"Di ruangan itu"
tunjuk Daren pada ruangan dimana Mutiara dirawat.
Dimas langsung berlari dan masuk keruangan yg ditunjuk Daren, dilihat nya Mutiara yg terbaring lemah dan masih belum sadarkan diri.
"Mutiara maafkan aku sayang, seharusnya aku menjaga mu dengan baik"
ucap Dimas sambil memegang tangan Mutiara dan mencium kening nya.
Daren yg melihat dari balik pintu merasa panas dan mengepalkan tangan, ada kecemburuan dihatinya seandainya saja Mutiara bukan istri Dimas mungkin dia sudah masuk dan memukuli mulut yg berani mencium cintanya itu.
Tak berselang lama Mutiara sadar.
"mas, dimana aku sekarang ?, apa yg terjadi padaku?"
tanya nya pada Dimas.
"Tenanglah sayang kamu sekarang berada di rumah sakit, kamu akan baik-baik saja ada aku disini"
Daren yg mendengar dan melihat Mutiara siuman sudah tidak tahan untuk mendekat.
"Apa yg kamu lakukan?"
tanya Dimas saat Daren merebut tangan Mutiara darinya.
"Mutiara apa kau baik-baik saja?"
tanya Daren yg memegang tangan Mutiara, namun ditepis oleh nya.
"Jangan sentuh aku, untuk apa kamu disini? pergi dari sini sekarang juga !!"
usir mutiara pada Daren.
"Aku hanya ingin meminta maaf, aku tidak akan pergi sebelum mendapat maaf dari mu"
balas Daren yg masih saja mengharapkan maaf dari Mutiara.
"Aku tidak akan memaafkan mu !!"
teriak Mutiara.
Dimas yg melihat Mutiara seperti itu Merasa cemas dan menyuruh Daren untuk segera meninggalkan mereka.
"Sudahlah Daren apa kamu tidak lihat bagaimana keadaan istri saya ? jangan memperburuk kondisinya atau nanti kamu akan saya tuntut"
katanya sambil menekankan kata istri saya pada kalimatnya.
"Baiklah aku akan pergi tapi sebelum itu aku ingin mengatakan kalau aku akan menikah 5 hari lagi, jadi tolong maafkan aku Mutiara"
ungkap Daren yg masih berharap maaf dari Mutiara.
"Untuk apa kamu mengatakan itu semua pada ku ?, Aku tidak peduli akan pernikahan mu, bahkan jika kamu mati sekalipun aku tetap tidak akan peduli"
balas Mutiara penuh emosi, namun didalam hati kecilnya terdapat sedikit kepiluhan saat mengatakan itu semua.
"Hm baiklah"
Daren mundur beberapa langkah merasa tak percaya, ditatap nya wanita yg sangat dicintainya itu, pandangannya beralih pada Dimas dilihatnya tangan mungil Mutiara menggenggam erat pada jemari Dimas.
"Aku titip dia untukmu, tapi ingat jangan pernah beri aku kesempatan untuk merebut nya kembali"
ujar Daren pada Dimas dan berlalu pergi sambil membanting pintu dengan keras.
Mutiara terdiam memandang nanar pada pintu yg dibanting Daren.
"Bagaimana perasaan mu?"
tanya Dimas menyadarkan nya.
"Seperti nya sudah lebih baik"
balas Mutiara.
"Baiklah kita akan pulang sekarang"
ucap Dimas.
Pagi harinya Dimas sudah menunggu dibalik pintu kamar istrinya itu, dia masih setia menuggu sampai Mutiara membuka nya, Dimas tidak ingin mengetuk karena menurutnya akan menganggu Mutiara.
Pintu terbuka, Dimas dengan sigap langsung memeluk istrinya itu.
"Apa masih pusing ?"
tanyanya cemas.
"kamu selalu menanyakan hal itu padaku mas, menurut mu bagaimana keadaanku sekarang ?"
ucap Mutiara dengan sedikit senyum diwajahnya.
"Melihat dari raut wajah mu yg cantik ini aku merasa kita harus merencanakan bulan madu"
goda Dimas.
"Kamu terlalu berlebihan mas, apa kamu tidak lihat keadaan ku sekarang? hanya akan merepotkan saja bila harus merencanakan bulan madu"
jawab Mutiara melepaskan pelukan Dimas dan berlalu ke dapur.
Dimas yg melihat penolakan dari istri nya itu, menahan tangan Mutiara, mendekatkan wajahnya ke bibir Mutiara lalu mencium lembut bibir Mutiara.
"Aku akan menunda waktu bulan madu itu sampai kamu benar-benar telah menerima ku di hatimu"
bisik Dimas sambil meniup pelan telinga Mutiara, perlakuan Dimas membuat Mutiara mematung, merinding, dan canggung.
"Ok lupakan masalah itu, sekarang coba katakan hari ini istriku yg cantik ini mau makan apa ?, Jangan katakan hari ini kamu mau melihat aku menampar muka ku lagi"
ocehan Dimas sambil memegang kedua belah pipinya.
Mutiara terkekeh melihat tingkah Dimas.
"Oya mulai hari ini akan ada pembantu yg akan menemani dan mengurus mu selagi aku bekerja, mungkin sebentar lagi dia akan datang"
ucap Dimas mengelus lembut rambut Mutiara.
"Terimakasih mas"
ucap Mutiara.
"Jika perlakuan mu sama seperti Dimas memperlakukan ku, mungkin aku akan menerima mu Daren"
ungkap mutiara dalam pikirannya yg tiba-tiba mengingat Daren.
"Apa kamu akan terus melamun ?"
tanya Dimas sambil menjentikkan jari nya didepan wajah mutiara.
"Jangan memikirkan laki-laki lain saat bersamaku"
ucap Dimas seolah mengerti apa yg ada dipikiran Mutiara.
"Tidak, A-aku hanya rindu pada ibu dan Laura mas"
elak Mutiara saat mata elang milik Dimas menatap curiga padanya.
Dimas mengerti dengan ucapan Mutiara
"Baiklah kita akan mengunjungi mereka, bersiap dan aku akan menunggumu.
ucapnya.
"Tapi mas apa kamu tidak kekantor hari ini ?"
tanya Mutiara
"Perusahaan itu milikku jadi kapan pun aku ingin libur tidak akan ada yg melarang ku"
balas Dimas sombong.
Mutiara beranjak untuk bersiap, hari ini mereka akan mengunjungi ibu dan Laura, sebelum berangkat Dimas dan Mutiara membeli beberapa bingkisan terlebih dahulu.
Kedatangan Mutiara membuat ibu sangat senang.
"Bagaimana kabar mu nak ? ibu sangat merindukan mu"
ucap ibu sambil memeluk Mutiara.
"Mutiara sangat sehat Bu, dia sangat manja membuatku harus bangun lebih awal untuk memasak sarapan dan menyuapinya, ya kan sayang ?"
potong Dimas dengan senyum menyindir seraya merangkul pundak Mutiara yg malah mencubit pinggangnya.
"Aauuuu iya, iya iya ampun, maaf aku becanda"
ucap nya sambil mengusap-usap bekas cubitan Mutiara.
Ibu hanya terkekeh melihat kelakuan anak dan mantunya itu.
"Lihatlah Bu beginilah anak mu menyiksaku tiap hari"
oceh Dimas yg disambut tatapan tajam dari Mutiara.
"Berhentilah menjelek-jelekkan ku didepan ibu mas, aku kesini untuk melepas rindu pada ibu bukan untuk menemanimu mengadu pada nya atau aku tidak akan pulang bersama mu nanti"
Mutiara mulai kesal dengan Dimas yg selalu menyindirnya didepan ibu
"Tenanglah sayang aku hanya bercanda saja"
ungkap Dimas yg melihat Mutiara semakin kesal padanya.
"Mutiara kamu tidak boleh bicara seperti itu pada Dimas, ibu tidak pernah mengajarkan hal seperti itu padamu, ayo minta maaf padanya"
ucap ibu menasehati Mutiara.
"Tidak masalah Bu, akhir-akhir ini memang ada masalah dengan emosi Mutiara, dia sering kesal tidak jelas padaku, Mungkin dia belum terbiasa dengan kehadiran ku"
ucap Dimas yg semakin membuatnya kesal.
"Awas kamu ya mas saat berdua dengan ku seolah-olah kamu tak memiliki nyawa tapi ketika ada ibu nyawa mu menjadi seribu"
oceh Mutiara dalam hati dengan tatapan membunuh pada Dimas, yg ditatap pun seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan cuek saja.
*****
happy Reading..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Kayla Hasifa Hasifa
di bab yang ini membuat ku senyum" sendiri..
awas kalau istri marah gak di kasih pintu nanti 😁😁
2022-02-16
0