Gus Athaya Putra Rahadian adalah anak dari Ulama besar bernama Kiai Abdul Rahadian dan Ibunya bernama Sofia Maulida, Abi nya seorang pemilik Pesantren Al-Huda. Salah satu pesantren yang cukup besar dan terkenal di Jawa Tengah. Saat berusia 10 tahun, Athaya mulai tinggal bersama Kakeknya. Bukan tanpa alasan, dia tinggal bersama Kakeknya sebab Abi nya membuat Athaya kecewa. Meskipun Athaya masih berusia 10 tahun pada saat itu, tapi dia sudah memahami percakapan kedua orangtuanya.
Athaya berniat memberikan hasil rapot pada Abinya, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar pembicaraan Abi dan Ummi nya.
"Aku akan menikah lagi, seperti tradisi dalam keluargaku," ucap Abi Athaya.
"Kalo begitu, ceraikan Ummi," sahut Ummi Athaya.
"Istighfar! Allah memang tidak mengharamkan perceraian, tapi itu adalah hal yang paling dibenci Allah. Abi juga menikah lagi bukan dengan gadis belia, tapi dengan janda miskin yang ditinggal mati oleh suaminya," tegas Abi memeluk sang Ummi.
Melihat Umminya menangis, Athaya membatalkan niatnya untuk menghampiri keduanya. Dia lebih memilih untuk menemui sang Kakak, Adnan Husain Rahadian.
"Kenapa muka kamu ditekuk gitu?" tanya Adnan mengelus surai sang adik.
"Mas tau, kalo Abi mau menikah lagi?" lirih Athaya.
"Tau, wes jangan sedih! InshaAllah ini yang terbaik," ucap Mas Adnan.
"Terbaik opo ne? Ummi jelas-jelas gak terima, tapi Abi kekeh dengan keputusannya. Aku mau tinggal sama Atok sama Opa aja," ucap Athaya lalu berlari masuk kedalam kamarnya.
Malam itu, Abi Athaya memberi tahukan jika minggu depan dia akan menikah lagi. Dan hal itu membuat rasa kecewa Athaya semakin dalam.
"Aku mau tinggal sama Atok sama Opa, besok Atok jemput Athaya," ucap Athaya membuat kedua orangtuanya tersentak kaget.
"Apa maksud kowe?! Minggu depan Abi itu nikah, Athaya!" Abi membentak Athaya.
"Abi kan yang nikah? Bukan aku," ketus Athaya.
"Athaya! Ummi gak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap seperti itu sama orangtua! Sekarang minta maaf," titah Ummi.
"Mboh, Abi yang buat aku seperti ini. Ummi terlalu munafik untuk bilang kalo Ummi kecewa dan sakit hati," ucap Athaya yang mendapatkan tamparan dari sang Ibu.
Plakkkk!
Athaya kecil jatuh terhuyung.
"Ummi........!!!" teriak Abi dan Adnan bersamaan.
"Athaya, maafin Ummi, Nak," lirih Ummi mendekati Athaya.
"Enggak! Athaya gak mau lagi deket Ummi atau Abi, kalian semua jahat!" teriak Athaya lalu berlari masuk kedalam kamarnya.
"Athaya! Maafin Ummi, Nak. Ummi tidak sengaja," lirih Ummi sambil mengetuk pintu kamar sang putra.
Anak kecil itu menangis, dia sangat kecewa terhadap kedua orangtuanya. Athaya lebih memilih untuk bergulung dibawah selimut dan menangis tanpa suara.
"Aku kecewa sama Ummi dan Abi, mereka tidak pernah memikirkan perasaanku. Aku gak mau punya adik dan kakak tiri, aku benci Abi!" batin Athaya.
Rupanya ucapan Athaya bukan isapan jempol belaka, Atok dan Opa nya sudah datang sejak subuh tadi. Mereka menatap putri kesayangan mereka yang terlihat sembab.
"Atok dan Opa gak akan ikut campur urusan rumah tanggamu, mau Abdul menikah lagi itu bukan urusan Atok. Tapi jika kamu menyerah, Atok akan membawamu pagi ini bersama Athaya," ucap Atok pada anak dan menantunya itu.
"Maaf Atok, tapi saya tidak mengizinkan Athaya pergi. Dan mengenai menikah lagi, Sofia sudah merestui dan ikhlas menjalani rumah tangga kami," Abi Athaya berkata dengan tegas.
"Tanpa seizin Abi, aku akan pergi! Kita pergi sekarang Atok," ucap Athaya yang sudah siap dengan dua koper ditangannya.
Ummi Athaya berhambur memeluk Athaya, tapi sayangnya Athaya menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh sang nenek.
"Athaya, Ummi sayang kamu Nak, jangan tinggalin Ummi!" lirih Ummi.
"Ummi gak sayang Athaya! Semalam tamparan Ummi sudah cukup bagi Athaya," sahut Athaya diiringi dengan isak tangis.
"Apa? Kamu tampar anakmu?!" kaget Opa menatap putrinya itu.
"Maaf Ma, Fia gak sengaja," lirih Sofia.
"Benar, Ma. Ucapan Athaya terlalu menyakitkan hati kami," ucap Abi Athaya.
"Memang dia berkata apa?!" ketus Opa.
"Athaya bilang jika Ummi nya itu munafik dengan menerima pernikahan keduaku," jawab Abi Athaya.
Opa menatap wajah sang putri dan menantunya itu secara bergantian.
"Poligami memang disunnahkan, tapi juga harus melihat kondisi apakah anak dan istrimu akan menerima? Masih jelas dibenakku saat kamu meminta putriku untuk hidup denganmu, tapi saat ini kamu jelas-jelas sudah menghancurkan hatinya dan hidupnya. Tidak ada seorangpun yang ikhlas untuk berbagi suami, dan kamu pun bukan Rasulullah yang bisa bersikap adil. Dengarlah ucapan ibumu ini Sofia, kelak kamu akan menyesal sudah memperlakukan putramu seperti itu. Athaya dan Adnan akan Mama bawa, dengan atau tanpa persetujuan kalian!" tegas Opa membuat mereka hanya menunduk.
Pada akhirnya, Adnan tidak ikut karena dia tidak mau meninggalkan Umminya sendirian. Athaya kecil pergi tanpa menoleh sedikitpun pada kedua orangtuanya. Dia sungguh sangat kecewa, bahkan dia menolak ketika orang lain menyebutnya 'Gus'.
"Aku bukan seorang 'Gus', aku hanyalah Athaya!" tegas Athaya.
* * *
Waktu terus berlalu, Athaya ikut ke Turki bersama sang Kakek dan Neneknya. Dia melanjutkan sekolah SMA nya disana. Jujur saja, Athaya merindukan sang Ummi. Dia merasa bersalah, sebab hingga saat ini hatinya masih sangatlah kecewa dan terluka. Memang Athaya tak pernah menolak lagi jika Umminya ingin bicara dengannya. Tapi hatinya masih sangatlah sakit, terlebih kini dia tau jika Ibu tirinya adalah sahabat Ummi sendiri. Dia janda dari seorang abdi negara, yang suaminya tewas di medan perang.
Athaya duduk disebuah taman, yang tak jauh dari rumahnya. Cuaca Turki pagi ini cukup bagus, Athaya melukis setangkai bunga yang ada dihadapannya itu.
"Wuih! Pagi-pagi udah nongki cantik aja disini," ucap seorang gadis mengagetkannya.
"Apaan sih Kak! Pagi-pagi udah bikin orang jantungan," kesal Athaya.
"Pagi-pagi itu olahraga, bukan ngelukis!" ketus gadis itu.
"Olahraga apa jajan, Kak?" ledek Athaya ketika melihat bungkusan ditangannya.
"Ini Grandma minta dibelikan Kofte! Bukan buat Kak Lana," ketus gadis bernama Alana itu.
Alana adalah satu-satunya teman dekat yang dimiliki oleh Athaya selama di Turki. Hanya pada Alana, dia bisa membagi semua ceritanya. Begitupun dengan Alana, dia tak sungkan untuk menceritakan alasan kepergiannya ke Turki.
"Ck! Gara-gara cowok kok larinya jauh banget ke Turki," cebik Athaya.
"Bodo! Kamu juga sama kan, menurut Kakak berdamailah dengan masa lalu Athaya. Lagian sekarang Ummi juga menerima kan? Dia pasti sangat merindukan kamu," ucap Alana membuat Athaya mendongakkan kepalanya menatap langit.
"Hatiku terlalu sakit melihat senyum palsu diwajah Ummi, bahkan aku juga sangat kecewa pada Kak Adnan. Dia sudah menikah lagi, padahal usia pernikahannya yang pertama baru empat tahun. Hanya karena istrinya belum juga hamil," lirih Athaya.
"Mereka adalah orang yang paham agama, Gus Athaya. Aku yakin, mereka melakukan itu semua pasti penuh dengan pertimbangan," Alana terus menasehati Athaya.
"Jika kamu dimadu dengan sahabatmu sendiri, bagaimana perasaanmu, Kak?" tanya Athaya membuat Alana diam seribu bahasa.
Begitulah Athaya, sikapnya memang dingin bahkan penampilannya pun kini tidak mencerminkan jika dia seorang anak kiai. Tapi jangan salah, Athaya tetap menanamkan keteguhannya mendalami ilmu agama. Bahkan dia sudah hafal sekitar 20 juz, Athaya tetaplah Athaya. Seburuk-buruk gaya fashionnya, Athaya tetap menjadi orang yang selalu mengutamakan sholatnya.
"Don't judge people from the outside," itulah yang selalu diucapkan Athaya.
* * *
Tiga tahun berlalu, kini Athaya sudah kembali ke Indonesia dan lebih tepatnya di Bandung. Kota kelahiran Umminya, Athaya memilih Universitas Pendidikan Indonesia sebagai tempatnya melanjutkan pendidikannya. Dan pertemuan dirinya dengan seorang gadis bernama Indira benar-benar bisa merubah kehidupannya. Yang awalnya hitam putih, kini menjadi lebih berwarna.
Pertemuannya dengan Indira yang tak disengaja, ternyata berlanjut. Pagi itu Athaya ingin pergi ke butik Alana untuk membawa pesanan Atok dan Opanya. Tapi ternyata, dia melihat gadis itu tengah berbicara dengan satpam rumahnya. Dia melihat Indira datang bersama Carel, dan dia juga mengerti kode mata yang diberikan oleh Carel.
"Hai cantik! Tau aja rumah gua disini," ucap Athaya membuat Indira sebal.
"Ini pak! Pokoknya saya titip aja undangannya, permisi! Ayok Car...." Saat Indira berbalik dia tak menemukan Aqeela maupun Carel disana.
"Daritadi Carel udah pergi kali, kok gak nyadar! Udah mending gua anter aja!" tawar Athaya membuat Indira kesal.
"Udah pokoknya ayok masuk kemobil," Athaya menarik tangan Indira dan memaksanya masuk kedalam mobil miliknya.
Sepanjang perjalanan, Indira mencebik kesal. Pasalnya Aqeela dan Carel pergi begitu saja meninggalkannya disana. Karena sibuk berdebat, Indira sampai tak mendengar deru suara mobil milik Carel pergi dari sana.
"Jangan manyun mulu dong! Kan gua anterin lu ini," ucap Athaya.
"Ck, aku kan ga minta dianterin! Kamu aja yang maksa," kesal Indira.
"Anggep aja ini date pertama kita sebagai temen?" sahut Athaya dengan senyuman yang mengembah diwajahnya. Bisa dipastikan jika dia sedang sangat berbahagia.
Mobil melaju begitu saja dan Indira tak menyebutkan kemana mereka akan pergi.
"Mampir butik sebentar ya! Gua ngambil pesanan Abah sama Nenek dulu," pinta Athaya.
"Hmm, boleh anterin aku balik dulu gak? Soalnya aku juga mesti ke butik.... Lho! Kok kamu tau aku harus ke 'Ariela Boutique'?" kaget Indira ketika melihat mobil Athaya berbelok ke arah pintu parkir masuk butik Alana.
"Hebat ya gua! Peramal," ucap Athaya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sejak saat itu, Athaya bertekad untuk mendekati Indira. Terlebih dia sudah dikenalkan dengan seluruh keluarga besar Indira. Bahkan Athaya sudah dianggap satu paket dengan Indira, sejak pernikahan Kak Elmira, Kakak pertama Indira. Athaya dan Alana sudah seperti sepasang kekasih. Dan bahkan dia sudah merasa mendapatkan lampu hijau.
"Jadi mau surat Ar-Rahman apa surat Al-Mulk?" bisik Athaya.
"Dua-duanya!" bisik Indira yang kesal.
"Tunggu sampe lulus, ya!" bisik Athaya lagi.
"Eh!" Indira tak lagi menjawabnya, sebab dia sibuk mencerna perkataan Athaya.
Melihat Indira gelagapan, Athaya tersenyum bahagia. Pada akhirnya dia sudah menemukan seseorang yang bisa meluluhkan hatinya. Baginya Indira adalah pelangi dalam hidupnya.
"Akan kusebut kamu dalam do'a disepertiga malamku, Indira," batin Athaya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Tha Ardiansyah
woooyy... keduluan sama Dirga kali
2022-04-07
0
WD
kasian juga athaya ya tp kalau seandainya Indira ma Athaya jangan sampe poligami ya Thor....entah lah aku pribadi kurang menyukai tentang poligami wlpn dlm Islam TDK melarang ,tp sebagai perempuan dan hanya manusia biasa ,aku sangat menolak keras...dulu ketika masih gadis dan punya pacar terus pacar selingkuh sakit hati sampe ubun ubun...apalagi klu liat suami punya istri lagi bisa mati berdiri aku😂😂balik lagi pada manusia itu sendiri punya hak dan pemikiran sendiri,tp klu bisa cukup satu istri bahagiakan dia,hargai dia ,sayangi dia dan jadikan si istri seperti ratu dalam rumah tangga mu,pahala pun akan mengalir pada suami begitupun sebalikny buat si istri😁😁maaf ya komen nya kepanjangan thor
2022-02-05
1
Ken Zie
lanjut thor 💃💃💃
2022-02-05
1