara. Indira dan Athaya bertugas menjaga Sweta, sebab yang lainnya sibuk mengurusi hal lain.
"Sweta laper ya?! Onty bawain dulu buah ya, Sweta pasti suka," ucap Indira pada Sweta.
"Biar gua aja yang bawain, liat antriannya lumayan!" ucap Athaya.
"Oke, makasih ya! Tolong ambilnya melon aja," pinta Indira dan Athaya mengangguk.
Athaya benar-benar menunjukkan bahwa dirinya akan selalu bisa di andalkan. Athaya ingin Indira jatuh hati pada sikapnya.
"Lagi ngapain disini lu?" tanya Alan kembaran dari Alana.
"Sweta laper, Dira mau suapin Sweta melon katanya, A," jawab Athaya.
"Udah sini! Kita kan yang punya pesta, masa iya harus ngantri!" ucap Alan.
"Hehehe, iya juga yak!" Athaya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Karena tamu semakin padat, Sweta mulai merasa kegerahan. Sedangkan balita itu tidak mau dilepaskan jilbabnya. Akhirnya Indira membawa Sweta keluar, karena dia rewel.
"Jangan rewel dong ponakan cantiknya onty," ucap Indira sambil menggendong Sweta dan tanpa sadar dia menabrak seseorang.
Bruk!
Deg! Deg! Deg!
Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan sigap menahan tubuh Indira yang hampir jatuh. Pasalnya Indira pun sedang menggendong Sweta. Jantung Indira berdegup kencang, tak biasanya Indira merasakan hal itu. Rasanya lebih dahsyat saat dia bersama Athaya.
"Eh, maaf saya gak sengaja nabrak," ucap Indira lalu menunduk.
"Gak apa-apa, lain kali hati-hati," ucap laki-laki itu sambil menoel pipi Sweta.
Indira berusaha menetralkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Masih terbayang dikepala Indira, mata tajam itu dan senyuman dinginnya. Athaya menyaksikan semuanya, dia sudah memegang sepiring potongan buah melon ditangannya. Dia segera menghampiri Indira, sungguh Athaya tak rela Indira dekat dengan oranglain.
"Yaa ampun, Dira! Gua cariin juga daritadi," kesal Athaya.
"Sorry, Sweta rewel kayaknya gerah juga makanya aku bawa kesini," ucap Indira.
"Yaudah nih, makan dulu buahnya sama Sweta. Nanti kita langsung kedalem, Ummi nyariin Sweta," tutur Athaya dan Indira mengangguk.
* * *
Sesuai perkataannya, Indira dan Athaya kini tengah duduk bersama Ummi Ulil. Ummi mengerti jika Indira dan Athaya butuh ruang untuk berdua, sebab sejak dimulainya acara mereka direpotkan oleh Sweta.
"Kalian berdua makan dulu, gih!" titah Ummi Ulil.
"Gak apa-apa kalo Ummi pegang Sweta dulu?" tanya Indira yang tak enak hati.
"Dira sayang, Sweta juga cucu Ummi! Masa iya Ummi keberatan, kalo gendong kamu baru Ummi keberatan," jawab Ummi Ulil.
"Yaudah Dira sama Athaya makan dulu ya, Mi," pamit Indira.
Athaya sungguh sangat menjaga Indira, bahkan saat ini mereka sudah seperti pasangan lainnya. Dengan telaten, Indira melayani Athaya.
"Saladnya mau gak?" tanya Indira.
"Mau, sekalian sama beef teriyakinya. Tapi jangan pake sayur ya!" pinta Athaya.
"Kenapa? Harus banyak makan sayur, biar sehat!" ucap Indira membuat Athaya tersenyum.
"Nanti aja, kalo udah nikah sama kamu ya! Dibanyakin makan sayurnya," sahut Athaya membuat Indira mencebik kesal.
Indira tak lagi menggubris ucapan Athaya, kini keduanya tengah duduk dibangku VIP yang disediakan untuk keluarga.
"Jangan belepotan dong kalo makan," Athaya mengusap ujung bibir Indira.
"Aku bisa sendiri," ucap Indira sambil menjauhkan tangan Athaya dari wajahnya.
"Kamu cantik, aku mau ajakin kamu ke Pesantren Abi, apa kamu mau?" tanya Athaya.
"Jangan ngomong kalo lagi makan," ucap Indira membuat Athaya tersenyum.
Pandangan Indira tertuju pada junior Kakak Iparnya, yang tengah menyanyi diatas panggung. Tak sengaja pandangan keduanya bertemu, dan hal itu membuat jantung Indira berdegup kencang.
"Apa aku sakit jantung ya? Kok gini amat," batin Indira.
"Kok ngelamun?" tanya Athaya membuat Indira tersentak kaget.
"Apaan sih?! Bikin kaget aja," kesal Indira.
"Hehe maaf cantik! Jadi gimana? Mau gak kalo aku ajakin kamu ke Pesantren Abi?" tanya Athaya lagi.
"Nanti aku pikirin, lagian aku mesti ijin sama Ayah," jawab Indira.
"Aku tunggu jawaban kamu, ya!" ucap Athaya.
Indira masih terfokus pada laki-laki yang tengah bernyanyi diatas panggung, terlebih dia sedang mengingat tatapan mata itu. Dia tidak bisa mengenali Dirga, sebab Dirga yang sekarang berbeda dengan Dirga yang ditemuinya saat SMA. Dirga yang sekarang berkulit hitam, dan jangan lupakan luka didahinya. Luka yang didapatkan Dirga ketika bertugas.
Selesai Dirga menyanyi, Indira diminta untuk bernyanyi diatas panggung oleh sang Kakak. Meskipun Indira sempat menolak, akhirnya dia naik keatas panggung dan bernyanyi.
"Buat Kak Rara dan Bang Mirda, selamat menempuh hidup baru. Semoga kehidupan kalian akan semakin bahagia, Dira akan nyanyikan salah satu lagu favorit Dira yang berjudul 'Tentang Rindu'," ucap Indira dan dia mulai menyanyi ketika mendengar suara musik.
Pagi telah pergi, mentari tak bersinar lagi..
Entah sampai kapan, ku mengingat tentang dirimu..
Kuhanya diam, menggenggam menahan segala kerinduan..
Memanggil namamu, disetiap malam..
Ingin engkau datang dan hadir dimimpiku, rindu..
Dan waktu kan menjawab, pertemuan ku dan dirimu..
Hingga sampai kini, aku masih ada disini..
Kuhanya diam, menggenggam menahan segala kerinduan..
Memanggil namamu, disetiap malam..
Ingin engkau datang dan hadir dimimpiku, rindu..
Dan bayangmu, akan selalu bersandar dihatiku..
Janjiku pastikan pulang, bersamamu..
Kuhanya diam, menggenggam menahan segala kerinduan..
Memanggil namamu, disetiap malam..
Ingin engkau datang dan hadir dimimpiku..
Kuhanya diam, menggenggam menahan segala kerinduan..
Memanggil namamu, disetiap malam..
Ingin engkau datang dan hadir, dimimpiku..
Selalu dimimpiku, Rindu..
Deg!
Kali ini jantung Dirga yang berdegup kencang, dia teringat kembali masa-masa SMA nya dulu. Dan ini adalah lagu yang Dirga nyanyikan saat di Perkemahan.
"Apakah kamu benar-benar tidak bisa mengenaliku?" batin Dirga menatap Indira.
Bukan hanya jantung Dirga yang berdegup kencang, tapi juga jantung Athaya. Dia menatap Indira penuh dengan tatapan cinta. Bahkan Athaya merasa, jika kali ini Indira sudah benar-benar membuka hati untuknya. Dengan percaya diri, Athaya maju kedepan dan memberikan bunga pada Indira yang baru saja selesai menyanyi. Sontak perbuatan Athaya itu membuat seluruh tamu undangan bersorak, dan hal itu membuat hati Dirga sakit.
Fika dan Panji juga turut hadir di hari bahagia Kak Elmira, mereka bisa melihat bagaimana kedekatan Indira dan Athaya. Dan mereka tau, hal itu pasti sangat menyakitkan bagi Dirga.
"Yank, kasian si Dirga! Masa iya sih, si Dira gak bisa inget mukanya si Dirga," kesal Panji menatap Indira yang tengah bersama Athaya.
"Dira itu gak pernah liat muka orang! Tau sendiri dia selalu nunduk kalo ketemu Kakak juga," kesal Fika yang tak ingin Panji menyalahkan sahabatnya.
"Aku kasian sama Dirga, aneh sih tu orang! Pake kaga mau mengungkapkan jati dirinya, si Dira diembat orang baru nyaho! Hareudang, hareudang panas panas panas dah ujungnya!" ucap Panji yang sangat gereget dengan keduanya.
"Iya, pada cinta tapi seolah kelu untuk berucap," ucap Fika yang tak kalah kesal.
Mereka tidak menyadari jika sejak tadi Dirga berada dibelakang mereka.
"Maksudnya apa? Indira cinta sama aku?" tanya Dirga mengagetkan keduanya.
"Yaa Alloh, gusti! Maneh dedemit, datang kaga di ondang pulang kaga diantar!" kesal Panji yang tersentak kaget.
"Itumah jaelangkung, bego!" kesal Dirga.
"Yah elah, sama aja sekelas mereka tuh! Jaelangkung tuh Kakak kelasnya dedemit," kilah Panji membuat Fika memutar bola matanya malas.
"Iya Kakak Jaelangkungnya, aku dedemitnya gitu!" kesal Fika.
"Eh, kaga gitu konsepnya sayang," panik Panji.
Dirga sungguh muak dengan tingkah kedua pasangan ini, tapi rasa penasaran masih memenuhi rongga dadanya.
"Coba bilang, maksud kamu Dira suka sama saya?" tanya Dirga.
"Bukan Kak Dirga, tepatnya Kak Yoga. Sampe sekarang, Indira masih sering diem-diem megangin liontin matahari itu. Tau lagu Tentang Rindu tadi? Itu lagu favorite Indira semenjak kejadian dulu," ucap Fika membuat Dirga merasa bersalah.
"Lah dia juga sama kale, tuh syal ampe sekarang masih ngejugrug aja ditaro disaku belakang!" ucap Panji menunjuk syal itu dengan dagunya.
"Kenapa Kak Dirga gak jujur aja sih?" Fika mencebik sebal pada Dirga.
"Indira gak mau punya calon seorang abdi negara, saya mendengar semua itu dari mulutnya sendiri," ucap Dirga membuat Fika dan Panji terdiam membisu.
"Cinta yang Rumit," batin Fika dan Panji.
* * *
Setelah acara selesai, Indira kembali kerumah diantarkan oleh Athaya. Sebelum pulang, Athaya diajak oleh keluarga Indira untuk berlibur besok.
"Beneran kamu gak ikut kami besok?" tanya Ayah Fahri.
"Nggak, Om. Besok Athaya harus temenin Abah sama Nenek dirumah, mereka lagi kurang sehat," tolak Athaya dengan lembut.
"Yasudah, salam buat Atok Danang ya! Semoga cepet sehat kembali," ucap Ayah Fahri.
"Aamiin, terimakasih, Om," ucap Athaya.
"Om tinggal dulu, ya. Kamu ngobrol aja sama Dira," Ayah Fahri berpamitan, dan Athaya mengangguk.
Kini tinggalah Athaya dan Indira tentu saja dengan Sweta dipangkuan Indira. Karena Indira tidak mau jika hanya berduaan dengan Athaya.
"Jadi gimana, kamu mau kan ketemu sama Abi sama Ummiku?" tanya Athaya.
"Aku butuh waktu, Athaya. Lagian jarak Pesantren kamu itu lumayan jauh, aku gak yakin Ayah bakalan ngijinin aku," jawab Indira.
"Kalo perlu, Ayah sama Bunda ikut aja. Biar kedua orangtua kita ketemu," sontak ucapan Athaya membuat Indira menoleh dan kemudian memalingkan wajahnya.
"Aku mau istirahat, kamu pulang! Udah sore," ucap Indira yang tak ingin pembicaraan ini berlanjut lebih dalam lagi.
"Oke aku balik sekarang, tapi inget! Aku masih selalu setia nunggu jawaban kamu, Dira. Karena aku serius sama ucapanku," tegas Athaya lalu berpamitan untuk pulang.
Selepas Athaya pergi, Indira memberikan Sweta pada Bundanya. Dan dia segera pergi ke kamar, sungguh hati Indira merasakan sakit yang entah apa alasannya. Selesai membersihkan diri, Indira memilih untuk duduk dimeja belajarnya dan menulis.
~ Cinta terlalu rumit untuk dipahami manusia manapun di alam semesta ini. Begitupun juga dengan hubungan antar manusia. Mirip dengan tumpukan jerami, kusut dan membingungkan hati. Apakah kita akan memintal kembali hubungan itu, seperti jerami yang akhirnya menjadi tali. Atau malah membakarnya untuk membesarkan api, dan beresiko melukai diri sendiri. Hanya waktu yang akan menjawab dengan tepat, rindu ini masih selalu dihati walaupun terasa menyakitkan. Suatu saat nanti, aku berharap dia akan mengungkapkan dirinya dan mengungkapkan segala yang terpendam.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Okie Larasati
kata2 dira tu musti pelan2 bacanya,,biar bsa merasuk ke hati,,bner2 calon penulis nih Dira,,
2022-02-15
0
Helen Dinda
kasian indira, dilema bngt,,
2022-02-10
1
Araya Raya
ngomong dong dirga..bikin greget aja dech dirga
2022-02-06
2