Jero melajukan mobil yang dikemudikannya menuju rumah sakit harapan kita. Dia harus memastikan apakah Nyonya Mudanya sampai dengan selamat atau tidak di rumah sakit. Kalau sampai tidak selamat maka bisa dipastikan juga nyawa Jero tidak akan selamat di tangan Juan Alexsander.
Jero melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Dia benar benar menggantungkan nyawanya di tangan Nyonya Vian hari ini.
Jero yang melajukan mobil dalam kecepatan tinggi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah sakit Harapan Kita. Jero memarkir mobilnya di tempat parkir khusus dokter.
Jero langsung masuk ke dalam rumah sakit. Dia baru sekali ini ke sini. Dia tidak tau dimana ruangan Vian berada. Apalagi Vian hanya seorang dokter umum. Sudah bisa dipastikan Juan tidak akan berada di poli. Maka akan semakin susah Jero untuk mencari Vian.
"Kemana mau dicari ya?" ujar Jero.
Jero melihat seorang suster yang duduk dibagian informasi.
"Maaf Nona suster, bisa saya tau dimana ruangan dokter Vian Alexsander?" ujar Jero sambil menatap suster tersebut dengan tatapan penuh mintak pertolongan.
"Dokter Vian Tuan?" tanya suster dengan menatap Jero. Suster memberikan tatapan memuja kepada Jero.
"Iya dokter Vian." jawab Jero yang mulai jengah dengan tatapan yang diberikan oleh suster kepada dirinya.
"Mari saya antarkan Tuan." ujar Suster.
"Biar saya sendiri saja. Tunjukkan saja jalannya." ujar Jero.
Suster kemudian memberikan petunjuk arah menuju ruangan dokter Vian. Jero menyimak dengan seksama. Dia tidak mau lagi bertanya dengan suster. Suster di sini terlihat sengat aneh. Seperti manusia yang tidak pernah melihat pria tampan.
Jero mulai berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh suster. Dia melihat sepanjang jalan plank merk dengan nama nama dokter. Setelah berjalan selama lebih kurang dua puluh menit, Jero sampai juga di ruangan yang bermerk dr Vian.
Jero mengetuk pintu ruangan. Vian yang sedang duduk sambil melihat video pacah paruik, langsung memberhentikan tawanya. Dia pergi membukakan pintu ruangan.
"Lah Jero ada apa?" tanya Vian.
"Nyonya, mulai hari ini saya adalah sopir sekaligus asisten pribadi Nyonya. Jadi saya mohon Nyonya untuk tidak pergi main kabur saja." ujar Jero.
"Hah jadi asisten pribadi?" tanya Vian kembali.
"Apa saya tidak salah dengar?" tanya Vian.
"Tidak Nyonya. Nyonya sama sekali tidak salah dengar. Saya di sini akan menjadi asisten pribadi Nyonya." ujar Jero menguatkan pernyataannya tadi.
"Oh. Ide siapa?"
"Perintah langsung dari Tuan Juan Nyonya." jawab Jero.
"Oh. Kalau saya tolak bagaimana?" tanya Vian mencoba peruntungannya.
"Maaf Nyonya. Nyonya terima atau tidak. Saya akan tetap berdiri di depan pintu ruangan Nyonya. Saya akan tetap mengiringi kemana Nyonya pergi." ujar Jero.
"Hah???? Sebegitunya???" ujar Vian dengan mulut dan ekspresi yang membuat Jero geli sendiri.
"Ya. Istilahnya saya adalah bayangan hidup Nyonya Vian." ujar Jero.
Vian terlihat berpikir keras. Rasanya tidak mungkin Jero akan menjadi bayangan hidup dirinya. Tidak mungkin saat Vian harus ke IGD Jero juga ikut. Vian pergi ke kantin Jero juga ikut.
"Bisa kita berdiskusi sebentar?" tanya Vian yang ingin membuat kesepakatan dengan Jero.
"Tergantung." jawab Jero.
"Mari masuk. Kita akan diskusikan di dalam ruangan saya" ujar Vian.
"Baiklah." Jero mengalah. Dia akan mendengarkan apa yang akan diajukan oleh Vian.
"Saya minta kamu hanya berdiri di depan ruangan saya saja. Tidak harus mengikuti kemana Saya pergi." ujar Vian mencoba peruntungannya.
Jero berpikir. Dia tidak mungkin melanggar apa yang diminta oleh Juan. Apalagi ini Vian hal seperti ini. Bisa bisa dirinya digantung oleh Juan Alexsander.
"Maaf Nyonya tidak bisa. Saya harus mengikuti Nyonya kemanapun Nyonya pergi." ujar Jero tetap dengan keputusannya.
"Apa tidak bisa di nego sedikit saja?" tanya Vian sekali lagi.
"Maaf Nyonya. Tidak bisa sama sekali." ujar Jero tetap dengan keputusannya.
"Baiklah Jero. Silahkan lakukan apa yang membuat kamu nyaman dan tidak dimarahi oleh pris gesrek itu." ujar Vian mulai tidak nyaman dalam bekerja.
"Silahkan berdiri di luar." ujar Vian.
Vian kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia berencana untuk mengambil spesialis kandungan. Vian di sela sela kesibukannya sebagai dokter umum, dia juga akan belajar untuk lulus tes spesialis.
"Kalau seperti ini caranya. Lebih baik gue percepat aja tes kuliah. Gue nggak tahan ada ajudan yang siap ngebayangin hidup gue tiap hari." ujar Vian.
Telpon ruangan Vian berdering nyaring. Vian yang sedang konsentrasi belajar tersentak saat mendengar dering telpon ruangannya.
"Hallo dengan dokter Vian. Ini dengan siapa?" ujar Vian membuka percakapan.
"Dokter Vian ini dari dokter IGD. Apa kami bisa minta batuan kepada dokter Vian?" ujar dokter IGD.
"Bisa dokter. Bantuan apa?" jawab Vian yang memang sebenarnya hari ini bukan hari dinasnya. Tetapi karena satu dan lain hal, Vian akhirnya memilih untuk datang ke rumah sakit. Padahal seharusnya dia bisa tidur tiduran sambil santai santai di kamarnya sambil belajar.
"Kami butuh tambahan dokter di IGD sebentat lagi. Ada kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tol. Jadi kami merasa dokter yang ada di IGD tidak akan cukup untuk menangani pasien." ujar dokter jaga.
"Oh baiklah. Saya akan ke sana sekarang." jawab Vian.
Vian kemudian menyiapkan semua peralatannya. Dia tidak ingin semua orang menunggu dirinya, dan berpikir kalau dia tidak akan datang ke IGD.
Vian membuka pintu ruangannya, dia langsung melihat Jero yang memang hanya berdiri saja di depan pintu ruangan. Jero sama sekali tidak terlihat melakukan gerakan apapun saat ini. Jero benar benar berdiri tenang seperti manekin.
"Kamu beneran berdiri diam aja di sini dari tadi Jero?" tanya Vian.
"Benar Nyonya. Saya bekerja sesuai dengan SOP yang diberikan Tuan Juan." ujar Jero.
"Oh baiklah. Terserah kamu dan Tuan gesrek itu. Sekarang saya mau pergi ke IGD. Saya akan bekerja di sana untuk hari ini. Apa Kamu akan berdiri di sini terus atau akan ikut dengan saya ke IGD?" tanya balik Juan.
"Akan ikut ke IGD nyonya." jawab Jero.
Jero mengikuti Vian dari belakang. Dia memang tidak.membiarkan Vian hilang dari pandangan matanya. Dimana ada Vian pasti akan ada Jero. Baru beberapa jam saja Vian sudah risih dibuat oleh tingkah Jero.
" Vian siapa pria tampan pakai jas itu?" tanya salah sati dokter IGD yang masih single.
"Namanya Jero. Dia adalah asisten gue yang diminta suami gue untuk mengikuti kemana saja gue melakukan aktifitas." ujar Vian.
"Hah? Bayangan hidup berarti Vian." ujar dokter Andre yang kemaren sukses membuat Juan marah.
Jero saat melihat dokter Andre yang kemaren membuat Juan menjadi cemburu menjadi lebih mempersempit jaraknya dengan Vian. Vian yang menatap jadi bingung dengan tingkah Jero.
"Kamu kenapa?" tanya Vian.
"Itu dokter yang membuat Tuan Juan membuat keputusan untuk saya mengikuti Nyonya kemana Nyonya pergi." ujar Jero.
"Hah??? Berita apa lagi ini." ujar Vian tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Jero.
Jero terlihat ingin bercerita. Tetapi suara sirine ambulance membatalkan semuanya. Vian dan semua dokter serta suster yang berada di IGD berlarian menuju ke arah pintu keluar.
Jero juga ikut berlari. Dia melihat Vian membantu menurunkan seorang pasien. Jero menarian Vian. Dia kemudian menggantikan Vian membantu menurunkan pasien yang terluka parah itu.
Jero kemudian mendorong brangkar rumah sakit. Dia benar benar ikut bekerja di rumah sakit itu. Vian yang melihat Jero tulus membantu memiliki sedikit rasa hangat di hatinya.
"Waduh rasa apa ini." ujar Vian dengan pelan.
"Rasa ini tidak boleh muncul di saat seperti ini." lanjut Vian.
Jero melihat Vian memandang dirinya. Dia memandang balik Vian. Vian tersenyum kepada Jero. Vian memberikan senyum terbaiknya yang tidak pernah diberikan kepada siapapun. Jero membalas tersenyum kepada Vian.
"Dokter Vian. Pasien sepertinya kehabisan darah." ujar seorang suster berteriak setengah panik.
"Golongan darahnya apa?"
"O" ujar Suster.
"Cek kebagian darah. Semoga persedian darah O masih ada." ujar Vian.
"Sudah kami hubungi ternyata golongan darah O habis dokter." ujar suster.
Vian melihat pemuda itu. Dia merasa iba. Tapi apalah daya Vian. Golongan darahnya tidak sama dengan pemuda itu.
"Nyonya, golongan darah saya O. Ambil darah saya saja." ujar Jero.
Vian tanpa pikir panjang menggenggam tangan Jero. Dia membawa Jero ke samping pasien yang membutuhkan donor darah itu. Vian memeriksa keadaan Jero. Jero dinyatakan sehat dan bisa melakukan donor darah.
Setelah melakukan donor darah Jero beristirahat. Sedangkan Vian kembali menolong pasien yang lain. Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan fokus yang luar biasa dari semua dokter dan suster.
Setelah berjam jam berkutat dengan pasien korban kecelakaan, Vian dan dokter yang lainnya beristirahat. Jero juga melakukan hal yang sama. Dia beristirahat di ruangan Vian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Mommy Ahid
jadikan favorit dong kakak
2022-02-01
0
Dayu Kade
next👍👍
2022-02-01
1