Suasana Asrama Militer pagi ini terasa sangat ramai, pasalnya hari ini adalah keberangkatan pasukan TNI untuk bertugas ke Papua. Indira dan Bundanya menemani Elmira, sebab hari ini suaminya akan pergi bertugas. Terlebih, saat ini sang Kakak tengah mengandung. Dengan senang hati, Indira akan menjaga Sweta.
Suara mobil yang berhenti didepan rumah membuat mereka menghentikan aktifitas sarapan pagi mereka. Indira membuka pintu, dan terkejut melihat seseorang yang dia kenal. Ternyata yang datang adalah sang Ayah, Husain bersama Athaya dan juga keluarga Alan dan Alana.
Elmira masih terus menangisi suaminya yang akan pergi bertugas. Karena Sweta ikut menangis, Indira membawanya untuk berkeliling komplek asrama militer disana. Tentu saja Athaya berada dibelakangnya, sebab dia mengikuti Indira.
"Sini gantian aja bawa Sweta nya," pinta Athaya namun Indira menggelengkan kepalanya.
"Gak usah, ini udah mulai anteng kok Swetanya," tolak Indira.
"Kamu kok ngehindarin aku terus, Dira! Ada apa?" tanya Athaya.
"Gak apa-apa, lagian siapa juga yang ngehindar," jawab Indira cuek.
"Kenapa kamu masih nolak buat aku ajak ketemu Abi sama Ummi?" tanya Athaya lagi.
"Please, Athaya! Aku lagi gak mood buat debat sama kamu," ketus Indira lalu berjalan dengan cepat.
Saking cepatnya berjalan, Indira tak melihat jika ada batu cukup besar didepannya.
"Awas Dira!" teriak Athaya.
Tubuh Indira mulai terhuyung kedepan, dan....
Buukk!
Lagi-lagi seseorang menyelamatkan Indira, dia jatuh dipelukan seorang Tentara bersama Sweta digendongannya.
"Kenapa pertemuan kita selalu seperti ini?" ucap laki-laki itu.
Suara itu!
Indira mendongakkan kepalanya, dan benar saja dia adalah Dirga. Laki-laki yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Mata Indira dan mata Dirga bertemu, dan jantung Indira semakin berdegup kencang.
"Mata itu! Aku masih mengingatnya, benar dia Kak Yoga?!" batin Indira.
Belum Indira mengatakan sepatah kata, Athaya berlari menghampirinya.
"Dira! Kamu gak apa-apa kan?" tanya Athaya yang panik.
"Gak apa-apa, aku baik-baik aja!" ucap Indira melepaskan pelukannya dengan cepat.
"Alhamdulillah, syukurlah," ucap Athaya namun tak dihiraukan Indira.
"Makasih ya, Om Dirga atas bantuannya. Saya permisi," ucap Indira dengan gugup.
Dirga menatap kepergian Indira bersama Athaya, perasaannya terasa aneh.
"Syafa, kamu masih tidak berubah, kamu masih ceroboh," batin Dirga.
Indira terus menjaga Sweta, hingga dia melihat Fika yang tengah menangis dipelukan Panji. Indira menghampiri sang sahabat, tentu saja diikuti oleh Athaya.
"Fika?!" panggil Indira dan Fika menoleh.
"Dira," lirih Fika berhambur memeluk Indira.
"Kak Panji ikut satgas ke Papua?" tanya Indira.
"Iya, aku ikut satgas ke Papua. Aku titip Fika, ya," ucap Panji sambil mengelus kepala Fika.
"Enak aja main titip-titip, emang sahabat aku barang! Pokoknya Kak Panji harus balik lagi kesini dalam kondisi sehat walafiat," ucap Indira dan Panji mengangguk.
Tak lama kemudian datanglah Dirga bersama rekan-rekannya yang lain.
"Ga! Do'ain gue ya, semoga tugas gue lancar disana," ucap Panji memeluk Dirga.
"Gue pasti do'ain lu, jaga kesehatan disana! Sholat jangan lupa," Dirga memang selalu mengingatkan sholat pada semua rekan-rekannya.
"Nggih, pak ustadz! Lu juga harus jaga kesehatan selama tugas di Lebanon, dan satu hal lagi. Ungkapin rahasia lu, sebelum lu pergi," ucap Panji lalu bersiap untuk pergi.
"Hati-hati, Ji! Kabarin gue kalo sempet," ucap Dirga.
Athaya mengambil Sweta dalam gendongan Dira, dan dia berniat memberikan Sweta pada Bunda Gisya. Fika pergi menyusul Athaya, dengan alasan ingin ke toilet.
"Kak Athaya!" panggil Fika.
"Diem! Gak usah panggil gue Kakak! Karena gue bukan Kakak lu!" ketus Athaya.
"Tapi, Kak! Ada yang harus aku omongon," ucap Fika.
"Oke ikut gue!" titah Athaya.
Fika dan Athaya berbicara di Gedung belakang, Athaya tak ingin ada orang yang mendengarkan ucapan mereka. Sweta tertidur dalam gendongan Athaya.
"Apa yang mau lu omongi?! Cepetan!" ketus Athaya.
"Ummi sakit, Kak. Ummi mau ketemu Kak Athaya," lirih Fika.
"Apa?! Ummi sakit apa?!" ucap Athaya yang kaget.
"Ummi kena gejala struk ringan, Kak. Sekarang dirawat dirumah sakit," ucap Fika.
"Semua itu gara-gara nyokap elu! Yang gak tau diri, mau-maunya nikah lagi sama Abi gue yang notabene suami dari sahabat nyokap lu sendiri! Dan sekali lagi lu panggil gue Kakak, jangan salahin gue kalo Dira tau lu anak dari seorang pelakor!" geram Athaya meninggalkan Fika yang menangis tersedu-sedu.
Siapa sangka, Ayah Fahri mendengar semua ucapan Athaya pada Fika. Memang benar, Ibu Fika sudah menikah lagi dengan seorang Kiai dan itu adalah Abi Athaya. Ibu Fika dan Ummi Sofia adalah sahabat baik seperti dirinya dan Indira. Bukan tanpa alasan, Abi Athaya menikahi Ibu Fika karena wasiat dari almarhum Ayah Fika.
Sementara disisi lain, Dirga kini mengajak Indira untuk bicara ditaman yang tak jauh darisana. Keduanya merasa canggung, sebab ini kali pertama mereka mengobrol kembali setelah saling mengetahui satu sama lain.
"Apa kabar, Syafa?" tanya Dirga dengan suara lembut.
"Baik, Kak. Kak Dirga gimana? Kapan berangkat ke Lebanon?" Indira balik bertanya.
"Mungkin sekitar seminggu lagi, kenapa? Sudah rindu?" ucap Dirga sambil terkekeh.
"Apaan sih, Kak," kesal Indira.
Dirga tiba-tiba saja mengeluarkan syal berwarna biru tua yang selama ini selalu dia simpan dalam sakunya.
"Apa kamu masih mengingat ini?" tanya Dirga.
"I-ini," Indira menutup mulutnya tak percaya.
"Aku Yoga, orang yang mengikatkan tali ini di kakimu yang terluka," ucap Dirga.
Tanpa sadar airmata lolos begitu saja, Indira menangis mengambil syal itu.
"Maaf kalo aku gak jujur, Syafa. Ingat orang menyebalkan di Halte bus alun-alun? Itu aku. Sebenarnya aku sempat akan jujur, tapi mendengar pembicaraan kamu dengan Bu Danki aku mengurungkan niatku. Aku tau, kamu gak mau berhubungan dengan seorang Tentara sepertiku," ucap Dirga membuat Indira semakin terisak.
"Kak Dirga, taukah kamu selama ini aku selalu penasaran dengan siapa pemilik liontin matahari ini," ucap Indira sambil mengeluarkan kalungnya.
"Kamu masih menyimpan itu?" Dirga terkejut mendapati kenyataan Indira masih menyimpan liontin matahari yang diberikan oleh Panji saat itu.
Keduanya sama-sama terdiam, Indira dan Dirga hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Apa kamu tau alasanku memberikanmu liontin matahari itu, Syafa?" tanya Dirga dan Indira menggelengkan kepalanya.
"Karena mencintai seseorang itu kadang seperti matahari, hanya memberi dan tak berharap kembali," ucap Dirga membuat Indira menoleh.
"Taukah kamu, Kak? Selama ini aku selalu mencari kamu, aku tersiksa dengan sebuah kerinduan yang tak pasti. Selama ini aku hanya menerka-nerka, siapa kamu dan dimana kamu! Hal itu bikin aku sakit, Kak," lirih Indira.
"Maaf Syafa, aku gak berniat untuk menyakitimu. Tapi aku yakin, kamu sekarang udah bahagia. Terlebih sudah ada orang yang mendampingimu," ucap Dirga.
Indira hanya bisa menangis, untung saja taman sudah mulai sepi. Dirga melepaskan sebuah kalung yang bertuliskan nama dirinya.
"Aku akan pergi jauh, Syafa. Aku titipkan kalung dan syal ini padamu, semoga aku masih bisa bertemu denganmu setelah kepulanganku bertugas," ucap Dirga memakaikan kalung itu pada Indira.
"Apa Kakak minta aku buat nunggu?" tanya Indira yang kini berani menatap mata Dirga.
"Aku takut tidak menepati janji, jika aku memintamu untuk menunggu. Semuanya aku serahkan pada Allah, jika kita memang berjodoh mungkin Allah akan mempersatukan kita diwaktu dan disaat yang tepat," ucap Dirga sambil mengelus kepala Indira.
Entah sadar atau tidak, Indira berhambur memeluk tubuh Dirga. Dia seolah tidak memperdulikan benteng pertahanan hatinya yang selama ini dia bangun.
"Tolong selalu sebut namaku dalam do'amu, Syafa," pinta Dirga.
"Selama 6 tahun sejak saat itu, aku selalu menyebut nama Kak Yoga dalam setiap do'aku. Tapi kali ini aku bakalan sebut nama Kak Dirga," lirih Indira.
"Jangan tunggu aku, karena aku gak pernah mau menyakiti kamu," ucap Dirga sambil memeluk tubuh Indira.
"Aku akan mengikuti skenario yang sudah Allah siapkan untukku, tapi ijinkan aku untuk mengunci namamu dihati ini, Kak. Karena kamu yang pertama singgah disini," Indira semakin mengeratkan pelukannya.
Perlahan Dirga mengendurkan pelukannya, dia menatap mata Indira sekali lagi dan mencium keningnya.
"Pulanglah, dia mencarimu," ucap Dirga lalu pergi meninggalkan Indira.
Benar saja setelah kepergian Dirga, Athaya datang dengan nafas terengah-engah.
"Dira! Are you okay?" tanya Athaya ketika melihat Indira menangis.
"Aku mau pulang," lirih Indira lalu bangkit dan pergi meninggalkan taman.
"Oke, kita pulang sekarang," ucap Athaya.
"Syafa, semoga kamu jodohku," batin Dirga menatap kepergian Indira dan Athaya.
Setelah sampai dirumah sang Kakak, Indira masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan ucapan siapapun yang memanggilnya. Indira menangis sambil memeluk syal dan kalung yang dipakaikan oleh Dirga.
"Hal teramat sangat pahit yang aku rasakan adalah walau hatiku tersakiti, aku akan terus bertahan untuk mencintaimu. Jika kamu memintaku menunggu, aku akan menunggumu, Kak. Hanya kamu yang selama ini mampu memporak porandakan hatiku," lirih Indira.
Sama halnya dengan Indira, Dirga pun merasakan sakit yang teramat dalam hatinya. Dirga menatap foto Indira yang dia dapat dari Panji.
"Cinta tak harus memiliki dan mencintai bukanlah menguasai, Syafa. Biarlah aku mencintaimu dengan caraku sendiri, melakukan segalanya yang terbaik adalah tugasku dan yang memberikan keputusan terbaik adalah kuasa Allah. Maka aku akan memintamu pada pencipta-Mu," batin Dirga.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Nurul Hidayati
Nangis daah mataku...
Bagiku ceritanya fahri lebih ngena ini dech....
Introvert good idea kk Author
2022-05-28
1
Helen Dinda
kalau dira pilih dirga kasian ama ataya,, kalau dira pilih ataya kasian dirga,,,huufft,,bnar2 mnyakitkan
2022-02-10
1
Lili Suryani Yahya
Aduuuuhh dalam bngettt
2022-02-07
0