"Bagaimana Daren apa kamu sudah setuju untuk perjodohan itu ?, karena anak teman papa sudah kembali dan menerima untuk dijodohkan"
tanya papa Lucas pada Daren.
"sepertinya aku akan menerima perjodohan itu pa,
ucap Daren pada papanya.
flashback..
Beberapa bulan yg lalu Daren akan dijodohkan dengan anak teman papanya.
"Tapi pa aku ini pria modern, aku bisa mencari pasangan ku sendiri tanpa harus papa jodohkan"
ucap Daren yg mendengar kalau dirinya akan dijodohkan.
"Tenanglah Daren dia gadis yg baik, bahkan kalau kalian menikah perusahaan kita akan semakin besar dia adalah anak teman papa, papa tau bagaimana dia"
jawab papa Lucas meyakinkan Daren.
"Tidak pa yg jelas aku tidak akan menerima perjodohan ini, papa jangan mementingkan perusahaan papa saja dong, aku juga ingin bahagia dengan pilihan ku sendiri"
ucap Daren.
"pilihanmu yg mana? papa tidak pernah melihat gadis pilihan mu itu, selain cewek-cewek di Club yg menjadi mainan mu, jadi wajar dong kalau papa mencarikan gadis yg baik dan terhormat untuk mu"
balas papa Lucas.
Menusuk sekali ucapnya
"aaah ! Sudahlah pokok nya aku tidak mau untuk dijodohkan titik"
gerutu Daren sambil berlalu pergi meninggalkan papanya sendiri.
Sementara dilain tempat seorang gadis juga menolak untuk dijodohkan.
"Pa aku tidak mau dijodohkan, aku juga belum memikirkan untuk berkeluarga aku masih ingin bersenang-senang !!"
Tolak Sindi.
Ya perempuan itu adalah Sindi sahabat Mutiara, dia menolak untuk dijodohkan dan memutuskan untuk kabur dari rumah, semua fasilitas,ATM, kartu kredit diblokir oleh papa nya, bahkan papa nya membuat Sindi tidak bisa diterima bekerja dimana pun, sehingga Sindi harus bekerja di toko perabotan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Waktu itu Sindi tidak mau menceritakan itu semua pada Mutiara karena dia tidak ingin Mutiara mengira yg tidak-tidak tentangnya dan dia juga takut kalau Mutiara tidak mau menjadi temannya.
Setelah Sindi dan Mutiara dipecat waktu itu, Sindi memutuskan kembali ke rumahnya dan menerima perjodohan itu, karena dia tidak tahu harus kemana lagi, dan dia juga ingin membantu Mutiara, dia berharap jika dia pulang ke rumah semua fasilitasnya akan dikembalikan kepada dirinya.
Tetapi Sindi salah mengira, ternyata papanya tidak mau memberikan itu semua sebelum Sindi menikah dengan pria pilihan papanya, Sindi terpaksa harus menerima perjodohan itu.
****
Hari ini adalah dimana hari pertemuan dua keluarga dilangsungkan, pertemuan dilakukan di rumah Sindi.
"Jadi gimana Lucas kapan kita akan mengadakan pernikahan untuk mereka ?"
tanya papa Sindi.
"Secepatnya"
jawab Sindi dan Daren bersamaan.
"wah, wah, wah, bahkan sekarang kalian tidak sabaran untuk menikah, lalu kenapa dulu saling menolak ?"
goda papa Lucas.
Daren dan Sindi hanya bisa tersenyum terpaksa.
Sindi ingin secepatnya menikah agar semua fasilitasnya dikembalikan lagi, dan dia berpikir akan membantu Mutiara, dia mengira Mutiara masih ditempat lama.
Sedangkan Daren hanya ingin menjadikan Sindi pelarian agar dia bisa melupakan Mutiara.
"Baiklah pernikahan akan dilakukan dua Minggu lagi, bagaimana kalian setuju ?"
tanya papa Sindi.
"Tidak itu terlalu lama aku ingin dilakukan minggu depan"
ucap Sindi.
"wah, sepertinya calon mantu ku ini sudah sangat tertarik dengan putraku, bagaimana Daren apakah kamu setuju dengan ucapan Sindi?
tanya papa Lucas.
"Terserah kalian saja"
ucapnya cuek.
"Ok pernikahan akan dilakukan minggu depan"
ucap papa Sindi.
Pernikahan Sindi dan Daren sudah ditentukan, orang tua Mereka meninggalkan Daren dan Sindi berdua untuk saling mengenal.
Daren memulai percakapan.
"Apa alasan mu menerima perjodohan ini ?"
tanya Daren.
"Aku hanya ingin semua fasilitas ku dikembalikan"
jawab Sindi.
"Hanya karena itu ?, lalu kenapa kamu begitu antusias ingin secepatnya kita menikah ?"
tanya Dimas lagi.
"kamu tidak perlu tahu"
balas Sindi singkat.
"Lalu apa alasanmu"
tanya Sindi balik.
"Aku sedang patah hati"
ucap Daren sedih.
He malahcurhat
"Ha ha ha, kamu sungguh aneh sakit hati kok malah mau dijodohkan, jadi sekarang aku jadi pelarian mu gitu ?"
ucap Sindi sambil tertawa.
"ya, Tapi jangan harap aku bisa mencintai mu, Karna disini cuma ada dia"
ucap Daren sambil memegang dadanya.
"Baiklah aku tidak masalah akan hal itu"
balas Sindi.
"Coba dekatkan wajah mu padaku"
ucap Daren.
Eh kenapa dia menyuruhku mendekat?
"Maksud mu ?"
tanya Sindi sambil mendekatkan wajahnya ke Daren.
"Apa kau sakit mata ?"
tanya Daren.
"Kurasa tidak, apa ada sesuatu di mataku ?"
tanya Sindi sambil mengusap matanya.
"Sepertinya kamu abis pegang kucing dan mengusapkan tangan ke matamu, makanya belekan"
ucap Daren.
"Tapi aku tidak punya kucing"
balas Sindi.
"oh pantas, mulai sekarang cobalah untuk memelihara kucing, dia bisa menjadi teman yg baik, sepertinya kamu sangat kesepian"
ucap Daren sambil terkekeh.
"Apaan sih ?, gak lucu"
lirih Sindi.
"Memang aku lagi tidak ngelawak"
balas Daren.
Dan mereka diam tanpa sepatah kata lagi.
****
Sementara dilain tempat Mutiara yg terus saja memuntahkan isi perutnya membuat Dimas cemas.
"Bagaimana ini Mutiara apa yang harus aku lakukan ?, apa kita ke rumah sakit saja ?"
tanya Dimas yg cemas melihat keadaan Mutiara.
"Tidak perlu, kamu hanya perlu menampar mas"
ucap mutiara.
Dimas yg mendengarnya pun menjadi bingung.
"menampar bagaimana maksud mu?, apa aku harus menampar pipiku ?"
"Iya aku ingin melihat kamu menampar pipi mu itu mas, aku mohon aku sangat ingin melihatnya"
ucap Mutiara memohon.
"apa apaan ini Mutiara ? jangan bilang kalau kamu sedang mengidam untuk aku melakukan itu"
tanya Dimas agak kesal.
"sepertinya begitu mas, entah kenapa aku sangat ingin melihat kamu melakukan itu"
ucap Mutiara.
"Baiklah kalau itu mau mu"
"Plak"
satu tamparan di pipinya
"kurang keras mas, aku tidak puas"
ucap mutiara saat melihat Dimas menampar pipinya dengan pelan.
"PLAK !!"
"PLAK !!"
Dimas menampar kedua belah pipinya dengan keras.
"Nah sudah puas sekarang ?"
tanya Dimas agak kesal.
Mutiara pun terkekeh mendengarnya.
"Untuk sekarang sudah cukup mas"
ucap Mutiara.
"apa ?, untuk sekarang ?, berarti masih ada untuk nanti dan selanjutnya dong ?"
gerutu Dimas sambil memegang kedua belah pipinya.
"apa salahku padamu nak? apa kamu **ber**sekongkol dengan ayah kandungmu untuk menyiksaku ?, karena telah menikahi ibumu"
ucap Dimas dalam hati sambil mengusap-usap bekas tamparannya.
Mutiara yg melihatnya menjadi kasihan dia tidak tega namun sangat ingin melihat Dimas menampar dirinya sendiri.
"Maafkan aku mas, itu bukanlah kehendak ku"
ucapnya menyesal.
"Sudahlah aku tidak apa, yg penting kamu bahagia"
ucap Dimas.
"Apa kamu bahagia menikah dengan ku mas"
tanya mutiara.
"Jangan tanya aku bahagia atau tidak, aku menikahi mu bukan untuk mencari kebahagiaan ku, tapi untuk membuat mu bahagia"
ungkap Dimas.
"Maafkan aku mas aku hanya.."
"Cukup jangan katakan apapun lagi, beristirahatlah aku akan buatkan susu untuk mu"
potong Dimas, Dimas pergi ke dapur untuk membuat susu panas untuk Mutiara.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Kayla Hasifa Hasifa
calon papa yang baik....
dimas rela melakukan apa saja untuk istri dan calon anak nya..
2022-02-16
0
Hartin Marlin ahmad
suami yang baik dimas
2022-02-12
1
Nur
mau ny sih am daren lagi tpi yah ikut alur yg author buat lah
2022-02-01
2