Sepanjang acara makan siang berlangsung, Aqilla, Jovan, dan Jovin hanya diam. Mereka fokus dengan makanan masing-masing.
Ceklekk..
“ASSALAMUALAIKUM! AUNTY PULANG!” teriak Ely yang baru datang. Aroma harum masakan yang masuk ke indra penciumannya membuat gadis itu otomatis melangkah ke ruang makan. “Wah, makanan! Kamu habis masak, ya—Aqilla...” Suara Ely melirih.
He? Ini ada apa? Mereka kenapa? Kok diem-dieman begini? Serem pula.
“Ehm, kalian kenapa?” tanya Ely hati-hati.
Aqilla mendongak dengan sorot tajam. Ely langsung menegang, ia meneguk salivanya susah payah dan menggeleng cepat. Lantas ia mengalihkan pandangannya pada si kembar yang juga terdiam. Ely menunduk dan berbisik, “Mommy kalian kenapa, Twins?”
“Suasana hati mommy sedang buruk, Aunty,” bisik Jovin pelan sekali. Untungnya, sih, Ely masih bisa dengar.
Ely berdiri tegak dan tersenyum lebar. “Oke, kalian makan terus selesaikan masalahnya, ya. Aunty ke kamar dulu, bye!” Ely langsung berlari ke kamarnya, tidak memedulikan tatapan memelas si kembar yang meminta bantuan membujuk Aqilla.
Selesai makan, Jovan dan Jovin masih setia duduk di kursi makan, memperhatikan mommy mereka yang sibuk mencuci piring.
“Dek, kamu ngomong sama mommy sana,” suruh Jovan.
“Kok Adek, sih, Kak? Harusnya Kakak dong,” protes Jovin yang enggan menuruti permintaan kakaknya.
Jovan mengerucutkan bibirnya. “Kakak nggak berani,” cicitnya.
“Adek juga nggak berani,” balas Jovin pasrah.
Keduanya menghela napas berat. Aqilla sampai geleng-geleng melihat tingkah kedua anaknya itu. Dia mendengar suara helaan napas si kembar yang terlihat frustrasi.
“Mom,” panggil Jovan ketika Aqilla sudah menyelesaikan tugasnya. “Mommy marah sama kami, ya?” tanyanya takut-takut.
Aqilla menaikkan sebelah alisnya. “Ngapain Mommy marah? Emang kalian salah apa?”
Begitu saja, hanya dengan kalimat yang seperti itu, Jovan dan Jovin sudah bisa menghela napas lega. Mereka tersenyum lebar dan berlari memeluk kaki mommy mereka. “Maaf karena kami nggak pernah cerita, Mom,” ucap keduanya mengakui kesalahan.
Aqilla berjongkok dan mengusap kepala anak-anaknya. “Don’t worry,” balasnya.
“Kami nggak mau Mommy sedih, makanya kami nggak pernah cerita,” lirih Jovin mengeluarkan unek-uneknya.
Aqilla tersenyum saja. Ia bersyukur memiliki anak yang begitu pengertian seperti mereka. Rasanya seperti mimpi, di umurnya yang baru menginjak 28 tahun, Aqilla sudah punya 2 anak yang berusia 6 tahun.
Hebat sekali, sih. Udah gitu bibit unggul pula, genius dan hebat.
“Oh, ya, Mom!” seru Jovan tiba-tiba. “Lusa Jovan ada lomba karya IT tingkat nasional di gedung utama Calgary, Kanada. Mommy datang, ya?” pinta Jovan penuh harap.
Aqilla mengiyakan dengan senang hati. “Memang alatmu sudah jadi, Boy? Perlu Mommy periksakan?”
“Udah, kok, Mom. Jovan buat alat yang keren dan berguna. Jovan pasti menang kayak biasanya,” bangga Jovan pada dirinya sendiri. Dia sampai mendongakkan kepala dengan dada membusung, membuat Aqilla dan Jovin geleng-geleng pasrah.
“Jovin juga ada ikut lomba, Mom!” Jovan mengacungkan tangannya ke atas dengan heboh sambil melompat kecil. “Jovin ikut lomba sing and dance, Mom. Nanti Mommy, Kakak, sama aunty datang, ya?”
“Iya, Girl.”
Yah, begitulah Aqilla. Apa pun kesenangan Jovan dan Jovin selalu ia turuti asalkan itu bukan hal yang negatif.
Jovanka yang pintar merangkai mesin dengan fitur canggih buatan sendiri membuatnya sering meraih piala emas di setiap lomba karya IT yang diikuti. Aqilla juga sering, kok, turun tangan membantu merangkai mesin. Karena memang sebenarnya Aqilla-lah yang mengajarkan Jovan soal dunia itu karena tahu Jovan tertarik.
Sementara Jovinka memiliki suara emas lengkap dengan tubuh gesit yang merupakan turunan dari Aqilla. Gadis kecil itu sering mondar-mandir ke beberapa negara karena acap kali mendapat tawaran tampil di stasiun televisi. Dan, ke mana pun Jovin pergi, Aqilla akan selalu menemani.
Sayangnya, selain kemampuan bernyanyi dan dance, Jovin mendapat turunan berupa kekuatan Aqilla yang sedikit di luar nalar. Gadis kecil itu bisa melakukan lebih banyak gerakan beladiri dibandingkan dengan sang kakak.
Jovan juga hebat, kok. Jadi, jangan diremehin, ya.
Aqilla sadar, kemampuan mereka bukan hanya berasal darinya. Melainkan juga karena Tuan Muda Rayhan yang terkenal akan kepiawaiannya dalam berbagai bidang, namun lebih menjurus ke dunia IT dan beladiri. Dan, seolah Allah menyayangi mereka, kemampuan Aqilla dan Rayhan menyatu sempurna di dalam diri Jovan dan Jovin.
Paras Jovan dan Jovin sama seperti Rayhan, hanya warna mata mereka yang violet seperti milik Aqilla. Jovan sendiri lebih cenderung mirip Rayhan jika dilihat dari kemampuan, sedangkan Jovin lebih mirip Aqilla.
Kurang lebih begitulah si kembar.
Itulah alasannya, aku kadang pusing mengurusi mereka.
...👑👑👑...
“Si kembar udah tidur?” tanya Ely yang melihat Aqilla termenung di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga di malam hari.
Aqilla mengangguk saja, tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Ely duduk di sebelah sahabatnya itu. “Kamu kenapa, Qill? Ada masalah apa?” tanyanya prihatin. Hidup bersama Aqilla sejak lama membuatnya tahu bagaimana perjalanan Aqilla untuk bisa berada di titik ini.
Ely tahu benar, ada banyak hal yang Aqilla korbankan selama ini. Wanita itu menyimpan sejuta rahasia di dalam hati dan otaknya.
Dan, juga rasa bersalah yang teramat dalam.
“Kenapa otak anakku nggak normal kayak yang lain, sih, El?” ucap Aqilla yang cenderung seperti orang tengah protes dengan nasibnya sendiri.
“Kalo ingat siapa daddy dan mommy mereka, latar belakang daddy mereka dan latar belakangmu, aku nggak heran kalo anakmu kurang normal otaknya,” balas Ely santai.
Aqilla tidak bisa membantah. Ia juga tahu persis mengenai hal tersebut.
“Aku yakin, bukan ini yang kamu pikirin. Ada apa, sih? Cerita dong,” pinta Ely memohon.
Aqilla menghela napas berat. “Ternyata.. selama ini Jovan sama Jovin sering disebut anak haram di sekolah.”
“He? Kok, bisa? Bukannya punya anak tanpa suami di Kanada hal yang lumrah? Banyak, kok, wanita di sini yang begitu!” seru Ely yang tak terima kedua keponakan pintarnya diejek dengan kata-kata sampah itu.
“Iya, sih.” Aqilla menyandarkan punggungnya di sofa. “Tapi, kayaknya orang itu dari Indonesia, El. Dia bisa bahasa Indonesia fasih dengan logat Jawa.”
Ely berdecak, ikut kesal. “Terus kamu apain dia? Kamu becek-becek jadi tahu penyet nggak?” serunya menggebu-gebu.
Aqilla menggeleng. “Itu namanya menyalahgunakan kekuasaan. Masa aku ngasih contoh yang nggak baik? Reputasiku anjlok dong!” Lagi-lagi menghela napas berat. “Tapi, bukan itu yang aku permasalahin, El.”
“Terus apa?”
“Aku...” Aqilla terdiam sejenak. Ia menoleh ke samping dan menatap Ely dalam. “Aku mau buat anak-anak ketemu sana tuan muda, tapi... aku takut.”
“Aku takut kalo dia tahu, El.”
Aku harus apa, Ya Allah...
^^^To be continue...^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments