Vian pagi ini sengaja bangun lebih pagi daripada hari biasanya, seharusnya setiap pagi Vian akan memasak sarapan untuk dirinya dan Juan. Tapi pagi ini rutinitasnya tidak dilakukannya seperti biasa. Vian hanya membuat nasi goreng telur mata sapi untuk dirinya sendiri. Setelah menyiapkan bekal dan memasukkan kedalam kotak bekal, Vian kembali ke kamarnya. Dia membersihkan tubuhnya kembali dan memakai pakaian untuk ke rumah sakit.
Vian sudah memesan taksi online melalui aplikasi miliknya. Dia sama sekali belum tau kalau Jero sudah menjadi supir dan sekaligus asisten pribadinya mulai saat ini.
Setelah selesai berdandan dan berkemas kemas, Vian pergi meninggalkan kamarnya. Dia melihat suasana rumah masih sepi, belum ada tanda tanda pelayan yang bangun, apalagi Juan jangan harap dia akan bangun. Sedangkan wanita semalam, Vian tidak mau tau, dia mau menginap atau tidak bagi Vian tidak ada masalah.
Vian membuka pintu rumah utama dengan perlahan. Dia tidak ingin ada yang mendengarnya. Setelah membuka pintu rumah, Vian memakai sepeda menuju gerbang depan rumah. Taksi online yang dipesannya sudah menunggu di sana.
Vian masuk kedalam taksi.
"Rumah sakit harapan kita Nyonya?" tanya sopir taksi.
"Iya Pak." jawab Vian.
Vian kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia membaca novel online kesukaannya. Vian selalu membaca novel online disaat waktu senggangnya ada.
"Nyonya sudah sampai" ujar sopir taksi.
Vian yang fokus membaca tidak menyadari kalau dia sudah sampai di rumah sakit.
"Maaf Pak, saya terlalu fokus membaca." ujar Vian.
"Tidak apa apa Nyonya. Lebih baik fokus membaca dari pada Nyonya termenung. Pagi pagi termenung tidak baik Nyonya. Banyak setannya." ujar sopir berusaha bercanda dengan Vian.
"Bapak bisa aja. Di rumah saya tu Pak ada hantunya. Besar lagi." jawab Vian.
Vian kemudian memberikan uang untuk penbayaran taksi online.
"Nyonya kembaliannya." ujar supir taksi.
"Ambil aja." jawab Vian.
Vian melangkahkan kakinya dengan ringan masuk ke dalam rumah sakit.
"Loh dokter Vian kok pago banget?" ujar salah satu dokter jaga.
"Kecepatan bangun dokter." jawab Vian.
"Orang terlambat bangun yang jadi alasan, kalau dokter Vian cepat bangun yang jadi alasan. Bener bener lah ne dokter."
"Hahahahah. Anti mainstrem Bro." jawab Vian.
"Gue ke atas dulu ya." ujar Vian.
Vian melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena dokter yang tadi menyapanya. Ingin rasanya tadi Vian tidak menggubris dokter tersebut, tetapi Vian tidak mau dikatakan sebagai orang yang sombong. Ini aja sudah dikatakan sombong, apalagi kalau tidak mau disapa.
Vian akhirnya sampai di ruangannya, dia melihat masih ada waktu satu setengah jam lagi sebelum apel pagi dilaksanakan. Vian merapikan meja kerjanya terlebih dahulu. Setelah itu dia membuka kotak bekalnya. Aroma nasi goreng yang dibuatnya menyeruak keluar memenuhi ruangan kerja Vian.
"Wow nikmat." ujar Vian.
Vian menyuap sesendok nasi goreng, dia mengunyah dengan begitu pelan dan merasakan rasa nikmat dari nasi goreng yang dibuatnya.
"Ini bener bener enak." ujar Vian memuji masakannya sendiri.
Sedangkan di rumah utama. Juan baru bangun dari tidurnya. Dia cukup kaget melihat Ranti yang tertidur di ranjang miliknya dan juga sedang memeluk Juan..
Juan berusaha mengingat semuanya, bagaimana awal mula bisa dia berada di ranjang yang sama dengan Ranti. Saat Juan mengingat Vian yang tidak marah membuat hatinya semakin terbakar.
"Apa tu istri nggak ada perasaan kali ya. Suaminya tidur dengan perempuan lain, dia bersikap tenang aja. Tidak seperti wanita lain yang langsung marah saat suami tidur dengan wanita lain.
Juan mengangkat tangan Ranti dari atas tubuhnya. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Juan membersihkan dirinya.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Juan memakai pakaian kerjanya.
"Ranti bangun. Sana bersihkan diri kamu." ujar Juan.
"Peluk." jawab Ranti.
Juan dengan suka hati memeluk Ranti. Ntah setan dari mana yang membuat Juan berani berbuat seperti itu saat sekarang ini.
Ranti kemudian beranjak dari ranjang. Dia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya Ranti kembali memakai pakaian yang sama dengan yang tadi malam dipakainya.
"Kamu pakai pakaian ini saja." ujar Juan sambil memberikan pakaian baru, terlihat dari pakaian itu masih ada labelnya.
"Makasi. Cup" sebuah ciuman mendarat mulus di pipi Juan.
"Sama sama. Cup" sebuah ciuman balasan diberikan oleh Juan kepada Ranti.
Juan dan Ranti keluar dari kamar. Mereka berdua menuju meja makan. Betapa kagetnya Juan di meja makan hanya ada roti bakar lengkap dengan seluruh selai beraneka rasa.
"Bik Ina." teriak Juan.
Bik Ina yang sudah bisa memprediksi kemarahan Juan berjalan menuju Tuan Muda yang sedang marah.
"Sarapan mana?" tanga Juan.
"Maaf Tuan Muda, biasanya yang memasak adalah Nyonya Muda. Sepertinya Nyonya belum bangun. Semalam saya tidak menginap di sini, karena cucu saya demam Tuan Muda." jawab Bik Ina.
"Vian belum bangun?" Juan menatap Bik Ina.
"Benar Tuan Muda. Dari tadi Nyonya Muda sama sekali tidak kelihatan sama saya." jawab Bik Ina.
"Jero." teriak Juan sekali lagi.
Jero datang dengan langkah tegapnya. Dia sudah tau pasti akan kena juga.
"Apa Nyonya muda juga belum ada memberi kabar kapan dia akan berangkat ke rumah sakit?" tanya Juan.
"Siap belum Tuan Muda." jawab Jero.
Juan berdiri dari kurai meja makan. Dia kembali menuju lantai dua. Kali ini dia ingin memeriksa kamar Vian. Juan membuka pintu kamar itu. Dia melihat Vian sama sekali tidak ada. Tas buluk Vian juga tidak ada di sana.
Juan kembali ke bawah. Bik Ina dan Jero masih ada di sana. Mereka berdua menatap Ranti. Mereka bertanya tanya ntah siapa wanita yang duduk manis di kursi meja makan.
"Bik Ina, Jero. Apa kalian berdua yakin kalau Vian belum berangkat kerja?" tanya Juan lagi.
Mereka berdua mengangguk dengan yakin. Mereka sama sekali belum melihat Vian dari pagi.
"Dia sudah tidak ada di kamarnya." teriak Juan.
Juan mengambil ponsel miliknya. Dia menekan nomor Vian yang sudah hafal di kepalanya. Vian sama sekali tidak mengangkat panggilan itu.
Juan menatap ponsel miliknya. Dia kembali mengulang panggilannya. Tetapi hasilnya tetap sama. Vian tidak mengangkat panggilannya.
"Huft. Kemana ni anak." ujar Juan emosi.
"Sabar sayang. Palingan dia udah di rumah sakit." ujar Ranto dengan mesra.
Bik Ina dan Jero yang mendengar panggilan Ranti kepada Juan membuat mereka saling memandang. Mereka juga sama sama mengangkat pundaknya tanda tidak mengerti.
"Cepat habiskan makanan kamu. Kita berangkat sekarang." ujar Juan kepada Ranti.
Mood Juan langsung memburuk seketika.
"Kenapa datang nggak besok aja." teriak Juan kepada Bimo.
Bimo yang heran menatap Jero. Jero menggeleng.
"Kamu pergi ke rumah sakit. Pastikan Nyonya muda ada di sana. Setelah itu kasih kabar ke saya." ujar Juan.
"Siap Tuan Muda." jawab Jero.
Jero langsung berangkat menuju rumah sakit. Dia tidak mau Tuan Mudanya semakin marah lagi.
Juan naik ke mobilnya dengan Ranti. Bimo heran kenapa Juan bisa bersama Ranti.
"Apa yang terlewatkannya sama gue kemaren?" ujar Bimo.
"Antar Ranti ke apartemennya dulu Bim. Setelah itu baru ke kantor." ujar Juan.
Bimo mengarahkan mobil ke apartemen Ranti. Di sepanjang perjalanan Ranti menggenggam tangan Juan terus. Dia tidak melepaskan tangan Juan.
"Kayak orang buta aja." ujar Bimo yang memang dari dahulu tidak suka dengan Ranti.
Saat mau turun mobil, Ranti mengecup bibir Juan. Juan menerima dengan senang hati. Hal ini membuat Bimo kaget dengan apa yang dilihatnya. Juan benar benar payah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Sulati Cus
giliran istri cm ngobrol doank sm cowok cemburu nya selangit giliran dia mlh sarapan bibir... g ada perasaan dasar suami minus akhlak
2022-09-15
0
Rice Antu
laki laki kurangajar si juan
2022-03-17
1
Fherly Pasaeno
emang uler nangka tuh ranti
2022-01-29
1