Semenjak kejadian tempo hari, Fika dan Panji menjadi sangat dekat. Bahkan kasus Veronica, sudah selesai dengan keputusan final untuk drop out. Dan jika terjadi pembullyan kembali disekolah itu, Kepala Sekolah tidak segan-segan untuk melakukan hukuman yang sama. Indira tetaplah Indira, dia tetap menjadi gadis yang pendiam dan lebih senang menyendiri. Dia bahagia melihat Fika bisa menjalin hubungan dengan Panji, tandanya rasa trauma dalam dirinya sudah hilang.
Dirga saat ini tengah berdiri ditepi jembatan, tempat dulu dia berniat mengakhiri hidupnya.
"Masih berniat bunuh diri?" suara itu membuyarkan lamunan Dirga.
"Eh, Abang yang nolongin saya dulu, ya?" tanya Dirga.
"Iya saya yang menemukan kamu dalam kondisi mengenaskan, nama saya Mirda," ucap Mirda sambil menjabat tangan Dirga.
"Saya Dirga, Bang," Mirda mengangguk, karena dia sudah tau nama bocah itu.
"Ngopi di ujung jalan sana yuk!" ajak Mirda pada Dirga.
Mereka berdua ngopi disebuah kedai kopi sederhana, yang tak jauh dari Batalyon.
"Gimana kondisi kamu sekarang?" tanya Mirda sambil menyeruput kopinya.
"Alhamdulillah baik, Bang. Terimakasih ya, Abang udah nolongin saya," lirih Dirga.
"Dirga, saya memang tidak tau pasti apa yang membuatmu nekat melakukan itu. Tapi saya hanya ingin menasehati, walaupun dunia tidak pernah menganggap dirimu ada. Hiduplah untuk dirimu sendiri, setidaknya lupakan hal yang menyakitimu dan bangkitlah. Buktikan pada dunia, jika kamu mampu berdiri diatas kakimu sendiri," tutur Mirda menasehati Dirga.
Cukup lama mereka berbincang-bincang, Dirga meluapkan semuanya pada Mirda, orang yang baru saja dikenalnya. Tapi hal itu membuat perasaan Dirga jauh lebih lega.
"Saya mau daftar TNI, Bang! Bisa bantu saya?" tanya Dirga dan Mirda mengangguk.
"Siapkan fisik dan mentalmu terlebih dahulu, saya akan mendukungmu," ucap Mirda sambil menepuk bahu Dirga.
"Terimakasih, Bang! Saya akan mulai latihan fisik," yakin Dirga berucap dengan tegas.
* * *
Carel, Fika dan Indira saat ini tengah makan bersama di kantin sekolah. Seperti biasa, Fika akan mengurus mereka berdua seperti layaknya seorang ibu.
"Tumbeng pangeran lu belum kesini," celetuk Carel membuat Fika tersedak.
"Carel! Diem dan makanlah!" kesal Indira sambil memberikan minum pada Fika.
"Salah lagi, salah lagi gua! Dahlah males," ucap Carel merajuk.
"Laki kok pundungan, kaya Onta lu!" cebik Indira.
Tak berapa lama, Panji datang bersama kedua sahabatnya yaitu Eki dan Dirga.
"Hai cantiik!" sapa Panji pada Fika.
"Halo Kak, mau makan?" tanya Fika dan Panji mengangguk.
"Kamu udah makan?" pertanyaan Panji membuat Carel memutar bola matanya malas.
"Please deh, A! Itu mangkok baso didepan muka si Fika masa gak keliatan!" celetuk Carel.
"Ih, dasar jojosi! Berisik bgt si," kesal Panji.
"Apaan tuh jojosi?" tanya Eki mewakili mereka.
"Jomblo-jomblo sisa! Kaya kalean, Hahahahaha," Panji dan Fika tertawa.
"Dasar makhluk jatuh cinta, suka seenaknya!" ucap Eki menoyor kepala Panji.
Mereka ramai sekali, Dirga dan Indira hanya diam dan menikmati makanan mereka.
"Ga, lu setelah lulus ini mau daftar ke universitas mana?" tanya Eki.
"Gua mau jadi Tentara," ucap Dirga membuat Panji tersedak.
"Hati-hati makannya, Kak!" Fika memberikan minuman pada Panji.
"Lu serius, Ga?" tanya Panji yang tak percaya.
"Iyalah, mana ada gua becandain masa depan," Dirga berkata sambil melirik kearah Indira yang kini jantungnya tengah berdisko ria.
Suara itu, Indira masih mengingatkan suara itu pada sosok Yoga. Orang yang sudah menolongnya saat berkemah. Ingin rasanya Indira menatap wajah Dirga, tapi dia enggan melakukannya.
"Fika, aku duluan ke kelas ya! Mari semuanya," pamit Indira.
"Dira! Lu bikin gua jadi kambing conge sendirian ini," teriak Carel namun Indira tak menoleh sedikitpun.
"Enak aja lu sendirian, lu pikir kita bedua apaan?" kesal Eki pada Carel.
"Nyamuk A kalian mah," celetuk Carel membuat mereka tertawa.
Indira duduk dibangku miliknya, dia memegangi dadanya yang sejak tadi berdegup kencang. Dia memegangi liontin berbentuk matahari itu, Indira mulai menulis pada buku hariannya.
~ Cinta itu hadir pada pandangan pertama, pandangan terakhir, dan semua pandangan yang pernah dialami keduanya. Cinta itu seperti angin. Kamu tidak bisa menyentuhnya, tetapi hanya bisa merasakan keberadaannya dalam hatimu. Memejamkan mata adalah caraku yang paling mudah untuk merasakan kehadiranmu di sisiku. Cinta tidaklah seperti biji tanaman yang akan tumbuh dan berbunga saat dipendam. Tatapan mata itu, adalah hal terindah yang pernah kulihat. Inikah rasanya jatuh cinta?
* * *
Kisah kasih disekolah, memanglah indah. Seperti kebanyakan orang bilang, masa SMA adalah masa yang sulit dilupakan seumur hidup. Hari ini diadakan Pentas Seni disekolah Indira, sekaligus upacara kelulusan bagi siswa kelas 3. Fika, Indira dan Carel mewakili kelas satu untuk menampilkan bakat kesenian mereka. Ketiganya memilih untuk bernyanyi, masing-masing memegang gitar ditangannya. Sebenarnya Indira menolak, tapi Fika memaksanya dengan alasan ingin memberikan acara perpisahan terbaik untuk Panji sang kekasih. Mau tidak mau, Indira mengikuti keinginan sahabatnya itu.
Dirga, Panji dan Eki duduk dibarisan paling depan. Saat ini siswa-siswi, adik kelasnya tengah tampil dipanggung. Kini tiba giliran Carel, Indira dan juga Fika.
"Assalamu'alaikum semuanya, saya Indira dan kedua teman saya Fika dan juga Carel mengucapkan selamat atas kelulusan Kakak-kakak kelas kami. Semoga Kakak-kakak sekalian akan mencapai semua cita-cita yang selama ini ada dalam angan. Ini adalah lagu persembahan dari kami, untuk semuanya," ucap Indira lalu mulai memetik gitarnya.
Resah dan gelisah, menunggu disini...
Di sudut sekolah, tempat yang kau janjikan..
Ingin jumpa denganku, walau mencuri waktu..
Berdusta pada guru..
Malu aku malu, pada semut merah..
Yang berbaris di dinding, menatapku curiga..
Seakan penuh tanya, sedang apa di sini?
Menanti pacar, jawabku...
Sungguh aneh tapi nyata, takkan terlupa..
Kisah-kasih di sekolah, dengan si DIA..
Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah..
Tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah..
Malu aku malu, pada semut merah..
Yang berbaris di dinding, menatapku curiga..
Seakan penuh tanya, sedang apa di sini?
Menanti pacar, jawabku...
Sungguh aneh tapi nyata, takkan terlupa..
Kisah-kasih di sekolah, dengan si DIA..
Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah..
Tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah..
Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah..
Tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah...
Masa-masa paling indah.. Masa indah..
Kisah-kasih di sekolah.. Kasih kita..
Dirga sangat menikmati suara Indira yang memang sangat merdu. Bahkan dia sampai memejamkan mata, dan kemudian menatap Indira.
"Cewek gua keren, bro!" antusias Panji membuat Dirga dan Eki mencebik kesal.
"Kasih bunga kek, kasih apa kek! Diem ae lu kang somay," celetuk Eki.
"Ga, pintain bunga dong ke tu cewek! Buat cewek gua didepan," rengek Panji pada Dirga.
"Ogah, beli sono didepan! Kaga modal lu," cebik Dirga.
"Ck! Jahara lu bedua," kesal Panji lalu berlari menuju gerbang sekolah.
Sayangnya, Panji telat datang. Fika sudah turun dari panggung, dan kini tengah menikmati sebotol minuman yang diberikan oleh Carel.
"Ini buat putri manis, dari pangeran," ucap Panji membuat Carel menyemburkan minuman dari mulutnya pada wajah Panji.
"Yaa Allah, Kakak," ucap Fika yang tak bisa menahan tawanya.
"Wahai rakyat jelata, kenapa lu nyembur muka gua?! Dukun lu?" kesal Panji.
"Sorry A! Salah elu lah, pake ngomong begitu," kilah Carel.
"Martabak juga tau, gua lagi romantisin cewek gua! Makanya jangan kelamaan jomblo lu, jadi bisanya semburin orang," ledek Panji.
"Aku tunggu disana, ya!" pamit Indira yang sudah mulai tak nyaman.
Indira duduk ditaman sekolah, dia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Huff, akhirnya bisa bernafas lega," ucap Indira.
"Suara kamu bagus," celetuk Dirga yang duduk membelakangi Indira.
"Astaghfirulloh, bikin kaget aja!" kesal Indira.
"Hehe, sorry! Kenapa lebih suka disini?" tanya Dirga.
"Aku gak suka keramaian," jawab Indira singkat.
"Hmm, ternyata bukan hanya aku orang yang lebih menyukai kesendirian," ucap Dirga.
Mereka terdiam, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Indira sama sekali tidak menoleh pada laki-laki yang duduk dibelakangnya itu. Hanya saja dia memang mengenali suara Dirga.
"Saya duluan ya, semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi," ucap Dirga lalu pergi begitu saja.
Indira berbalik, dan menatap punggung laki-laki itu. Dirga sangatlah sempurna, tampan, berkulit putih dan tinggi. Tidak munafik, Indira tertarik pada laki-laki itu.
"Kisah kasih disekolah, dan seseorang bernama Yoga yang mampu membuatku memiliki kenangan indah, bukan dia," batin Indira.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Riry Permata Putri
lah.. pantesan si dira gk kenalin si dirga pas udah jadi tentara, kerjanya nunduk aja sih
2022-02-23
0
Okie Larasati
Dira,Dirga itu Yoga,Yiga itu Dirga,,aah elaah gemes deh mamake
2022-02-15
1
Sweet_Girl
next
2022-02-03
1