Kemungkinan, ini chapter terakhir Ay tulis untuk “Aqilla’s Story”. Habis ini mau fokus nulis “Kisah Kita” dulu, ya.
...Happy reading:)...
.......
.......
.......
“Permisi!” seru Aqilla menggema.
Suara Aqilla membuat semua pasang mata menoleh. Mereka terkejut melihat gadis cantik seperti Aqilla berdiri tengah malam di depan mansion Refalino.
“Permisi, maaf saya mengganggu. Saya ingin mengatakan kalau Tuan Muda Rayhan bersama saya.”
Bukan sambutan manis berupa kata terima kasih yang Aqilla terima. Melainkan todongan pistol dari semua anak buah Robert.
Deg!
Hei, hei, ada apa ini?
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Robert dingin.
Menyuruhku? Maksudnya apa?
Hei, ada apa di sini?!!
“Tangkap gadis itu!” perintah Robert tegas.
“Baik, Tuan!”
Tak ingin membiarkan sang gadis kabur, beberapa lelaki berbadan besar yang merupakan anak buah Robert segera menerobos gerbang dengan cepat. Dua dari mereka menahan Aqilla dengan mencengkeram lengannya.
“Maaf, Tuan semua. Sentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya itu dosa. Tolong, ya, hargai itu.” Aqilla melepas tangannya dengan pelan.
Dua lelaki yang tadi menahan Aqilla pun melepas cengkeraman. Hanya saja, mereka tetap berjaga di samping gadis itu.
Fiuhhh... selamat. Trik yang satu itu emang ampuh untuk menyelamatkan diri, hahaha.
Robert berdeham kencang. “Sekarang jawab, bagaimana putraku bisa bersama denganmu?” tanyanya tajam.
“Ah, begini, Tuan. Saya bertemu dengan Tuan Muda di Club Fress. Tuan Muda sedang mabuk, Tuan Besar. Jadi, saya membawa Tuan Muda kemari,” jelas Aqilla berusaha meluruskan kesalahpahaman di sini. “Tuan Muda ada di mobil saya,” tambahnya lagi seraya menunjuk mobilnya yang berada di depan gerbang.
Robert memicing curiga. Namun, tak urung mengikuti langkah Aqilla yang mendekati mobil. Pintu samping di sebelah pengemudi terbuka. Rayhan ada di sana tengah tertidur pulas.
“Ray?!” pekik Robert cemas. “ALVIN!!”
“Saya, Tuan Besar?” sahut Alvin segera menuju sang majikan.
“Bantu aku memindahkan Ray ke kamarnya.”
“Baik, Tuan.”
“Dan, kamu!” Robert menunjuk Aqilla.
Aqilla gelagapan. “Saya, Tuan?”
“Kamu tidak boleh pergi dari mansion ini sebelum saya memastikan bahwa anak saya baik-baik saja, mengerti?”
Bernapas lega. “Mengerti, Tuan.” Aqilla menatap dua orang yang menjaganya bergantian. “Apa tidak ada orang seperti kalian yang berjenis kelamin perempuan?”
Diam.
“Kalian pendiam ternyata, hihi.” Aqilla terkekeh pelan.
Susah payah Robert dan Alvin mengeluarkan Rayhan dari mobil. Usai menutup pintu dan mengunci mobil, Aqilla mengikuti langkah orang-orang di depannya memasuki mansion keluarga Refalino.
Ckckck, rumah orang kaya emang beda.
Bukan rumah kalo begini. Istana namanya.
Robert dan Alvin membaringkan tubuh Rayhan di kamar lelaki itu. Lanjut menghubungi dokter keluarga untuk datang dan memeriksa kondisi putra sulung keluarga Refalino. Sembari menanti, Robert, Reva, dan Jessie duduk di ruang tamu bersama Aqilla.
Glek!
Ini kenapa, sih? Ya Allah, salah Hamba cantikmu ini apa..?
Tatapan Robert dan Reva begitu mengintimidasi. Seolah ingin mencabik-cabik tubuh Aqilla yang langsing nan semampai ini. Semua anak buah Robert juga berdiri mengelilingi Aqilla dengan tatapan datar.
“Halo, Kak,” sapa Jessie ramah.
Aqilla balas tersenyum. “Halo juga.”
“Nama Kakak siapa?”
“Aqilla.”
Jessie manggut-manggut. “Kak Aqilla kerjanya apa?”
Aqilla terdiam. Aishh... aku lupa bawa lencana polisiku, huaa..
“Em, apa, ya?” ucap Aqilla kikuk. “Saya sulit menjelaskannya, Nona.”
Jessie menatap Aqilla bingung. “Kakak ketemu Kak Ray di club?” Aqilla mengiyakan. “Buat apa Kakak ke club? Kakak terlihat alim sekali tadi.”
Robert yang baru menyadari hal tersebut semakin menatap Aqilla tajam. Dia berpikir, gadis ini adalah salah satu suruhan musuhnya. Dan, jika itu benar, Robert pastikan, Aqilla akan keluar dari mansion hanya tubuhnya saja.
Iya, badannya aja. Nyawanya udah melayang soalnya, wushh...
“Saya ke sana karena pekerjaan saya, Nona,” jawab Aqilla apa adanya.
“Iya, tapi kerjaannya apa?”
Jawab nggak, ya? Kalo aku bilang polisi, mereka percaya nggak, ya?
“Em, saya—”
“Tuan Besar, Nyonya Besar, Dokter Yan sudah datang,” ucap Alvin menyela jawaban Aqilla.
Robert segera meminta Dokter Yan memeriksa sang anak. Reva yang khawatir pun turut mengekori suaminya menuju kamar Rayhan. Sementara Jessie masih di ruang tamu, menyerbu Aqilla dengan banyak pertanyaan.
“Tadi kerjaannya apa, Kak Qill?”
“Em, saya polisi, Nona,” jawab Aqilla pelan.
Jessie terkejut. “Polisi, Kak?”
Bukan polisi juga, sih. Tapi, itu identitasku selama di sini.
“Iya, Nona.”
Jessie mengangguk paham. “Kalau gitu, kenapa Kakak nggak jawab aja dari tadi? Polisi, kan, pekerjaan yang keren,” seru Jessie menggebu-gebu.
Aqilla tersenyum tipis melihat tingkah Jessie yang nampak berbinar menatapnya. “Saya tidak membawa lencana saya, Nona. Saya takut Anda tidak percaya,” jawab Aqilla jujur.
Jessie tergelak melihat sorot mata polos Aqilla. “Kak Aqill lucu, ya.”
Aqilla mengerjap bingung. “A–Aqill?”
“Iya. Aqilla, jadi Aqill.”
“Jangan dong, Nona. Qilla saja, jangan Aqill. Itu aneh di telinga saya.” Nada suara Aqilla terdengar sedikit merengek.
Jessie tertawa. Kak Aqilla-nya ini memang menggemaskan. “Oke, oke. Kak Qilla?”
“Yes, Nona. Hehe.”
Selepas itu, Jessie dan Aqilla berbincang santai layaknya sahabat. Mereka terlihat sudah tidak canggung satu sama lain. Pembawaan Aqilla yang selalu friendly dan ramah pada siapa pun membuat Jessie menyukai gadis itu dengan teramat.
Aqilla itu sosok yang apa adanya.
Sementara itu, di kamar Rayhan, Robert dan Reva masih menanti Dokter Yan memeriksa Rayhan. Tak urung pula Alvin juga berada di sana.
“Bagaimana, Dok? Anak saya baik-baik saja, kan?” tanya Reva khawatir.
Dokter Yan tersenyum kepada Reva. “Tuan Muda baik-baik saja, Nyonya Besar. Sepertinya, Tuan Muda terlalu banyak ‘minum’ dan membuat dirinya sendiri mabuk berat, Nyonya, Tuan.”
Reva menghembuskan napas lega. Begitu pula Robert.
“Terima kasih, Dok,” balas Robert tulus.
“Sama-sama, Tuan. Sudah menjadi kewajiban saya. Kalau begitu, saya pamit pulang,” pamit sang dokter usai merapikan beberapa alat pemeriksaan.
Robert mempersilakan. Ia meminta Alvin untuk mengantar Dokter Yan sampai ke mobil. Alvin menyanggupi dengan patuh.
Robert dan Reva turun ke lantai pertama, di mana ruang tamu berada. Keduanya melihat putri mereka tengah mengobrol heboh dengan Aqilla—gadis yang membantu Rayhan.
“Jessie,” panggil Robert.
Jessie menoleh. “Papi? Gimana keadaan Kak Ray, Pi?”
“Kakakmu baik-baik saja.”
Jessie tersenyum lebar. “Syukurlah.”
“Nak Aqilla,” panggil Reva lembut. Ia berjalan menghampiri Aqilla dan membuat gadis itu berdiri tegak dengan cepat.
Aqilla tersenyum kikuk. “Iya, Nyonya?”
“Terima kasih, ya, sudah membantu anak Tante,” pinta Reva tulus. Menggenggam kedua tangan Aqilla.
Aqilla segera menarik perlahan kedua tangannya. Ia sedikit membungkuk pada Reva. “Tidak masalah bagi saya, Nyonya.”
“Imbalan apa yang kamu mau?” tanya Robert yang sedari tadi diam.
“Hah? I–imbalan?” beo Aqilla tak paham.
“Iya, imbalan.” Robert mengulang katanya. Ia menganggap Aqilla sama seperti gadis luaran sana. Mencari muka di hadapannya, memberi bantuan secara cuma-cuma awalnya, lalu meminta imbalan besar pada akhirnya.
Percayalah, gadis seperti itu sangat menyebalkan.
“Saya hanya ingin pulang saja, Tuan,” pinta Aqilla yang memang tidak ingin mendapat imbalan apa pun. Dia membantu Rayhan karena belas kasihan yang dimiliki.
“Pulang?” tanya Robert ragu.
Aqilla tersenyum lebar. “Karena semua sudah baik-baik saja, saya boleh pulang, kan, Tuan?”
Robert mendadak paham. “Oh, begitu. Ya sudah, kamu boleh pulang.”
“Ah, syukurlah.” Aqilla tersenyum lega. “Kalau begitu, saya pamit, Tuan Besar, Nyonya Besar, Nona Jessie.”
“Yah, Kak Qilla mau pulang?” tanya Jessie yang merasa tak rela Aqilla pergi. Ia sangat menyukai gadis itu dan ingin terus berbicara banyak hal.
“Maaf, Nona. Ini sudah hampir tengah malam, saya harus segera pulang. Nona juga harus beristirahat, kan?” ucap Aqilla berusaha menjelaskan. Walaupun berat, Jessie melepas Aqilla agar pulang.
Setelah berpamitan pada semua orang sekali lagi, Aqilla keluar dari mansion sembari bersenandung lirih. Tatapan datar dari para anak buah Robert ditanggapi dengan senyum manisnya. Ia segera melesat pergi dari mansion tersebut dengan mobilnya.
Fiuhh... syukurlah. Aku bisa keluar dari kurungan cantik itu.
Aqilla berdecak mengingat betapa megahnya mansion keluarga Refalino.
“Orang kaya mah bebas. Beli ini tinggal jentikkan jari, barangnya udah ada.”
“Ckckck, lah aku?”
Aqilla tergelak. “Beli HP aja nunggu sampe bener-bener nggak bisa dipake baru beli baru, haha.”
^^^To be continue...^^^
...👑👑👑...
Wah, kalo itu, sih, Ay juga gitu, Qill. Beli HP nunggu rusak dulu, wkwkwk.
See you di chapter selanjutnya:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Norfadilah
Sama dong Mbak harus peras keringat dulu baru dapat duit....Heeheee...🤣🤣🤣
2023-06-26
1
Joveni
sama kayak q deh qilla... baru beli kalo dah jurus " kepepet " keluar...hehehe🤣🤣🤣🤣🤣
2022-11-07
1
Naga Bulan Salju
ngumpulin duid buat hp ya😌
2022-06-23
1