Bangun bangun bangun Vian bangun sudah pagi. Bangun bangun. Bunyi alarm ponsel milik Vian.
Vian yang masih malas untuk bangun dari tidurnya menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya. Tetapi mata yang sudah terbiasa terbangun karena mendengar bunyi alarm langsung tidak mau dibawa tidur kembali.
Vian turun dari ranjang, dia membasuh wajahnya membersihkan sisa sisa bangun tidur. Setelah membersihkan wajah, Vian turun ke dapur, dia akan memasak sarapan seperti biasa.
Vian membuka lemari pendingin, dia melihat di sana masih ada cumi dan sayuran segar. Vian mengeluarkan semua keperluan untuk memasak. Dia berencana akan membuat cumi goreng tepung, sayur capcay dan nasi goreng.
Vian mengolah masakannya dengan begitu cermat. Bik Ina yang baru saja selesai mengerjakan ibadah langsung keluar menuju dapur saat mencium aroma wangi dari tumisan bawang putih yang sedang digoreng Vian.
"Nyonya biar saya yang masak Nyonya." ujar Bik Ina.
"Biar aja Bik. Saya sudah biasakan masak dari kemaren kemaren." ujar Vian.
Bik Ina sudah tidak bisa lagi ngomong apa apa. Dia akhirnya mengalah dan pergi membersihkan meja makan. Dia harus memastikan meja tersebut mengkilap dan tidak ada debu barang seujung kukupun. Para pelayan yang lain ada yang menyapu dan mengelap semua perabotan rumah. Juan Alexsander terkenal sebagai manusia yang sangat bersih dan rapi.
Selesai memasak semua menu sarapan Vian menata di meja makan panjang luar biasa itu. Dia sudah memisahkan antara sarapannya dengan Juan. Vian memasukkan bekal sarapannya ke dalam kotak bekal yang biasa dia bawa. Setelah selesai menata sarapan di meja makan, Vian kemudian kembali menuju kamar, dia akan membersihkan badannya dan bersiap siap menuju rumah sakit.
Setelah selesai bersiap siap, Vian dengan semangat menuju rumah sakit. Dia sama sekali tidak melihag ke arah meja makan dimana di sana sudah duduk Tuan muda pemilik rumah itu.
"Ehem." bunyi suara batuk Juan yang membuat langkah kaki Vian langsung berhenti mendadak.
"Pinter. Apa begitu ajaran Ibu kamu, pergi keluar rumah tidak pamitan dengan suami?" ujar Juan dengan nada dingin.
Vian memutar badannya. Dia menatap Juan.
'Apa sepagi ini harus perang' ujar Vian dalam hati.
"Apa kamu sudah bisu sehingga tidak bisa ngomong pamit saat mau pergi dari rumah? Atau kamu kira saya patung?" ujar Juan dengan menggebu gebu.
Vian hanya bisa diam saja. Dia tidak mau melawan suaminya itu. Hari masih pagi, dia tidak mau merusak mood nya yang sedang bagus.
"Duduk." ujar Juan sambil menunjuk kursi tepat di sebelah dia duduk.
Vian masih berdiri, dia melihag jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh. Dia berhitung di kepalanya, kalau dia memilih untuk duduk dan sarapan maka dia akan telat sampai di rumah sakit. Vian benar benar tidak tau harus berbuat apa.
"Bukan saya tidak mau Tuan. Tapi saya akan terlambat." ujar Vian memberanikan diri menjawab perintah dari Juan.
"Bik Ina" teriak Juan.
Bik Ina yang mendengar teriakan yang begitu menggelegar langsung berlari dari arah dapur.
"Saya Tuan Muda." ujar Bik Ina.
"Tolong pindahkan sarapan saya ke dalam kotak bekal. Saya akan makan di kantor. Nyonya takut terlambat." ujar Juan.
Bik Ina menyiapkan bekal untuk di bawa Juan ke kantor.
"Tuan lebih baik Tuan sarapan saja. Saya akan pergi sendirian." ujar Vian dengan terbata bata.
"Tidak ada yang bisa membantah perintah saya di rumah ini Vian. Camkan itu." ujar Juan dengan dingin.
Vian akhirnya memilih untuk diam. Dia sudah tidak bisa lagi melawan apa yang dikatakan oleh Juan. Diam lebih baik dalam menghadapi Juan. Semua itu dipelajari Vian selama satu bulan kurang dalam menjalani pernikahan semunya itu.
Bik Ina selesai menyiapkan bekal sarapan untuk Juan. Vian mengambil kotak bekal milik Juan. Saat itulah Juan melihat tas yang dipakai Vian terlihat sudah sangat usang.
Ingin rasanya Juan berteriak mengatakan kepada Vian untuk tidak lagi memakai tas yang sudah buluk itu. Tetapi Juan mengurungkan niatnya. Dia lebih memilih jalan lain untuk menghentikan Vian memakai tas tersebut.
Jero melihat Tuan dan Nyonya sudah berjalan menuju mobil. Jero dengan sigap membukakan pintu mobil buat mereka. Juan dan Vian masuk ke dalam mobil.
"Kita antar Nyonya ke rumah sakit terlebih dahulu." ujar Juan.
Jero mengarahkan mobil menuju arah rumah sakit. Dia melajukan mobil dengan sedikit ngebut. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil sudah berbelok masuk ke dalam area rumah sakit.
Mobil tepat berhenti di lobby rumah sakit. Jero membukakan pintu mobil untuk Vian.
"Nanti pulang di jemput Jero. Kamu pulang jam berapa?" tanya Juan.
"Jam empat siap dinas." jawab Vian.
"Kalau begitu tunggu di sini saja. Saya akan jemput kamu saat pulang nanti." ujar Juan.
"Baiklah. Saya turun duluan. Hati hati." ujar Vian.
Vian turun dari mobil, setelah memastikan Vian sudah masuk ke dalam rumah sakit, Jero baru menjalankan mobilnya menuju perusahaan Alexsander Grub.
"Jero, mulai besok pagi, kamu melayani Nyonya. Saya akan meminta asisten saya Bimo untuk merangkap menjadi supir saya." ujar Juan memberitahukan kepada Jero tentang perubahan pekerjaan Jero.
"Siap Tuan." jawab Jero.
Mobil terus bergerak menuju perusahaan. Jero memang hanya seorang sopir, dia tidak ada bekerja di bagian lain di perusahaan Alexsander. Mobil bergerak masuk ke arah lobby perusahaan, seorang satpam membukakan pintu mobil untuk Juan keluar. Juan keluar dengan gagahnya, dia sudah ditunggu Bimo yang berkerja sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi Juan Alexsander.
Setelah memastikan Tuan Juan Alexsander masuk ke dalam perusahaan, Jero pergi memarkirkan mobilnya ke bestman tempat biasa mobil diletakan.
"Hay bro." sapa Jero kepada satpam yang berada di posnya.
"Hay. Gimana aman?" tanya satpam.
"Aman. Mulai besok gue nggak ke sini lagi. Gue pindah tugas." ujar Jero memberitahukan kepada satpam kalau dia dipindah tugaskan menjadi sopir pribadi Vian.
"Kemana?" tanya satpam.
"Jadi sopir Nyonya Vian." jawab Jero.
"Yah nggak ada lagi teman gue main game. Loe cepat kali mutasi bro." ujar satpam dengan wajah kecewa.
"Hahahahahaha. Sekali sekali gue singgah ke sini bro. Jadi supir Nyonya sepertinya tidak seribet jadi sopir Tuan." ujar Jero.
Mereka kemudian berbincang bincang ringan. Berbagai hal mereka obrolkan berdua. Jero dengan satpam sangat dekat sekali.
Saat mereka mengobrol itulah ponsel milik Jero berdering. Dia melihat nomor tak di kenal yang tampil di layar ponselnya.
"Hallo" ujar Jero menyapa orang yang menghubunginya.
Wajah Jero langsung berubah saat mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang menghubunginya.
"Eksekusi saja." ujar Jero.
Jero kemudian memutuskan panggilannya dengan orang yang menghubunginya itu. Setelah menerima telpon, Jero menjadi tidak mood sama sekali.
"Ada apa?" tanya satpam.
"Nggak ada apa apa." jawab Jero.
Sore harinya tepat pukul empat sore, mobil Juan Alexsander sudah berada di lobby rumah sakit. Vian yang ditunggu masih sedang berjalan menuju lobby.
Juan sama sekali tidak menghubungi Vian. Dia tidak mengabari kalau dia sudah berada di lobby rumah sakit.
Juan menatap lurus ke dalam rumah sakit, dia melihat Vian sedang bercanda dengan seorang dokter pria. Mereka bercanda sangat akrab sekali. Juan sama sekali tidak melihat keberatan di mata Vian. Vian begitu ceria terlihat saat mereka bercakap cakap.
Juan membuat wajahnya setegang mungkin saat Vian masuk ke dalam mobil. Perubahan raut wajah itu terlihat nyata oleh Jero.
"Maaf sudah menunggu lama." ujar Vian.
Juan tidak menanggapi permintaan maaf dari Vian.
"Jalan." ujar Juan kepada Jero.
Jero menjalankan mobilnya. Suasana di dalam mobil membuat Jero merasa di kuburan atau di kutub. Benar benar dingin sedingin es.
Acara diam diaman ini berlanjut sampai ke rumah. Juan meninggalkan Vian sendirian di dalam mobil. Malahan Juan tidak menunggu Jero membukakan pintu mobil untuknya.
"Sakit gigi kali." ujar Vian dengan gampangnya.
Jero yang mendengar hanya bisa tersenyum saja mendengar gumaman Vian yang ternyata besar itu.
Vian langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat senang Juan sedang dalam mode kulkas. Jadi dia bisa langsung beristirahat tanpa ada drama pertengkaran terlebih dahulu.
Hal yang sama juga berlaku kepada Juan. Juan juga langsung beristirahat setelah masuk ke dalam kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
ennita
lanjut😊
2022-07-21
0
Ratna Aza
kesel juga sm juan 😡lanjut kak💐🌹
2022-01-28
1
Jasmiati Emi
lanjut thor
2022-01-28
1