"Kita kemana lagi?" tanya Vian yang luar biasa bersemangat untuk pergi jalan jalan hari ini. Vian sangat senang saat di ajak Jero untuk masuk ke dalam kapal yang luar biasa besar itu. Ini kali pertama Vian menaiki sebuah kapal. Biasanya dia hanya bisa melihat dari film film saja.
"Ke teluk sirih atau langsung ke manjunto? Kedua duanya sama sama bagus." ujar Jero memberikan dua pilihan tempat yang akan mereka kunjungi. Kedua tempat yang sama sama memiliki keindahan laut yang berbeda beda.
"Teluk sirih juga boleh. Emang apa yang ada di sana?" ujar Vian yang penasaran dengan tempat tempat yang dikatakan oleh Jero.
"Ada PLTA ntah PLTU, aku juga lupa. Pemandangan dari atas bukitnha juga keren. Lautnya juga bagus." ujar Jero mempromosikan teluk sirih.
"Oke juga. Ke sana juga masuk ceritanya itu." jawab Vian yang sudah bisa membayangkan apa yang ada di teluk sirih.
"Asiap kita ke sana. Teluk sirih kami datang." ujar Jero dengan semangat. Semangat Vian menular kepada Jero.
Vian teringat dengan bekal cemilan yang tadi dibawanya. Vian meraih tempat bekal yang tadi sudah diisinya dengan goreng cumi tepung.
"Mau?" tanya Vian sambil memperlihatkan isi kotak bekalnya kepada Jero.
"Saus?"
"Ada" jawab Vian.
Mereka berdua memakan cumi goreng tepung yang dibuat oleh Vian.
"Gimana?" tanya Vian sambil menatap Jero.
"Jujur atau bohong?" Jero balik bertanya.
"Jujur." jawab Vian.
"Luar biasa enak. Rasanya cakep seperti wajah yang buat." ujar Jero.
"Bisa aja." jawab Vian.
Jero kembali melajukan mobilnya, hari terlihat mendung, sepertinya sehabis hujan tadi malam.
"Kamu udah makan?" tanya Jero sambil melirik Vian.
"Belum. Apa ada rumah makan yang enak di sini?" tanya Vian.
"Ada, di depan sana. Ada rumah makan dengan gulai kepala ikan. Kamu yang beli nanti ya." ujar Jero.
"Sip" jawab Vian sambil mengangkat jempolnya ke depan wajah Jero.
Tip mobil memperdengarkan suara penyanyi yang sedang viral itu.
"Vian jangan marah marah, nanti Vian cepat tua." ujar Jero mengikuti penyanyi dan mengubah lirik lagunya.
"Jero setia orangnya." ujar Jero selanjutnya.
Vian pantang kalah dengan lagu yang dinyanyikan Jero.
"Jero jangan marah marah. Nanti jero lekas tua." Vian mengulang lagu yang dinyanyikan Jero.
"Vian setia orangnya yang slalu bahagiakan Jero." ujar Vian menambah lirik di belakangnya.
"Hahahahahaha" mereka berdua tertawa setelah mendengar lirik lagu yang mereka nyanyikan berdua.
"Mulai gombal" ujar Vian.
"Gabut kan ya." jawab Jero.
Jero kemudian membelokkan mobilnya masuk ke dalam rumah makan.
"Beli berapa bungkus?" tanya Vian kepada Jero.
"Satu aja. Sambalnya gulai kepala ikan."
Vian turun dari mobil. Dia melangkahkan kakinya dengan ringan menembus hujan rintik rintik. Vian membeli sebungkus nasi dan satu potong gulai kepala ikan. Setelah membayar ke kasir, Vian kembali ke dalam mobil.
"Jero tau nggak, kepala ikan di sana besar besar. Pasti asik kalau kita makan di sana." ujar Vian sambil dirinya membayangkan sedang makan kepala ikan.
"Nanti ya, pas kita pulang, kita beli kepala ikan. Kita makan di sana." jawab Jero yang tau Vian sangat ingin makan gulai kepala ikan di restoran tersebut.
"Oke. Saya suka." ujar Vian dengan semangat saat mendengar dirinya akan makan gulai kepala ikan saat pulang nanti.
Mobil yang dilendarai Jero mulai masuk ke daerah yang jalannya cukup susah di lalui. Jero berkonsentrasi penuh membawa mobilnya. Vian menikmati setiap detik perjalanannya kali ini. Vian sama sekali belum pernah ke daerah itu. Jadi, Vian tidak ingin menyia nyiakan kesempatan yang ada.
"Kamu terlihat sangat menikmati perjalanan Vian?" ujar Jero yang melihat Vian semangat melihat lihat lewat kaca mobil.
"Aku belum pernah ke sini. Ini keren." ujar Vian sambil mengangkat dua jempolnya ke hadapan Jero.
"Hahahahaha. Kerenlah Vi. Kamu akan lebih kaget lagi saat kita sampai di katanya mirip raja ampat." ujar Jero.
"Oh ya?" Vian ternganga mendengar apa yang dikatakan oleh Jero.
"Ya." ujar Jero.
"Apa kita bisa ke sana sekarang?" tanya Vian menatap Jero. Vian ingin Jero mengangguk tanda setuju.
"Oke." jawab Jero.
"Asik. Kamu baik sekali Jer." ujar Vian.
Jero tersenyum.
'Untuk kamu Vi' ujar Jero dalam hatinya.
"Jadi ke teluk sirih atau gimana?" tanya Jero menanyakan keinginan Vian kembali.
"Nggak ding, manjunto aja. Nanti setelah itu baru kita tengok yang kata kamu kayak raja ampat." ujar Vian dengan semangat.
"Oke oke. Kapan kapan kita ke teluk sirih." ujar Jero.
Jero kembali melajukan mobilnya. Mereka mulai masuk ke daerah yang dituju Jero. Setelah melewati satu turunan, Jero melihat ke sebelah kanan. Jero memasukkan mobilnya ke tempat objek wisata itu. Jero membayar dua puluh ribu harga tiket karena mereka berdua.
Jero memarkir mobilnya di depan sebuah saung yang menghadap ke laut lepas yang sangat tenang. Sama sekali minim ombak. Pada objek wisata itu terdapat dua dermaga yang menjorok ke laut lepas.
"Kamu bisa berenang Vian?" tanya Jero.
"Bisa, tapi nggak bawa pakaian ganti. Kamu nggak ngomong kalau tempatnya seindah ini." ujar Vian komplent kepada Jero.
"Hahahaha. Aku kira kamu semalam bisa gooling ternyata nggak."
"Emang kamu mau mandi?" tanya Vian.
"Mandilah kan bawa celana pendek sama pakaian dalam ganti ada di mobil." ujar Jero.
"Aku bagian nengok kamu ajalah." ujar Vian kemudian. Dia menyesal kenapa nggak bertanya lebih jauh kepada Jero tentang apa yang akan mereka saksikan di sana.
"Nasi tadi mana?" tanya Jero.
"Mobil. Aku ambil bentar." jawab Vian.
Vian mengambil nasi dan air mineral ke dalam mobil. Setelah itu dia membentangkan nasi dan membuka bungkus gulai kepala ikan. Aroma wangi langsung tercium saat plastik dibuka. Aroma yang semakin membuat perut menjadi lapar.
"Apa nggak masalah kalau kita makan sebungkus berdua?" tanya Jero kepada Vian.
"Nggak masalah santai aja." jawab Vian.
Mereka makan berdua. Vain menikmati makan sambil menatap laut lepas. Jero juga melakukan hal yang sama. Dia makan sambil melihat laut lepas.
"Ku tukar celana dulu ya." ujar Jero.
Jero naik ke atas mobil. Dia menukar celananya dan membuka baju yang dia pakai. Dia hanya memakai singlet dan celana pendek. Jero juga melepas sepatu yang dipakainya.
Vian yang melihat Jero berjalan dengan santainya, memilih untuk menggulung kaki celananya. Dia juga akan ikut melihat Jero terjun terjun dari atas dermaga.
"Ikut?" tanya Jero saat melihat Vian menggulung kaki celananya.
"Iya" jawab Vian.
"Oke." jawab Jero.
Jero membantu Vian untuk naik ke atas jembatan kayu menuju ujung dermaga. Dari sana nanti Jero akan meloncat untuk berenang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Lenny Marlina
Vian sama Jero aja thor🙏💞❤️💕
2022-10-03
0