Hari itu, Indira benar-benar mengurung dirinya didalam kamar. Bahkan saat waktu makan malampun dia tidak beranjak. Karena khawatir, Bunda Gisya terus membujuk putrinya itu untuk membuka pintunya.
"Sayang, buka pintunya! Ini Bunda, Nak," panggil Bunda Gisya.
Ceklek
Indira membuka pintunya, matanya sangat sembab karena menangis seharian.
"Yaa Allah, Dira! Kamu kenapa sayang?" panik Bunda Gisya.
"Dira gak apa-apa, Bun!" jawab Indira memaksakan senyumnya.
"Sini duduk, Bunda bawain makan buat kamu," titah Bunda Gisya.
Mereka berdua duduk dipinggir kasur, Bunda Gisya dengan telaten menyuapi putrinya itu. Meskipun Indira sudah menolak, tapi Bunda Gisya masih kekeh untuk menyuapi putri bungsunya itu. Satu piring makanan sudah masuk kedalam perut Indira. Kini, Bunda Gisya mengajak putrinya itu untuk bicara dari hati ke hati.
"Dira sayang, Bunda mengandung kamu selama sembilan bulan. Bunda juga yang menyusui dan merawat kamu sampai saat ini, jadi Bunda tau pasti apa yang kamu rasakan, Nak," ucap Bunda Gisya membuat Indira menunduk.
Dengan sabar Bunda Gisya menunggu hingga Indira mau bicara padanya.
"Bun, kenapa cinta itu menyakitkan?" lirih Indira.
"Apanya yang menyakitkan, Nak? Ceritain sama Bunda," titah Bunda Gisya, dia mengelus kepala putrinya itu dengan lembut.
"Dira mencintai seseorang, Bun. Tapi dia akan pergi," Indira berkata dengan airmata yang mulai lolos dari matanya.
"Athaya? Dia akan pergi?" tanya Bunda Gisya dan Indira menggelengkan kepalanya.
Jawaban Indira cukup membuat Bunda Gisya terkejut, dia mengira jika Indira menangis karena Athaya. Tapi dugaannya benar-benar salah.
"Bunda gak ngerti sayang, coba Dira ceritain yang jelas sama Bunda, ya!" pinta Bunda Gisya.
"Tapi Bunda harus janji satu hal, Bunda jangan ceritain semua ini ke siapapun," ucap Indira dan Bunda Gisya menganggukkan kepalanya.
Perlahan Indira mengeluarkan kalung yang menggantung di lehernya, liontin matahari serta kalung yang Bunda Gisya tau itu adalah kalung yang dimiliki oleh anggota TNI.
"Dira udah ketemu Kak Yoga, Bun. Kak Yoga yang menyelamatkan Dira waktu kemah dulu, Kak Yoga yang mampu buat Dira gak bisa lupain dia," lirih Indira.
"Yoga yang selalu kamu ceritain sama Bunda?!" kaget Bunda Gisya, memang Indira intovert tapi dia selalu menceritakan semua pada Bundanya.
"Iya, Bun." lirih Indira menangis dipelukan Bundanya.
Sungguh, Bunda Gisya sangat gemas dengan Indira. Sebab putrinya itu belum menceritakan dengan jelas mengenai pertemuannya dengan Yoga.
"Terus kenapa kamu nangis sayang? Harusnya kamu bahagia," ucap Bunda Gisya.
"Aku bahagia, Bun. Tapi dia mau pergi, Bun! Bahkan dia gak minta Dira buat nungguin dia. Katanya dia gak mau minta Dira buat nunggu, karena takut gak bisa nepatin janjinya," Indira masih terisak dan membuat Bunda Gisya tersenyum.
"Sayang, Kak Yoga memang sudah bersikap benar. Dia gak mau nyakitin kamu, Nak," ucap Bunda Gisya membuat Indira mendongakkan kepalanya.
"Kalo gitu ngapain dia bilang sama Dira kalo dia itu Kak Yoga! Dira gak akan berharap lebih, Bun. Kalo Dira gak tau dia itu Kak Yoga," kesal Indira.
Bunda Gisya baru menyadari, kini putri kecilnya itu memang sudah beranjak dewasa.
"Indira sayang, tugas seorang tentara itu berat, Nak. Mereka mengabdikan dirinya untuk negara, Kak Yoga bilang itu sama kamu karena dia gak mau kalo dia pergi dengan penuh penyesalan nantinya. Dia juga gak mau minta kamu buat nunggu, karena dia gak mau kalo kamu harus menelan pil pahit ketika kepulangannya hanya tinggal nama. Bukannya Dira gak mau ya punya calon seorang tentara?" ucap Bunda Gisya.
"Dira gak tau kalo dia jadi Tentara, Bun. Kalo Dira tau, dia akan jadi pengecualian," ucap Indira menundukkan kepalanya.
"Tapi semua yang dikatakan Kak Yoga memang benar, cukup kamu selalu sebut namanya dalam setiap sujud kamu. Semoga Allah memang mentakdirkan kalian berdua berjodoh," ucap Bunda Gisya.
Lagi-lagi Indira menghela nafas beratnya, ditambah ketika dia mengingat Athaya.
"Dira sebut namanya dalam do'a, dan orang lain menyebut nama Dira dalam do'anya, bagaimana Bun?" lirih Indira membuat Bunda Gisya tersenyum gemas.
"Jodoh itu sudah Allah tentukan dalam lauhul mahfudz, sekeras apapun kita menyebut namanya jika Allah memang menakdirkan dia bukan jodoh kita maka Allah tidak akan pernah menyatukan kalian. Udah jangan dipikirin, berdo'a aja sama Allah minta diberikan jodoh terbaik," ucap Bunda Gisya dan Indira mengangguk.
* * *
Pagi harinya, Indira sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Saat dia keluar, Indira sudah melihat Athaya dan juga sang Ayah sedang berbincang di ruang tamu. Indira lebih memilih untuk menuju meja makan dan bermain dengan Sweta sebentar.
"Dek, jangan galau lagi ya! Kakak gak mau liat kamu sedih," ucap Elmira.
"Jangan dibahas, Kak. Dira gak apa-apa kok," ucap Indira tersenyum.
"Kamu tetep nemenin Kakak disini kan?" tanya Elmira menundukan kepalanya.
"Ck! Pertanyaan macam apa itu? Udah pasti lah, Dira bakalan temenin Kakak disini," ucap Indira sambil mencium pipi Sweta.
Ayah Fahri menghampiri Indira yang tengah makan sarapan paginya.
"Kamu ke kampus bareng Ayah, ya! Sama Athaya juga," ucap Ayah Fahri.
"Iya Ayah," jawab Indira.
"Athaya gak kamu ajakin sarapan, Dek?" tanya Ayah Fahri.
"Dira kira dia udah sarapan, yaudah Dira panggil Athaya dulu," Indira beranjak dan menghampiri Athaya yang tengah asyik dengan ponselnya.
"Makan dulu," ucap Indira membuat Athaya mendongakkan kepalanya.
"Aku udah sarapan tadi, kamu beresin aja dulu sarapan kamu. Setelah itu kita pergi sama-sama ke kampus," Athaya mengelus kepala Indira tapi dia segera berjalan meninggalkan Athaya.
Selesai sarapan, Indira pergi ke kampus bersama sang Ayah dan juga Athaya. Indira lebih banyak diam, sedangkan Ayah Fahri dan Athaya terus berbincang-bincang.
"Jadi gimana rencana hubungan kalian kedepannya?" tanya Ayah Fahri.
"Saya siap melamar Dira, Om. Tapi saya rasa, kami harus lebih saling mengenal dulu. Saya gak mau Indira merasa tidak nyaman nantinya," ucap Athaya.
"Baiklah, Om tunggu kabar baik kalian!" ucapan Ayah Fahri menusuk relung hati Indira.
Mereka sudah sampai, Athaya dan Indira berpamitan pada Ayah Fahri.
"Om saya duluan, ya! Kelas udah mau dimulai, Assalamu'alaikum," pamit Athaya.
"Iya, hati-hati Athaya!" ucap Ayah Fahri.
"Dira juga ke kelas dulu ya, Ayah. Assalamu'alaikum," ucap Indira lalu mencium tangan sang Ayah.
"Belajar yang rajin, ya!" titah Ayah Fahri dan Indira mengangguk. Indira menatap kepergian mobil sang Ayah.
Baru saja Indira akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba sebuah motor berhenti dihadapannya. Seorang laki-laki yang sangat Indira rindukan.
"Syafa, bolehkah aku mengajakmu menjadi mahasiswa nakal hari ini?" tanya Dirga.
"Sepertinya itu tidak buruk," jawab Indira.
Dirga memekaikan helm dikepala Indira, dengan hati-hati Indira naik kemotor Dirga.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Indira saat motor mulai melaju.
"Ke gasibu," jawab Dirga membuat Indira terheran.
"Ngapain kita ke Gasibu, Kak?" tanya Indira lagi.
"Ternyata memang benar, kata seseorang kamu itu cerewet juga," ucap Dirga tersenyum.
"Ck! So tau berarti orangnya," ucap Indira membuat Dirga tertawa terbahak-bahak.
Mereka berdua benar-benar menikmati kebersamaan mereka, selama perjalanan Indira bisa tersenyum dan tertawa lepas. Kini mereka sudah sampai di taman depan telkom gasibu, Indira turun dari motor Dirga dan Dirga membantu Indira melepaskan helmnya. Mereka berjalan beriringan, Dirga membeli dua botol minuman dan gorengan yang berada didekat sana. Sungguh bukan kencan seperti anak-anak muda lainnya.
Dirga membuka satu botol minuman dan memberikannya pada Indira.
"Terimakasih, Kak," ucap Indira menerima botol minuman itu.
"Aku yang harusnya berterimakasih, terimakasih sudah selalu mengingatku, Syafa," ucap Dirga sambil menatap wajah Indira.
"Oh iya, kenapa kita kesini Kak?" Indira masih penasaran dengan alasan Dirga.
"Seseorang bilang, dia mulai menemukan cintanya ditaman ini. Mereka saling menunggu disini, ini adalah tempat bersejarah bagi mereka. Dan aku berharap, aku pun bisa menemukan cintaku ditaman ini. Mengukir sejarah yang sama," ucap Dirga membuat Indira termenung.
Indira belum mengerti maksud dari ucapan Dirga, hingga Dirga mengatakan sesuatu yang membuat jantung Indira berdegup kencang.
"Aku mencintaimu, Indira Myesha Kirania Syafa," ucap Dirga membuat Indira menoleh.
"Maksudnya gimana Kak?" lirih Indira ketika melihat sebuah cincin ditangan Dirga.
"Aku mencintaimu, bolehkah aku meminjam sebentar kalung yang kuberikan untukmu?" tanya Dirga dan Indira mengangguk, dia menyerahkan kalung yang selalu dia bawa kemanapun.
Dirga memasukan cincin itu menjadi satu dengan liontin matahari dan kalung TNI bertuliskan nama dirinya.
"Syafa, aku bener-bener cinta sama kamu. Tapi aku gak akan pernah meminta kamu untuk menungguku, suatu saat nanti jika Allah mengizinkan maka cincin itu akan terpasang dijari manismu," ucap Dirga membuat Indira tak bisa lagi menahan airmatanya.
"Aku gak ngerti, Kak! Bener-bener gak ngerti," lirih Indira.
"Denger aku, Syafa. Lihat mata aku!" pinta Dirga.
Mata mereka bertemu, bisa terlihat cinta memancar dalam tatapan itu.
"Kamu percaya jodoh? Jika memang kita berjodoh, kita pasti akan bersatu dalam ikatan suci, Syafa. Untuk saat ini, jalani hidupmu dengan bahagia. Jangan terus mengingatku, yang akhirnya bisa melukai hatimu. Tapi cukup do'akan aku dalam setiap sujud dan hembus nafasmu," ucap Dirga.
"Apa kamu rela Kak, jika akhirnya aku harus bersanding dengan orang lain?!" tanya Indira.
"Syafa, cinta itu gak harus menguasai. Jika akhirnya memang kamu harus bersanding dengan oranglain, tandanya dia adalah jodoh terbaik yang Allah berikan untukmu. Jadi aku mohon, jangan biarkan mata indah ini meneteskan airmata apalagi aku sebagai penyebabnya," Dirga memberi pengertian pada Indira.
Setelah sekian lama termenung, akhirnya Indira mengangguk dan Dirga mencium kening Indira. Cintanya sangat tulus untuk gadis itu, Dirga kemudian mengajak Indira ke Bumi Perkemahan Jatinangor. Mereka menikmati keindahan alam itu berdua, seolah dunia itu hanya milik mereka berdua. Indira bahkan tidak memperdulikan panggilan dari Athaya yang sudah berpuluh-puluh kali.
"Rasanya aku ingin waktu berhenti saat ini, Kak. Aku gak mau jauh dari kamu," batin Indira.
Waktu terus berlalu, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dirga mengantar Indira hingga depan asrama Mirda dan Elmira.
"Selamat malam, Syafa! Jangan lupa tersenyum dan do'akan aku," ucap Dirga.
"Hati-hati, Kak! Istirahat ya, terimakasih untuk hari ini," ucap Indira.
"Aku yang harusnya berterimakasih, terimakasih sudah menjadi mahasiswi nakal hari ini. Tapi cukup hari ini, ya!" tegas Dirga.
"Siap! Laksanakan," Indira berucap sambil memberi hormat.
Dirga mengemudikan motornya untuk kembali ke Barak, seseorang tersenyum melihat Indira yang tersenyum bahagia.
"Indira, kamu adalah harta berharga untukku. Sampai kapanpun selama aku masih hidup, aku akan menjagamu dengan sepenuh hati dan akan membuatmu selalu tersenyum bahagia,"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Mey
waduh neng...emak terharu...gak mewek..tp..hati emak rasanya gimanaaaa gituuu...🤗🤗🤗
gak kuat...semoga Athaya ketemu am yg lain ya...n lambat lain dia akan menyadari gmn perasaan Dira...🙏
2022-02-08
1
WD
aku ga bisa komen...mau diam aja...mau jd pendiam😁
2022-02-08
1
Ika Nur
seneng baget ya teh ngasih teta teki silang 😀😀😀
2022-02-08
1