Tepat pukul lima sore Vian telah selesai melakukan pekerjaannya. Dia berjalan ke aeah pintu. Vian membuka pintu tersebut dan melihat Jero tepat berdiri di sebelah kiri pintu ruangan praktek Vian.
"Ayok pulang." ajak Vian.
Vian berjalan paling depan, sedangkan Jero menyusulnya dari belakang. Mereka tidak ingin ada gosip yang menyertai kehidupan mereka berdua. Gosip yang pada akhirnya akan membuat Jero dan Vian tidak nyaman dalam bekerja.
Vian masuk ke dalam mobil setelah Jero membukakan pintu mobil untuknya. Hal ini terpaksa dibiarkan Vian karena ada satpam yang melihat.
Setelah memastikan Vian duduk dengan nyaman, Jero kemudian melajukan mobilnya menuju mansion keluarga Alexsander.
"Vian, ada yang mau aku katakan." ujar Jero sambil melirik Vian dari kaca spion mobil.
"Apa?" tanya Vian.
"Tadi Tuan Muda menghubungi saya, dia mengatakan kepada saya kalau dia ada urusan pekerjaan ke luar kota selama lima hari." ujar Jero.
"Jadi Tuan Muda meminta saya untuk menyampaikan kepada Nyonya Muda." lanjut Jero sambil menatap Vian dari kaca spion mobil.
Jero ingin melihat bagaimana tanggapan dan ekspresi Vian saat mendengar Juan akan dinas luar selama lima hari ke depan.
"Ooo. Oke makasi infonya Jero. Tapi sejujurnya bagi aku nggak masalah dia mau kemana. Sekalipun ke ujung dunia." ujar Vian sambil tersenyum menatap Jero.
"Yah ternyata tanggapannya gitu doang." ujar Jero yang sudah benar memprediksi bagaimana tanggapan Vian saat dia mengatakan hal itu.
"Jadi, harusnya bagaimana?" tanya Vian sambil menatap punggung Jero.
"Harusnya kamu ngomong, kenapa dia tidak menghubungi aku. Malahan dia menghubungi kamu. Aku kan juga punya ponsel." ujar Jero sambil menahan tawanya.
"Wah nggak aku banget itu." jawab Vian sambil menatap Jero dengan tatapan tidak percaya Jero bisa mengatakan hal itu.
"Hahahahahaha. Dasae Vian." ujar Jero lagi.
"Orang yang nggak nganggap kita ada, kenapa harus kita anggap ada Jero. Malahan hal itu akan buat hati kita menjadi lelah luar biasa." lanjut Vian memberikan alasan kenapa dia menjawab seperti tadi.
"Jadi sekarang kita kemana? Langsung pulang atau?" tanya Jero kepada Vian.
" Mall. Laper" ujar Vian yang malas langsung pulang ke rumah. Dia ingin menikmati hari harinya tanpa ada Juan yang setiap hari selalu marah marah saja.
Jero memutar arah mobilnya menuju mall. Dia akan membawa Vian kesuatu mall yang sangat berarti dan indah. Vian bisa belanja apa saja di sana.
Tak berapa lama mereka telah sampai di mall itu. Jero memarkir mobilnya di tempat parkiran biasa. Dia tidak mau mengundang kecurigaan Vian terhadap dirinya kalau dia parkir di parkiran khusus untuk Jero.
Vian dan Jero masuk ke dalam mall. Vian memilih untuk makan masakan Jepang untuk makan malamnya kali ini. Vian masuk ke dalam restoran yang menyajikan makanan Jepang itu. Vian memesan berbagai macam sushi untuk dia dan Jero.
Vian kemudian duduk di pojokan yang tidak akan terlihat oleh siapapun. Pojokan yang tidak akan dilirik oleh orang.
Vian dan Jero menunggu pesanan mereka datang. Beberapa pelayan datang menghidangkan pesanan yang diminta oleh Vian tadi.
Vian dan Jero kemudian menyantap sushi itu. Tanpa sengaja Vian melirik seseorang yang dikenalnya sedang menggandeng mesra seorang wanita. Mereka berdua terlihat tertawa dengan bahagianya.
Jero memerhatikan Vian. Dia melihat Vian yang menatap jauh ke depan. Setelah menyelaraskan penglihatannya Jero paham apa yang membuat Vian menjadi pendiam seperti ini.
"Udah biarkan aja." kata Jero sambil memegang tangan Vian.
"Nggak ada ngaruhnya. Tapi kenapa harus berbohong. Dia jujurpun tidak akan jadi masalah. Tapi sudah dia katakan kalau pernikahan ini hanya pernikahan bisnis saja." lanjut Vian sambil menatap Jero.
"Jadi?" tanya Jero penasaran dengan selanjutnya.
"Jadi apa? Jadi jadian." ujar Vian.
"Hahahahaha. Jangan pake emosi. Santai aja kali." kata Jero sambil menyuapkan satu sushi kedalam mulut Vian.
Vian tersenyum bahagia atas inisiatif Jero menyuapinya sushi.
"Udah nggak usah bahas apapun lagi. Mari kita jalan jalan." ujar Jero mengajak Vian untuk berjalan jalan berkeliling mall.
"Aku belanja ya." ujar Vian meminta izin kepada Jero.
Jero mengangguk mempersilahkan Vian untuk berbelanja. Dia sudah menginformasikan kepada seseorang untuk mengatakan kepada setiap manager toko saat Vian membayar mengatakan kalau Vian mendapat promo gratis seratus persen.
Vian masuk kedalam satu toko barang ternama yaitu Guaci. Vian melihat lihat baju yang sesuai untuknya di bawa kerja. Vian memilih satu dress sederhana. Vian belanja dengan melihat label harganya. Jero hanya menggeleng lemah saja.
"Kamu istri pengusaha, tetapi belanja kamu masih melihat harga." ujar jero sambil menatap Vian dengan tatapan hanya Jero yang tau artinya sendiri.
Vian hanya membeli satu belanjaan saja. Vian kemudian menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
"Selamat datang Nona, silahkan ambil undian di dalam kotak ini." ujar kasir mempersilahkan Vian mengambil gulungan kertas yang ada di dalam sebuah kotak kaca.
"Apa isinya?" tanya Vian.
"Potongan harga Nona. Kalau Nona sedang beruntung maka ada potongan seratus persen di dalamnya." ujar kasir memberitahukan kepada Vian apa isi dari tabung kaca itu.
"Wow keren ya." kata Vian.
"Keren Nona, makanya Nona bisa menambah belanjaan lagi." kata kasir sambil tersenyum.
"Oh tidak. Saya hanya butuh satu." jawab Vian dengan nada final.
"Silahkan diambik Nona." kata kasir memberikan kepada Vian kotak.kacanya.
Vian mengambil satu kertas. Dia memberikan kepada kasir. Seorang pria yang tadi di telpon oleh Jero berada tepag disamping kasir.
Kasir kemudian membuka gulungan kertas itu. Dia tersenyum melihat Vian.
"Selamat Nona anda mendapatkan potongan harga seratus persen." ujar kasir.
"Ha? Serius?" ujar Vian menatap kasir yang ada di depannya.
"Serius Nona, makanya tadi saya mempersilahkan Nona untuk menambah pembelian. Tetapi Nona menolak." ujar kasir.
"Tidak masalah Nona. Saya hanya butuh satu." jawab Vian.
Vian memberikan baju yang telah dipilihnya tadi. Kasir kemudian menscan label harga. Disana langsung tertera biaya nol untuk pembayaran pakaian yangs dipilih Vian.
" Jero, aku luar biasa beruntung. Baju semahal ini bisa aku dapatkan secara gratis." ujar Vian menatap ke arah Jero.
Jero tersenyum kepada Vian. Seseorang yang berada di meja kasir memberikan jempol kepada Jero. Jero memberikan senyum simpulnya kepada seseorang itu.
Setelah selesai berbelanja di toko Guaci, Vian dan Jero kemudian berjalan menuju toko yang lainnya. Vian masuk ke dalam toko Cuanel.
Vian kembali melihat lihat barang yang ingin dibelinya. Tetapi setelah puas melihat lihat isi toko Cuanel, Vian kembali keluar. Barang barang yang ada di sana tidak ada yang memikat hatinya sama sekali.
"Kenapa nggak beli?" tanya Jero saat melihat Vian tidak membawa apa apa keluar dari toko Cuanel.
"Nggak ada yang minat." jawab Vian.
Setelah itu Vian dan Jero berjalan lagi masuk ke dalam toko breanded lainnya. Tetapi hal yang sama kembali terulang lagi, Vian kembali keluar dengan tidak membawa apa apa.
"Lah kosong lagi?" ujar Jero.
"Nggak ada yang memikat hati lagi." ujar Vian.
Jero hanya geleng geleng kepala. Seseorang yang telah dimintanya untuk mengiringi Vian berbelanja hanya geleng geleng kepala saja. Vian sama sekali tidak berbelanja. Dia hanya menatap barang barang yang ada.
" Pulang yok Jer. Aku capek. Besok aku masuk pagi lagi." kata Vian mengajak Jero untuk kembali pulang ke mansion Alexsander.
Vian dan Jero masuk ke dalam mobil. Mereka berdua kembali pulang ke rumah. Jero melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Vian terlihat memang lelah, dia tertidur di dalam perjalanan pulang.
Setelah berkendara, mobil yang ditumpangi oleh Jero telah sampai di perkarangan mansion. Jero membuka pintu mobil.
"Vian bangun. Vian kita udah sampai." tetapi Vian tetap tidur. Vian sama sekali tidak bergeming.
Jero masuk ke dalam rumah. Dia mencari Bik Ina di dapur.
" Bik, tolong angkat Nyonya Muda satu. Dia masih tertidur di mobil." ujar Jero.
"Waduah mana bibik kuat Jero. Gimana kalau kamu saja yang ngangkat Nyonya muda." kata bik Ina kepada Jero.
"Tapi bik." ujar Jero yang ingin menolak keinginan bik Ina.
"Pelayan yang lain sudah beristirahat. Jadi kamu ajalah yang ngangkat. Lagian Tuan Muda juga tidak ada di rumah." kata Bik Ina.
Jero akhirnya pasrah. Dia kembali keluar. Jero mengangkat Vian menuju kamarnya. Dengan langkah tertatih tatih Jero mengangkat Vian ke dalam kamarnya.
Jero membaringkan Vian di atas ranjang Vian yang besar itu. Vian kemudian langsung memeluk gulingnya. Dia langsung tertidur.
Jero melihat wajah Vian yang masih memakai makeup tipisnya. Jero berjalan menuju meja rias Vian. Dia mengambil kapas dan juga alat pembersih make up milik Vian.
Jero kembali menuju ranjang Vian. Jero membersihkan wajah Vian yang masih ada bekas make up itu. Vian merasakan dingin di wajahnya. Dia membuka matanya, dia melihat Jero asik membersihkan wajahnya.
"Jero" ujar Vian sambil memegang tangan Jero.
"Tidur aja. Ndak apa apa." ujar Jero kembali melanjutkan pekerjaannya.
Vian kembali menutup matanya. Dia kembali tertidur. Jero tetap melanjutkan membersihkan wajah Vian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Sulati Cus
bank Jero so sweet bgt sih
2022-09-15
0
Ratna Aza
romantis banget km Jero.....😘ayo km dapatkn hati Vian.....💖💖💖lanjut kak 👌👍
2022-02-07
1