Bab - 3 Sahabat Pertama

Dengan langkah santai aku masih terus menyusuri gudang kayu dan sampai pula pada sebuah pintu.

"Aku pikir yg tadi adalah pintu terakhir ternyata masih ada pintu lagi, buka ah"

fikir ku dalam hati saat akan membuka pintu tiba-tiba Sindi datang.

"Mutiara !, ngapain kamu disini ?, aku nyariin dari tadi eh rupanya malah di gudang"

Cerocos Sindi menarik tangan ku menjauh dari situ.

Eh apaan sih ni anak main tarik aj.

"Ayo temani aku di depan toko tidak ada yg jaga nanti bisa-bisa bos marah".

"Aku hanya penasaran dengan tempat kita kerja ni"

Aku memutar bola mata penasaran melihat sekeliling sudut tempat kerja ku.

"Oo setelah gudang kayu ini, ada pabrik pembuatan perabotan dan furnitur yg ada di toko, bos kita memproduksi nya sendiri"

Bla bla bla..

Sindi menjelaskan dengan semangat tentang semua yg ada ditempat kerja pada ku, seperti guru yg sedang menjelaskan didepan kelas. Nyerocos tanpa rem, aku hanya sesekali mengangguk pura-pura paham penjelasan nya biar dia senang.

Kasihan mulutnya sampai berbusa, nggak ada akhlak emang diriku.

Serah lu deh Sin.

"Banyak karyawan cowok lo di tempat produksi, apa kamu mau menggoda salah satu dari mereka"

goda Sindi sambil menyenggol bahu ku menyadarkan ku kembali ke dunia nyata, aku hanya tersenyum malu dengan ucapan Sindi.

"Menggoda mata mu ?, bahkan untuk bertatapan langsung pun aku belum pernah sama laki laki"

Sindi terperangah mendengar ucapan ku, dikiranya aku apaan, jangan kan menggoda buat dekat aja nggak berani.

"What ??, jadi kamu belum pernah pacaran gitu?"

Hebat ni anak

Sindi salut hampir tak percaya padaku, aku mengangguk entah harus bangga atau ngenes dengan diriku.

"Ya begitulah kira kira"

Aku meninggalkan Sindi yg masih Melongo. tak percaya.

"Hai Sin tutup mulut mu nanti masuk lalat !!, noh kecoa terbang juga siap buat masuk, dikiranya lubang kloset bau bangke sumpah congor mu !!"

teriak ku dari jauh, Sindi pun tersadar segera mengejar ku yg mendahuluinya.

"Sialan kamu,, emang sih tadi makan ulam Pete. Haha"

Aku semakin akrab dengan Sindi, candaan seperti itu sudah biasa, Sindi tidak akan tersinggung sebaliknya pun aku begitu.

Waktu pulang telah tiba karena rumah ku tidak jauh dari toko aku memutuskan untuk berjalan kaki, sedang kan Sindi mengunggu angkot untuk pulang karena tempat tinggalnya lumayan jauh.

"Sin aku duluan ya, sampai jumpa besok"

Aku pun berjalan dengan santai menikmati sinar keemasan matahari sore yg menjelma di ufuk barat, aku bersenandung merdu sambil melompat kecil.

Katak si lompat katak.. Eeh kok malah lagu katak.

Sesampai dirumah, aku disambut ibu, sedangkan aku tidak melihat keberadaan Laura.

"Laura mana Bu ?, dari aku pulang tadi tidak melihat nya"

tanya ku penasaran dengan keberadaan adik ku itu, karena sejak kepulangan ku tadi tidak melihat batang hidungnya, aku takut nya dia kelayapan.

"Laura ada kegiatan disekolah, katanya untuk persiapan perpisahan sekolah nya besok"

jelas ibu.

Aku mengangguk menanggapi ucapan ibu dan berlalu pergi untuk mandi membersihkan diri, seharian ini aku gerah karena di toko tidak ada kipas mau pun Ac.

Aaaah segar sekali!

ingin rasanya aku berlama lama bermain dengan air di dalam kamar mandi, menjelma jadi putri duyung yg tersesat, sayang bak mandi di rumah ku cecil kalau sedikit besar mungkin aku sudah berenang, khayalan ku terhenti dengan masuk nya waktu magrib, segera ku sudahi mandi ku dan bergegas untuk shalat magrib.

"Mutiara !!, Laura !! ayo kita makan bersama"

panggil ibu dari dapur.

Hari ini aku memang tidak membantu ibu di urusan dapur aku pulang kerja udah kesorean pulang dan Laura pun baru pulang setelah magrib.

Kami makan dengan lauk seadanya goreng tempe dan tumis kangkung, makanan lezat yg sesuai dengan lidah miskin kami.

"kak bagaimana hari pertama kerja mu ?"

tanya Laura memulai percakapan.

"Biasa saja, semua nya berjalan dengan baik dan pekerjaan nya pun tidak terlalu berat"

Aku masih melanjutkan suapan nasi ku

ibu yg mendengar pun merasa senang.

"Bagai mana dengan orang-orang ditempat kerja mu nak apakah mereka ramah?"

Tanya ibu, suara dan kata kata nya yg lembut selalu menenangkan hati ku, ibu selalu seperti itu. Dia tidak cerewet, pembawaan nya tenang, tidak akan pernah marah kalau kami tidak melakukan kesalahan yg besar.

"Ibu ditempat kerja ku cuma ada 2 karyawan, aku dan Sindi, di tempat produksi beda lagi karyawan nya, Sindi orang nya sangat baik dia adalah sahabat pertama ku"

Aku pun menceritakan semua kejadian yg ku alami hari ini, sesekali aku tersenyum saat menyebut nama Sindi, teman baru ku itu sangat menyenangkan sebagai orang yg kurang pergaulan aku hampir tak memiliki teman. Makanya aku sangat senang bertemu orang seperti Sindi seperti nya kami sefrekuensi dan akan menjadi bestie.

Selesai dengan cerita ku tentang siang tadi aku pun segera tidur, karena malam semakin larut dan juga besok aku akan bangun pagi untuk membuat sarapan dan bekal kerja, besok aku akan bawak bekal sendiri tidak akan nebeng makan Sindi lagi.

Dihari kedua nya bekerja, aku datang terlalu cepat. Aku terpaksa harus menunggu diluar toko karena kunci ada pada Sindi.

"Kenapa lama sekali Sin ?, aku sudah berlumut menunggu mu dari tadi"

Aku cemberut pura-pura kesel.

"hei bekicot kebanyakan bacot !, ini baru jam berapa? kam yg kecepatan, macam hari gajian aja sekalian noh abis subuh datang nya,"

Alamak disemprotkan, tadinya aku pengen pura-pura ngambek malah Sindi yg jadi kesal.

"Santai dong Sin, kok jadi kamu yg emosi ? " Aku terkekeh.

"iyalah mentang-mentang hari ini kamu bawa bekal, esmosi aku!!"

Sindi pun ngakak sendiri.

"emosi sin..emosi bukan esmosi!" koreksi ku pada Sindi

"Mutiara kamu jangan tersinggung sama kata kata aku yg terdengar kasar ya, aku kalo ngomong sama orang yg udah aku anggap teman atau sahabat ya gini, begini lah asli aku, berarti aku udah anggap kamu sahabat"

Aku merasa senang dan terharu, walaupun Sindi nyablak tapi dia terlihat tulus dalam berteman dan ini pertama kali nya seseorang memanggil ku sahabat.

Memang masa remaja ku pun dihabiskan untuk membantu keluarga, aku hampir menangis.

Melihat mata ku yg mulai berkaca kaca Sindi pun mengejek ku.

"Ululu.. Cabat baru ku yg bohay sudahi air mata buaya mu ayo bantu aku membuka pintu toko ni, mau dipecat pak bos? dasar cengeng. Gitu aja nangis"

kami pun membuka toko bersama sama.

"Mutiara kita kan sudah menjadi sahabat, aku minta nomor ponsel kamu dong"

Aku bengong, nomor ponsel mana yg akan ku kasih sindi.

"aku ngk punya ponsel, bahkan untuk makan pun kami sering kekurangan"

Mataku pun kembali berkaca kaca membayangkan kehidupan ku, terserah lah Sindi mau ngejek lagi.

Terdengar helaan nafas berat Sindi, sepertinya dia prihatin pada ku.

" Mutiara kalo kamu ada apa apa, masalah atau beban aku siap menjadi orang pendengar keluhan mu".

Aku merasa sangat senang mendapatkan sahabat seperti Sindi, aku pun menceritakan semua kisah hidup ku kepada Sindi.

Hari-hari telah berlalu, 5 hari lagi aku akan gajian.

"Asik ada yg bentar lagi gajian pertama ni"

goda Sindi, sambil menoel Noel pipi mulus ku, aku kan jadi risih dasar Sindi usil.

"Apaan sih Sin biasa aja kali, bahkan kamu tau kan gaji aku tu buat apa ?"

Aaah membayangkan gaji pertama yg hanya singgah sebentar saja di tangan ku membuat aku tak bersemangat. Lemes bestie..

aku yg Cape kerja si alis celurit yg bakal nguasain gaji ku.

"Ya ya ya, aku tau buat si rentenir alias lintah darat itu kan? lagian kamu sih pakek pinjam sama dia segala, macam gak tau aja nyedot nya gimana tu lintah darat, sampai kering keriput dah dompet dibuat nya"

Sindi ikutan kesal, aku hanya bisa cemberut susah sekali bibir ini melengkung keatas, seperti di tarik dua buah batu sudut kiri kanan bibir. jadi melengkung nya kebawah.

"Ya mau gimana lagi udah terlanjur dan pada saat itu aku benar benar lagi butuh uang"

Rasanya aku ingin tantrum tapi malu diledek Sindi ntar.

"Ok ok sekarang jangan sedih lagi yg penting kamu dapat uang buat bayar tu lintah darat"

"Iya tapi aku masih bingung gimana cara nya aku bisa dapat uang buat lanjutin sekolah nya Laura ke SMA, kamu tau kan bulan ini dia juga akan lulus SMP dan aku butuh banyak uang untuk itu"

Seperti memikul beban berton-ton dipundak ku, berat sekali rasanya. Ingin ku lambaikan tangan ke kamera, begitu kejam author pada ku. Namun aku tidak boleh menyerah semua demi masa depan Laura dan juga keluarga.

"kamu jangan khawatir ya, tetap berusaha dan gua akan bantu lo sebisa yg gua mampu"

Sindi memelu ku, memberi selamat. Beruntung nya aku menemukan sahabat seperti Sindi.

"Makasih Sin, kamu udah jadi sahabat terbaik aja udah cukup kok buat aku"

bulir bening mengalir lagi di pipi mulus ku, akhir-akhir ini banyak hal yg membuat ku selalu melow.

"Cup cup cup.. Mutiara ku yg cantik, jangan nangis lagi dong nanti kilauan mu ikut hilang bersama air mata ni, jelek tau. Mending kalo air matanya berubah jadi Mutiara beneran bisa kaya kamu, ni nggak malah bikin mata bengkak"

Sindi tengil selalu bisa membuat mood ku bagus.

Tak terasa hari sudah mulai petang, toko pun sudah tutup kami pulang ke rumah masing masing.

Dalam perjalanan pulang Aku tidak ingin mempercepat langkah, ingin berlama-lama menikmati hangat nya sinar jingga matahari sore, sesekali aku bersenandung melepaskan semua lelah yg ada dibenak ku.

Kali ini bukan lagu katak si lompat lagi tapi lagi mencadak mencadu macam mana Upin tidur..

Eeh.. tukan ngaur lagi.

Dari kejauhan tampak seorang perempuan ingi menghampiri ku, perempuan itu tak lain adalah rentenir tempat ku meminjam uang, Si alis celurit. Duh malas kali rasanya ingin melipir putar arah tapi dia sudah dekat, mari kita hadapi dengan senyuman manis saja.

"Hai Mutiara, masih ingat janji mu kan sayang ?" sambil memegang tangan ku

Cih tanpa ditanya pun aku ingat, duh ingin segera sampai rumah rasanya

Aku menepis pelan tangan nya, kalo kuat takut dikeroyok anak buah si alis celurit. Macam presiden saja kemana-mana dikawal bodyguard.

Tapi ini bukan bodyguard melainkan tukang pukul saat si alis nagih hutang pada orang yg meminjam pada nya bila tak dibayar. Ngeri Yee..

"Tenang saja Bu 5 hari lagi saya akan melunasi nya"

"Bagus, jangan lupa dengan bunga nya 50%, ingat jika kamu tidak segera melunasi nya maka bunga nya akan bertambah terus dan terus menerus"

wanita itu pergi dengan senyum licik nya. Aku bisa bernafas lega.

*****

Happy Reading...

Jangan lupa

Like

Vote

Dukungannya ya

Terimakasih 🤗

Terpopuler

Comments

Kinan Rosa

Kinan Rosa

semoga mutiara jadi wanita yang tegas dan pemberani

2022-02-28

0

Shuhairi Nafsir

Shuhairi Nafsir

cukup heran mengapa kalau menulis novel kaum wanita yg menjadi sasaran . polos. bodoh. miskin Dan dipandang rendah Dan lemah. Thor mohon jangan ada kelemahan Dan kebodohan ada pada mutiara. jadikan mutiara wanita yg tegas . teguh . berani Dan bijaksana

2022-02-18

2

Kayla Hasifa Hasifa

Kayla Hasifa Hasifa

semangat thoor.. 💪💪
makin penasaran aku nya☺☺

2022-02-15

1

lihat semua
Episodes
1 Bab - 1 Mutiara Aurora
2 Bab - 2 Pekerjaan baru
3 Bab - 3 Sahabat Pertama
4 Bab - 4 Dipecat
5 Bab - 5 Simalakama
6 Bab - 6 Mami Tiara
7 Bab - 7 Mahkota yg Rusak
8 Bab - 8 Rindu Sahabat Pertama
9 Bab - 9 Kepikiran Dia
10 Bab 10 Rencana Daren
11 Bab 11 Dipermalukan Didepan Umum
12 Bab 12 Hamil ?
13 Bab 13 Hari Pernikahan
14 Bab 14 Kabar Burung
15 Bab 15 Menerima Perjodohan
16 Bab -16 Mencoba Melupakanmu
17 Bab - 17 Menunda Bulan Madu
18 Bab -18 Sabun oh sabun
19 Bab - 19 Tendangan Pagi Pertama
20 Bab -20 Memori Masa lalu
21 Bab - 21 Pria Tidak Berperasaan
22 Bab - 22 Menemui mu
23 Bab - 23 Sakit Perut
24 Bab - 24 Persalinan Mutiara
25 Bab - 25 Wajah yang mirip Daren
26 Bab - 26 Mutiara Yang Sama
27 Bab - 27 Farid
28 Bab - 28 Tangis pilu Daren (part 1)
29 Bab - 29 Tangis pilu Daren (part 2)
30 Bab - 30 Duka yg Bertubi-tubi
31 Bab - 31 Surat Terakhir Dari Sindi
32 Bab - 32 Ayo Hidup Bahagia Bersama ku
33 Bab - 33 Keceplosan
34 Bab - 34 Ibu baru yg protektif
35 Bab - 35 Pria yg Rapuh
36 Bab - 36 Mbok Ratni Dan Pria Misterius
37 Bab - 37 Makan Malam
38 Bab - 38 Menginap
39 Bab - 39 Diselamatkan Pria Misterius
40 Bab - 40 Balas Dendam
41 Bab - 41 Pertahanan yg runtuh
42 Bab - 42 Sisi Lain Daren ( Part 1)
43 Bab - 43 Sisi Lain Daren (part 2)
44 Bab - 44 Sebut namaku seorang
45 Bab - 45 Iming-iming Janji
46 Bab - 46 Amplop pembawa luka
47 Bab - 47 Daren yg terjebak
48 Bab - 48 Kembali nya Dimas
49 Bab - 49 Pertemuan Dimas dan Mutiara
50 Bab - 50 Mutiara yg tamak
51 Bab - 51 konsultasi dokter Hanan
52 Bab - 52 Melani Keguguran
53 Bab - 53 Usaha Daren
54 Bab - 54 Dianggap Patung
55 Bab - 55 Menonton
56 Bab - 56 Kedatangan Melani
57 Bab - 57 Kesedihan ibu
58 Bab - 58 Melepas Mutiara Mendapat Berlian
59 Bab - 59 Tanda kepemilikan Laura
60 Bab - 60 Rahasia terungkap
61 Bab - 61 Kebahagiaan
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab - 1 Mutiara Aurora
2
Bab - 2 Pekerjaan baru
3
Bab - 3 Sahabat Pertama
4
Bab - 4 Dipecat
5
Bab - 5 Simalakama
6
Bab - 6 Mami Tiara
7
Bab - 7 Mahkota yg Rusak
8
Bab - 8 Rindu Sahabat Pertama
9
Bab - 9 Kepikiran Dia
10
Bab 10 Rencana Daren
11
Bab 11 Dipermalukan Didepan Umum
12
Bab 12 Hamil ?
13
Bab 13 Hari Pernikahan
14
Bab 14 Kabar Burung
15
Bab 15 Menerima Perjodohan
16
Bab -16 Mencoba Melupakanmu
17
Bab - 17 Menunda Bulan Madu
18
Bab -18 Sabun oh sabun
19
Bab - 19 Tendangan Pagi Pertama
20
Bab -20 Memori Masa lalu
21
Bab - 21 Pria Tidak Berperasaan
22
Bab - 22 Menemui mu
23
Bab - 23 Sakit Perut
24
Bab - 24 Persalinan Mutiara
25
Bab - 25 Wajah yang mirip Daren
26
Bab - 26 Mutiara Yang Sama
27
Bab - 27 Farid
28
Bab - 28 Tangis pilu Daren (part 1)
29
Bab - 29 Tangis pilu Daren (part 2)
30
Bab - 30 Duka yg Bertubi-tubi
31
Bab - 31 Surat Terakhir Dari Sindi
32
Bab - 32 Ayo Hidup Bahagia Bersama ku
33
Bab - 33 Keceplosan
34
Bab - 34 Ibu baru yg protektif
35
Bab - 35 Pria yg Rapuh
36
Bab - 36 Mbok Ratni Dan Pria Misterius
37
Bab - 37 Makan Malam
38
Bab - 38 Menginap
39
Bab - 39 Diselamatkan Pria Misterius
40
Bab - 40 Balas Dendam
41
Bab - 41 Pertahanan yg runtuh
42
Bab - 42 Sisi Lain Daren ( Part 1)
43
Bab - 43 Sisi Lain Daren (part 2)
44
Bab - 44 Sebut namaku seorang
45
Bab - 45 Iming-iming Janji
46
Bab - 46 Amplop pembawa luka
47
Bab - 47 Daren yg terjebak
48
Bab - 48 Kembali nya Dimas
49
Bab - 49 Pertemuan Dimas dan Mutiara
50
Bab - 50 Mutiara yg tamak
51
Bab - 51 konsultasi dokter Hanan
52
Bab - 52 Melani Keguguran
53
Bab - 53 Usaha Daren
54
Bab - 54 Dianggap Patung
55
Bab - 55 Menonton
56
Bab - 56 Kedatangan Melani
57
Bab - 57 Kesedihan ibu
58
Bab - 58 Melepas Mutiara Mendapat Berlian
59
Bab - 59 Tanda kepemilikan Laura
60
Bab - 60 Rahasia terungkap
61
Bab - 61 Kebahagiaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!