Setelah melakukan donor darah Jero beristirahat. Sedangkan Vian kembali menolong pasien yang lain. Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan fokus yang luar biasa dari semua dokter dan suster.
Setelah berjam jam berkutat dengan pasien korban kecelakaan, Vian dan dokter yang lainnya beristirahat. Jero juga melakukan hal yang sama. Dia beristirahat di ruangan Vian.
Jero terlihat lumayan letih, dia kehabisan dua kantong sarahnya. Sedangkan Vian yang sudah terbiasa bekerja seperti itu dibagian IGD terlihat biasa aja.
"Cemen loe, katanya lakik. Kok segitu aja udah lelah." ujar Vian menggoda Jero.
"Siapa yang nggak akan lemes. Darah diambil sebanyak itu. Mana siap itu langsung dorong dorong brangkar lagi. Cari sana kalau ada orang sekuat saya Nyonya." ujar Jero.
Jero mulai berasa nyaman dengan Nyonya Mudanya ini. Sehingga kalimat kalimat yang dikeluarkannya lumayan mulai panjang. Biasanya hanya satu kata satu kata saja.
"Hahahahaha. Maaf maaf, tadi karena loe masih kelihatan bugar makanya saya menambah mengambilnya lagi. Eeee ternyata meman juga ya." ujar Vian kepasa Jero.
"Meman sih nggak pusing iya." jawab Jero.
"Sama aja." ujar Vian.
Vian menuju meja kerjanya. Dia mengambil ponsel miliknya.
"Loe mau makan apa?" tanya Vian yang berniat memesan makan siang merangkap makan sore mereka berdua.
"Terserah Nyonya saja. Saya ikut saja." ujar Jero yang memang tidak tau mau makan apa.
"Kita pesan nasi padang aja gimana? Saya sedang mau makan nasi padang." ujar Vian yang sudah memakai kata sapaan loe Saya kepada Jero.
"Setuju Nyonya, kalau bisa pakai gulai tunjang." ujar Jero yang mulai ingin memakan sesuatu.
"Baiklah." ujar Vian.
Vian kemudian memesan menu makan siang berupa nasi padang dengan lauk gulai tunjang serta itiak lado mudo atau itik cabe hijau.
"Jero, selama ini saya hanya mengenal kamu sebagai sopir. Tetapi saya tidak tau latar belakang kamu." ujar Vian.
Jero mendengar dengan saksama apa yang dikatakan oleh Vian. Dia menatap Vian dengan mata elangnya. Tatapan yang bisa membuat wanita manapun menjadi klepek klepek tidak berdaya.
"Jero boleh saya bertanya sesuatu kepada kamu?" ujar Vian yang sudah kembali tidak bersikap formal. Vian tidak tau lagi mesti bersikap seperti apa kepada Jero.
"Boleh. Silahkan aja tidak ada yang larang." ujar Jero sambil tersenyum.
"Jadi kamu berasal dari daerah mana? Karena saat saya mencek golongan darah kamu resusnya bukan resus negara ini. Untung saja resusnya sama dengan pasien yang lain." ujar Vian.
"Jadi Nyonya meragukan saya?" tanya Jero sedikit tersinggung dengan Vian.
"Bu bukan begitu Jero. Saya tidak ada niat buruk. Cuma saat saya pertama melihat kamu, saya menjadi yakin kalau kamu bukanlah orang dari negara ini." ujar Vian menatap wajah Jero.
"Benar Nyonya. Saya memang bukan berasal dari negara ini. Apakah Nyonya bersedia mendengar cerita saya?" ujar Jero mulai mau terbuka dengan Vian.
"Boleh. Kita akan bertemu setiap harinya. Jadi lebih baik kita saling mengenal satu dengan yang lain." ujar Vian.
"Jadi, saya dulunya kesini adalah imigran. Saya niat mencari kerja di negara ini. Tapi ternyata orang seperti saya sangat susah mendapatkan pekerjaan." ujar Jero.
"Terus kenapa kamu bisa terdampar dan bekerja di perusahaan Juan pria gesrek itu?" ujar Vian yang mantap melekatkan pria gesrek di belakang nama Juan.
"Jadi, saat saya tidak ada kerja. Saya jadi kuli angkut di pasar. Nah, kebetulan sekali Bik Ina saat itu mengalami kecopetan. Saya yang menolong beliau." ujar Jero.
"Kemudian Bik Ina menceritakan hal itu kepada Tuan Muda. Tuan Muda yang saat itu sedang mencari sopir pribadi meminta saya untuk menjadi sopirnya." lanjut Jero.
"Tanpa berpikir apa apa, saya menerima saja pernawaran Tuan Muda itu. Nah, sampai sekarang saya masih di sini bekerja untuk Tuan Muda. Tapi, mulai hari ini saya akan melayani Nyonya Muda." ujar Jero.
"Apa kamu nggak risih bekerja dengan orang seperti Tuan Muda kamu itu?" ujar Vian.
"Tergantung kita menghadapi Nyonya. Kalau saya membawa semuanya ke happy aja. Saya nggak mikir saat Tuan muda marah saya juga marah. Tidak. Saya menganggap kalau Tuan muda marah, saya sedang nonton sinetron lucu. Jadi, marahnya Tuan Muda saya hanya anggap sebagai sebuah kelucuan saja." jawab Jero.
Padahal sebenarnya Jero nggak pernah sekali pun menganggap Tuan Mudanya itu ada. Jero punya tujuan sendiri masuk ke dalam keluarga Alexsander. Jero memiliki sesuatu yang harus dia tuntaskan dengan keluarga itu.
Tok tok tok. Bunyi pintu ruangan Vian di ketuk dari luar. Vian kemudian membuka pintu itu. Terlihat seorang satpam.menenteng sebuah kantong plastik yang berisi pesanan makanan milik Vian.
"Makasi Pak Satpam." ujar Vian.
"Ini ambil satu untuk Bapak." ujar Vian yang selalu melebihkan untuk orang yang mengantarkan pesanannya ke ruangan.
Vian bukanlah seorang dokter yang pelit untuk berbagai apalagi membeda bedakan orang. Bagi Vian semua orang di sekitarnya adalah sama. Cuma nasib saja yang membedakan mereka satu dengan yang lainnya.
"Ayok Jer makan. Saya udah laper banget." ujar Vian sambil membuka bungkus nasi padangnya tanpa menggunakan piring sebagai alas.
Jero bergidik ngeri melihat cara makan Nyonya Mudanya itu. Jero tidak bisa membayangkan berapa banyak kuman ada di atas meja kerjanya. Apalagi ini rumah sakit tempat sarang berbagai kuman penyakit.
Vian yang melihat Jero hanya berdiam diri tidak.membuka bungkus nasinya menatap Jero dengan heran.
"Ada apa?" tanya Vian.
"Nggak ada piring?" tanya Jero.
"Hahahahaha. Jero jero. Lebih bersih meja Saya dari pada tempat kamu kerja dulu. Pakai piring segala. Bentang aja di atas meja ini." ujar Vian menertawakan Jero.
Jero kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Dia telah menyesal mengarang cerita jadi kuli angkut di pasar. Memang venar dia yang menolong Bik Ina saat kecopetan. Tetapi dia bukan kuli angkut saat itu.
"Gobloknya gue kok bisa bisanya ngomong sebagai kuli angkut coba. Huft. Goblok di pelihara." ujar Jero sambil geleng geleng kepala.
Dia beberapa kali terlihat memicingkan matanya. Menguatkan hati dan perasaannya untuk bisa makan tanpa alas piring. Dia benar benar salut dengan Nyonya Muda yang satu ini. Sama sekali tidak merasa jijik. Padahal dia tau kalau Nyonya mudanya adalah putri tunggal dari keluarga kaya. Apalagi dengan statusnya sekarang istri dari Juan Alexsander. Siapa yang tidak tau dengan Juan itu.
Akhirnya Jero pasrah dengan keadaan yang ada. Dia membuka bungkus nasinya di atas meja. Dia pasrah akan makan dengan posisi seperti ini. Ini adalah kali pertama Jero makan seperti ini.
...****************...
kakak kakak mampir ke tiga novel aku yuk.
SUAMIKU BUKAN MILIKKU
KEPAHITAN SEBUAH CINTA
KESETIAAN SEORANG ISTRI
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments