Jero melajukan mobil dalam kecepatan tinggi menuju mansion keluarga Alexsander. Dia takut kalau Juan pertama kali sampai di rumah. Dia masih ragu dengan telpon tadi. Jero tidak yakin kalau yang ditelpon Vian tadi adalah Juan Alexsander.
Jero memarkir mobilnya di tempat parkiran khusus mobil Vian. Jero melihat mobil milik Juan Alexsander belum terparkir di tempatnya.
"Untung saja Tuan Muda belum pulang." ujar Jero.
Vian yang melihat mobil Juan juga belum ada langsung mengucapkan syukur di dalam hatinya. Dia bisa tenang sekarang karena Juan belum pulang.
Vian turun dari dalam mobilnya. Dia membuka pintu utama mansion. Dia tidak melihat tanda tanda kehadiran Juan di mansion saat ini. Vian tanpa ada menaruh curiga apapun berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Dia berjalan sambil tersenyum bahagia karena sudah berhasil membantu sahabatnya keluar dari permasalahan
Vian membuka pintu kamar. Dia kemudian menghidupkan lampu kamar. Betapa kagetnya Vian saat melihat siapa yang berada di kamarnya saat ini.
Plak. Plak. Plak. Plak. Empat buah tamparan mendarat hebat di pipi Vian. Vian yang tanpa persiapan langsung oleh saat ditampar seperti itu. Sudut bibir Vian mengeluarkan darah. Begitu juga dengan hidungnya. Vian menyeka darah yang keluar itu dengan sapu tangannya.
"Hebat Anda, berani keluar tidak berbicara dengan saya. Anda anggap saya ini siapa." ujar Juan murka kepada Vian.
"Anda mulai ingin bermain lagi dengan saya. Oke akan saya layani." ujar Juan.
Vian hanya diam saja. Dia sama sekali tidak berminat melayani perdebatan dengan Juan.
Plak. Sebuah tamparan kembali diterima Vian. Vian masih tetap diam.
"Kenapa diam" teriak Juan.
Vian sama sekali tidak bergerak. Dia sudah seperti patung hidup.
Plak. Tamparan lagi mendarat di kepala Vian. Vian meringis menerima tamparan itu
"Kamu manusiakan? Kamu punya mulutkan? Kenapa tidak bisa menjawab perkataan saya." ujar Juan semakin murka.
"Jawab saya Vian. Kamu kemana tadi." teriak Juan.
Vian menatap dengan tatapan dingin dan tidak ada rasa apa apa. Dia menatap Juan lama.
"Hamba tadi pergi dengan sahabat hamba yang membutuhkan nasehat dari hamba. Hamba juga sudah berusaha menghubungi Tuan. Tetapi sepertinya Tuan terlalu sibuk sehingga tidak sempat mengangkat panggilan dari hamba." ujar Vian.
"Apa kamu bilang saya sibuk tidak angkat telpon dari kamu. Hay Nona kapan kamu menghubungi saya." ujar Juan.
Vian malas beradu mulut dengan Juan. Dia mangambil ponselnya dari dalam tas. Dia memperlihatkan kepada Juan berapa kali dia berusaha menghubungi Juan.
"Oh." ujar Juan.
"Tapi seharusnya tadi kalau kamu memang istri yang baik, kamu tidak akan pergi saat saya tidak mengizinkan." ujar Juan yang tidak mau berada dalam posisi yang salah.
"Saya mengaku salah." ujar Vian.
Vian merasakan darah dari hidungnya tidak juga berhenti keluar. Dia menyeka terus darah yang keluar itu. Juan jangankan untuk meminta maaf sudah membuat Vian terluka, untuk menunjukkan rasa menyesal saja tidak ada dari tingkah dan sikap Juan.
"Sekali lagi kamu berbuat seperti ini, jangan harap kamu bisa tidur di kamar ini lagi." ujar Juan memberikan ancaman.
"Apa Tuan katakan? Saya tidak bisa tidur di kamar ini. Satu hal yang perlu Tuan tau. Sekarang ini juga saya rela untuk angkat kaki dari kamar ini. Jangankan kamar ini angkat kaki dari rumah ini pun saya rela." kata Vian yang sudah dilingkupi emosi yang tidak lagi stabil.
"Hahahahaha. Jangan harap kamu bisa pergi dari rumah ini. Kamu tau bukan. Pernikahan kita adalah pernikahan bisnis. Kamu kabur maka perusahaan orang tua kamu juga akan kabur." ujar Juan.
"Apa Bunda kamu tidak mengatakan kenapa kamu dinikahkan dengan Saya? Apa Bunda kamu sama sekali tidak bercerita?" kata Juan memancing rasa ingin tahu dari Vian.
"Kamu tau pernikahan kita saya bayar mahal dengan berinvestasi di perusahaan Ayah kamu yang hampir kolaps itu. Jadi, berhubung kamu sudah saya beli mahal mahal jadi jangan banyak tingkah dan banyak gaya." ujar Juan.
Vian yang mendengar cerita dari Juan mendadak merasakan pusing di kepalanya. Dia benar benar tidak tau harus berbuat seperti apalagi dengan sikap Juan. Apalagi kalu semua yang dikatakan Juan adalah benar. Maka Vian sama sekali tidak akan bisa membalas rasa sakit dan luka yang ditorehkan Juan.
Setelah puas mengatakan dan menyiksa Vian, Juan melangkah keluar dari kamar Vian. Sampai di ambang pintu Juan memberhentikan langkahnya.
"Sekarang bersikaplah seperti seorang budak yang telah dibebaskan. Jangan pernah melawan saya dengan kata kata atau yang lainnya." ujar Juan.
"Satu lagi. Masih untung kamu masih saya perbolehkan bekerja di rumah sakit." kata Juan.
Vian yang mendengar kata rumah sakit memandang Juan dengan tatapan putus asa. Vian jatuh ke dalam dasar jurang terdalam dalam hidupnya. Vian merasa dia sudah tidak hidup lagi.
Setelah puas dengan kata kata yang diucapkan dari ambang pintu. Juan kemudian melangkah dan meninggalkan Vian dalam kamarnya sendirian.
Vian jatuh terududk ke lantai. Harga dirinya benar benar sudah hancur sekarang. Harapan untuk dia bisa membalas semua perlakuan Juan sudah sirna seiring dengan perkataan Juan yang mengatakan kalau dia sudah dibeli mahal dari keluarganya.
Kata kata yang dilontarkan Juan terus terngiang ditelinga Vian. Kata kata yang menusuk ke dalam hati dan perasaan Vian.
Vian meraih handuknya. Dia kemudian berdiri di bawah shower, dia membuka kran shower sebesar besarnya. Vian berdiri di bawah shower. Air shower dengan keras menimpa tubuh polos Vian. Vian menggosok tubuhnya dengan sangat keras. Sehingga mengakibatkan tubuh putih mulus Vian berubah warna menjadi warna merah.
Setelah puas dengan menggosok tubuhnya Vian keluar dari dalam kamar mandi. Dia memakai pakaian tidur miliknya. Setelah rapi Vian berjalan ke balkon kamar. Dia bersiri dan memegang pagar pembatas balkon.
"Tuhan seandainya bunuh diri tidak berdosa maka sudah saya lakukan Tuhan." ujar Vian.
"Tuhan tolong kuatkan selalu Vian Tuhan." lanjut Vian berdoa.
Jero melihat Vian dari remang remangnya malam. Jero mendengar semua yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya. Jero tau kalau kata kata itu telah membuat Vian menjadi seperti ini. Jero merasakan bagaimana pedihnya perasaan Vian saat sekarang ini.
Jero meraih ponsel miliknya dari dalam saku celana. Dia menekan beberapa nomor di layar ponsel miliknya. Ponsel lain dari yang biasa dipakai Jero sehari hari.
"Kamu selidiki bagaimana betul keadaan perusahaan Bramntya. Saya perlu datanya cepat. Kemudian selidiki pula latar belakang putri satu satunya keluarga Bramntya dinikahkan dengan putra keluarga ini. Saya butuh cepat." ujar Jero.
"Siap." jawab seseorang dari seberang.
Jero kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana. Dia kembali memandang Vian yang masih setia duduk di balkon kamar.
"Nyonya sudah malam." ujar Jero pelan
Jero mengambil ponsel miliknya yang biasa dia pakai. Jero terlihat mengetik sesuatu. Vian yang dari tadi termenung langsung kaget saat mendengar sebuah notifikasi pesan chat yang masuk ke ponsel miliknya
'Nyonya sudah malam. Masuklah ke kamar. Angin malam tidak baik untuk kesehatan' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Jero.
Vian mencari cari keberadaan Jero. Tetapi akibat hari yang gelap, Vian tidak bisa menemukan Jero dalam kegelapan malam.
'Nyonya, kalau butuh tempat curhat. Saya bisa kok jadi tong sampah dan samsak untuk melampiaskan sakit hati Nyonya. Atau besok kita akan ke laut untuk membuang rasa sakit hati Nyonya' bunyi pesan chat berikutnya.
'Oke besok kita ke laut.' balas Vian.
'Saya masuk dulu. Kamu istirahat juga lagi. Angin malam tidak baik untuk kesehatan' balas Vian.
Jero tersenyum mambaca balasan chat dari Vian. Dia tidak menyangka Vian akan membalas dengan sangat cepat. Jero kemudian menuruti bunyi pesan chat Vian. Dia masuk kedalam kamarnya. Dia besok akan membawa Vian kedaerah yang sangat sangat keren. Siapapun yang kesana akan sangat bahagia saat berada di tempat itu. Semua beban masalah seperti lenyap saat berada di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
KAKAK KAKAK SAYANG
MAMPIR KE NOVEL KU YANG LAIN YUK. AKU BUTUH DUKUNGAN DARI KAKAK KAKAK SEMUA.
ITS MY DREAM
SUAMIKU BUKAN MILIKKU
KEPAHITAN SEBUAH CINTA
KESETIAAN SEORANG ISTRI
MAMPIR YA KAKAK. AKU BUTUH KRISAN DARI KAKAK KAKAK SEMUA. MAKASI KAKAK KAKAK
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Sulati Cus
km yg tersakiti knp ak mewek
2022-09-15
0
Sulati Cus
astaga istri mu manusia bukan samsak gila nih suami model kek gini
2022-09-15
0
Fatma Kodja
semoga Jero bisa mendapatkan solusi agar Zian bisa keluar dari rumah bian dan biarkan bian menyesali karena sudah membuat istri sebaik Zian tersiksa selama menjadi istrinya
2022-02-03
1