Jero, pulang yuk udah sore." ujar Vian yang melihat Jero berdiri di depan pintu ruangannya.
"Siap Nyonya." jawab Jero.
Vian berjalan terlebih dahulu, di belakangnya diiringi oleh Jero yang berjalan dengan tegapnya. Jero benar benar menikmati statusnya sebagai sopir sekaligus sebagai asisten Vian. Dia tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini. Vian bisa menjadi batu loncatannya dalam menggapai keinginannya itu.
"Vian, sini bentar" ujar Kinan salah satu sahabat Vian yang bekerja beda rumah sakit dengan dirinya.
"Tumben loe ke sini. Masih ingat loe punya sahabat yang bernama Vian." ujar Vian dengan kesal.
"Lah ini karena ingat makanya gue samperin loe ke sini. Kita ke mall yok. Gue kangen sama loe." ujar Kinan.
Jero menatap Vian. Jero menggeleng.
"Bentar, gue telpon lakik gue dulu." ujar Vian.
Vian menghubungi Juan. Tetapi Juan sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Vian.
"Palingan asik dengan wanita lacur itu. Bairin ajalah." ujar Vian.
Tapi Vian tidak ingin Jero curiga. Akhirnya dia pura pura berhasil menghubungi Juan.
"Hallo Tuan. Saya permisi ke mall sebentar. Ada sahabat saya yang mengajak bertemu. Namanya dokter Kinan. Kalau Tuan tidak percaya silahkan ngoming dengan Jero." ujar Vina.
"Apa Tuan. Tidak perlu ngomong dengan Jero?" ujar Vian.
"Jadi apa boleh saya pergi sebentar Tuan?" ujar Vian.
"Apa boleh. Makasi Tuan. Saya akan pulang sebelum Isya." ujar Vian
Vian kembali menuju Jero dan Kinan.
"Gimana Vian, bisa nggak?" tanya Kinan tidak sabaran dengan hasil telpon antara Vian dengan suaminya.
"Boleh, tapi sebelum isya sudah harus di rumah." ujar Vian memberitahukan kepada Jero dan Kinan.
"Wah keren. Gue suka sama loe." ujar Kinan memeluk Vian.
"Gue tau loe pasti ada masalahkan ya. Makanya ngeyel ngajak gue untuk ketemu." ujar Vian.
"Tau aja loe." ujar Kinan yang niatnya membawa Vian keluar sudah ketahuan.
"Apalagi coba Kinan kalau loe nggak kayak gitu."
Mereka beriga kemudian pergi meninggalkan rumah sakit. Vian terpaksa harus berpisah mobil dengan Kinan. Jero sama sekali tidak mengizinkan Vian untuk berpisah mobil dengan dirinya.
Dua mobil mewah beriringan meninggalkan rumah sakit.
"Kamu menyebalkan Jero. Sudah tau saya sudah lama tidak bertemu dengan Kinan. Sekarang malahan kamu tidak memperbolehkan saya semobil dengan dia." ujar Vian mengeluarkan isi hatinya.
"Nyonya Nyonya. Saya harap Nyonya mengerti dengan pekerjaan Saya Nyonya." jawab Jero yang fokus mengemudi tanpa melihat ke arah Vian.
Vian membuang wajahnya ke samping. Dia lebih memilih melihat pemandangan dari luar kaca jendela mobil. Jero menatap Vian. Dia tau Vian marah, tetapi Jero tidak ingin mempertaruhkan pekerjaannya.
Setelah mengemudi beberapa lama, mobil bergerak masuk ke dalam parkiran sebuah mall ternama di pusat kota. Jero membukakan pintu untuk Vian. Vian kemudian keluar. Dia langsung berlari kearah Kinan dan menggandeng tangan Kinan.
"Loe kenapa?" tanya Kinan heran dengan sikap Vian.
"Loe nggak tengok tu. Pengawal gue yang nyebelin itu. Masak gue mau semobil dengan loe nggak boleh sama dia." ujar Vian dengan keras agar terdengar oleh Jero.
Jero hanya diam saja. Dia sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
"Kerjanya yang gitu Vian. Jadi loe harus pahan. Jangan memperaulit posisi dia." ujar Kinan memberikan Vian nasehat.
Vian terdiam. Dia baru ingat kalau dengan dia persikap kekanak kanakan seperti tadi, maka pekerjaan Jero akan terancam.
"Ya Tuhan semoga Juan pulang larut malam. Aku nggak mau dia kena marah karena aku pergi ke mall tanpa memberitahukan Juan." ujar Vian berdoa dalam hatinya.
Mereka bertiga menuju foodcourt yang ada di mall. Jero yang melihat pilihan tempat makan Vian langsung menjadi lemes tak berdaya. Dia benar benar tidak mengerti dengan Vian. Sebanyak itu tempat makan, Vian malah memilih makan di sana rame rame dengan pengunjung mall yang lain.
Vian mengambil mie goreng lengkap dengan kentang goreng dan sosis. Sedangkan Kinan mengambil ayam kentuky dan juga sebungkus nasi. Jero yang kehilangan selera makan hanya memesan es jeruk saja.
Vian sengaja memilih meja yang hanya memiliki dua kursi. Sehingga Jero harus duduk di sebelah mereka.
"Jadi apa masalah loe?" ujar Vian.
"Gue lulus kuluah S3. Tapi gue males ngambilnya Vian." ujar Kinan.
"Kok loe nggak mau?" tanya Vian.
"Males. Gue sekarang sesang menjalin hubungan serius dengan dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan gue." ujar Kinan.
"Hah? Gue nggak salah denger, loe punya hubungan serius dengan seorang laki laki?" ujar Vian.
"Loe ngimpi?" ujar Vian.
"Gue serius Vian. Loe bisa serius nggak sih." kata Kinan yang mulai emosi.
"Sorry sorry. Gue sekarang akan serius." balas Vian sambil tersenyum.
"Jadi, loe nolak karena hubungan loe ini atau loe dilarang pergi oleh dia dan diancam akan dilutuskan kalau loe tetap pergi." ujar Vian yang bisa membaca arah pernyataan Kinan.
Vian sangay tau kalau Kinan sangat menginginkan kuliah S3. Apalagi Kinan tidak berasal dari keluarga kaya seperti Vian. Kuliah S3 tanpa biaya adalah impian sejak dulunya.
Kinan mengangguk dan menekurkan kepalanya dalam dalam. Vian paham sekarang dengan permasalahan yang dihadapi Kinan.
"Kinan, kalau laki laki beneran cinta sama kita, dia tidak akan melarang kita untuk meningkatkan karier dan kemampuan Kinan." ujar Vian.
"Kecuali kalau dia takut tersaingi oleh kamu." lanjut Vian.
"Kinan. Laki laki yang baik akan selalu mendukung kita."
"Jadi menurut gue. Dia bukan yang terbaik untuk elo. Sekarang masih pacaran aja dia udah ngekang elo. Apalagi udah nikah." kata Vian selanjutnya.
"Jadi Kinan sayang. Raihlah mimpi loe selagi elo bisa. Jangan mau terikat dengan seseorang yang akan menghambat kemajuan elo. Banyak kok orang di luar sana yang bisa mendukung elo." Vian memberikan nasehatnya kepada Kinan.
Kinan menyimak dan memikirkan semua yang dikatakan Vian. Kinan kembali mengingat masa masa dimana dia sangat susah untuk kuliah. Dia harus nyambi bekerja serabutan agar bisa kuliah. Sekarang saat ada peluang kuliah lebih tinggi dengan dibiayai orang, harus dia tolak. Kinan akan berpikir lagi.
"Sekarang gue cuma bisa ngomong. Pikirkanlah kembali. Bolak balik dia semuanya. Jangan hanya mengambil keputusan saat loe sedang emosi. Karena apapun yang loe ambil saat emosi, semua itu adalah bujukan dan rayuan setan." ujar Vian.
Kinan mengangguk. Dia sangat bersyukur punya sahabat seperti Vian.
"Ah gue jadi lega selesai cerita ke elo Vian. Makasi banyak Vian." ujar Kinan memeluk Vian dari balik meja.
"Sama sama Kinan jelek. Yang ingat gue bila susah aja." ujar Vian mengejek Kinan lagi.
"Hay jangan salah sahabat loe ini dokter yang paling banyak pasiennya." ujar Kinan.
"Gue tau. Dokter yang lagi viral karena kebaikan hatinya dan juga keramahannya saat memeriksa pasien." ujar Vian yang tau bagaimana sepak terjang Kinan di dunia kedokteran.
"Hahahaha. Mereka melebih lebihkan saja Vian." jawab Kinan.
"Hem tadi poak sekarang insyaf." ujar Vian.
Mereka melanjutkan makan. Vian melihat jam mewahnya. Hari sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
"Kinan, balik yuk udah malam. Kasian lakik gue nunggu gue lama di rumah." ujar Vian yang berharap sebaliknya.
"Oke. Makasi ya atas solusi dari elo." ujar Kinan.
"Itu guna sahabat." jawab Vian.
Mereka kemudian kembali ke rumah masing masing. Vian masih berharap semoga Juan belum pulang dari kantor atau dari mana saja. Dia tidak ingin ada keributan lagi di rumah. Vian sudah bosan menjadi tontonan para pelayan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments