Grub okestra yang disewa oleh panitia penyelenggara pertemuan para pebisnis muda itu mulai mengalunkan musik untuk berdansa. Para Nyonya dan Nona tadi sudah berada di lantai dansa dengan pasangan yang berhasil memenangkan mereka.
Juan telah memegang pinggang Vian. Dia tidak mau nanti Vian terjatuh saat berdansa dan membuat dirinya menjadi malu di tengah tengah pebisnis yang sangat luar biasa ramai itu.
"Ingat jangan buat malu." ujar Juan menekankan setiap kata kata yang diucapkannya ke telinga Vian.
"Aman. Aku malahan takut kalau Tuan yang akan membuat malu diri Tuan sendiri." jawab Vian dengan melakukan hal yang sama seperti cara bicara Juan tadi
"Oh tentu tidak. Saya tidak akan mungkin membuat malu diri saya sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Saya sangat senang dengan rasa percaya diri Tuan." jawab Vian.
Sepasang suami istri yang terlihat serasi di mata semua orang yang berada di ballroom hotel langsung melangkahkan kaki mereka ke tengah tengah lantai dansa. Mereka mulai menggerakkan kaki dan tangan mereka sesuai dengan irama musik.
Juan dan Vian menikmati acara pesta dansa itu. Mereka berdua seperti orang yang benar benar sedang berada dalam romantika pengantin baru. Mereka berdua menikmati setiap gerakan yang serasi mereka buat. Mereka sama sekali tidak terlihat canggung. Tak terasa sudah dua kali musik bertukar mereka masih juga berdansa.
"Vian, saya capek. Kita istirahat dulu." ujar Juan yang merasakan lelah di kakinya.
"Oke" jawab Vian.
Mereka berdua kembali ke tempat duduk tadi. Juan meminum minuman miliknya. Begitu juga dengan Vian.
'Untung aja dulu sering ikut Papi dan Mami, kalau tidak hem bisa bisa hari ini aku membuat malu diriku dan Juan.' ujar Vina di dalam hatinya.
Acara itu semakin meriah saat malam hari. Juan Alexsander yang tidak menyukai acara seperti itu lebih memilih untuk meninggalkan pesta sebelum semua rangkaian acara berakhir.
"Ayuk pulang." ujar Juan sambil berdiri dari kursinya.
Vian hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Juan. Dia sama sekali tidak ingin membantah apa yang dikatakan oleh Juan. Sepasang suami istri itu terlihat menjadi yang pertama sekali meninggalkan pesta.
"Jero saya pulang." kata Juan menghubungi supirnya.
Setelah mengatakan apa yang diinginkannya Juan langsung memutuskan panggilan telpon tersebut sebelum sempat Jero menjawab perintahnya.
"Dasar orang kaya nggak punya akhlak." ujar Jero dengan sedikit emosi.
Jero kemudian menyetir mobilnya menuju lobby hotel. Dia tidak ingin terlambat. Juan memiliki sifat yang aneh tentang masalah keterlambatan. Jero tidak ingin gara gara dia terlambat sampai depan lobby gajinya akan kena potongan.
Jero memarkirkan mobilnya tepat diujung red carpet yang terbentang luas. Seorang valet membukakan pintu mobil untuk Juan dan Vian. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil.
"Gara gara kamu saya jadi terpaksa merasakan capek yang luar biasa." ujar Juan yang sudah kembali menjadi Juan yang biasa.
"Maksud Anda apa Tuan?" ujar Vian yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Juan.
"Ini kaki saya jadi pegel pegel karena nemani kamu berdansa. Sampai rumah kamu harus mijitin saya." ujar Juan dengan ketus.
"Oh baiklah Tuan." jawab Vian.
Mobil terus membelah jalanan ibu kota untuk sampai di mansions milik Juan Alexsander. Jero menyimak semua percakapan suami istri itu. Jero berharap nanti tidak ada lagi kemarahan dari Tuan Muda yang arogan itu.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mobil sudah masuk ke dalam gerbang utama mansion. Jero memarkir mobilnya di depan pintu utama. Seorang pengawal membukakan pintu mobil. Juan turun dan diikuti oleh Vian.
"Kamu tukar pakaian setelah itu langsung ke kamar saya. Tidak pakai lama." ujar Juan dengan nada dingin. Juan yang hangat telah tertinggal di lobby hotel tempat acara berlangsung tadi.
Vian hanya bisa mengangguk saja. Jero melihat semua itu. Dia kemudian melajukan mobilnya ke parkiran. Dia tidak ingin Juan melihat dirinya memperhatikan apa yang terjadi antara Tuan dan Nyonya Alexsander.
Vian masuk melangkahkan kakinya ke lantai dua rumah. Dia sama sekali tidak diizinkan oleh Juan memakai lift yang ada di rumah itu. Setelah sampai di kamarnya, Vian menukar pakaian pesta dengan pakaian rumahan berupa dress sebatas lutut dengan tali spageti yang menggantung indah di pundaknya yang putih mulus dan seksi.
Setelah berganti pakaian, Vian membersihkan makeupnya yang lumayan tebal tadi karena menutupi bekas tamparan yang sangat terlihat akibat kulit wajahnya yang putih bersih. Vian cukup meringis saat itu. Tamparan yang sangat keras diberikan oleh Juan Alexsander.
Bunyi ponsel Vianlah yang membuyarkan lamunannya menatap bekas tamparan itu. Vian melihat di layar ponselnya tertulis nama "Pria Gila" sedang memanggil.
"Huft. Dikira udah tidur." ujar Vian dengan malas.
"Bentar sedang mau jalan ke sana." ujar Vian menjawab panggilan telpon.
"Sudah dibilang jangan lama." teriak Juan.
Vian dengan reflek menjauhkan ponselnya dari telinga. Dia tidak mau Juan merusak pendengarannya dengan teriakan yang luar biasa besar itu. Setelah berteriak Juan mematikan panggilan telpon tersebut.
"Dasar laki laki PA" maki Vian.
Vian mengambil sandal rumahannya yang berbentuk sapi. Dia dari dahulu suka sekali dengan sapi. Cita citanya sukses jadi dokter maka dia akan membuat peternakan sapi lengkap dengan tempat pengolahan susu sapi.
Dia kemudian melangkahkan kakinya dengan berat menuju kamar Juan. Mana jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas, dia besok harus dinas pagi. Vian benar benar merasakan lelah yang sangat sangat luar biasa. Ingin rasanya Vian berteriak untuk meminta istirahat, tetapi hal itu tidak akan mungkin terjadi karena pasti hadiah pukulan yang akan diberikan oleh Juan kepada Vian.
"Jalannya bisa cepat tidak." teriak Juan yang ternyata sudah menunggu Vian di depan pintu kamar sambil bersender ke daun pintu.
Vian yang sedang larut dalam hayalan menjadi sangat kaget saat mendengar teriakan itu. Dengan langkah lebar lebar dia menuju kamar Juan.
"Lama kali" ujar Juan sambil menoyor kepala Vian.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kamar. Juan berbaring di atas ranjang king size miliknya. Vian langsung mengambil handbody dan baby oil untuk memijit kaki Juan.
"Sakit. Kamu mau buat saya tidak bisa berjalan besok?" ujar Juan dengan nada marah.
"Maaf Tuan tidak sengaja." ujar Vian.
Vian melanjutkan pijitannya dengan kekuatan sedang. Dia tidak mau dimarahi lagi. Dia sudah lelah dimarahi sehari ini. Juan yang keenakan dipijit oleh Vian ternyata sudah tertidur. Vian yang melihat Juan sudah tidur memilih menghentikan pijitannya dan berjalan kembali menuju kamar. Dia ingin membaringkan badannya yang sangat luar biasa letih itu.
Saat sampai di kamar Vian melihat jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Dia masih memiliki waktu istirahat selama tiga setengah jam paling banyak. Vian langsung saja merebahkan badannya. Dia tidak mungkin mengulur ulur waktu lagi. Dia harus memanfaatkan waktu dengan sebaik baiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Sulati Cus
di perlakukan kek gitu tp kok msh betah
2022-09-15
0
ennita
semangat kak💪
2022-07-21
0
Rosdiana Anadiana
lanjut toor
2022-01-28
1