Mutiara tidak bisa tidur, dia masih saja teringat akan hinaan Daren pada nya.
"Kamu sungguh tidak punya hati Daren, aku tidak akan pernah melupakan penghinaan mu itu"
ucap Mutiara dalam hati.
3 bulan telah berlalu sejak kejadian itu.
Mutiara menjalani keseharian nya seperti biasa, pekerjaan nya pun dijalaninya dengan senang hati karena setelah kejadian itu mami Tiara begitu baik padanya dia bekerja untuk menemani dan menuangkan minuman tamu saja.
Tanpa sepengetahuan Mutiara, tarnyata Daren membayar dan memerintahkan, mami Tiara untuk tidak membiarkan siapa pun menyentuh Mutiara saat bekerja.
Karena daren tau Mutiara sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk kehidupan nya, Daren tidak ingin kalau Mutiara berhenti bekerja dan kembali ke kampung.
Mutiara sudah mempunyai cukup uang untuk membeli rumah dan mengajak ibu dan adiknya pindah ke kota, mereka sangat senang menjalani kehidupan yg sudah mulai membaik.
Dimas bahkan sering menemui dan jalan bareng Mutiara, sekarang dia sudah menjadi teman yg sangat baik bagi Mutiara, Dimas juga menjadi tempat curhat Mutiara.
Akhir-akhir ini Mutiara sering merasa tidak enak badan dan pusing, malam ini saat bekerja di Club Mutiara merasa pusing dan mual saat mencium bau minuman yg dituangkan nya ke gelas.
Mutiara yg tiba-tiba merasa mual berlari ke toilet, dia pun memuntahkan isi perutnya.
"HUUEK !!"
"HUUEK !!"
Mutiara merasa sangat pusing dan seketika pingsan.
Dimas yg kebetulan bersama Mutiara di Club pun merasa bingung dan cemas, Dimas menyusul Mutiara ke toilet.
Dimas terkejut melihat Mutiara sudah tidak sadarkan diri dan membawanya ke rumah sakit.
Mutiara diperiksa dokter dan tidak lama kemudian dia sadar, dilihat nya Dimas yg masih setia menemani Mutiara dari tadi.
"Dimas ?, apa yg terjadi pada ku?"
tanya Mutiara sambil berusaha duduk dari baring nya.
"Tenanglah Mutiara dirimu masih sangat lemah, tadi kamu pingsan di toilet saat di Club"
ucap Dimas sambil memegang tangan Mutiara untuk membantunya duduk.
Dokter pun datang dengan membawa hasil pemeriksaan Mutiara.
"bagaimana keadaan saya Dok, apa ada masalah serius ?"
tanya Mutiara.
"Tentu saja ada masalah serius, anda akan merasakannya selama 6 bulan kedepan"
balas Dokter dengan senyum di bibirnya.
"Maksud nya dok?"
tanya Dimas dan Mutiara barengan.
" Selamat Bu, pak sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua, karena istri anda sedang mengandung 3 bulan"
ucap dokter yg mengira mereka pasangan suami istri.
"Apa dok saya Hamil ?"
tanya Mutiara tidak percaya.
"iya, anda sedang mengandung, ini resep obat dan vitamin yg anda butuhkan"
balas Dokter sambil memberikan selembar kertas pada Mutiara.
Mutiara masih tidak percaya dengan apa yg dia dengar, dia berpikir bagaimana kehidupan yg akan dia lalui nanti, bagaimana perasaan ibu dan adiknya bila mengetahui dia sedand mengandung, belum lagi dia juga pasti akan kehilangan pekerjaan yg menjadi satu-satunya mata pencarian bagi nya, sedangkan orang yg harus bertanggung jawab atas semua ini tidak tahu dimana keberadaannya.
Lama mutiara berkecamuk dengan pikiran nya, kepalanya terasa akan meledak.
suara Dimas memecah keheningan diantara mereka.
"Bagaimana ini bisa terjadi Mutiara ? siapa ayah dari anak itu?"
tanya Dimas sedikit kecewa.
"DAREN"
jawab Mutiara dengan tatapan kosong.
Dimas terkejut dengan jawaban Mutiara.
"Jadi yg Dikatakan Daren itu benar bahwa dia pernah menghabiskan malam bersama mu?"
tanya Dimas serius.
"Ya, bahkan dia satu-satunya pria yg pernah menyentuh ku"
ucap Mutiara sambil menangis.
Dimas tidak tega melihat Mutiara menangis dia teringat akan almarhum istrinya yg meninggal saat mengandung anaknya.
"Tenanglah Mutiara aku akan menghubungi Daren dan meminta nya bertanggung jawab untuk mu"
kata Dimas sambil memeluk Mutiara.
"Tidak Dimas, kamu tidak perlu menghubungi Daren karena aku sudah memutuskan untuk tidak melahirkan anak ini"
Dimas yg mendengarnya pun tidak menyangka dengan jalan pikiran Mutiara.
"apa maksud mu Mutiara ?, aku tidak setuju dengan pikiran bodoh mu itu"
ucap Dimas sambil mengeluarkan handphone nya untuk menghubungi Daren.
Tetapi nomor nya tidak aktif, entah sudah berapa kali Dimas menghubungi nomor Daren namun masih saja tidak bisa terhubung.
"Kamu lihat itu ?, bahkan keberadaannya entah dimana sekarang, walaupun dia bersedia untuk bertanggungjawab, aku tidak akan menerimanya, apa kamu lupa bagaimana dia mempermalukan aku didepan semua orang ?"
lirih Mutiara dengan suara yg bergetar saat mengingat kejadian kala itu.
"Maaf Mutiara aku hanya..."
belum sempat Dimas dengan kata-kata nya, Mutiara sudah memotong.
"Sudahlah Dimas tidak perlu merasa bersalah begitu, aku sudah bulat dengan keputusan ku, besok aku akan pergi menggugurkan kandungan ku.
Dimas yg mendengar ucapan Mutiara pun marah.
"Jangan keras kepala Mutiara, kamu tahu betul bahwa itu adalah perbuatan yg salah aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi !!"
balas Dimas setengah berteriak.
"Jangan cemas, aku yg akan bertanggung jawab pada diri mu, aku akan menikahi mu"
ucap Dimas lembut sambil memeluk Mutiara.
Kesedihan mutiara semakin memuncak, tangisnya pecah dan semakin mengeratkan pelukannya pada Dimas.
*****
Mutiara masih kepikiran dengan apa yg diucapkan Dimas, mata nya tidak dapat terpejam.
Sebenarnya dalam lubuk hati yg terdalam Mutiara tidak ingin menggugurkan kandungannya, yg diucapkannya tadi hanya bentuk emosinya saja.
Keesokan hari nya Dimas datang untuk menemui Mutiara.
"Eh nak Dimas,? silahkan masuk"
ucap ibu Mutiara yg membukakan pintu untuk Dimas.
"Ibu akan memanggil Mutiara dulu ya"
pamit ibu.
Beberapa saat kemudian Mutiara dan ibu muncul, Mutiara duduk menghadap Dimas, ibu meletakan minuman keatas meja dan berbalik ingin pergi.
"Tunggu Bu, duduklah di sini sebentar, aku ingin membicarakan suatu hal"
ucap Dimas dengan wajah yg serius pada ibu.
"Ada apa Nak Dimas? apa ada masalah"
tanya ibu penasaran
"Tidak Bu aku kesini hanya untuk membicarakan hal serius pada kalian"
Mendengar ucapan Dimas ibu semakin penasaran.
"Ada hal serius apa yg ingin kamu sampaikan nak?" tanya ibu.
Mutiara yg mendengarnya pun khawatir kalau Dimas akan memberi tahu ibu tentang diri nya, Belum sempat Mutiara membuka mulut ingin bicara, Dimas sudah memotong nya.
"kalau ibu mengizinkan aku ingin menikahi Mutiara Bu" ucap Dimas serius sambil mengeluarkan sebuah cincin.
Mendengar penuturan Dimas ibu sangat senang, ibu yakin Dimas adalah pria yg tepat untuk Mutiara.
"Semua ibu serahkan pada mutiara, ibu akan mendukung apapun keputusannya" jawab ibu berharap Mutiara akan menerima lamaran Dimas.
"Baiklah"
ucap Mutiara setuju, dia berpikir apakah keputusan nya ini benar atau tidak.
Dimas pun memasangkan cincin ke jari manis Mutiara.
Terlihat raut bahagia di wajah ibu, dia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah yg bahagia itu menjadi sedih saat mengetahui anak nya hamil diluar nikah.
Melihat kebahagian ibu, Mutiara tidak ingin mengatakan hal itu pada ibu dan adik nya, dia berfikir biarlah mereka tahu pada saat nya nanti, Mutiara tidak ingin merusak suasana hati ibunya.
"Saya ingin di minggu depan melaksanakan Akat nikah Bu"
ucap Dimas.
"Apa itu tidak terlalu cepat nak Dimas?, bagaimana dengan keluarga mu ?"
tanya ibu.
"Lebih cepat, lebih baik Bu, saya tidak ingin menunda waktu baik, masalah keluarga saya, itu urusan saya Bu, saya hanya punya papa dia pasti mendukung apapun keputusan saya"
balas nya serius.
Ibu menoleh pada mutiara, mutiara tersenyum dan mengangguk. Walaupun tersenyum paksa.
" Baiklah Nak ibu mendukung keputusan kalian"
ucap ibu bahagia.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
vhy Zee
terus gimana nasibnya Daren dong dan kasihan anaknya
2022-02-21
0
Kayla Hasifa Hasifa
dimas siap menjadi ayah dari anak yang di kandung mutiara..
makin seru nih
2022-02-16
0
Hartin Marlin ahmad
pasti daren akan kaget mendengar kalau mutiara akan menikah dengan dimas
2022-02-12
1