"Pulang lagi yuk udah jam enam. Tapi mau nengok raja ampat versi daerah sini." ujar Jero sambil membantu Vian berdiri dari atas dermaga.
"Ikannya mau dibawa pulang?" tanya Jero sambil mengangkat tempat ikan yang ada berisi beberapa ikan hias.
"Jangan. Cari perkara kita nanti." jawab Vian yang tidak mau lagi cari ribut dengan Juan.
Mereka bergandengan tangan menuju mobil. Semua ikan yang berhasil di pancing Jero sudah dikembalikan ke laut lepas. Jero dan Vian tidak berniat untuk membawa mereka pulang ke rumah.
"Aku ganti baju dulu ya. Tunggu di situ dulu." ujar Jero yang mengambil pakaiannya kembali ke atas mobil.
Jero kemudian berlari masuk ke dalam tempat berganti pakaian. Dia akan menyiram badannya terlebih dahulu dari sisa sisa air garam yang masih terasa lengket dibadannya. Setelah mandi, Jero memakai pakaiannya. Dia kembali ke saung tempat Vian berada. Ternyata di sana sudah ada dua gelas teh hangat yang tersaji.
"Kamu mesan teh hangat?" tanya Jero sambil duduk di sauang dan memakai sepatu kets nya kembali.
"Iya, dingin dingin gini enaknya memang minum teh hangat." jawab Vian sambil menyeruput teh hangat miliknya.
Jero juga meminum teh hangatnya. Dia menikmati teh hangat yang masuk ke dalam perutnya.
"Yuk jalan udah sore." ajak Jero kepada Vian yang masih memandang lautan.
Vian mengangguk.
"Kamu tunggu sini dulu, biar aku yang bayar semuanya." kata Jero sambil pergi membayar apa saja yang telah mereka makan tadi ke tempat penjual makanan yang ada di sana.
Vian kemudian bersiap siap, dia memasang sepatu ketsnya kembali. Setelah itu Vian naik ke atas mobil. Dia berkaca dan ternyata wajahnya cukup berminyak karena panas matahari. Vian mengambil bedak dari dalam tas kecilnya. Dia kembali memoleskan bedak ke wajahnya untuk menghilangkan minyak wajah.
Jero yang telah selesai membayar semua makanan kembali ke mobil. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang saat melihat Vian sudah duduk di kursi kemudi.
"Wah beneran kamu yang mau mengemudi?" tanya Jero.
"Nggak merasa rugi nanti, karena tempat yang akan kita tuju sekarang memiliki pemandangan yang indah indah." lanjut Jero menggoyahkan niat Vian.
Vian menatap Jero. Dia terlihat bimbang antara memenuhi janjinya karena kalah atau ingin menikmati pemandangan indah itu.
"Udah aku aja yang mengemudi, kamu duduk manis dan nikmati pemandangan yang ada." ujar Jero yang tau Vian susah untuk memilih karena kedua duanya penting bagi Vian.
Vian keluar dari mobil, dia dan Jero berganti tempat duduk. Setelah yakin Vian aman duduk di sebelahnya, Jero baru melajukan mobilnya menuju tempat yang dikatakan orang bisa melihat raja ampatnya pulau S.
"Nanti tolong fhoto aku di sana ya." ujar Vian dengan semangat.
"Terus mau diupload ke sosmed?" tanya Jero kembali.
"Ogah. Mana ada sosmed. Aku terkahir main sosmed udah terlalu lama. Cuma nengok sosmed sering uploadnya jarang." ujar Vian yang sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia mengupload foto video atau status di sosmed miliknya.
"Oke sip, nanti aku fotoin. Mau gaya apa terserah." ujar Jero.
Jero melajukan mobilnya tidak beberapa jauh dari tempat mereka berada tadi. Jero kemudian memberhentikan kendaraannya di puncak tertinggi yang bisa melihat keindahan alam raja ampat pulau S.
"Ayuk turun." ujar Jero.
Jero dan Vian kemudian turun dari mobil. Mereka kemudian duduk di kap mobil yang tidak terasa panas itu. Mereka menatap pulau pulau yang terletak di tengah tengah laut itu dengan begitu banyak pulau.
"Wow welcome to raja ampat pulau S." ujar Vian sambil merentangkan tangannya lebar lebar. Jero tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Dia merekam tingkah lucu yang ditampilkan Vian dengan bebas dan tanpa beban.
"Jero ini keren sangat keren." kata Vian dengan senyumnya yang manis dan menawan.
"Ada yang lebih keren lagi. Tapi mayan jauh. Kalau kita ke sana takutnya keburu gelap, kita nggak akan bisa lihat apa apa lagi." ujar Jero sambil melihat hari yang mulai gelap.
"Yah. Tapi fhoto aku dulu." kata Vian.
"Oke."
Vian memberikan ponselnya kepada Jero. Jero mengambil ponsel yang ternyata bukan keluaran terbaru itu. Jero menatap Vian. Vian hanya tersenyum saja. Dia tau apa maksud dari tatapan Jero tadi.
"Santai aja, bagi aku nggak penting ngikutin trend. Ngikutin trend itu masa lalu, sekarang yang ada tinggal menikmati hidup yang diberikan Tuhan kepada aku." jawab Vian sambil tersenyum menatap Jero.
"Sana ambil pose secantik mungkin, biar aku fhotoin." ujar Jero meminta Vian untuk bergaya.
"Udah cantik juga ngapain pake menggaya." kata Vian.
Vian berdiri di tengah jalan yang sepi itu. Dia mulai berpose. Jero mengambil semua fhotonya. Vian berkali kali mengubah gayanya, Jero dengan setia mengambil pose Vian.
"Udah capek." kata Vian sambil meminta ponsel miliknya.
Jero memberikan ponsel tersebut. Vian ingin melihag lihat hasil fhotonya.
"Di mobil aja. Hari udah mau gelap. Nanti sampe rumah kemaleman lagi. Bisa perang dunia ketiga lagi." ujar Jero mencegah Vian untuk melihat lihat fhotonya di luar mobil.
Vian mengangguk setuju. Dia dan Jero kembali masuk ke dalam mobil. Jero melajukan mobilnya menuju jalan pulang. Dia tau dia akan kemaleman sekali sampai di rumah. Vian juga tau akan hal itu.
"Vian, ada yang mau aku tanyain sebenarnya dari tadi. Tapi aku takut merusak kebahagiaan kamu." kata Jero dengan nada serius.
"Besok aja ya. Aku tau kok apa yang mau kamu tanyain. Tapi aku malas untuk menjawabnya sekarang. Besok pagi aja ya pas jalan ke rumah sakit." kata Vian menjawab pertanyaan Jero.
Jero mengangguk, dia tidak ingin merusak kebahagiaan Vian yang telah susah susah diwujudkan Jero hari ini seharian. Mobil meluncur pulang kembali ke mansion keluarga Alexsander.
"Jero, pelan pelan aja. Ngapain ngebut kayak gini. Aku takut." ujar Vian yang merasa kalau Jero membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
"Maaf aku kira nggak ngebut. Ternyata ngebut. Maaf ya." kata Jero sambil menggenggam tangan Vian.
"Nggak apa apa." jawab Vian.
Jero kembali melajukan mobilnya dalam kecepatan biasa saja. Dia tidak mau membuat Vian cemas dan kembali takut. Saat masuk ke daerah pelabuhan, Vian meminta Jero untuk berhenti sesaat. Vian menatap ke kaca, dia menikmati setiap lampu kapal yang bercahaya itu.
"Jero, pasti keren kalau kita naik kapal" ujar Vian mengucapkan salah satu keinginannya.
"Sabar. Nanti kita akan naik kapal." jawab Jero.
'Sabar Vian, aku akan mewujudkan semua keinginan kamu' ujar Jero dalam hati.
'Ini adalah janji aku' lanjut Jero.
Jero membiarkan Vian menyerap semua kesenangan yang sedang dinikmatinya sekarang. Jero tidak lagi memaksa Vian untuk pulang. Dia membiarkan saja Vian dengan kesenangannya.
"Jalan Jer." ujar Vian setelah puas menatap lautan lepas dengan puluhan bahkan ratusan kapal berada di atasnya.
Jero melajukan kembali mobilnya.
"Langsung pulang?" tanya Jero kepada Vian.
"Yup. Langsung pulang saja." jawab Vian.
Jero melajukan mobilnya menuju jalan pulang ke mansion Alexsander. Jero sebenarnya tidak ingin pulang, dia tidak ingin berpisah cukup lama dengan Vian. Tapi apa mau dikata semua itu tidak mungkin terjadi.
"Apa yang dipikirkan?" tanya Vian saat melihat Jero terdiam cukup lama.
"Nggak ada" jawab Jero berbohong.
"Jangan boong. Tu terlihat dari wajah kamu, kalau kamu sedang boong." kata Vian lagi.
"Hehehehehe. Maaf kelihatan banget ya?" kata Jero sambil melihat wajahnya di kaca spion mobil.
"Apa yang dipikirin." tanya Vian sekali lagi.
"Lagi mikirin malas pisah sama kamu." jawab Jero dengan jujur.
"Hahahahahaha. Mana ada pisah. Kita satu rumah. Bedanya aku di rumah utama. Kamu di rumah belakang." jawab Vian sambil tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia karena Jero tidak ingin berpisah dengan dia.
"Iya juga ya. Pokoknya tiap hari harus lihat wajah tersenyum kamu." kata Jero.
"Janji setiap pagi sebelum kita berangkat dan turun dari mobil aku akan tersenyum bahagia, apapun yang terjadi." janji Vian kepada Jero.
"Janji?" tanya Jero ingin memastikan ucapan Vian tadi
"Janji seorang Vian Bramantya bisa di pegang dan dibuktikan." jawab Vian meyakinkan Jero.
"Oke sip"
Mobil berbelok masuk ke dalam parkiran mansion keluarga Alexsander. Jero menurunkan Vian di pintu masuk mansion. Setelah yakin Vian masuk ke dalam kamar dengan selamat tanpa ada hardikan dsri Juan, barulah Jero menuju kamarnya sendiri. Tetapi sebelum itu dia sudah memarkir mobil di tempat biasa.
Jero berjalan masuk menuju dapur tempat Bik Ina berada. Jero ingin memastikan apakah Tuan Mudanya sudah pulang atau belum.
"Malam bibik cantik." sapa Jero dari belakang.
"Bisa nggak untuk nggak ngagetin orang yang udah tua ini." ujar Bik Ina protes.
"Hehehehe. Kok sepi Bik?" tanya Jero memulai introgasi tak terlihatnya.
"Nyonya muda kan baru balik sama kamu. Sedangkan Tuan Muda ada perjalanan bisnis keluar kota selama tiga sampai empat hari. Gitu sih katanya tadi." kata Bik Ina memberitahukan kepada Jero kenapa rumah terlihat sepi.
"Oooo. Baiklah." jawab Jero.
Jero mengambil piring dan mengisinya dengan makanan, dia sangat lapar sekali. Saat itu Vian turun memakai daster tipis yang membuat pakaian dalamnya kelihatan membayang. Jero mengalihkan wajahnya. Dia tidak mau melihat hal itu dan membuat semuanya menjadi runyam.
Vian yang kaget ada Jero, berlari kembali ke kamarnya dengan membawa sebotol air mineral. Vian sadar kalau dia sedang memakai daster tipis yang tidak layak dilihat oleh Jero sekarang.
Jero yang melihat Vian berlari karena kaget ada dirinya, dia tersenyum bahagia. Vian ternyata wanita baik baik yang tidak mau bagian terlarangnya terlihat oleh orang lain
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Ratna Aza
sepertinya Jero sama Vian saling suka😘apa mereka akan melakukan hubungan terlarang🤔tp aku mendukung kalian🤗lanjut kak aku makin penasaran dengan ceritanya👍👌💐🌹💐🌹🌹💐
2022-02-06
1