Pagi harinya Vian terbangun karena bunyi ponsel miliknya yang memekik dengan kencang. Vian meraih ponsel yang diletakkannya di atas nakas itu. Vian melihat siapa yang menghubunginya pagi pagi buta begini. Saat Vian melihat nama Jerolah yang tertulis indah di layar ponsel miliknya. Vian menarik turun tombol hijau pada layar ponsel.
"Hallo Jer. Nggak tau hari masih subuh begini. Ngapain nelpon. Aku masih ngantuk." ujar Vian yang enggan membuka matanya.
"Vian mana ada hari masih subuh. Sudah setengah tujuh pagi. Kamu nggak ke rumah sakit?" ujar Jero mengatakan hari sudah pukul berapa.
"Apa setengah tujuh?" ujar Vian yang langsung membuka matanya dengan lebar dan melihat jam dinding yang ternyata memang telah menunjukkan angka setengah tujuh.
"Jero, aku ada operasi jam setengah delapan. Bagaimana ini." teriak Vian panik luar biasa. Dia tidak pernah terlambat bangun selama ini. Ini adalah kejadian pertama Vian bisa telat bangun dari pada hari biasanya.
"Makanya mandi ligat terus pakai pakaian, makeup di atas mobil saja. Mobil sudah aku siapkan." ujar Jero berusaha menahan tawanya membayangkan kepanikan Vian yang baru bangun dan ada jadwal operasi menunggunya di rumah sakit.
Vian berlari ke kamar mandi. Dia tetap membawa ponselnya yang masih terhubung dengan Jero. Jero mendengar bunyi air kamar mandi yang diputar full.
"Vian Vian. Langsung mandi kilat, mana air dibuka full lagi." ujar Jero berbicara pelan.
Tidak sampai hitungan tiga puluh, Vian sudah selesai mandi. Dia masuk ke kamarnya kembali dan memakai semua pakaiannya. Vian tidak sempat lagi memakai handbody keseluruh badannya seperti kebiasaannya selama ini. Setelah memakai pakaian miliknya, Vian menyisir rambutnya dan mengikat setengah rambut panjang sebahunya itu.
Vian sebelum kekuar kamar, Vian menyempatkan diri menyambar tas kerja dan juga jas kebesaran miliknya yang berwarna putih.
Vian berlari turun melalui anak tangga menuju meja makan. Dia menyambar segelas susu yang ada di sana. Vian tidak perduli lagi itu susu milik siapa. Vian juga tidak perduli dia belum berpamitan dengan Juan.
"Silahkan marah tu monster. Nggak ambil pusing." ujar Vian dalam hati berbicara sendiri.
Jero yang melihat Vian setengah berlari membukakan pintu mobil bagian belakang. Vian langsung masuk ke dalam mobil tanpa sempat memberikan senyuman manisnya kepada Jero.
Jero menyusul Vian masuk ke dalam mobil. Dia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Vian menatap menganga ke jalanan yang biasanya macet kalau dia lewat jam segini, kali ini tidak macet sedikitpun. Bisa dikatakan hanya mobil Vian saja yang lewat di jalan utama itu.
Vian yang sedang tidak fokus itu tidak ambil pusing dengan keadaan jalanan yang mendadak sepi. Dia malahan sangat bersyukur bahwasanya jalanan menjadi sepi saat dia harus datang cepat ke rumah sakit.
Vian mengeluarkan kotak bedaknya. Dia memoles tipis wajahnya dengan makeup. Setelah yakin dengan penampilannya, Vian menarik nafasnya dalam dalam. Dia tau kalau Dia telah mencuekin Jero dari tadi.
"Jer" panggil Vian.
Jero menatap ke arah Vian melalui kaca spion mobil. Vian memberikan Jero senyuman termanisnya pagi ini. Jero membalas dengan senyuman pula.
"Makasi ya udah bangunin. Kalau ndak maka hem sudah bisa dipastikan akan bablas aku tidur." ujar Vian sambil menatap Jero.
"Makanya, tidur itu jangan tidur mati. Masak bunyi alarm nggak kedengeran sama sekali." ujar Jero tetap melihat ke depan.
"Gimana lagi kan ya. Kecapekan juga." jawab Vian asal kena pilihan kata saja.
Vian kembali melihat jalanan yang masih tetap sepi itu. Tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Vian mulai merasakan keanehan.
"Jer, kok aku ngerasa aneh ya." ujar Vian sambil menatap keluar jendela. Vian melihat banyak mobil dan motor yang berhenti di tepi jalan. Seperti memberikan kepada mobil Vian untuk lewat sendirian.
"Aneh kenapa?" tanya Jero pura pura tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Vian.
"Kenapa jalanan menjadi lengang begini. Ini kan jalan utama yang terkenal macet. Lah ini nggak ada mobil yang lewat. Kan aneh tu." ujar Vian nyerocos kayak petasan lebaran.
"Mana saya tau Nyonya. Kalau menurut aku ya bagus kayak gini jadi kamu tidak telat sampai di rumah sakit. Tu rumah sakit udah nampak." ujar Jero sambil berbelok masuk ke halaman rumah sakit.
Vian melihat jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit.
"Wow ini keren." ujar Vian.
Vian kemudian turun dari mobil bersamaan dengan Jero. Mereka berdua masuk ke dalam lobby rumah sakit untuk menuju ruangan Vian.
"Kamu akan berdiri di situ terus?" tanya Vian kepada Jero.
Jero mengangguk. "SOP nya begini, jadi jalani aja." ujar Jero sambil tersenyum.
Vian kemudian masuk ke dalam ruangan. Jero mengeluarkan ponsel miliknya yang lain. Dia terlihat menggubungi seseorang. Setelah menunggu sepuluh menit, orang yang di telpon Jero datang.
"Bagaimana dengan penyelidikan?" tanya Jero.
"Saya tidak bisa mengatakan di sini. Bagaimana kalau malam nanti ketemu di tempat biasa?" ujar seseorang itu.
"Oke." jawab Jero setuju.
Seseorang itu memberikan Jero kantong paparbag yang dibawanya. Terlihat dari meek paperbag itu adalah sebuah rumah makan yang menyediakan sarapan yang luar biasa lezat.
Tok tok tok. Bunyi pintu yang diketuk oleh Jero.
"Masuk" ujar Vian dari dalam.
Jero masuk sambil membawa paperbag yang diberikan seseorang tadi.
"Sarapan." ujar Jero sambil meletakkan paperbagnya di meja Vian.
"Wow ini favorit aku." ujar Vian dengan wajah bersemu merah.
Jero mengeluarkan kedua bekal makanan yang tadi dibelikan seseorang. Mereka berdua menyantap sarapan itu dengan sangat lahap.
Tepat pukul setengah delapan, Vian selesai sarapan, seorang suster masuk ke dalam ruangan Vian.
"Dokter sudah di tunggu di ruangan operasi." ujar suster sambil menatap Jero dengan tatapan memuja.
Raut wajah Vian yang tadinya biasa saja mendadak menjadi memerah menahan amarah. Semua itu tidak luput dari perhatian Jero. Jero tersenyum kepada Vian. Dia tidak ingin membuat mood Vian menjadi jelek karena suster yang menatap Jero dengan tatapan memuja itu.
"Oke, mari kita keruangan operasi" ujar Vian.
Vian berjalan di depan dengan suster. Suster sudah berusaha untuk memelankan langkahnya agar bisa berjalan dengan Jero menjadi sia sia. Vian terus saja bercerita dengan suster tersebut. Apabila suster melambatkan jalannya, maka Vian juga akan melambatkan jalannya. Pokoknya semua yang dilakukan oleh suster tidak ada yang berhasil. Semua dipatahkan oleh Vian.
Mereka akhirnya sampai di depan ruangan operasi. Vian menatap Jero.
"Saya masuk dulu. Hati hati dengan mata genit, kalau masih ingin tetap mejadi asisten saya." ujar Vian berpesan sambil memberikan tatapan tajam kepada suster.
"Ingat ada istri yang nunggu di rumah. Jadi jangan keganjenan dengan suster yang ada di sini. Ada dengar Jero." lanjut Vian yang mengada ngada.
Semua perkataan Vian sukses membuat Jero menganga yang akhirnya tersenyum. Dia tau sekarang kalau Vian cemburu dengan suster itu.
"Baik Nyonya, saya akan menjaga mata dan hati saya untuk istri saya yang ada di rumah." jawab Jero mengikuti alur main yang dibuat Vian.
"Bagus. Saya suka suami yang setia dan nggak mata genit." ujar Vian sengaja memuji Jero di depan suster yang tadi berusaha genit ke Jero.
Vian dan suster masuk ke dalam ruangan operasi. Jero kembali menunggu di pintu masuk ruangan. Dia terlihat bahagia dengan segala ucapan yang diberikan Vian kepada dirinya. Ucapan memuji dari Vian tentang keberadaan Jero.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments