Kondisi Dirga sudah sangat membaik, bahkan hari ini dia sudah mulai masuk sekolah. Meskipun kedua orangtuanya belum mengijinkan, hal itu tidak menghalangi Dirga. Mereka pun mengalah, mengingat kesalahan yang telah mereka perbuat. Dirga memiliki postur tubuh yang tinggi dan kulit yang putih bersih, siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati. Dirga berjalan dengan sangat gagahnya, membuat siswi-siswi disana menatap penuh kekaguman.
Jika para siswi itu sedang mengagumi sosok Dirga, berbeda dengan Indira yang selalu menjaga pandangannya. Hanya sekali dia bertatapan dengan laki-laki selain keluarga dekatnya, yaitu yoga alias Dirga. Dan pandangan pertamaitu, mampu membuat Indira tak bisa melupakannya. Dirga melihat Indira, gadis itu tengah tersenyum sambil menulis diatas buku miliknya. Langkah Dirga terhenti, sejenak dia memperhatikan Indira.
Panji dan Eki baru saja dari kantin, mereka melihat Dirga yang tersenyum tipis. Lalu mereka mengalihkan pandangan mereka, dan melihat siapa yang mampu membuat saabatnya itu tersenyum.
"Ki! Lu percaya gak? Si Dirga jatuh cinta sama tu cewek," Panji bertanya sambil menunjuk Dirga dan Indira bergantian.
"Hmm, percaya kaga percaya sih gua! Soalnya gunung es macam si Dirga mana bisa jatuh cinta," ucap Eki dan mendapat toyoran dari Panji.
"Heh biji semangka! Gitu-gitu juga si Dirga manusia, bukan jurig kuris! Nih lu liat, Panji sang penakluk hati bakalan beraksi!" Panji berjalan menuju Indira, tapi sayangnya....
Trriiiiingggggg.....
Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, Indira segera bergegas menuju kelasnya. Begitu pun juga dengan Dirga. Sedangkan Eki masih sibuk menertawakan Panji sang penakluk yang gagal.
"Sialan lu! Liat aja nanti jam istirahat, gua bikin si Dirga kepanasan kayak ikan kaga dikasih aer!" dengan percaya dirinya Panji mengatakan hal itu.
"Gua tunggu, ya! Penasaran gua," ledek Eki sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Anjay, ngeri gua!!" Panji bergidik ngeri dan pergi meninggalkan Eki.
* *
Jam pelajaran pertama sudah selesai, karena jam pelajaran kedua gurunya tidak hadir Indira dan Fika memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan. Setelah bisa bicara, Fika berubah menjadi anak yang ceria. Tentunya hanya pada Indira dan Carel saja dia menunjukkannya. Fika terus berceloteh ria, hingga tak sadar Vero melihatnya.
Cukup lama mereka membaca buku, Fika tiba-tiba ingin pergi ke toilet.
"Dira! Aku ke toilet dulu, ya! Kebelet," ucap Fika berbisik.
"Mau ditemenin gak?" tanya Indira dan Fika menggelengkan kepalanya.
Dengan cepat, Fika berlari menuju kamar mandi hingga tak sadar Vero mengikutinya. Sedangkan disisi lain, Panji pun kebelet pipis dan akhirnya dia meminta izin untuk ke toilet. Fika sudah merasa lega, tapi kelegaan itu hilang ketika Vero berdiri didepan pintu kamar mandinya.
Vero menghampiri Fika, dan hal itu membuat Fika memundurkan langkahnya.
"Heh bisu! Udah pinter bacot ya lo sekarang," ketus Vero sambil menatap Fika sinis.
"Apa mau kamu?" tanya Fika yang mulai ketakutan.
"Kenapa lo? Takut? Denger ya! Awas aja lo kalo berani ngadu sama guru, kalo gue yang dorong si Indira! Gue bikin ancur idup lo!" ancam Vero sambil menjambak rambut Fika.
"Aku gak pernah ngadu! Kenapa kamu selalu ngusik kehidupan oranglain? Apa salah aku sama Indira?!" teriak Fika sambil mengaduh kesakitan.
"Karena kalian berdua itu blagu! Gue gak suka orang blagu macem kalian!" geram Vero sambil menoyor-noyor kepala Fika.
"Veronica!!!" suara bariton itu membuat Vero menoleh dan terkejut.
Panji datang bersama guru piket, tadinya dia ingin pergi ke kelas. Tapi mendengar suara Fika, membuatnya menghentikan langkahnya. Alangkah kagetnya Panji, ternyata masih ada pembullyan dilingkungan sekolanya.
"Ikut Bapak ke ruang BK!" tegas Pak Mardi.
"Iy-iya Pak," gugup Vero lalu berjalan mengikuti sang guru.
"Mampos lu! Dasar bekantan," kesal Panji sambil memukul udara.
Fika menangis tersedu-sedu karena ketakutan, semua siswa siswi yang sejak tadi mendengar suara Pak Mardi berhambur melihat Fika. Dan kabar itu terdengar hingga telinga Indira. Dia segera berlari menuju kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dari Perpustakaan. Sebab perpustakaan berada diujung gedung.
Panji menghampiri Fika, dia membantu Fika untuk berdiri dan membawanya ke UKS.
"Kamu bisa jalan kan?" tanya Panji dan Fika mengangguk, tapi saat mencoba berdiri lututmya terasa sangat lemas.
"Maaf ya, bukan aku gak sopan. Tapi aku cuman mau bantu kamu," ucap Panji sambil mengangkat tubuh Fika.
"Ma-makasih, Kak!" ucap Fika dan Panji mengangguk.
Mereka jadi pusat perhatian, sebab Panji adalah salah satu cowok populer disekolah itu termasuk Dirga dan juga Eki. Karena malu, Fika menyembunyikan wajahnya didada bidang Panji. Dia bisa mendengar degupan jantung sang penolong.
"Sial! Kenapa jantung gua ngedadak berjoget ria kayak senam aerobik," batin Panji.
"Fika! Kak, dia kenapa?" tanya Indira saat melihat Panji menggendong Fika.
"Nanti aja di UKS, gua ceritain semuanya!" ucap Panji dan Indira mengangguk.
Terdapat luka pada wajah Fika, rambutnya acak-acakan tak karuan. Bahkan baju Fika, kancingnya terlepas. Indira yakin, jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
"Fik, kamu gak apa-apa kan?" tanya Indira sambil mengobati luka diwajahnya.
"I'm okay," jawab Fika sambil memegang tangan Indira.
"Kak siapa yang bikin temen aku kaya gini?" tanya Indira menatap Panji.
"Veronica, tapi Pak Mardi udah panggil dia ke ruang BK," ucap Panji membuat Indira geram.
Tak lama kemudian, Eki dan Dirga datang ke UKS membawakan jaket milik Panji. Sebab panji mengirim pesan pada mereka dan memintanya ke UKS.
"Nih jaket lu! Buat apa sih?" tanya Eki tanpa mengetahui jika ada oranglain disana.
"Kepo!" sahut Panji lalu membuka gordyn UKS. Dirga tersentak ketika melihat Indira.
"Fika, pake jaketnya! Aku udah izin sama guru buat anterin kamu pulang," ucap Panji.
"Ma-makasih, Kak! Ta-tapi aku pulang bareng Dira aja," lirih Fika yang rupanya masih gemetar ketakutan.
"Tunggu disini! Dia sudah keterlaluan, jangan remehkan diamnya orang sepertiku," geram Indira lalu berjalan keluar.
"Dira!" teriak Fika yang tak digubris oleh Indira. "Kak, tolong cegah Indira!" pinta Fika.
Dirga dan Eki menyusul gadis itu, ketika Panji sudah memberikan kode melalui matanya.
"Sialan Panji sang penakluk! Gua berasa antek-anteknya!" kesal Eki.
"Lu beliin minum aja di kantin, biar gua yang kejar dia," pinta Dirga dan Eki mengangguk.
Indira melangkahkan kakinya menuju ruang BK, terlihat Pak Mardi dan Bu Tati disana sedang menasehati Veronica.
"Assalamu'alaikum," ucap Indira membuat mereka menoleh.
"Walaikumsalam, Dira! Ada apa?" tanya Pak Mardi.
"Saya mau melaporkan Veronica pada Kepala Sekolah, dan saya akan meminta orangtua saya membawa kasus ini ke Kepolisian," ucap Indira membuat mereka tersentak.
"Maksudnya laporan apa Indira?" tanya Pak Mardi.
"Dia yang sudah mendorong saya waktu berkemah, dan Fika yang menjadi saksinya," ucap Indira membuat Pak Mardi menggeram.
"Bohong, Pak! Dia pembohong!" teriak Vero sambil menunjuk wajah Indira.
Pak Mardi pada akhirnya harus melanjutkan kasus ini ke tingkat Kepala Sekolah. Veronica dan Indira duduk berdampingan, Dirga hanya mengawasi dari luar ruangan sebab tak mungkin jika dia harus masuk kedalam sana.
"Pak, ini video rekaman waktu Veronica mendorong Indira. Tapi jangan bilang saya yang memberikan ya, Pak!" ucap Dirga membuat Pak Mardi keheranan.
"Kamu kenapa gak kasih tau kami sejak dulu?" tanya Pak Mardi.
"Saya sedang mengumpulkan bukti-bukti, Pak. Pembullyan disekolah ini sering terjadi, tapi para guru seringkali menutup mata. Apalagi jika itu menyangkut siswa siswi yang berada dari kalangan atas. Dengan alasan tak ingin mencoreng nama baik sekolah, padahal pembullyan itu berdampak buruk. Contohnya pada siswi tadi, saya harap kali ini para guru lebih bijak untuk membasmi pembullyan disekolah," ucap Dirga membuat Pak Mardi terdiam membisu.
Kepala Sekolah sudah memutuskan akan mengadakan rapat lanjutan mengenai pembullyan ini, terlebih sudah banyak bukti yang menunjukkan Veronica bersalah.
"Kami akan panggil kedua orangtua kalian besok pagi," ucap Kepala Sekolah membuat Veronica membulatkan matanya, sedangkan Indira tersenyum bahagia.
"Baik, Pak! Saya akan membawa kedua orangtua saya besok pagi, saya mohon pamit Pak! Saya izin untuk mengantarkan Fika pulang," ucap Indira dan diangguki oleh Kepala Sekolah.
"Hati-hati dijalan, Indira!" ucap Bu Tati.
Sedangkan di UKS, Fika yang tengah ketakutan terus menangis. Panji mendekatinya dan mengusap kepala Fika, dia berusaha menenangkan gadis itu.
"Sudah Fika, kamu sudah aman disini. Mereka sedang memperjuangkan keadilan buat kamu," ucap Panji dan Fika mengangguk.
"Ma-makasih ya, Kak! Kalo gak ada Kakak, aku gak tau lagi," lirih Fika.
"Udah kewajiban aku sebagai Kakak kelas kamu, sekarang kamu istirahat! Obatnya sudah diminum kan?" tanya Panji dan Fika mengangguk.
Indira berjalan menuju UKS, diikuti oleh Dirga dan juga Eki dibelakangnya. Mereka terkejut, ketika melihat Fika tengah tertidur dibahu Panji begitu juga sebsliknya. Ketika Indira mendekati, Eki menahannya.
"Kata penjaga UKS, dia baru minum obat. Kamu balik ke kelas aja, nanti kalo Fika udah bangun pasti kamu dipanggil," ucap Eki dan Indira mengangguk tanpa menoleh.
"Makasih, Kak! Saya duluan," ucap Indira dan Eki mengangguk, sedangkan Dirga menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh.
"Dasar emang! Panji emang si penakluk!" ucap Eki sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Eki menatap Dirga yang tak merespon ucapannya, rupanya Dirga masih menatap kepergian Indira. Sejak saat itu, Eki mengerti maksud ucapan Panji mengenai Dirga yang rupanya telah jatuh cinta.
"Sekeras-kerasnya batu, kalo kena hujan bakalan retak juga," batin Eki menatap Dirga.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Lince
next thot
2022-02-01
1
WD
mencintai dalam diam itu rasnya campur aduk...aku pernah mengalami itu dulu😁
2022-02-01
1
Sweet_Girl
lanjut thor😁
2022-02-01
1