Bab - 19 Tendangan Pagi Pertama

Pernikahan telah selesai semua tamu undangan telah pulang, Dalam kamar hotel yg dihias dan didekorasi secantik mungkin dengan ranjang yg dipenuhi taburan kelopak mawar ditambah dengan kelap kelip lampu hias yg cahayanya tidak terlalu terang dan juga tidak terlalu redup menambah keindahan kamar pengantin malam ini.

Jika yg melihat dan memasuki kamar itu pasangan kekasih yg saling mencintai mungkin mereka akan dimabukkan oleh nuansa romantis yg tercipta dari kamar itu.

Namun berbeda dengan dua insan yg baru saja menikah ini, ya mereka tidak saling mencintai menikah dengan alasan masing-masing yg membuat mereka terjebak dalam kamar yg romantis ini.

"Sungguh indah, sayang sekali kalau tidak melewatkan malam dikamar yg indah ini"

ucap Daren sambil telentang di atas ranjang.

"Apa maksud kata-katanya? ya tuhan aku belum siap di unboxing tolong selamatkan aku malam ini"

"Hei kenapa kamu hanya diam saja ?, mari nikmati suasana kamar ini"

ucapan Daren membuat Sindi semakin merinding dan tak dapat bergerak karena semua anggota tubuhnya membeku mengingat bagaimana malam pertama nya ini.

"apa yg dipikirkan pria itu bagaimana mungkin dia meminta ku untuk menikmati suasana kamar ini,ini sungguh diluar dugaan ku, ini sangat horor, oh tidak bagaimana cara aku kabur dari kamar yg menyeramkan ini"

"Hm Daren aku sangat lelah saat ini, sepertinya dilain waktu saja ya lagian kita tidak saling mencintai dan menikah pun karena terpaksa"

ucap Sindi yg sudah terlanjur diracuni pikiran 21 plus nya itu.

"apa yg ada di otak gadis ini, apa dia berpikir aku akan menidurinya, baiklah aku akan mengerjainya"

"Oh kamu sangat lelah ya ?, ya sudah kalau begitu aku akan dibawah kamu diatas saja"

pikiran Sindi makin tidak karuan mendengan kata diatas dan dibawah yg diucapkan Daren

"Tidak, tidak, tidak jangan lakukan apapun, aku ini masih perawan tingting walaupun kamu sekarang adalah suamiku tapi aku masih belum siap untuk itu"

ucap Sindi memejamkan mata menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bruk !!"

bunyi bantal memantul di kepala Sindi.

"Buang otak mesum mu itu, sekarang tidurlah dibawah dilantai, sudah ditawari tidur di atas malah memikirkan hal lain, buang sana otak mesum mu itu"

ucap Daren sambil melempar selimut pada Sindi.

Muka Sindi memerah bagai udang digoreng antara malu dan kesal bercampur aduk.

"Huuuaa ada apa dengan otakku , dan apa katanya aku harus tidur dilantai?, kenapa tidak ada sofa sih di ruangan ini?(author kamu jahat sekali)"

Sindi mengambil selimut yg dilemparkan Daren padanya dan membentangkan dilantai sebagai alasnya tidur.

Sementara Daren sedang menikmati ranjang yg empuk

"andai yg ada bersama ku dikamar ini dirimu Mutiara mungkin aku tidak akan membiarkan ruangan yg indah ini larut dalam kesunyian, kan kubuat irama cinta dari ******* mu yg merdu"

Daren terlelap dengan nyaman sedangkan Sindi tidak dapat tidur dia naik keatas tempat tidur perlahan

"Baiklah Sindi hanya malam ini saja, yakinlah tidak akan terjadi apapun"

gumamnya pada diri sendiri sambil meletakkan guling sebagai pembatas antara dia dan Daren.

"wah tidak sangka dalam keadaan tidur seperti ini kamu terlihat tampan tapi kalau dalam keadaan sadar sangat menyebalkan"

gumamnya lagi sambil memperhatikan wajah tampan Daren, dan Sindi pun terlelap dengan nyaman.

****

Pagi harinya Daren merasakan sesuatu yg berat di atas perutnya, dan terdengar dengkuran yg agak kerasDaren terbangun karena merasa tidak nyaman.

"Aaaaaaah !!!"

teriakan Daren memenuhi kamar

"BRUK !!"

satu tendangan berhasil membuat daren terjungkal, terbalik, terguling-guliing dilantai,karena terkejut dengan suara teriakan Daren Sindi refleks menendangnya

"Apa yg kamu lakukan ha? kamu mau membunuhku ?, dan sejak kapan kamu berada di atas ranjang ?, atau jangan-jangan kamu...?"

Daren menyilang kan ke dua tangannya di atas dada.

"Maaf, maaf aku tidak sengaja aku refleks karena mendengar teriakan mu"

jawab Sindi santai panik.

"Lalu untuk apa kamu ditempat tidur bukankah aku menyuruhmu untuk tidur dibawah, perkataan mu yg tadi malam tidak sesuai dengan kelakuan mu, masih tingting apa nya ? apa itu hanya omong kosong belaka, bahkan kamu naik sendiri keatas ranjang ku"

balas Daren dengan tangan yg masih menyilang di dada.

"Hai apa yg kamu pikirkan ?, aku hanya tidur, badan ku sakit semua tidur dilantai, kamu bersikap seolah-olah aku baru saja memperkosa mu"

ujar Sindi kesal

"Aaaah sudahlah turun dari ranjang, aku ingin lanjut tidur kamu menggangguku, kamu tidur seperti habis nguli saja dengkuran mu sangat kuat membuat sakit telinga ku"

Daren mendorong tubuh Sindi yg masih menganggap karena perkataan Daren.

"Ha apa dia bilang aku mendengkur ? pria ini benar-benar ya'"

dengan gerakan mengepalkan tangan seolah-olah ingin meninju Daren dari belakang

"Apa yg kamu lakukan ?"

tanya Daren saat berbalik

"Ha tidak hanya merenggangkan otot saja"

"Dasar wanita aneh"

Daren melanjutkan tidur nya kembali.

"he dia kok terlihat sangat tampan sih, aduh apa yg aku pikirkan, sadar Sindi sadar"

Sindi bergumam lirih.

****

Mutiara masih memikirkan ucapan mbok Sarni, dia menjadi penasaran dengan kehidupan dan masa lalu Dimas.

"Ada banyak hal yg kamu sembunyikan dariku mas walau kita menikah dengan alasan menutupi aibku tapi aku juga ingin membuka hati dan menjadi istri yg baik untukmu"

lirihnya dalam hati.

"Mas apakah kamu akan berangkat kerja ?"

tanya Mutiara yg melihat Dimas sudah rapih pagi-pagi brgini.

"Tidak, papa menyuruh ku untuk menemui nya"

jawab Dimas dengan wajah kusut karena tadi malam gagal lagi sebab Mutiara selalu muntah.

"Hm boleh aku ikut ?, aku ingin bertemu papa karena semenjak kita menikah aku belum pernah bertemu dengan nya bahkan di hari pernikahan kita dia tidak hadir"

ucapnya memohon.

"Lain kali saja ya, papa memintaku untuk menemuinya hanya untuk membicarakan urusan bisnis, jadi kalau kamu ikut nanti akan merasa bosan"

"tapi mas aku akan lebih bosan kalau dirumah sendirian"

sambil menggosok-gosok dengan lembut lengan Dimas berharap akan diajak.

"menggemaskan sekali"

"Tidak sayang aku hanya pergi sebentar mbok Ratni kan ada untuk menemani mu , aku berangkat ya, i love you"

pamit nya sambil mencium puncak kepala Mutiara.

Dimas lebih memilih untuk segera pergi karena kalau masih berlama-lama meladeni Mutiara bisa-bisa dia luluh dengan tingkah manja Mutiara yg memohon padanya.

"ok kalau kamu tidak ingin membawaku menemui keluargamu aku akan mencari tahu nya sendiri mas, aku akan jadi detektif dadakan mulai hari ini pertama-tama aku akan mengintrogasi mbok Ratni untuk menggali informasi"

Mutiara bergumam dalam hati dengan gaya yg seakan-akan mendapatkan misi baru.

*****

Happy Reading...

jangan lupa

Vote

Like

Dukungannya ya 🤗

Terpopuler

Comments

Nyonya Gunawan

Nyonya Gunawan

Perempuan psti gtu lo ada apa" psti jdi detektif dadakan..😁😁
Lanjut thor..

2022-02-20

0

Kayla Hasifa Hasifa

Kayla Hasifa Hasifa

kamu membantumu mutiara untuk menjadi detektif dadakan😁😁😁😁
Deren menang banyak nii😁😁

2022-02-16

0

Kayla Hasifa Hasifa

Kayla Hasifa Hasifa

🤣🤣🤣🤣🤣🤣
lucu juga tingkah deren😁😁

2022-02-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab - 1 Mutiara Aurora
2 Bab - 2 Pekerjaan baru
3 Bab - 3 Sahabat Pertama
4 Bab - 4 Dipecat
5 Bab - 5 Simalakama
6 Bab - 6 Mami Tiara
7 Bab - 7 Mahkota yg Rusak
8 Bab - 8 Rindu Sahabat Pertama
9 Bab - 9 Kepikiran Dia
10 Bab 10 Rencana Daren
11 Bab 11 Dipermalukan Didepan Umum
12 Bab 12 Hamil ?
13 Bab 13 Hari Pernikahan
14 Bab 14 Kabar Burung
15 Bab 15 Menerima Perjodohan
16 Bab -16 Mencoba Melupakanmu
17 Bab - 17 Menunda Bulan Madu
18 Bab -18 Sabun oh sabun
19 Bab - 19 Tendangan Pagi Pertama
20 Bab -20 Memori Masa lalu
21 Bab - 21 Pria Tidak Berperasaan
22 Bab - 22 Menemui mu
23 Bab - 23 Sakit Perut
24 Bab - 24 Persalinan Mutiara
25 Bab - 25 Wajah yang mirip Daren
26 Bab - 26 Mutiara Yang Sama
27 Bab - 27 Farid
28 Bab - 28 Tangis pilu Daren (part 1)
29 Bab - 29 Tangis pilu Daren (part 2)
30 Bab - 30 Duka yg Bertubi-tubi
31 Bab - 31 Surat Terakhir Dari Sindi
32 Bab - 32 Ayo Hidup Bahagia Bersama ku
33 Bab - 33 Keceplosan
34 Bab - 34 Ibu baru yg protektif
35 Bab - 35 Pria yg Rapuh
36 Bab - 36 Mbok Ratni Dan Pria Misterius
37 Bab - 37 Makan Malam
38 Bab - 38 Menginap
39 Bab - 39 Diselamatkan Pria Misterius
40 Bab - 40 Balas Dendam
41 Bab - 41 Pertahanan yg runtuh
42 Bab - 42 Sisi Lain Daren ( Part 1)
43 Bab - 43 Sisi Lain Daren (part 2)
44 Bab - 44 Sebut namaku seorang
45 Bab - 45 Iming-iming Janji
46 Bab - 46 Amplop pembawa luka
47 Bab - 47 Daren yg terjebak
48 Bab - 48 Kembali nya Dimas
49 Bab - 49 Pertemuan Dimas dan Mutiara
50 Bab - 50 Mutiara yg tamak
51 Bab - 51 konsultasi dokter Hanan
52 Bab - 52 Melani Keguguran
53 Bab - 53 Usaha Daren
54 Bab - 54 Dianggap Patung
55 Bab - 55 Menonton
56 Bab - 56 Kedatangan Melani
57 Bab - 57 Kesedihan ibu
58 Bab - 58 Melepas Mutiara Mendapat Berlian
59 Bab - 59 Tanda kepemilikan Laura
60 Bab - 60 Rahasia terungkap
61 Bab - 61 Kebahagiaan
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab - 1 Mutiara Aurora
2
Bab - 2 Pekerjaan baru
3
Bab - 3 Sahabat Pertama
4
Bab - 4 Dipecat
5
Bab - 5 Simalakama
6
Bab - 6 Mami Tiara
7
Bab - 7 Mahkota yg Rusak
8
Bab - 8 Rindu Sahabat Pertama
9
Bab - 9 Kepikiran Dia
10
Bab 10 Rencana Daren
11
Bab 11 Dipermalukan Didepan Umum
12
Bab 12 Hamil ?
13
Bab 13 Hari Pernikahan
14
Bab 14 Kabar Burung
15
Bab 15 Menerima Perjodohan
16
Bab -16 Mencoba Melupakanmu
17
Bab - 17 Menunda Bulan Madu
18
Bab -18 Sabun oh sabun
19
Bab - 19 Tendangan Pagi Pertama
20
Bab -20 Memori Masa lalu
21
Bab - 21 Pria Tidak Berperasaan
22
Bab - 22 Menemui mu
23
Bab - 23 Sakit Perut
24
Bab - 24 Persalinan Mutiara
25
Bab - 25 Wajah yang mirip Daren
26
Bab - 26 Mutiara Yang Sama
27
Bab - 27 Farid
28
Bab - 28 Tangis pilu Daren (part 1)
29
Bab - 29 Tangis pilu Daren (part 2)
30
Bab - 30 Duka yg Bertubi-tubi
31
Bab - 31 Surat Terakhir Dari Sindi
32
Bab - 32 Ayo Hidup Bahagia Bersama ku
33
Bab - 33 Keceplosan
34
Bab - 34 Ibu baru yg protektif
35
Bab - 35 Pria yg Rapuh
36
Bab - 36 Mbok Ratni Dan Pria Misterius
37
Bab - 37 Makan Malam
38
Bab - 38 Menginap
39
Bab - 39 Diselamatkan Pria Misterius
40
Bab - 40 Balas Dendam
41
Bab - 41 Pertahanan yg runtuh
42
Bab - 42 Sisi Lain Daren ( Part 1)
43
Bab - 43 Sisi Lain Daren (part 2)
44
Bab - 44 Sebut namaku seorang
45
Bab - 45 Iming-iming Janji
46
Bab - 46 Amplop pembawa luka
47
Bab - 47 Daren yg terjebak
48
Bab - 48 Kembali nya Dimas
49
Bab - 49 Pertemuan Dimas dan Mutiara
50
Bab - 50 Mutiara yg tamak
51
Bab - 51 konsultasi dokter Hanan
52
Bab - 52 Melani Keguguran
53
Bab - 53 Usaha Daren
54
Bab - 54 Dianggap Patung
55
Bab - 55 Menonton
56
Bab - 56 Kedatangan Melani
57
Bab - 57 Kesedihan ibu
58
Bab - 58 Melepas Mutiara Mendapat Berlian
59
Bab - 59 Tanda kepemilikan Laura
60
Bab - 60 Rahasia terungkap
61
Bab - 61 Kebahagiaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!