Bagus. Saya suka suami yang setia dan nggak mata genit." ujar Vian sengaja memuji Jero di depan suster yang tadi berusaha genit ke Jero.
Vian dan suster masuk ke dalam ruangan operasi. Jero kembali menunggu di pintu masuk ruangan. Dia terlihat bahagia dengan segala ucapan yang diberikan Vian kepada dirinya. Ucapan memuji dari Vian tentang keberadaan Jero.
Jero menunggu Vian sampai selesai di depan ruangan operasi. Saat dia berjaga itu ponsel miliknya berdering. Dia meraba saku celananya dan melihat panggilan itu berasal dari Tuan Muda.
"Hallo Tuan Muda" sapa Jero dengan hormat walaupun hatinya benar benar marah dengan Juan Alexsander.
"Hallo Jero. Kamu dimana sekarang?" tanya Juan dengan nada dingin, ciri khas dari seorang Juan Alexsander saat berbicara dengan orang yang menurutnya tidak penting.
"Sedang di depan ruangan operasi Tuan Muda." jawab Jero dengan santai ala dirinya yang sebenarnya.
"Siapa yang operasi?" tanya Juan mulai sedikit panik saat mendengar kata operasi diucapkan oleh Jero.
"Saya tidak tau Tuan Muda siapa yang operasi. Sa"
"Kalau tidak ada yang operasi kenapa kamu berdiri di sana Jero. Kamu saya suruh menunggui Vian bukan menunggui orang yang sedang operasi. Kamu mengerti tidak dengan perintah yang saya berikan selama ini Jero." ujar Juan dengan nada emosi.
"Maaf Tuan Muda. Saya di depan ruangan operasi karena menunggu Nyonya yang sedang melakukan operasi terhadap pasiennya." ujar Jero sambil menahan senyum dan tawanya. Jero takut nanti dia melepaskan tawanya akan mengundang malapetaka bagi dirinya sendiri. Walaupun sebenarnya bagi Jero tidak berpengaruh apapun.
"Oh baillah. Tolong katakan kepada Vian, saya akan kembali lima hari lagi. Jadi jangan pernah cari saya atau menghubungi saya." ujar Juan.
"Apa tidak sebaiknya Tuan Muda saja yang menghubungi Nyonya Muda?" ujar Jero yang malas menyampaikan hal itu kepada Vian.
"Saya malas berbicara dengan wanita tidak tau diuntung itu." jawab Juan.
"Baik Tuan Muda akan saya sampaikan kepada Nyonya Muda." ujar Jero yanh akhirnya mengalah untuk mengatakan hal itu kepada Vian.
Juan tanpa permisi mematikan sambungan telponnya dengan Jero. Jero menatap lama ponsel abal abal miliknya itu.
"Awas loe Juan." ujar Jero menatap ponselnya.
Jero kembali memasukkan ponselnya ke dalam celana. Dia kembali berdiri di depan pintu ruangan operasi. Jero berdiri diam sambil memikirkan berbagai hal yang harus dilakukannya secara senyap itu.
Jero mengambil ponsel miliknya yang satu lagi. Dia membaca email yang masuk. Setelah itu Jero membalas email tersebut.
Tepat dua jam lamanya operasi dilakukan. Lampu ruangan berubah warna menjadi hijau. Seorang dokter keluar untuk berbicara dengan keluarga pasien. Jero mendengar semuanya dengan saksama.
Saat itulah Vian keluar dari dalam ruangan operasi. Dia terlihat tersenyum bahagia. Semua itu tidak terlepas dari pandangan dan penglihatan Jero.
" Kok kelihatannya sedang sangat bahagia sekali. Ada apa?" tanya Jero melihat ke dalam mata Vian.
"Tau nggak salah satu hal yang membuat CEO bahagia apa?" tanya Vian kepada Jero.
"Saat bisa deal besar dengan perusahaan ternama." jawab Jero.
Jawaban Jero membuat Vian menatap lama dirinya.
" Ini pengalaman, kan aku udah lama bekerja dengan Tuan Muda. Makanya tau kalau CEO itu akan bahagia saat bagaimana." ujar Jero yang tidak ingin dicurigai oleh Vian.
"Jadi pertanyaannya sekarang, kenapa dokter keluar ruangan operasi bisa sebahagia ini?" tanya Jero giliran bertanya kepada Vian.
"Karena," ujar Vian berjalan mundur sambil nenatap Jero.
"Karena" ujar Jero mengulang perkataan Vian.
"Karena aku berhasil menyelamatkan nyawa pasien yang sudah dinyatakan kritis." ujar Vian dengan bangganya.
"Wow selamat sayang. Kamu hebat." ujar Jero dengan nada bangga luar biasa kepada Vian.
"Jangan panggil sayang sayang, nanti di denger orang jadi gawat." ujar Vian mengingatkan Jero.
"Maaf." ujar Jero yang tau kesalahannya dimana. Vian benar, kalau ada orang yang mendengar dia memanggil sayang kepada Vian, maka hasilnya akan sangat buruk sekali.
Vian dan Jero kembali ke ruangan Vian. Kali ini Jero tidak berdiri di depan ruangan Vian lagi. Melainkan dia ikut masuk ke dalam ruangan. Sebelum menutup pintu ruangannya. Vian memutar papan kecil dengan tulisan open menjadi closed.
Jero duduk di sofa depan meja kerja Vian. Sedangkan Vian membaca surat yang masuk.
"Akhirnya" ujar Vian bersorak nyaring saat mendapat sebuah surat.
"Kenapa dapat surat bahagia sekali?" tanya Jero kepada Vian yang tingkah bahagianya langsung terlihat saat dia menerima sebuah surat.
"Gimana nggak akan bahagia aku dapat balasan surat ini. " ujar Vian sambil memperlihatkan kepada Jero sampul surat itu.
"Boleh aku membacanya?" tanya Jero.
" Kita baca berdua. " ujar Vian.
Jero membuka amplop yang diberikan Vian kepadanya. Dia membuka dengan sangat hati hati dan pela. Dia tau surat di dalam amplop itu adalah surat yang sangat penting bagi Vian.
Jero melihat surat tersebut. Dia sudah tau apa isi dari surat yang sekarang dipegangnya. Dia sangat bangga dengan Vian.
" Mana aku bisa membacanya. Semuanha bahasa Inggris. " ujar Jero memberikan surat itu kembali kepada Vian.
Vian kemudian membaca surat itu
" Intinya, aku diterima untuk melanjutkan mengambil spesialis di univeesitas O di negara E. " ujar Vian dengan nada bangga. Vian kemudian menatap Jero. Jero tidak menunjukkan ekspresi apapun dari yang dibaca Vian untuk dirinya.
" Apa kamu tidak bangga dengan apa yang aku raih? " tanya Vian kepada Jero.
Jero kemudian berdiri. Vian yang melihat Jero berdiri akhirnya ikut berdiri juga. Jero kemudian menggendong Vian.
" Aku sangat bangga dengan dirimu. Aku bangga sekali. Akhirnya cita cita kamu untuk kuliah di kampus itu akhirnya terwujud juga. Selamat Vian. " kata Jero memuji Vian.
" Terimakasih banyak Jero. Sekarang turunkan aku. " ujar Vian.
Jero menurunkan Vian dari gendongannya. Mereka kembali duduk di sofa.
" Aku kira kamu tadi tidak bangga dengan keberhasilan aku untuk melanjutkan kuliah spesialis di negara itu. " ujar Vian menekurkan kepalanya dalam dalam.
" Hay, Tatap aku. Aku sangat bangga. Bagaimana caranya lagi untuk menunjukkan kepada kamu kalau aku sangat bangga. " ujar Jero sambil mengangkat dagu Vian dengan jari telunjuknya.
" Kamu lapar nggak? " tanya Vian kepada Jero.
Jero mengangguk. Dia memang lapar dari tadi.
" Kita pesan aja ya. Malas keluar panas. " kata Vian yang sebenarnya malas keluar ruangan bukan gara gara itu. Tetapi ada hal lain yang malas Vian mengakuinya di depan Jero.
Vian memesan makanan lewat aplikasi online seperti biasanya. Dia memesan tiga nasi padang dengan sambal yang berbeda. Tidak menunggu lama satpam mengantarkan pesanan Vian.
Vian dan Jero makan siang bersama. Mereka makan sambil mengobrol ringan. Rencananya Jero baru akan menyampaikan pesan dari Juan nanti saat mereka akan pulang ke mansion.
Selesai makan siang, Jero kembali berdiri di depan ruangan praktek Vian. Sebelumnya dia kembali membalik papan kecil itu menjadi open kembali. Vian duduk di ruangannya sambil membaca baca buku buku yang akan dipelajarinya nanti saat dia kuliah di kampus O.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Anvi Meiza Antony
makin penasaran siapakah jero...???
2022-02-08
0
Ratna Aza
Jero dan Vian apa sedang jatuh cinta💖💖💖aku dukung kalian🤗🌹💐🌹💐🌹
2022-02-07
1
Fatma Kodja
siapa sebenarnya Jero, tapi kayaknya Jero juga CEO seperti Juan hanya saja dia menyembunyikan latar belakangnya, mungkin aja Jero punya misi rahasia, semoga Jero orang baik yang nantinya akan membantu Clea untuk menjauh dari bian
2022-02-06
1