Bab - 17 Menunda Bulan Madu

"Di ruangan itu"

tunjuk Daren pada ruangan dimana Mutiara dirawat.

Dimas langsung berlari dan masuk keruangan yg ditunjuk Daren, dilihat nya Mutiara yg terbaring lemah dan masih belum sadarkan diri.

"Mutiara maafkan aku sayang, seharusnya aku menjaga mu dengan baik"

ucap Dimas sambil memegang tangan Mutiara dan mencium kening nya.

Daren yg melihat dari balik pintu merasa panas dan mengepalkan tangan, ada kecemburuan dihatinya seandainya saja Mutiara bukan istri Dimas mungkin dia sudah masuk dan memukuli mulut yg berani mencium cintanya itu.

Tak berselang lama Mutiara sadar.

"mas, dimana aku sekarang ?, apa yg terjadi padaku?"

tanya nya pada Dimas.

"Tenanglah sayang kamu sekarang berada di rumah sakit, kamu akan baik-baik saja ada aku disini"

Daren yg mendengar dan melihat Mutiara siuman sudah tidak tahan untuk mendekat.

"Apa yg kamu lakukan?"

tanya Dimas saat Daren merebut tangan Mutiara darinya.

"Mutiara apa kau baik-baik saja?"

tanya Daren yg memegang tangan Mutiara, namun ditepis oleh nya.

"Jangan sentuh aku, untuk apa kamu disini? pergi dari sini sekarang juga !!"

usir mutiara pada Daren.

"Aku hanya ingin meminta maaf, aku tidak akan pergi sebelum mendapat maaf dari mu"

balas Daren yg masih saja mengharapkan maaf dari Mutiara.

"Aku tidak akan memaafkan mu !!"

teriak Mutiara.

Dimas yg melihat Mutiara seperti itu Merasa cemas dan menyuruh Daren untuk segera meninggalkan mereka.

"Sudahlah Daren apa kamu tidak lihat bagaimana keadaan istri saya ? jangan memperburuk kondisinya atau nanti kamu akan saya tuntut"

katanya sambil menekankan kata istri saya pada kalimatnya.

"Baiklah aku akan pergi tapi sebelum itu aku ingin mengatakan kalau aku akan menikah 5 hari lagi, jadi tolong maafkan aku Mutiara"

ungkap Daren yg masih berharap maaf dari Mutiara.

"Untuk apa kamu mengatakan itu semua pada ku ?, Aku tidak peduli akan pernikahan mu, bahkan jika kamu mati sekalipun aku tetap tidak akan peduli"

balas Mutiara penuh emosi, namun didalam hati kecilnya terdapat sedikit kepiluhan saat mengatakan itu semua.

"Hm baiklah"

Daren mundur beberapa langkah merasa tak percaya, ditatap nya wanita yg sangat dicintainya itu, pandangannya beralih pada Dimas dilihatnya tangan mungil Mutiara menggenggam erat pada jemari Dimas.

"Aku titip dia untukmu, tapi ingat jangan pernah beri aku kesempatan untuk merebut nya kembali"

ujar Daren pada Dimas dan berlalu pergi sambil membanting pintu dengan keras.

Mutiara terdiam memandang nanar pada pintu yg dibanting Daren.

"Bagaimana perasaan mu?"

tanya Dimas menyadarkan nya.

"Seperti nya sudah lebih baik"

balas Mutiara.

"Baiklah kita akan pulang sekarang"

ucap Dimas.

Pagi harinya Dimas sudah menunggu dibalik pintu kamar istrinya itu, dia masih setia menuggu sampai Mutiara membuka nya, Dimas tidak ingin mengetuk karena menurutnya akan menganggu Mutiara.

Pintu terbuka, Dimas dengan sigap langsung memeluk istrinya itu.

"Apa masih pusing ?"

tanyanya cemas.

"kamu selalu menanyakan hal itu padaku mas, menurut mu bagaimana keadaanku sekarang ?"

ucap Mutiara dengan sedikit senyum diwajahnya.

"Melihat dari raut wajah mu yg cantik ini aku merasa kita harus merencanakan bulan madu"

goda Dimas.

"Kamu terlalu berlebihan mas, apa kamu tidak lihat keadaan ku sekarang? hanya akan merepotkan saja bila harus merencanakan bulan madu"

jawab Mutiara melepaskan pelukan Dimas dan berlalu ke dapur.

Dimas yg melihat penolakan dari istri nya itu, menahan tangan Mutiara, mendekatkan wajahnya ke bibir Mutiara lalu mencium lembut bibir Mutiara.

"Aku akan menunda waktu bulan madu itu sampai kamu benar-benar telah menerima ku di hatimu"

bisik Dimas sambil meniup pelan telinga Mutiara, perlakuan Dimas membuat Mutiara mematung, merinding, dan canggung.

"Ok lupakan masalah itu, sekarang coba katakan hari ini istriku yg cantik ini mau makan apa ?, Jangan katakan hari ini kamu mau melihat aku menampar muka ku lagi"

ocehan Dimas sambil memegang kedua belah pipinya.

Mutiara terkekeh melihat tingkah Dimas.

"Oya mulai hari ini akan ada pembantu yg akan menemani dan mengurus mu selagi aku bekerja, mungkin sebentar lagi dia akan datang"

ucap Dimas mengelus lembut rambut Mutiara.

"Terimakasih mas"

ucap Mutiara.

"Jika perlakuan mu sama seperti Dimas memperlakukan ku, mungkin aku akan menerima mu Daren"

ungkap mutiara dalam pikirannya yg tiba-tiba mengingat Daren.

"Apa kamu akan terus melamun ?"

tanya Dimas sambil menjentikkan jari nya didepan wajah mutiara.

"Jangan memikirkan laki-laki lain saat bersamaku"

ucap Dimas seolah mengerti apa yg ada dipikiran Mutiara.

"Tidak, A-aku hanya rindu pada ibu dan Laura mas"

elak Mutiara saat mata elang milik Dimas menatap curiga padanya.

Dimas mengerti dengan ucapan Mutiara

"Baiklah kita akan mengunjungi mereka, bersiap dan aku akan menunggumu.

ucapnya.

"Tapi mas apa kamu tidak kekantor hari ini ?"

tanya Mutiara

"Perusahaan itu milikku jadi kapan pun aku ingin libur tidak akan ada yg melarang ku"

balas Dimas sombong.

Mutiara beranjak untuk bersiap, hari ini mereka akan mengunjungi ibu dan Laura, sebelum berangkat Dimas dan Mutiara membeli beberapa bingkisan terlebih dahulu.

Kedatangan Mutiara membuat ibu sangat senang.

"Bagaimana kabar mu nak ? ibu sangat merindukan mu"

ucap ibu sambil memeluk Mutiara.

"Mutiara sangat sehat Bu, dia sangat manja membuatku harus bangun lebih awal untuk memasak sarapan dan menyuapinya, ya kan sayang ?"

potong Dimas dengan senyum menyindir seraya merangkul pundak Mutiara yg malah mencubit pinggangnya.

"Aauuuu iya, iya iya ampun, maaf aku becanda"

ucap nya sambil mengusap-usap bekas cubitan Mutiara.

Ibu hanya terkekeh melihat kelakuan anak dan mantunya itu.

"Lihatlah Bu beginilah anak mu menyiksaku tiap hari"

oceh Dimas yg disambut tatapan tajam dari Mutiara.

"Berhentilah menjelek-jelekkan ku didepan ibu mas, aku kesini untuk melepas rindu pada ibu bukan untuk menemanimu mengadu pada nya atau aku tidak akan pulang bersama mu nanti"

Mutiara mulai kesal dengan Dimas yg selalu menyindirnya didepan ibu

"Tenanglah sayang aku hanya bercanda saja"

ungkap Dimas yg melihat Mutiara semakin kesal padanya.

"Mutiara kamu tidak boleh bicara seperti itu pada Dimas, ibu tidak pernah mengajarkan hal seperti itu padamu, ayo minta maaf padanya"

ucap ibu menasehati Mutiara.

"Tidak masalah Bu, akhir-akhir ini memang ada masalah dengan emosi Mutiara, dia sering kesal tidak jelas padaku, Mungkin dia belum terbiasa dengan kehadiran ku"

ucap Dimas yg semakin membuatnya kesal.

"Awas kamu ya mas saat berdua dengan ku seolah-olah kamu tak memiliki nyawa tapi ketika ada ibu nyawa mu menjadi seribu"

oceh Mutiara dalam hati dengan tatapan membunuh pada Dimas, yg ditatap pun seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan cuek saja.

*****

happy Reading..

Terpopuler

Comments

Kayla Hasifa Hasifa

Kayla Hasifa Hasifa

di bab yang ini membuat ku senyum" sendiri..
awas kalau istri marah gak di kasih pintu nanti 😁😁

2022-02-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab - 1 Mutiara Aurora
2 Bab - 2 Pekerjaan baru
3 Bab - 3 Sahabat Pertama
4 Bab - 4 Dipecat
5 Bab - 5 Simalakama
6 Bab - 6 Mami Tiara
7 Bab - 7 Mahkota yg Rusak
8 Bab - 8 Rindu Sahabat Pertama
9 Bab - 9 Kepikiran Dia
10 Bab 10 Rencana Daren
11 Bab 11 Dipermalukan Didepan Umum
12 Bab 12 Hamil ?
13 Bab 13 Hari Pernikahan
14 Bab 14 Kabar Burung
15 Bab 15 Menerima Perjodohan
16 Bab -16 Mencoba Melupakanmu
17 Bab - 17 Menunda Bulan Madu
18 Bab -18 Sabun oh sabun
19 Bab - 19 Tendangan Pagi Pertama
20 Bab -20 Memori Masa lalu
21 Bab - 21 Pria Tidak Berperasaan
22 Bab - 22 Menemui mu
23 Bab - 23 Sakit Perut
24 Bab - 24 Persalinan Mutiara
25 Bab - 25 Wajah yang mirip Daren
26 Bab - 26 Mutiara Yang Sama
27 Bab - 27 Farid
28 Bab - 28 Tangis pilu Daren (part 1)
29 Bab - 29 Tangis pilu Daren (part 2)
30 Bab - 30 Duka yg Bertubi-tubi
31 Bab - 31 Surat Terakhir Dari Sindi
32 Bab - 32 Ayo Hidup Bahagia Bersama ku
33 Bab - 33 Keceplosan
34 Bab - 34 Ibu baru yg protektif
35 Bab - 35 Pria yg Rapuh
36 Bab - 36 Mbok Ratni Dan Pria Misterius
37 Bab - 37 Makan Malam
38 Bab - 38 Menginap
39 Bab - 39 Diselamatkan Pria Misterius
40 Bab - 40 Balas Dendam
41 Bab - 41 Pertahanan yg runtuh
42 Bab - 42 Sisi Lain Daren ( Part 1)
43 Bab - 43 Sisi Lain Daren (part 2)
44 Bab - 44 Sebut namaku seorang
45 Bab - 45 Iming-iming Janji
46 Bab - 46 Amplop pembawa luka
47 Bab - 47 Daren yg terjebak
48 Bab - 48 Kembali nya Dimas
49 Bab - 49 Pertemuan Dimas dan Mutiara
50 Bab - 50 Mutiara yg tamak
51 Bab - 51 konsultasi dokter Hanan
52 Bab - 52 Melani Keguguran
53 Bab - 53 Usaha Daren
54 Bab - 54 Dianggap Patung
55 Bab - 55 Menonton
56 Bab - 56 Kedatangan Melani
57 Bab - 57 Kesedihan ibu
58 Bab - 58 Melepas Mutiara Mendapat Berlian
59 Bab - 59 Tanda kepemilikan Laura
60 Bab - 60 Rahasia terungkap
61 Bab - 61 Kebahagiaan
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab - 1 Mutiara Aurora
2
Bab - 2 Pekerjaan baru
3
Bab - 3 Sahabat Pertama
4
Bab - 4 Dipecat
5
Bab - 5 Simalakama
6
Bab - 6 Mami Tiara
7
Bab - 7 Mahkota yg Rusak
8
Bab - 8 Rindu Sahabat Pertama
9
Bab - 9 Kepikiran Dia
10
Bab 10 Rencana Daren
11
Bab 11 Dipermalukan Didepan Umum
12
Bab 12 Hamil ?
13
Bab 13 Hari Pernikahan
14
Bab 14 Kabar Burung
15
Bab 15 Menerima Perjodohan
16
Bab -16 Mencoba Melupakanmu
17
Bab - 17 Menunda Bulan Madu
18
Bab -18 Sabun oh sabun
19
Bab - 19 Tendangan Pagi Pertama
20
Bab -20 Memori Masa lalu
21
Bab - 21 Pria Tidak Berperasaan
22
Bab - 22 Menemui mu
23
Bab - 23 Sakit Perut
24
Bab - 24 Persalinan Mutiara
25
Bab - 25 Wajah yang mirip Daren
26
Bab - 26 Mutiara Yang Sama
27
Bab - 27 Farid
28
Bab - 28 Tangis pilu Daren (part 1)
29
Bab - 29 Tangis pilu Daren (part 2)
30
Bab - 30 Duka yg Bertubi-tubi
31
Bab - 31 Surat Terakhir Dari Sindi
32
Bab - 32 Ayo Hidup Bahagia Bersama ku
33
Bab - 33 Keceplosan
34
Bab - 34 Ibu baru yg protektif
35
Bab - 35 Pria yg Rapuh
36
Bab - 36 Mbok Ratni Dan Pria Misterius
37
Bab - 37 Makan Malam
38
Bab - 38 Menginap
39
Bab - 39 Diselamatkan Pria Misterius
40
Bab - 40 Balas Dendam
41
Bab - 41 Pertahanan yg runtuh
42
Bab - 42 Sisi Lain Daren ( Part 1)
43
Bab - 43 Sisi Lain Daren (part 2)
44
Bab - 44 Sebut namaku seorang
45
Bab - 45 Iming-iming Janji
46
Bab - 46 Amplop pembawa luka
47
Bab - 47 Daren yg terjebak
48
Bab - 48 Kembali nya Dimas
49
Bab - 49 Pertemuan Dimas dan Mutiara
50
Bab - 50 Mutiara yg tamak
51
Bab - 51 konsultasi dokter Hanan
52
Bab - 52 Melani Keguguran
53
Bab - 53 Usaha Daren
54
Bab - 54 Dianggap Patung
55
Bab - 55 Menonton
56
Bab - 56 Kedatangan Melani
57
Bab - 57 Kesedihan ibu
58
Bab - 58 Melepas Mutiara Mendapat Berlian
59
Bab - 59 Tanda kepemilikan Laura
60
Bab - 60 Rahasia terungkap
61
Bab - 61 Kebahagiaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!