Mutiara Dalam Lumpur
Mutiara Aurora nama indah yang diberikan oleh orang tua ku. Usiaku 21 tahun, aku hidup dan dibesarkan di keluarga yang kekurangan, tepatnya setelah kematian ayah, semakin memperparah kemiskinan ku. Aku tinggal bersama ibu dan adik perempuan ku, nama nya Laura, Adik ku ini masih SMP.
Karena keterbatasan ekonomi aku terpaksa tidak melanjutkan pendidikan, aku hanya lulus sekolah dasar, pendidikan yang rendah membuat ku sulit mendapatkan pekerjaan, Aku berambisi apapun yg terjadi adik ku harus berpendidikan dan tidak boleh putus sekolah seperti diri ku.
Semua terasa sulit, sebagai anak tertua keadaan menuntut ku menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan ibu dengan usianya yang semakin senja membuatnya sering sakit-sakitan. Keadaan ini membuat ku tidak memiliki waktu untuk sekedar bermain atau nongkrong seperti kebanyakan gadis milenial seumuran ku.
Aaah.. andai aku memiliki sedikit keberuntungan dalam mengeyam pendidikan pasti semua tidak akan sesulit ini, suatu hal yang selalu ku sesali. Pendidikan ku, ijazah selalu menjadi tolak ukur dalam penilaian orang sekitar ku. Aku selalu dianggap gadis bodoh oleh orang sekitar walau terkadang mereka memuji kecantikan ku.
Bukan narsis tapi kenyataannya aku memang secantik itu, dan survey tetangga ku membuktikan. Haha..aku beruntung dalam hal ini, tuhan ciptakan bentuk tubuh yang indah dengan body bak gitar spanyol, wajah yang anggun sesuai porsinya.
Namun karya tuhan itu malah membuat ku selalu dalam masalah, tetangga julid sering mencurigai ku menggoda suami mereka, padahal mah. Aku nggak berbuat apa-apa. Suami mereka aja yang mata nya jelalatan, sebegitu kuat pesona seorang Mutiara, aku lewat aja bisa bikin suami tetangga oleng. Apalagi dikasih senyum, bisa ngences dah tu burung perkutut. Cak elah tu kan aku kepedean lagi, sekali lagi aku katakan aku cantik. Titik !!.
Iyain aja biar senang.
Fitnah selalu mengikuti langkah ku ketika keliling berjualan gorengan, ya. untuk memenuhi kebutuhan aku berjualan keliling kadang sesekali juga ngambil job cujemsok (cuci jemur gosok).
"kak besok adalah hari terakhir untuk pelunasan SPP, apakah kakak sudah mempunyai uang?"
ucap adik semata wayang ku dengan wajah lesu.
Aku tak langsung menjawab tapi mengeluarkan beberapa lembar pecahan 2 ribu Rupiah dari kantong, hasil jualan hari ini, aku hitung ada sekitar 40 ribu Rupiah. Sungguh ngenes.
"hanya ini uang yg kakak dapat hari ini dek"
Ku perlihatkan lembaran uang lecek padanya
"ini belum seberapa kak, uang SPP ku sudah menunggak 3 bulan sekitar 450 ribu Rupiah dan harus dilunasi besok kalau tidak aku tidak akan bisa ikut ujian akhir"
dengan raut sedih Laura masuk ke kamar nya.
Aku merasa sedih dengan keadaan keluarga ku, bahkan untuk membayar sekolah adik ku saja aku tidak mampu.
" Nak, ambillah cincin ini dan jual lah gunakan uang nya untuk membayar SPP Laura"
Ibu meletakkan sebuah cincin ke telapak tangan ku.
"tidak ibu, ini cincin pernikahan ibu dan ayah, benda satu satu nya yg tersisa dari kenangan ayah"
Sudut mata ku terasa panas, ada rasa sesak di dada saat ibu menyodorkan cincin kenangan itu.
"aku akan melakukan apapun asalkan ibu jangan menjual cincin ini"
Raut wajah ibu merubah sendu merasa bersalah karena dia tidak mampu membantu dan membuat putri-putrinya bahagia.
"dari mana kita akan mendapatkan uang untuk sekolah Laura nak ?, bahkan gorengan yg kamu jual sering tidak habis, dan uang nya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
Dibalik pintu kamar ku lihat Laura menguping percakapan aku dan ibu, dia mencoba menahan bulir bening yang akan membanjiri pelupuk matanya.
"Ibu, kakak, aku memutuskan tidak akan melanjutkan sekolah, aku akan bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan kita".
Aku sedikit terkejut mendengar apa yg dikatakan Laura, ada rasa kesal saat mendengar ucapan nya.
"apa maksud mu dengan tidak melanjutkan sekolah Laura ?!!"
Aku sedikit membentak, air mata yang ku tahan akhirnya tumpah. Muak sekali dengan keadaan ini, kapan aku bisa memiliki uang yang banyak!!, bukan tidak bersyukur. Tapi aku tidak ingin Laura seperti diriku tanpa pendidikan.
"Asal kamu tau Laura aku rela bangun sebelum ayam berkokok untuk menggoreng gorengan, dan bepanas panasan keliling untuk berjualan, itu semua ku lakukan untuk mu Laura,,!! untuk pendidikan mu".
Tangis ku semakin menjadi, aku tantrum, eeh macam bocil aja tantrum maksud ku, aku sangat sedih. Laura terlihat merasa bersalah dengan mengatakan itu semua, suasana menjadi haru biru terdengar sesekali tarikan isakan ku, aku sesegukan.
"kakak maaf kan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu, aku hanya tidak ingin membebani mu dengan biaya pendidikan ku lagi"
Srhuuuutt...!! Tarikan ingus ku semakin panjang.
"aku akan mencari pekerjaan, kita akan berjuang bersama untuk memenuhi kebutuhan" Laura beringsut menyeka air mata di pipi ku.
"bekerja kata mu !!?, pekerjaan apa yg akan kamu dapat dengan pendidikan mu yg rendah dik ?. Aku menyekolahkan mu agar kamu menjadi orang yg sukses, agar bisa mendapatkan pekerjaan yg layak, yg lebih dari pada diriku, aku tidak ingin kau seperti diriku"
Cih semakin kesal saja aku dibuatnya.
"Bahkan ini adalah ujian akhir mu, kakak akan berusaha sebisa mungkin mencari uang untuk SPP mu dan biaya untuk masuk SMA"
Aku beranjak ke kamar meninggalkan ibu dan Laura yg masih menangis.
terdengarlah Ibu yg tidak mengatakan apa apa dari tadi pun menasehati Laura
"Nak hargai lah usaha kakak mu dia sangat menyayangi mu, jangan pernah membantah apa yg dia katakan"
"Aku hanya kasian kepada kakak Bu, andai ayah masih ada keadaan kita tidak akan seperti ini"
ungkap Laura.
"Sudahlah nak, semua sudah menjadi takdir dari yg kuasa, jangan menyalahkan keadaan"
Hatiku teriris mendengar pembicaraan ibu dan Laura.
Matahari sudah merangkak turun dari beberapa jam lalu menandakan bahwa malam telah tiba.
Sementara aku masih berpikir keras bagaimana cara agar mendapatkan uang untuk SPP Laura.
"cara satu satu nya hanyalah dengan cara meminjam uang ke rentenir"
hanya itu yang terlintas dipikiran ku saat ini.
Pagi hari nya aku pergi untuk meminjam uang ke rentenir tanpa sepengetahuan ibu dan Laura.
"hai Mutiara ? ada apa datang kesini ?"
tanya Bu Dewi wanita usia 40 tahun yg disebut rentenir oleh orang orang itu dengan wajah pura pura tidak tahu nya.
"hhmm, begini Bu,anu"
Aku sedikit gugup tidak berani mengatakan maksud ku.
"Katakan lah berapa jumlah yg kau butuh kan ?, tidak perlu sungkan "
Sudah macam peramal saja dia tau maksud kedatanganku,Bu Dewi senyum mengejek. Aku muak menatap wajah glowing berminyak dengan alis bengkok bak celurit, kalau bukan karena keadaan tak kan ku datangi rumah nya.
"Saya ingin meminjam uang 500 ribu Rupiah Bu"
Bu Dewi hanya tersenyum dan berlalu ke kamar nya, beberapa menit kemudian dia keluar dengan membawa beberapa lembar uang dan memberikan pada ku.
Muda sekali rupanya meminjam pada Bu Dewi, tak jadilah ku julid pada alis celuritnya, tadinya kalau tak dapat minjam duit mau ku pinjam saja alis celuritnya buat motong rumput dijual jadi makanan kambing.
"Terima kasih Bu Dewi, terima kasih banyak"
Ucap ku sambil tersenyum semanis mungkin sebagai bentuk terima kasihku, kalo suami tetangga yg liat pasti ngences lagi burung perkutut nya. Eeh kok malah ngaur, balik ke topik.
Namun perkiraan ku salah dengan sinis Bu Dewi mengatakan.
"kamu jangan senang dulu Mutiara, kamu harus mengembalikan uang ku bulan depan dengan bunga 50%"
Aku terkejut hampir terjengkang mendengar penuturan Bu Dewi, yang benar saja. Seperti nya aku jadi kembali julid. Tapi dalam hati.
" apa 50% ??, tapi Bu. Apa itu tidak terlalu besar?" aku memelas berharap dikasihani.
"Jika kamu keberatan tidak apa, silahkan pergi !!, masih banyak yg membutuhkan uang ku"
Sungguh terlalu, dasar lintah darat. Tapi aku berpikir jika tidak menerima uang Bu Dewi dari mana lagi aku akan mendapatkan uang untuk Laura.
"Baiklah Bu saya akan meminjam uang ini, dan akan mengembalikan nya sesuai dengan apa yg ibuk minta".
Terpaksa dan terpaksa lagi, tak ada kata lain selain terpaksa. Huuu.. Melelahkan.
Si alis celurit malah menatap ku dengan tatapan aneh, Iya tau aku cantik bohay bahenol tapi ngak gitu juga keles mata nya buk. Tentu nya kata kata itu hanya mampu ku ucap dalam hati.
"Mutiara kamu memiliki paras dan tubuh yg indah kenapa tidak kamu gunakan kemolekan tubuh mu itu untuk mendapatkan uang yg banyak?"
Aku kaget dan merasa tersinggung dengan ucapan Bu Dewi, dasar lintah darat ku cabuti bulu celurit mu baru tau rasa. Gumam ku segera berlalu pergi secepat mungkin menggenggam uang pinjaman yang akan beranak bulan depan yang nggak tau bapak nya siapa. Nasib.. Nasib.. Begitulah jadi orang tak punya.
Aku berlari dan meneteskan air mata, bagai mana pun aku tersinggung dengan kata kata Bu Dewi yg menghina ku. Segitu hina pandangan nya pada ku, hanya karena aku miskin.
Dari kejauhan masih ku dengar Bu Dewi berteriak.
"ingatlah Mutiara jika kamu membutuhkan uang yg banyak datang lah pada ku lagi, aku punya teman yg akan memberikan solusi untuk mu !!!"
Bacot !!! Ingin rasanya ku umpati sambil acungi jari Tengah pada nya namun apalah daya sekali lagi, aku miskin.
Aku tak menoleh sedikit pun dan langsung pulang, walau pun aku merasa sedih dengan kata kata Bu Dewi namun aku juga merasa lega akhirnya mendapatkan uang untuk SPP Laura.
Setelah sampai rumah aku segera masuk ke kamar Laura. Ku lihat adik kesayanganku ku sedang belajar.
"Laura ini segera lunasi SPP mu, kakak sudah mendapat uang yg cukup untuk membayar nya"
ku letakkan uang yg didapat diatas buku belajar nya. Laura terlihat bingung.
"Tapi kak, dari mana kakak mendapatkan uang secepat ini ?"
tanya nya penasaran.
"Sudahlah kamu tak perlu tau, yg penting sekarang adik kakak yg cantik ini akan bisa ikut ujian besok"
Aku memeluk Laura dan mencium nya. Sayang sekali rasanya pada adik ku ini, aku rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan nya.
"Terima kasih kakak, kamu memang kakak terbaik di dunia"
Dengan gembira Laura pun membalas pelukan ku.
Tiba-tiba ibu masuk ke kamar, ibu terharu melihat kedua anak nya saling berpelukan.
"lihat lah pak mereka tumbuh begitu cepat, andai kau masih bersama kami mungkin kau tidak akan membiarkan Mutiara bekerja begitu keras untuk kami".
gumam ibu dalam hati.
"Ada apa ini ? Sepertinya lagi senang ?"
ucap ibu mengurai pelukan kami.
"aaa, ibu bikin kaget saja, kami lagi bahagia karena kakak sudah mendapatkan uang untuk membayar SPP ku, besok aku bisa ikut ujian akhir sekolah"
ucap Laura semangat sambil memeluk ibu.
*****
Mutiara Aurora
Laura
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Khanza Safira
halo thor aku mampir
2023-10-10
0
Waryuni
kayaknya ceritanya sedih banget nih
2022-06-03
0
Sarah
hadir thor....
aq kaget pas baca d bab ini...ternyata aku dpt peran jd seorang rentenir😂🤣
lanjut ah bacanya,kayaknya bagus ceritanya😁
2022-02-25
0