Selesai menikmati makan malamnya sambil menonton serial drama yang sedang naik daun itu, apalagi kalau bukan olang olang putui. Serial drama yang sangat luar biasa boomingnya, ditonton mulai dari ibu ibu sampai bapak bapak. Vian pergi meletakan peralatan makan yang siap dipakainya itu ke dapur.
"Ngapain lagi ya?" ujar Vian sambil duduk di sofa ruang tamu.
Vian memang berniat untuk menunggu kedatangan suaminya. Dia tidak ingin durhaka terhadap suami. Makanya dia menunggu kepulangan Juan tanpa tau akan sampai jam berapa.
"Mending nelpon Mami." ujar Vian.
Vian mengeluarkan ponselnya dari saku baju tidur. Dia akan menghilangkan kegabutannya dengan menghubungi orang tuanya yang sudah lumayan lama tidak dihubunginya. Vian memencet angka tiga dan langsung terhubung dengan nomor Mami. Vian menunggu beberapa saat sampai panggilannya diangkat Mami.
"Hallo Vian, ada apa nak?" tanya Mami dari seberang sana yang sedang duduk dengan Papi.
"Hallo Mami, nggak ada apa apa Mi. Vian cuma kangen dengan Mami. Mami dan Papi sedang ngapain?" tanya Vian sambil memasukkan sepotong puding kedalam mulutnya.
"Sedang nonton Vian. Suami kamu kemana?"
"Oh. Bang Juan sedang keluar Mi. Katanya tadi ada sedikit pekerjaan yang harus dilakukan dengan Bimo." jawab Vian yang tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya.
"Mami udah dulu ya, Bang Juan sepertinya udah pulang." ujar Vian berusaha mengelak dari pertanyaan pertanyaan Mami yang akan mengorek urusan rumah tangganya dengan Juan.
"Oke Sayang. Kapan kapan datang ke rumah ya Nak. Mami kangen." ujar Mami.
"Oke Mi." ujar Vian yang memang juga kangen dengan Papi dan Mami.
Vian melanjutkan memakan puding buahnya, dia melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi tanda tanda kedatangan Juan belum juga ada.
"Kemana tu orang ya. Dasar otak gesrek." ujar Vian dengan emosi.
Vian membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia berbaring sambil memainkan ponsel miliknya. Dia melihat lihat video pacah paruik dari daerah P.
Vian sebenarnya tidak seluruhnya mengerti bahasa yang dipakai orang tersebut. Tetapi saat orang itu tertawa maka Vian juga akan tertawa. Setelah begitu lama menikmati video pacah paruik, Vian menjadi paham sedikit demi sedikit bahasa dari daerah P.
"Eeee geleder" ujar Vian saat melihat di video seorang wanita menjambak rambut selingkuhan suaminya.
"Eeeee kau nan engak nio jo pajatu. Pandai lo bongi ka urang" (kamu yang bodoh mau dengan dia, bisa pula marah ke orang) ujar Vian dengan emosi.
Semua tingkah laku Vian diamati oleh Jero yang berada di balik sebuah tonggak rumah yang besar. Jero menikmati setiap perubahan emosi Vian. Malahan Jero ikut tertawa mendengar Vian yang berbicara memakai bahasa daerah P.
"Nyonya Nyonya, kamu memang pintar. Menyesal aku saat menolak ide orang tuaku." ujar Jero sambil menatap Vian.
Vian yang lelah menonton video, meletakkan ponsel miliknya di atas badannya. Dia tanpa sadar sudah tertidur. Jero yang melihat itu langsung kembali ke kamarnya di rumah bagian belakang. Dia tidak ingin ketahuan oleh orang lain sedang menatap dan mengamati tingkah laku Nyonya Muda itu dari balik tonggak.
Juan yang sedang asik reuni tidak sadar jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dia keasikan ngobrol dengan sahabat sahabatnya waktu SMA. Juan sudah meminum minuman beralkohol lebih dari kadar yang diperbolehkan untuk membawa mobil. Tetapi yang namanya Juan Alexsander tidak bisa dilarang oleh siapapun kecuali oleh Nyonya besar.
"Juan, loe nggak pulang?" tanya Ranti. Ranti adalah seorang wanita jendis yang dari dulu sangat tergila gila kepada Juan. Dia terpaksa menikah karena desakan orang tuanya, tetapi cintanya kepada Juan tidak pernah luntur.
"Nanti. Loe nggak pulang?" tanya Juan sambil meraba bagian kaki Ranti yang tidak tertutupi pakaiannya yang sangat pendek itu.
"Bentar lagi." jawab Ranti yang menikmati rabaan Juan.
Beberapa teman laki laki Juan melihat hal itu hanya bisa geleng geleng kepala. Seorang Juan Alexsander kalau dalam keadaan sadar tidak akan melirik seorang wanitapun. Tetapi kalau sudah berada dalam pengaruh alkohol, maka hal yang tadi tidak akan terjadi. Juan akan dengan sangat senang hati melayani semua perempuan itu.
"Juan ayok pulang." ujar salah seorang sahabat Juan.
Juan berdiri, tapi saat ini kepalanya sudah luar biasa pusing akibat pengaruh alkohol.
"Waduah dia mabuk berat lagi. Siapa yang akan nganterin dia ke rumah?" ujar salah satu teman mereka.
Para pria saling menggeleng, mereka sudah ada janji dengan kekasih mereka masing masing. Mereka tidak ingin telat datang ke apartemen kekasih mereka.
"Ya udah biar gue aja." ujar Ranti menawarkan diri mengantar Juan ke rumahnya.
"Mobil loe?" tanya salah satu dari mereka.
"Nggak bawa mobil. Tadi gue dianter." jawab Ranti.
"Oke. Kami titip dia ke elo." ujar para laki laki.
Ranti kemudian memberdirikan Juan. Dia membawa Juan keluar dari club malam itu. Ranti sangat senang bisa mengantar Juan. Sampai di dalam mobil, Ranti membuka dua kancing kemeja bagian atasnya. Dia meletakkan kepala Juan kebagian yang terbuka itu. Ranti mengambil beberapa fhoto dengan pose begitu. Ranti sangat senang saat melihat fhoto yang diambilnya.
Setelah mendapatkan fhoto yang membuat Ranti puas. Ranti kembali meletakkan kepala Juan dengan hati hati ke sandaran kursi. Juan sebenarnya masih sadar saat Ranti melakukan hal tadi. Tapi dia ingin Ranti tidak mengetahui kalau dia sadar. Juan ingin tau Ranti mau ngapain dengannya. Ternyata hanya mengambil fhoto doang. Lagian Juan juga menikmati saat Ranti meletakkan kepalanya dibagian empuk empuk kenyal itu.
Juan yang sudah tidak tahan lagi melihat pemandangan indah disampingnya langsung pura pura batuk saat dia terbangun dari tidurnya. Kepala Juan memang masih sangat luar biasa pusing. Bisa dikatakan dia hanya seperempat sadar.
Juan dengan gayanya yang tidak sadar membaringkan kepalanya ke atas paha mulus Ranti yang tidak tertutup pakaian itu. Juan kemudian memainkan lidahnya di sana. Hal itu sukses membuat Ranti susah berkonsentrasi.
"Jangan lakukan itu Juan. Gue nggak mau berakhir di rumah sakit atau di kuburan." ujar Ranti menghentikan kegiatan aneh Juan.
"Loe katanya mabok, tapi menjilat bisa juga." lanjut Ranti sambil tersenyum saat Juan sudah tidak melakukan hal gila itu lagi.
"Hahahahaha. Gue emang mabok, tapi saat melihat yang indah indah mabok gue makin menjadi jadi." jawab Juan sambil menceracau tidak jelas.
Ranti melajukan mobil Juan dalam kecepatan sedang. Dia tidak ingin kemaleman nanti saat mau pulang ke apartemennya.
Setelah berkendara empat puluh lima menit, mobil masuk ke dalam gerbang mansion Alexsander. Ranti menatap dengan kagum kemegahan rumah itu. Dia membayangkan kalau dia menjadi Nyonya di rumah itu, maka semua orang akan melayaninya.
Ranti memarkir mobil Juan di depan pintu rumah utama. Vian yang mendengar bunyi mobil berhenti langsung berdiri dan membukakan pintu rumah. Betapa kagetnya Vian saat melihat seorang wanita turun dari kursi pengemudi. Wanita itu berjalan dengan santainya membuka pintu penumpang dan membantu serta menopang Juan turun dari dalam mobil.
Ranti yang memakai baju seksi membuat Vian mual melihatnya. Apalagi dengan dandanan menor dan dua kancing baju yang terbuka.
"Ini siapa? ***** kah? Masak iya Juan main dengan *****?" ujar Vian berkomentar sendiri.
Ranti mengacuhkan Vian. Juan yang melihat sekilas ada Vian, langsung berakting memeluk Ranti. Dia mengacuhkan saja istrinya itu. Vian yang diacuhkan Juan, juga acuh saja saat Juan dibantu Ranti masuk ke dalam rumah.
Saat Ranti mau masuk ke dalam lift. Vian sudah tidak bisa lagi mentolerir kejadian ini. Dia siap berperang besok pagi dengan suaminya itu.
"Ehem. Maaf Nona, Anda sadar Anda dimana?" tanya Vian kepada Ranti.
"Sadar. Ini adalah rumah kekasih saya. Jadi saya berhak dong untuk mengantarkan dia ke dalam kamarnya. Kamu tidak lihat dia sudah mabok." ujar Ranti menantang Vian.
"Oh maaf. Saya tidak tau kalau dia adalah kekasih Anda. Kalau begitu, silahkan antarkan dia. Kamarnya pasti Anda sudah tau. Saya duluan." ujar Vian.
Juan tidak menyangka Vian akan berbuat seperti itu. Juan berharap tadi Vian mempertahankan dan mengatakan kalau dia adalah istri Juan. Tetapi sayangnya Vian tidak mengatakan hal itu.
Vian melangkahkan kakinya dengan ringan masuk ke dalam kamar. Dia sama sekali tidak cemburu dengan apa yang dilakukan oleh Juan dan Ranti.
Ranti mengantarkan Juan ke kamarnya. Dia membaringkan Juan ke atas kasur. Juan yang sedang emosi dengan Vian, merengkuh Ranti untuk tidur dengannya. Ranti dengan sukarela menerima perlakuan Juan itu. Mereka berdua tidur dengan saling memeluk. Satu memeluk dalam amarah ke istri, sedangkan yang satu lagi memeluk dengan bahagia keinginannya terwujud.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Fatma Kodja
dasar suami laknat, tinggallin aja, giliran Zian ngobrol dengan laki" dia langsung kdrt, padahal dia malah lebih parah membawa perempuan yang statusnya cuma teman kedalam kamar tidur😑😑😑😑
2022-01-29
4
Ratna Aza
enek juga sm kelakuan s Juan 😡lanjutttt Thor klu bisa double up nya thor 👍👌🌹💐
2022-01-29
3
Anvi Meiza Antony
lanjut kaka...
2022-01-29
1