Aku menutup pintu kamar tamu tempat Tari beristirahat. Kubiarkan Ia untuk sementara menginap di rumahku. Kasihan melihat kondisinya yang seperti itu.
Aku masih punya sisi manusiawi sebagai seorang manusia. Ia butuh pertolongan, mana mungkin aku tak membantunya.
Aku kasihan dengan nasibnya. Masih muda dan cobaan hidupnya sudah berat. Aku jadi malu sudah begitu terpuruk karena masalah perceraian sampai tak mau hidup lagi. Bagaimana dengan Tari?
Masalahnya jauh lebih berat dariku. Usahanya untuk menyelamatkan rumah peninggalan ibunya sia-sia belaka. Ia malah ingin dijual oleh Bapak tirinya.
Ternyata ada yang lebih kejam dari Ibu tiri, ya... Bapak tiri itu. Kok tega menjual anaknya demi membayar hutang judi dan demi membeli minum-minuman keras? Sungguh kejam kehidupan rakyat kelas bawah.
Lagi-lagi aku bersyukur dengan hidupku yang kupikir menyedihkan ini. Setidaknya aku punya Mama dan Papa yang hidup berkecukupan sampai bisa memodali bisnisku sampai sebesar sekarang.
Ah iya, aku lupa! Kalau Tari menginap disini berarti Ia butuh baju ganti dan... pakaian dalam. Baju ganti bisa memakai kaos dan celana milikku. Kalau pakaian dalam?
Tak ada satupun baju Tara yang tersisa. Selepas Tara pergi, semua baju miliknya aku buang. Begitupun dengan semua barang-barangnya. Aku ingin menghapus namanya dari hidupku, seperti dia yang sudah tega menghapus namaku dalam hidupnya.
Aku mengetuk pintu kamar Tari. Tak lama gadis itu membukakan pintu. "Em... Kamu aku kasih ijin menginap disini untuk sementara. Aku mau membelikan kamu beberapa baju ganti dan em.... pakaian dalam. Maaf bukan aku lancang, kamu biasa pakai ukuran apa? Maksudku biar tak salah beli."
Aku yakin wajahku kini memerah. Tak pernah membelikan wanita pakaian dalam seumur hidupku. Baru kali ini. Benar-benar aku harus membuang harga diriku demi sisi kemanusiaanku.
"36.... D." jawab Tari.
"Oh... 36... D?" aku melongo tak percaya. "36 D? Beneran?" reflek aku melihat ke arah dada Tari. "Sorry aku enggak bermaksud begitu. " kataku dengan grogi. Aduh nih mata enggak bisa dikondisikan!
Aku membuang pandanganku. Wow. 36 D? Jadi dibalik kaos longgarnya itu tersimpan aset yang luar biasa besar? Hmm... Jadi penasaran.
"Iya. 36 D." Tari mengulangi perkataannya.
"Oke. Aku belikan dulu. Jangan lupa tutup pintunya! Ada yang mau kamu titip untuk aku belikan?" aku sekuat tenaga mengalihkan pandanganku yang masih penasaran dengan 36 D itu.
"Mm... Tari boleh minta dibelikan mukena dan sejadah?"
"Mukena? Sejadah aku ada sih." seingatku ada di tumpukan bawah lemari. Tak penah kugunakan lagi, entah kapan terakhir kali aku sholat.
"Iya. Boleh Tari dibelikan mukena?" tanyanya lagi.
"O... Oke. Aku belikan nanti. Jaga rumah!" dengan kikuk aku pergi meninggalkan Tari.
Kunyalakan mesin mobilku dan pergi ke salah satu Mall terdekat. Kubeli satu bucket fried chicken untuk makan malam kami nanti.
Kulangkahkan kakiku ke departement store. Aku menuju bagian pakaian dalam dan memilih bra dan cd yang sesuai seleraku.
Warna merah kayaknya bagus kalau dipakai dengan ukuran dada 36 D. Hush..... aku menggelengkan kepalaku mengusir bayangan-bayangan aneh itu.
Aku mengambil tiga stel bra dan membayarnya. Kasir dan pelayan melihatku dengan aneh. Seorang lelaki membeli bra? Entah apa yang mereka pikirkan tentangku, aku tak peduli.
Niatku hanya membeli bra, namun langkahku terhenti di sebuah dress cantik bermotif bunga-bunga warna merah dan putih. Aku yakin kalau Tari akan cocok mengenakan dress tersebut dan menanggalkan bajunya yang kebesaran.
Lalu tanpa pikir panjang tau-tau aku sudah berada di kasir dan membeli dress tadi beserta beberapa kaos dan celana. Tak lupa mukena pesanan Tari. Entah apa yang membuatku bertindak di luar biasanya seperti ini.
Aku pulang dengan membawa ayam, baju baru, mukena dan pakaian dalam. Gila sih ini. Siapa Tari sampai membuat Duda Nackal sepertiku bisa berbuat aneh begini
Aku melirik sekilas ke tetangga depan rumahku saat memasukkan mobil di garasi. Tara sudah menyalakan lampu depan rumahnya meski hari belum maghrib.
Satu yang kutahu, Tara begitu kalau ketakutan. Ia tak suka berada di rumah sendirian dan akan menyalahkan semua lampu untuk mengusir ketakutannya.
Kumatikan mesin mobil dan berjalan menuju pintu rumah, Tari dengan sigap membukakan pintu sebelum aku mengetuknya. Ia ternyata menunggu kedatanganku.
"Ini! Pakailah baju ini! Mandi dan bersiaplah untuk makan malam." kuberikan paperbag berisi baju dan pakaian dalam yang kubelikan.
"Ini... Semua buat Tari?" tanya Tari tak percaya. "Sebanyak ini?"
"Iya. Pakailah. Kamu juga tak mungkin pulang ke rumah kamu untuk mengambil baju ganti kan? Bisa-bisa Bapak kamu langsung menjual kamu ke mucikari!" jawabku seraya menaruh bucket ayam di atas meja makan.
Aku membuka magic com dan mendapati sudah ada nasi yang Mbak Inah masak untukku makan. Ini yang aku suka dari Mbak Inah. Ia menyelesaikan pekerjaanya tanpa banyak bertanya siapa yang saat ini ada di rumahku.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Rasanya hari ini berat sekali, mengantarkan Papa dan Mama dan mendapat wejangan, lalu bicara dengan Tara dan membuatku kesal, dan terakhir hampir menabrak Tari yang kini ada di sebelah kamarku.
Aku memikirkan permintaan Tari. Menjadikannya istri memang menyelesaikan masalahnya. Namun malah membuka masalah baru buatku.
Apakah aku siap membangun rumah tangga kembali?
Benakah yang Papa katakan kalau Tari wanita yang baik untukku?
Aku mengambil sebuah kaos dan celana pendek lalu berjalan menuju meja makan. Tari sudah berdiri disana dan merapikan meja makan. Piring sudah tertata dan nasi juga sudah di taruh di atas meja makan. Ayam goreng yang kubeli sudah Ia taruh di piring.
Aku menatap Tari yang mengenakan kaos dan celana training yang kubelikan. Ukurannya sangat pas dengan lekuk tubuhnya. Aku sengaja membelikannya baju yang pas tubuh. Sebal rasanya melihat Ia memakai kaos kebesaran.
Namun aku menyesali perbuatanku. Aku kini bisa melihat lekuk tubuh indah milik Tari. Benar yang Ia katakan. Aset miliknya memang besar. 36 D. Wow... Itu besar dan pasti kencang. Bagaimana kalau aku mencobainya?
Aku hampir mengumpat kesal. Kesal pada diriku yang memiliki pikiran liar seperti itu! Kugelengkan kepalaku mengusir pikiran liar itu. Jangan sampai aku terpengaruh dan berakhir dengan menerjang Tari dan membuatnya berada dalam kungkunganku.
"Tari udah siapin makannya, Om!" ujar Tari membuka percakapan.
"Oh iya.. Ayo kita makan!" ajakku.
Aku menarik kursi dan duduk di tempat biasa aku duduk. Sudah lama tak ada yang menemaniku makan, kecuali kemarin saat Papa dan Mama ada. Maksudku, aku biasa sendirian di meja makan ini.
Kini ada Tari yang menemani. Meski Tari makan dalam diam, tak membuat kehadirannya tak terlihat di depanku.
"Em... Tari boleh menginap Om disini?" tanya Tari memecah kesunyian diantara kami. "Apa tetangganya enggak terganggu? Karena di lingkungan tempat Tari tinggal ada ormas yang kalau ada yang tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan akan digerebek."
Aku tau dia takut digerebek warga. Aku bisa mengerti itu. "Tenang saja, disini agak longgar. Kebanyakan yang tinggal disini adalah WNA yang suka berganti-ganti pasangan. Tak masalah toh dijaga security."
Tari terlihat bernafas lega. Piringnya kini sudah kosong. Rupanya Ia sangat lapar dan aku tak menyadarinya. "Makanlah lagi! Ayam ini terlalu banyak kalau aku makan sendiri!"
Tanpa sungkan Tari mengambil sepotong dan menikmatinya tanpa nasi. "Makasih, Om. Tari udah lama pengen makan ayam ini tapi enggak pernah kesampean."
Aku merasa iba. Ayam ini murah bagiku, namun bagi Tari adalah hal yang mahal dan mewah. Kenapa ada kesenjangan yang begitu berbeda tiap orang ya?
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
sitii de phantom
njiirrr.... jadi penasaran seleranya om Duda Nackal nih🤣🤣
2024-06-04
0
Modish Line
kasian bgt Tari
2024-04-05
0
Modish Line
wowww 36 D
2024-04-05
0