"Jero sini. Kamu mau kemana?" ujar Bik Ina memanggil Jero yang baru saja keluar dari dapur mengambil air mineral. Jero sebenarnya merasakan lapar di perutnya. Tetapi, karena dia segan, makanya dia memilih untuk menyumpal perutnya yang lapar itu dengan air mineral.
"Ada apa Bik?" ujar Jero sambil duduk di kursi sebelah Bik Ina yang masih kosong.
"Itu kenapa lagi Tuan dan Nyonya Muda. Kemaren ribut seperti dunia mau pecah., seperti di medan perang. Nah sekarang diam diaman serasa tinggal di kutub. Ada apa lagi coba?." ujar Bik Ina tidak mengerti dengan apa yang terjadi antara Tuan dan Nyonya mereka. Sepasang suami istri yang sangat susah untuk ditebak. Apalagi Tuan Muda mereka, bener bener tidak bisa ditebak sama sekali kelakuannya.
"Jadi ceritanya gini Bik. Tadi, Tuan menjemput Nyonya, nah ternyata Nyonya asik bercanda dengan seorang dokter yang ya gantenglah. Nah saat itu raut wajah Tuan sekaligus mood Tuan langsung berubah. Bener bener langsung jadi kulkas. Bibik nggak nengok bagaimana raut wajah Tuan Muda. Kalau bibik nengok, pasti bibik ketawa ngakak. Saya aja kalau bisa tadi ketawa, akan ketawa saya bik" ujar Jero menceritakan kejadian yang terjadi di rumah sakit.
"Serius? Apa Tuan Muda cemburu kali ya?" tanya Bik Ina yang mulai kepo dengan cerita Jero.
"Nah mana saya tau Bik. Mending bibik tanya langsung ke Tuan Muda, biar bibik dapat jawaban yang pasti dan jelas." ujar Jero sambil tersenyum jahil kepada Bik Ina. Jero sengaja mengatakan hal itu untuk melihat bagaimana reaksi dan wajah Bik Ina.
"Ogah Bibik mah. Yang ada Bibik lagi nanti yang dimarahi Tuan Muda. Kamu kayak nggak tau aja Tuan Muda marah seperti apa." ujar Bik Ina dengan wajah takut sedikit tak sudi berbicara hal itu dengan Juan.
"Tapi bibik penasaran. Sana tanyak aja." ujar Jero lagi.
"Ogah mah. Biar aja nggak tau dari pada harus masuk mulut buaya. Jadi santapan empuk. Gila aja kali." jawab Bik Ina yang sudah merinding duluan sebelum melakukan apa yang disarankan oleh Jero.
"Ngomong ngomong kamu udah makan belum?" tanya Bik Ina yang teringat Jero baru pulang dari kantor. Tapi tujuan sebenarnya untuk menghindar dari bullyan Jero, karena kekepoan Bik Ina tadi.
"Belum Bik. Ini laper tapi disogok atau disumpel pake air mineral." ujar Jero sambil mengangkat air mineral yang baru diambilnya dari dalam lemari pendingin.
"Duduk situ, Bibik ambilkan makanan. Rasanya tadi di dapur masih ada gulai kepala ikan." ujar Bik Ina.
"Gulai kepala Ikan? Mau banget bik, mau" ujar Jero dengan semangat mendengar gulai kepala ikan. Jero sudah bisa membayangkan bagaimana nikmatnya menghisap isap kepala ikan.
Bik Ina sangat baik kepada Jero. Bik Ina seorang wanita berumur enam puluh tahun. Dia sudah lama ikut bekerja dengan keluarga Alexsander.
"Makasi Bibik super duper cantik sekali." ujar Jero memuji muji Bik Ina.
"Hem makasi Tuan Muda." ujar Bi Ina.
Jero yang mendengar Bik Ina memanggil dirinya dengan sapaan Tuan Muda menatap lama ke arah Bibik Itu. Dia tidak menyangka Bik Ina akan memanggilnya seperti itu.
"Apa Bik Ina tau sesuatu ya?" ujar Jero pelan.
Bik Ina yang sebenarnya asal ngomong saja tidak paham kalau dia sudah membuat Jero menjadi berpikir keras.
"Jero ini makanannya. Kenapa kamu bengong? Kamu pengen dipanggil Tuan Muda?" tanya Bik Ina sambil duduk di kursi sebelah Jero.
"Tuan Muda dari hongkong. Uang aja pas pasan Tuan Muda apaab. Tuan Muda miskin bisalah tu." ujar Jero sambil mengambil piring yang diberikan oleh Bik Ina yang sudah berisi nasi dan lauk serta sayur yang luar biasa terlihat sangat nikmat.
"Bik Ina sudah makan?"
"Udah. Kamu aja yang makan. Bibik tinggal kedalam dulu ya. Mau menyiapkan menu makan malam." ujar Bik Ina.
"Oke Bik. Nanti piringnya aku antar ke dapur." ujar Jero.
Jero menikmati makan malamnya. Sedangkan Bik Ina sibuk berkutat di dapur.
"Bibik masak apa?" tanya Vian yang telah selesai membersihkan dirinya.
"Masak cumi saos padang, cah kangkung, ayam kecap Nyonya." jawab Bik Ina.
"Sini saya yang buat cah kangkungnya Bik." ujar Vian.
Vian mengambil alih masakan cah kangkung yang akan dibuat Bik Ina. Bik Ina hanya bisa pasrah saja karena Vian lebih berhak di dapur ini daripada dirinya.
Bik Ina yang melihat Vian dengan leluasa bergerak di dapur seperti orang yang telah terbiasa membiarkan saja Vian memasak untuk menu makan malam. Bik Ina kemudian pergi ke taman samping untuk menyiram bunga koleksi Nyonya besar.
Jero yang baru selesai makan langsung saja masuk.
"Duar" ujar Jero memukul pundak Vian.
Vian yang kaget langsung berbalik sambil mengangkat sendok goreng ke depan wajah Jero. Jero yang ternyata sudah salah mengagetkan orang langsung panik dan berwajah takut. Dia takut kalau Nyonya nya ini akan marah besar.
"Ma maafkan saya Nyonya." ujar Jero dengan terbata bata.
"Tidak apa apa Jero. Lain kali tolong lihat dulu siapa yang mau dikagetkan. Untung saya tidak punya riwayat jantung. Kalau ada maka akan selamat tinggal pada dunia." ujar Vian dengan santainya.
"Maafkan saya Nyonya." ujar Jero sekali lagi.
"Tidak apa apa Jero." jawab Vian.
Jero kemudian memilih untuk kembali ke belakang. Dia sangat malu dan segan dengan Nyonya Mudanya itu.
Bik Ina yang baru saja selesai menyiram tanaman melihat Jero termenung langsung menemuinya.
"Kenapa lagi anak muda?" tanya Bik Ina.
Jero kemudian menceritakan kejadian tadi kepada Bik Ina. Bik Ina yang mendengar langsung tertawa ngakak tidak tertahankan.
"Makanya jangan asal main kegetin orang aja. Tengok tengok dulu pastikan dulu." ujar Bik Ina.
"Hehehehe."
"Makan tu malu." ujar Bik Ina.
Makan malampun akhirnya tiba juga. Vian sudah menata meja makan dengan serapi mungkin. Vian juga telah mengganti pakaiannya dengan yang bersih.
"Bik, kemana Tuan muda?" tanya Vian melihat jam sudah lewat waktunya makan malam.
"Eh maaf Nyonya, Tuan muda tadi pamit. Dia pergi reuni sekolahnya." ujar Bik Ina yang lupa menyampaikan pesan Tuan Mudanya saat Vian membersihkan dirinya setelah selesai memasak menu makan malam.
"Oh baiklah."
Vian mengambil menu makan malam untuk dirinya sendiri. Dia berencana untuk makan malam di kamar saja.
"Bik, semua makan malam ini bagikan aja kepada semua pelayan. Saya ngambil hanya sepiring ini saja." ujar Vian.
"Baik Nyonya." jawab Bik Ina.
Vian melangkah dengan cepat kembali ke kamarnya. Dia separo bahagia karena tidak harus makan dengan manusia kulkas, separo lagi dia merasa sedih karena makanan yang dimasaknya tidak dimakan suaminya. Jadi, dia tidak mendapatkan pahala dari hasil kerjanya sore tadi. Bagi Vian bagaimanapun keadaan dan perilaku suaminya, dia tidak pernah marah atau benci. Karena bagi Vian, suaminya adalah ladang pahala baginya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Fherly Pasaeno
zero si tuan muda mngejar cinta😁
2022-01-29
0
Mommy Ahid
tekan tanda love ya kakak.
2022-01-28
0
Ratna Aza
hebat Vian bisa baik walaupn suami yg kejam....aku penasaran sm Jero siapa dia sebenarnya.....🤔lanjut kak👌👍💐🌹
2022-01-28
3