Chapter 3 | Penjelasan

Kemungkinan, ini chapter terakhir Ay tulis untuk “Aqilla’s Story”. Habis ini mau fokus nulis “Kisah Kita” dulu, ya.

...Happy reading:)...

.......

.......

.......

“Permisi!” seru Aqilla menggema.

Suara Aqilla membuat semua pasang mata menoleh. Mereka terkejut melihat gadis cantik seperti Aqilla berdiri tengah malam di depan mansion Refalino.

“Permisi, maaf saya mengganggu. Saya ingin mengatakan kalau Tuan Muda Rayhan bersama saya.”

Bukan sambutan manis berupa kata terima kasih yang Aqilla terima. Melainkan todongan pistol dari semua anak buah Robert.

Deg!

Hei, hei, ada apa ini?

“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Robert dingin.

Menyuruhku? Maksudnya apa?

Hei, ada apa di sini?!!

“Tangkap gadis itu!” perintah Robert tegas.

“Baik, Tuan!”

Tak ingin membiarkan sang gadis kabur, beberapa lelaki berbadan besar yang merupakan anak buah Robert segera menerobos gerbang dengan cepat. Dua dari mereka menahan Aqilla dengan mencengkeram lengannya.

“Maaf, Tuan semua. Sentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya itu dosa. Tolong, ya, hargai itu.” Aqilla melepas tangannya dengan pelan.

Dua lelaki yang tadi menahan Aqilla pun melepas cengkeraman. Hanya saja, mereka tetap berjaga di samping gadis itu.

Fiuhhh... selamat. Trik yang satu itu emang ampuh untuk menyelamatkan diri, hahaha.

Robert berdeham kencang. “Sekarang jawab, bagaimana putraku bisa bersama denganmu?” tanyanya tajam.

“Ah, begini, Tuan. Saya bertemu dengan Tuan Muda di Club Fress. Tuan Muda sedang mabuk, Tuan Besar. Jadi, saya membawa Tuan Muda kemari,” jelas Aqilla berusaha meluruskan kesalahpahaman di sini. “Tuan Muda ada di mobil saya,” tambahnya lagi seraya menunjuk mobilnya yang berada di depan gerbang.

Robert memicing curiga. Namun, tak urung mengikuti langkah Aqilla yang mendekati mobil. Pintu samping di sebelah pengemudi terbuka. Rayhan ada di sana tengah tertidur pulas.

“Ray?!” pekik Robert cemas. “ALVIN!!”

“Saya, Tuan Besar?” sahut Alvin segera menuju sang majikan.

“Bantu aku memindahkan Ray ke kamarnya.”

“Baik, Tuan.”

“Dan, kamu!” Robert menunjuk Aqilla.

Aqilla gelagapan. “Saya, Tuan?”

“Kamu tidak boleh pergi dari mansion ini sebelum saya memastikan bahwa anak saya baik-baik saja, mengerti?”

Bernapas lega. “Mengerti, Tuan.” Aqilla menatap dua orang yang menjaganya bergantian. “Apa tidak ada orang seperti kalian yang berjenis kelamin perempuan?”

Diam.

“Kalian pendiam ternyata, hihi.” Aqilla terkekeh pelan.

Susah payah Robert dan Alvin mengeluarkan Rayhan dari mobil. Usai menutup pintu dan mengunci mobil, Aqilla mengikuti langkah orang-orang di depannya memasuki mansion keluarga Refalino.

Ckckck, rumah orang kaya emang beda.

Bukan rumah kalo begini. Istana namanya.

Robert dan Alvin membaringkan tubuh Rayhan di kamar lelaki itu. Lanjut menghubungi dokter keluarga untuk datang dan memeriksa kondisi putra sulung keluarga Refalino. Sembari menanti, Robert, Reva, dan Jessie duduk di ruang tamu bersama Aqilla.

Glek!

Ini kenapa, sih? Ya Allah, salah Hamba cantikmu ini apa..?

Tatapan Robert dan Reva begitu mengintimidasi. Seolah ingin mencabik-cabik tubuh Aqilla yang langsing nan semampai ini. Semua anak buah Robert juga berdiri mengelilingi Aqilla dengan tatapan datar.

“Halo, Kak,” sapa Jessie ramah.

Aqilla balas tersenyum. “Halo juga.”

“Nama Kakak siapa?”

“Aqilla.”

Jessie manggut-manggut. “Kak Aqilla kerjanya apa?”

Aqilla terdiam. Aishh... aku lupa bawa lencana polisiku, huaa..

“Em, apa, ya?” ucap Aqilla kikuk. “Saya sulit menjelaskannya, Nona.”

Jessie menatap Aqilla bingung. “Kakak ketemu Kak Ray di club?” Aqilla mengiyakan. “Buat apa Kakak ke club? Kakak terlihat alim sekali tadi.”

Robert yang baru menyadari hal tersebut semakin menatap Aqilla tajam. Dia berpikir, gadis ini adalah salah satu suruhan musuhnya. Dan, jika itu benar, Robert pastikan, Aqilla akan keluar dari mansion hanya tubuhnya saja.

Iya, badannya aja. Nyawanya udah melayang soalnya, wushh...

“Saya ke sana karena pekerjaan saya, Nona,” jawab Aqilla apa adanya.

“Iya, tapi kerjaannya apa?”

Jawab nggak, ya? Kalo aku bilang polisi, mereka percaya nggak, ya?

“Em, saya—”

“Tuan Besar, Nyonya Besar, Dokter Yan sudah datang,” ucap Alvin menyela jawaban Aqilla.

Robert segera meminta Dokter Yan memeriksa sang anak. Reva yang khawatir pun turut mengekori suaminya menuju kamar Rayhan. Sementara Jessie masih di ruang tamu, menyerbu Aqilla dengan banyak pertanyaan.

“Tadi kerjaannya apa, Kak Qill?”

“Em, saya polisi, Nona,” jawab Aqilla pelan.

Jessie terkejut. “Polisi, Kak?”

Bukan polisi juga, sih. Tapi, itu identitasku selama di sini.

“Iya, Nona.”

Jessie mengangguk paham. “Kalau gitu, kenapa Kakak nggak jawab aja dari tadi? Polisi, kan, pekerjaan yang keren,” seru Jessie menggebu-gebu.

Aqilla tersenyum tipis melihat tingkah Jessie yang nampak berbinar menatapnya. “Saya tidak membawa lencana saya, Nona. Saya takut Anda tidak percaya,” jawab Aqilla jujur.

Jessie tergelak melihat sorot mata polos Aqilla. “Kak Aqill lucu, ya.”

Aqilla mengerjap bingung. “A–Aqill?”

“Iya. Aqilla, jadi Aqill.”

“Jangan dong, Nona. Qilla saja, jangan Aqill. Itu aneh di telinga saya.” Nada suara Aqilla terdengar sedikit merengek.

Jessie tertawa. Kak Aqilla-nya ini memang menggemaskan. “Oke, oke. Kak Qilla?”

“Yes, Nona. Hehe.”

Selepas itu, Jessie dan Aqilla berbincang santai layaknya sahabat. Mereka terlihat sudah tidak canggung satu sama lain. Pembawaan Aqilla yang selalu friendly dan ramah pada siapa pun membuat Jessie menyukai gadis itu dengan teramat.

Aqilla itu sosok yang apa adanya.

Sementara itu, di kamar Rayhan, Robert dan Reva masih menanti Dokter Yan memeriksa Rayhan. Tak urung pula Alvin juga berada di sana.

“Bagaimana, Dok? Anak saya baik-baik saja, kan?” tanya Reva khawatir.

Dokter Yan tersenyum kepada Reva. “Tuan Muda baik-baik saja, Nyonya Besar. Sepertinya, Tuan Muda terlalu banyak ‘minum’ dan membuat dirinya sendiri mabuk berat, Nyonya, Tuan.”

Reva menghembuskan napas lega. Begitu pula Robert.

“Terima kasih, Dok,” balas Robert tulus.

“Sama-sama, Tuan. Sudah menjadi kewajiban saya. Kalau begitu, saya pamit pulang,” pamit sang dokter usai merapikan beberapa alat pemeriksaan.

Robert mempersilakan. Ia meminta Alvin untuk mengantar Dokter Yan sampai ke mobil. Alvin menyanggupi dengan patuh.

Robert dan Reva turun ke lantai pertama, di mana ruang tamu berada. Keduanya melihat putri mereka tengah mengobrol heboh dengan Aqilla—gadis yang membantu Rayhan.

“Jessie,” panggil Robert.

Jessie menoleh. “Papi? Gimana keadaan Kak Ray, Pi?”

“Kakakmu baik-baik saja.”

Jessie tersenyum lebar. “Syukurlah.”

“Nak Aqilla,” panggil Reva lembut. Ia berjalan menghampiri Aqilla dan membuat gadis itu berdiri tegak dengan cepat.

Aqilla tersenyum kikuk. “Iya, Nyonya?”

“Terima kasih, ya, sudah membantu anak Tante,” pinta Reva tulus. Menggenggam kedua tangan Aqilla.

Aqilla segera menarik perlahan kedua tangannya. Ia sedikit membungkuk pada Reva. “Tidak masalah bagi saya, Nyonya.”

“Imbalan apa yang kamu mau?” tanya Robert yang sedari tadi diam.

“Hah? I–imbalan?” beo Aqilla tak paham.

“Iya, imbalan.” Robert mengulang katanya. Ia menganggap Aqilla sama seperti gadis luaran sana. Mencari muka di hadapannya, memberi bantuan secara cuma-cuma awalnya, lalu meminta imbalan besar pada akhirnya.

Percayalah, gadis seperti itu sangat menyebalkan.

“Saya hanya ingin pulang saja, Tuan,” pinta Aqilla yang memang tidak ingin mendapat imbalan apa pun. Dia membantu Rayhan karena belas kasihan yang dimiliki.

“Pulang?” tanya Robert ragu.

Aqilla tersenyum lebar. “Karena semua sudah baik-baik saja, saya boleh pulang, kan, Tuan?”

Robert mendadak paham. “Oh, begitu. Ya sudah, kamu boleh pulang.”

“Ah, syukurlah.” Aqilla tersenyum lega. “Kalau begitu, saya pamit, Tuan Besar, Nyonya Besar, Nona Jessie.”

“Yah, Kak Qilla mau pulang?” tanya Jessie yang merasa tak rela Aqilla pergi. Ia sangat menyukai gadis itu dan ingin terus berbicara banyak hal.

“Maaf, Nona. Ini sudah hampir tengah malam, saya harus segera pulang. Nona juga harus beristirahat, kan?” ucap Aqilla berusaha menjelaskan. Walaupun berat, Jessie melepas Aqilla agar pulang.

Setelah berpamitan pada semua orang sekali lagi, Aqilla keluar dari mansion sembari bersenandung lirih. Tatapan datar dari para anak buah Robert ditanggapi dengan senyum manisnya. Ia segera melesat pergi dari mansion tersebut dengan mobilnya.

Fiuhh... syukurlah. Aku bisa keluar dari kurungan cantik itu.

Aqilla berdecak mengingat betapa megahnya mansion keluarga Refalino.

“Orang kaya mah bebas. Beli ini tinggal jentikkan jari, barangnya udah ada.”

“Ckckck, lah aku?”

Aqilla tergelak. “Beli HP aja nunggu sampe bener-bener nggak bisa dipake baru beli baru, haha.”

^^^To be continue...^^^

...👑👑👑...

Wah, kalo itu, sih, Ay juga gitu, Qill. Beli HP nunggu rusak dulu, wkwkwk.

See you di chapter selanjutnya:)

Terpopuler

Comments

Norfadilah

Norfadilah

Sama dong Mbak harus peras keringat dulu baru dapat duit....Heeheee...🤣🤣🤣

2023-06-26

1

Joveni

Joveni

sama kayak q deh qilla... baru beli kalo dah jurus " kepepet " keluar...hehehe🤣🤣🤣🤣🤣

2022-11-07

1

Naga Bulan Salju

Naga Bulan Salju

ngumpulin duid buat hp ya😌

2022-06-23

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 | Pertemuan
2 Chapter 2 | Hanya Ingin Membantu
3 Chapter 3 | Penjelasan
4 Chapter 4 | Tentang Tuan Muda
5 Chapter 5 | Tentang Aqilla
6 Chapter 6 | Bertemu Lagi
7 Chapter 7 | Usaha Penangkapan
8 Chapter 8 | Tertangkap
9 Chapter 9 | Hubungan Terlarang
10 Chapter 10 | Pamit
11 Chapter 11 | Hamil?
12 Chapter 12 | Izin Hiatus
13 Chapter 13 | Welcome Twins J
14 Chapter 14 | Keseharian Aqilla
15 Chapter 15 | Bukan Anak Haram!
16 Chapter 16 | Ketakutan Aqilla
17 Chapter 17 | Kemenangan Jovan
18 Chapter 18 | Hadiah dari Jovin
19 Chapter 19 | Kondisi Keluarga Refalino
20 Chapter 20 | Di Mana Daddy Kami?
21 Chapter 21 | Ingin Bertemu
22 Chapter 22 | Dia Daddy Kami!
23 Chapter 23 | Siap Bertemu
24 Chapter 24 | Cerita Masa Lalu
25 Chapter 25 | Tiba di Indonesia
26 Chapter 26 | Data Keluarga Aqilla
27 Chapter 27 | Dad vs Son
28 Chapter 28 | Kasih Sayang Aqilla
29 Chapter 29 | Belanja
30 Chapter 30 | Bertemu Jessie
31 Chapter 31 | Aunty Pulang!
32 Chapter 32 | Calon Menantu?!
33 Chapter 33 | Penyerangan
34 Chapter 34 | Ajakan ke Mansion
35 Chapter 35 | Makan Bersama
36 Chapter 36 | Rencana Berhasil!
37 Chapter 37 | Grandpa, Grandma
38 Chapter 38 | Grandpa, Grandma (2)
39 Chapter 39 | Pesta: Akhirnya Bertemu
40 Chapter 40 | Pesta: Tidak Tahu Malu!
41 Chapter 41 | Pesta: Pencari Masalah
42 Chapter 42 | Pesta: Dia Tidak Mandul!
43 Chapter 43 | Pesta: Daddy!
44 Chapter 44 | Pulang ke Mansion
45 Chapter 45 | Pulang ke Mansion (2)
46 Chapter 46 | Berkumpul Bersama
47 Chapter 47 | Kebiasaan Si Kembar
48 Chapter 48 | Ayo Menikah
49 Chapter 49 | Ingin Lebih Dekat
50 Chapter 50 | Kesempatan Berdua
51 Chapter 51 | Kesempatan Berdua (2)
52 Chapter 52 | Perpisahan
53 Chapter 53 | Ikut ke Kantor
54 Chapter 54 | Pelaku Korupsi
55 Chapter 55 | Hilang
56 Chapter 56 | Fathur?
57 Chapter 57 | Selamanya Sahabat
58 Chapter 58 | Mommy Pulang!
59 Chapter 59 | Jalan-Jalan Keluarga
60 Chapter 60 | Jalan-Jalan Keluarga 2
61 Chapter 61: Jalan-Jalan Keluarga (3)
62 Chapter 62 | Gadis Itu
63 Chapter 63 | Diculik
64 Chapter 64 | Aksi si Kembar
65 Chapter 65 | Tidak Diizinkan!
66 Chapter 66 | Selesaikan Masalah!
67 Chapter 67 | Tidak Ada?
68 Chapter 68 | Janji Sebelum Tidur
69 Chapter 69 | Kapan Menikah?
70 Chapter 70 | Tidak Boleh Pergi!
71 Chapter 71 | Misi Penyergapan
72 Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
73 Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
74 Chapter 73 | Mommy Daddy Sedang Apa?
75 Chapter 74 | Aqilla Setuju
76 Chapter 75 | Pergi dan Datang
77 Chapter 76 | Sedang Apa di Sini?
78 Chapter 77 | Takut Mommy
79 Chapter 78 | Melepas Rindu
80 Chapter 79 | Bertemu Chelsea
81 Chapter 80 | Permintaan Chelsea
82 Chapter 81 | Selamat Ulang Tahun, Aqilla
83 Chapter 82 | Aku Saudara Kembarnya
84 Chapter 83 | Dibawa Pergi
85 Chapter 84 | Kebenaran Masa Lalu
86 Chapter 85 | Kebenaran Masa Lalu (2)
87 Chapter 86 | Tekad Rayhan
88 Chapter 87 | Mansion Kenzie
89 Chapter 88 | Dari Dulu Begitu
90 Chapter 89 | Maksud Kedatangan
91 Chapter 90 | Kebenaran
92 Chapter 91 | Kebenaran (2)
93 Chapter 92 | Kebenaran (3)
94 Chapter 93 | Baikan
95 Chapter 94 | Meminta Izin
96 Chapter 95 | Happy Birthday, Twins
97 Chapter 96 | Direstui
98 Chapter 97 | Kisah Aqilla-Kenzie
99 Chapter 98 | Kisah Aqilla-Kenzie (2)
100 Chapter 99 | Kisah Aqilla-Kenzie (3)
101 Chapter 100 | Wali Nikah Aqilla?
102 Chapter 101 | In the Seoul
103 Chapter 102 | Fakta Masa Lalu
104 Chapter 103 | Kembali Bersama
105 Chapter 104 | Kembali Bersama (2)
106 Chapter 105 | The Last: Hari Bahagia
107 Chapter 106 | The Last: Hari Bahagia (2)
108 Bonus Chapter 1
109 Bonus Chapter 2
110 Bonus Chapter 3
111 Bonus Chapter 4
112 Bonus Chapter 5
113 Question??
114 Promosi [Cruel Mafia vs Cool Mafia]
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Chapter 1 | Pertemuan
2
Chapter 2 | Hanya Ingin Membantu
3
Chapter 3 | Penjelasan
4
Chapter 4 | Tentang Tuan Muda
5
Chapter 5 | Tentang Aqilla
6
Chapter 6 | Bertemu Lagi
7
Chapter 7 | Usaha Penangkapan
8
Chapter 8 | Tertangkap
9
Chapter 9 | Hubungan Terlarang
10
Chapter 10 | Pamit
11
Chapter 11 | Hamil?
12
Chapter 12 | Izin Hiatus
13
Chapter 13 | Welcome Twins J
14
Chapter 14 | Keseharian Aqilla
15
Chapter 15 | Bukan Anak Haram!
16
Chapter 16 | Ketakutan Aqilla
17
Chapter 17 | Kemenangan Jovan
18
Chapter 18 | Hadiah dari Jovin
19
Chapter 19 | Kondisi Keluarga Refalino
20
Chapter 20 | Di Mana Daddy Kami?
21
Chapter 21 | Ingin Bertemu
22
Chapter 22 | Dia Daddy Kami!
23
Chapter 23 | Siap Bertemu
24
Chapter 24 | Cerita Masa Lalu
25
Chapter 25 | Tiba di Indonesia
26
Chapter 26 | Data Keluarga Aqilla
27
Chapter 27 | Dad vs Son
28
Chapter 28 | Kasih Sayang Aqilla
29
Chapter 29 | Belanja
30
Chapter 30 | Bertemu Jessie
31
Chapter 31 | Aunty Pulang!
32
Chapter 32 | Calon Menantu?!
33
Chapter 33 | Penyerangan
34
Chapter 34 | Ajakan ke Mansion
35
Chapter 35 | Makan Bersama
36
Chapter 36 | Rencana Berhasil!
37
Chapter 37 | Grandpa, Grandma
38
Chapter 38 | Grandpa, Grandma (2)
39
Chapter 39 | Pesta: Akhirnya Bertemu
40
Chapter 40 | Pesta: Tidak Tahu Malu!
41
Chapter 41 | Pesta: Pencari Masalah
42
Chapter 42 | Pesta: Dia Tidak Mandul!
43
Chapter 43 | Pesta: Daddy!
44
Chapter 44 | Pulang ke Mansion
45
Chapter 45 | Pulang ke Mansion (2)
46
Chapter 46 | Berkumpul Bersama
47
Chapter 47 | Kebiasaan Si Kembar
48
Chapter 48 | Ayo Menikah
49
Chapter 49 | Ingin Lebih Dekat
50
Chapter 50 | Kesempatan Berdua
51
Chapter 51 | Kesempatan Berdua (2)
52
Chapter 52 | Perpisahan
53
Chapter 53 | Ikut ke Kantor
54
Chapter 54 | Pelaku Korupsi
55
Chapter 55 | Hilang
56
Chapter 56 | Fathur?
57
Chapter 57 | Selamanya Sahabat
58
Chapter 58 | Mommy Pulang!
59
Chapter 59 | Jalan-Jalan Keluarga
60
Chapter 60 | Jalan-Jalan Keluarga 2
61
Chapter 61: Jalan-Jalan Keluarga (3)
62
Chapter 62 | Gadis Itu
63
Chapter 63 | Diculik
64
Chapter 64 | Aksi si Kembar
65
Chapter 65 | Tidak Diizinkan!
66
Chapter 66 | Selesaikan Masalah!
67
Chapter 67 | Tidak Ada?
68
Chapter 68 | Janji Sebelum Tidur
69
Chapter 69 | Kapan Menikah?
70
Chapter 70 | Tidak Boleh Pergi!
71
Chapter 71 | Misi Penyergapan
72
Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
73
Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
74
Chapter 73 | Mommy Daddy Sedang Apa?
75
Chapter 74 | Aqilla Setuju
76
Chapter 75 | Pergi dan Datang
77
Chapter 76 | Sedang Apa di Sini?
78
Chapter 77 | Takut Mommy
79
Chapter 78 | Melepas Rindu
80
Chapter 79 | Bertemu Chelsea
81
Chapter 80 | Permintaan Chelsea
82
Chapter 81 | Selamat Ulang Tahun, Aqilla
83
Chapter 82 | Aku Saudara Kembarnya
84
Chapter 83 | Dibawa Pergi
85
Chapter 84 | Kebenaran Masa Lalu
86
Chapter 85 | Kebenaran Masa Lalu (2)
87
Chapter 86 | Tekad Rayhan
88
Chapter 87 | Mansion Kenzie
89
Chapter 88 | Dari Dulu Begitu
90
Chapter 89 | Maksud Kedatangan
91
Chapter 90 | Kebenaran
92
Chapter 91 | Kebenaran (2)
93
Chapter 92 | Kebenaran (3)
94
Chapter 93 | Baikan
95
Chapter 94 | Meminta Izin
96
Chapter 95 | Happy Birthday, Twins
97
Chapter 96 | Direstui
98
Chapter 97 | Kisah Aqilla-Kenzie
99
Chapter 98 | Kisah Aqilla-Kenzie (2)
100
Chapter 99 | Kisah Aqilla-Kenzie (3)
101
Chapter 100 | Wali Nikah Aqilla?
102
Chapter 101 | In the Seoul
103
Chapter 102 | Fakta Masa Lalu
104
Chapter 103 | Kembali Bersama
105
Chapter 104 | Kembali Bersama (2)
106
Chapter 105 | The Last: Hari Bahagia
107
Chapter 106 | The Last: Hari Bahagia (2)
108
Bonus Chapter 1
109
Bonus Chapter 2
110
Bonus Chapter 3
111
Bonus Chapter 4
112
Bonus Chapter 5
113
Question??
114
Promosi [Cruel Mafia vs Cool Mafia]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!