Jero membantu Vian untuk naik ke atas jembatan kayu menuju ujung dermaga. Dari sana nanti Jero akan meloncat untuk ke dalam laut. Dia akan berenang sebentar menikmati sejuknya air laut.
"Jero, serius mau terjun?" tanya Vian sambil menatap Jero yang sudah bersiap siap untuk terjun ke dalam laut dari atas dermaga.
"Serius. Emang kenapa? Kamu cemas aku kenapa kenapa?" tanya Jero sambil menatap ke dalam mata Vian.
Vian mengangguk. Ntah kenapa Vian sangat merasa nyaman dengan berada di samping Jero. Vian tidak pernah merasakan rasa ini sebelumnya. Vian benar benar buta dengan rasa yang seperti ini.
"Tenang aja. Aku nggak akan kenapa kenapa." jawab Jero menggenggam tangan Vian. Dia benar benar tidak ingin membuat Vian takut.
"Kamu takut kalau akan terjadi apa apa dengan Aku?" tanya Jero meyakinkan hatinya kalau Vian benar benar peduli kepadanya.
Vian mengangguk. Dia benar benar takut akan terjadi sesuatu kepada Jero saat Jero meloncat dari dermaga.
"Kalau kamu nggak izin, aku nggak akan jadi loncat." ujar Jero sambil menatap kemata Vian
"Hati hati ya." ujar Vian yang akhirnya memperbolehkan Jero untuk meloncat ke laut. Vian sudah memikirkan semuanya dengan baik. Dia tidak mungkin melarang Jero yang sangat ingin untuk terjun terjun dan berenang.
"Sip. Aku akan hati hati. Jangan cemas." ujar Jero sambil meremas tangan Vian.
"Kamu duduk di sini aja." ujar Jero sambil meminta Vian untuk duduk di bibir dermaga. Dia ingin Vian melihatnya saat meloncat nanti.
Vian duduk di tempat yang diminta oleh Jero. Vian juga ingin melihat Jero saat meloncat ke dalam laut.
Jero mengambil ancang ancang dan menghirup nafas dalam dalam. Dia akan memamerkan kemampuan meloncatnya kepada Vian.
Jero yang sudah siap dan percaya dengan dirinya langsung terjun dari atas dermaga. Air langsung bercipratan kemana mana.
"Jero." teriak Vian.
"Hahahahaha. Maaf maaf. Aku kira nggak sampe ke kamu airnya." ujar Jero lagi. Jero salah memprediksi jarak cipratan air.
"Untung nggak basah kali." ujar Vian mengibaskan pakaiannya yang terkena air itu.
"Maaf maaf. Jangan marah." ujar Jero.
Vian kembali duduk di tepi dermaga. Kakinya dijulurkan ke air yang ternyata tidak dingin itu.
"Jero besok kita ke sini lagi, aku bawa pakaian untuk berenang. Kita nginap sini, sepertinya di sini nginap asik." kata Vian sambil memainkan kakinya di dalam air.
"Kita tengok ke ujung sana dulu. Nanti baru diputuskan mau nginap dimananya." jawab Jero yang kembali duduk di atas dermaga. Vian melihat dada bidang atletis Jero.
"Tengok tu jadi putih putih. Kayak garem nempel." ujar Vian sambil menatap tubuh Jero yang ada putih putihnya.
"Maklumlah namanya juga mandi di air garem. Makanya ada putih putih" ujar Jero sambil tersenyum. Dia sangat bahagia dengan perhatian dari Vian.
Vian menatap jauh ke depan. Dia melihat banyak pulau pulau yang ada di sana. Kapal kapak nelayan juga banyak terlihat.
"Jero itu kapal apa?" tanya Vian melihat sebuah kapal sedang melempar sauhnya.
"Itu namanya bagan. Mereka akan belayar nanti malam untuk menangkap ikan. Kamu benar benar nggak pernah melihat hal ini Vian?" tanya Jero heran dengan semua sikap yang ditampilkan oleh Vian.
"Nggak. Mana pernah. Aku seumur umur kalau mau pergi pasti di temani Bunda kalau nggak pengawal Ayah. Mana pernah aku pergi sendirian." jawab Vian sambil menatap Jero dengan tatapan sedih.
"Jangan sedih gitu. Aku akan membawa kamu kemana kamu suka." ujar Jero sambil menatap Vian.
Vian mengingat ingat perkataan Jero. Vian merasa pernah mendengar perkataan seperti itu.
"Walaupun ke ujung dunia dan ujung laut?" tanya Vian yang langsung menyambung percakapannya.
"Ya. Ke ujung samudera akan aku temani." lanjut Jero menatap Vian dengan tatapan yang harus segera diingat oleh Vian.
"Hahahaha. Jauh kali ke ujung samudera." jawab Vian sambil menahan tawanya.
"Lah kalau kamu mau. Aku bisa bawa." jawab Jero.
Jero kemudian kembali berdiri. Dia sudah mengambil ancang ancang kembali untuk terjun ke dalam laut.
"Mau terjun lagi?"
"Yupi. Selagi ke sini hajar terus." ujar Jero sambil menatap Vian.
"Tapi jangan sampai nyiprat lagi ya." kata Vian mengingatkan Jero atas kejadian tadi.
"Oke." ujar Jero.
Jero kemudian kembali nyebur ke dalan air. Dia terlihat sengaja menyelam cukup lama. Vian berusaha mencari keberadaan Jero. Tapi Vian sama sekali tidak melihat Jero.
Tiba tiba saat Vian fokus mencari Jero. Kaki Vian di pegang dari bawah dermaga. Vian langsung berontak, dia sangat takut.
"Jero" teriak Vian dengan kuat.
Jero mengeluarkan kepalanya dari dalam laut.
"Hahahahahaha. Maaf sayang, aku kira kamu nggak bakalan kaget." kata Jero sambil tersenyum.
"Kagetlah sayang. Masak nggak." jawab Vian sambil mengurut dadanya.
"Maaf maaf nanti nggak lagi." jawab Jero dengan memasang wajah yang luar biasa menyesal.
"Wajah biasa aja nggak usah dibegituin segala." ujar Vian sambil mencipratkan air ke wajah Jero.
"Hahahahahaha. Kesal dia. Nggak boleh kesal tau." ujar Jero mencoba merayu Vian supaya tidak lagi kesal.
Vian melihat ada seorang Bapak bapak naik ke atas sampan. Bapak bapak itu memancing dari atas sampan kecil itu.
"Tengok tuh, bapak itu mancing dari atas sampan." ujar Vian dengan semangat melihat Bapak Bapak yang sedang memancing.
"Kamu mau mancing juga?" kata Jero.
"Emang ada pancing?" tanya Vian lagi.
"Ada. Tapi jangan duduk di situ pindah tempat duduknya. Nanti jatuh." ujar Jero yang takut nanti Vian kenapa kenapa.
"Ikut ajalah kalau kamu takut aku kenapa kenapa." kata Vian sambil menatap Jero.
Jero membantu Vian untuk berdiri. Mereka kemudian bergandengan tangan kembaki ke mobil. Jero melihat jam mahal miliknya. Hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Jero menatap Vian. Vian paham dengan arti tatapan Jero.
"Aku udah ngomong pulang malam." kata Vian menjawab pertanyaan tak terucap dari Jero.
"Oke. Berarti aman."
"Kamu takut aku kena marah?" tanya Vian yang menangkap wajah wajah takut Jero.
"Ya. Dia kalau marah nggak pake otak." jawab Jero dengan terang terangan memperlihatkan rasa kesalnya.
"Biarin aja. Aku kesal saat dia bawa perempuan lain ke kamar. Aku tidak cemburu smaa sekali. Tapi tolonglah hargai aku. Kalau di luar mah terserah mau ngapain dia." kata Vian dengan nada marah yang tidak lagi disembunyikannya dari Jero.
"Biarin ajalah. Dia mau ngapain. Jangan ambil pusing." kata Jero.
"Ayuk ke dermaga lagi. Kita mancing."
"Boleh pesan mie rebus?" Vian ingin menikmati makan mie rebus sambil duduk di dermaga.
"Boleh." jawan Jero.
Jero memesan mie rebus dan mie goreng serta dua gelas teh hangat. Setelah memesan makanan mereka berdua kembali ke dermaga.
Jero memasang umpan ke pancingnya. Dia kemudian melemparkan kail ke laut.
"Emang bisa dapat?" tanya Vian menatap Jero.
"Kalau dapat apa upahnya?" ujar Jero menantang Vian.
"Pulang aku bawa mobil." ujar Vian yang sebenarnya tidak itu yang akan dikatakan Vian.
"Wah akhirnya. Setuju." ujar Jero dengan semangat. Dia sangat senang karena di supiri oleh wanita cantik.
Jero melihat kailnya masih belum dimakan ikan. Jero dengan sabar menunggu sampai pancingnya berhasil memikat hati ikan.
"Yes straik" teriak Jero.
Jero mengangkat jorannya. Dia berhasil memancing ikan kerapu besar. Jero mengangkat ikannya ke depan wajah Vina.
"Kamu menang." ujar Vina sambil tersenyum.
Pelayan datang membawa pesanan Jero. Mereka makan di saung yang ada di dermaga. Vian makan tanpa malu malu lagi. Dia sudah nyaman dan aman dengan Jero.
"Pulang lagi yuk udah jam enam. Tapi mau nengok raja ampat versi daerah sini." ujar Jero.
Mereka kemudian naik ke atas mobil. Mereka akan pergi melihat yang dikatakan orang raja ampatnya daerah sini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Anvi Meiza Antony
so sweet deeehh
2022-02-05
1
Fatma Kodja
ayo Jero bawa Vian pergi jauh sampai diluar jangkauan Bian
2022-02-04
1