“Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi kekasihku? Kamu gadis yang pintar menurutku!”
Aqilla mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Detik berikutnya, ia tertawa lepas. “Haha, candaan Anda tidak lucu, Tuan. Hahahaha...”
Rayhan melotot dengan manik sayunya. “Hei, aku tidak bercanda, ya.”
Terdiam. Aqilla mulai menatap Rayhan serius. “Maaf, Tuan, saya tidak mau.”
Rayhan terkulai lemas. “Kenapa kamu juga menolakku?” tanya lelaki itu sendu.
“Saya sudah punya kekasih, Tuan.”
Rayhan mengerucutkan bibirnya. “Apa dia lebih tampan dariku?”
“Di mata saya, iya, Tuan.”
Rayhan berdecak. Ia yang semula duduk di seberang meja—berhadapan dengan Aqilla—kini berpindah ke sebelah Aqilla. Sontak, gadis itu memasang ancang-ancang jika Rayhan macam-macam dengannya.
Masa bodoh jika Aqilla harus melawan keluarga Refalino nanti. Harga dirinya lebih penting di sini.
“Tuan? Anda mau ap—”
Cup!
Mata Aqilla membelalak sewaktu merasakan bibir Rayhan memagut bibirnya. Lama-kelamaan bibir Rayhan mulai bergerak, ******* lembut bibir Aqilla yang terdiam kaku. Apalagi mendengar melodi degupan jantung Aqilla yang kencang.
Haishh... Rayhan bisa ketagihan nanti.
Karena tidak mendapat respon, Rayhan langsung mendorong tubuh Aqilla hingga bersandar di bahu sofa. Bibirnya mulai beraksi lebih berani. Mengecapi rasa manis di bibir Aqilla.
Seolah mendapat kesadarannya semula, Aqilla segera mendorong Rayhan menjauh. Bibirnya yang basah diusap kasar untuk menghilangkan bekas. Sial, apa aku menikmatinya tadi?
Aqilla menggeleng kuat, menolak asumsi otaknya.
Cih, kamu menikmatinya tadi, Aqilla.
Hei, Otak! Berhentilah menggangguku!!
“Tuan, Anda jangan keterlaluan, ya. Saya tidak akan segan terhadap Anda,” ancam Aqilla. Tatapannya mulai tajam.
“Ayolah, jadi kekasihku saja, ya,” pinta Rayhan memelas. Sorot mata sayunya dibuat seimut mungkin—jurus puppy eyes yang melemahkan.
Aqilla menghela napas kasar. Mendadak ia menyesal sudah membantu Rayhan. Harusnya aku biarin aja tadi. Nggak usah dibantuin, haishh..
Oke, Qill. Cowok sialan ini lagi mabuk. Dia nggak akan inget apa yang terjadi.
“Hm, terserah.”
“Yeayy...” sorak Rayhan senang. “Aku punya kekasih baru, hihi.” Rayhan terkekeh pelan.
Aqilla tergelak melihat tingkah kekanakan... kekasihnya(?)
Hei, hei, Aqilla mengiyakan permintaan Rayhan karena terpaksa, ya. Jadi, tolong semua, jangan menganggap hal tadi serius.
“Sayang,” panggil Rayhan seraya mengusap pipi Aqilla pelan.
Aqilla mengulum bibir gemas—lama-lama Rayhan terlihat lucu juga. “Iya?”
“Kamu jangan tinggalin aku kayak gadis bodoh itu, ya.”
Aqilla mengangguk patuh.
“Kamu nggak boleh deket-deket lelaki lain, ya.”
“Iya.”
“Awas, ya, kalau kamu sampai berpaling. Aku akan buat kamu nggak bisa jalan!” ancam Rayhan dengan manik semakin sayu.
Aqilla tergelak kencang. Ia menepuk-nepuk kepala Rayhan gemas. “Iya, Sayang. Nggak akan berpaling, kok.”
Rayhan tersenyum lebar. Dia mendekati Aqilla hingga jarak mereka begitu tipis. Aqilla sudah ingin meninju Rayhan karena sangat lancang mendekatinya seperti ini. Sayangnya, lelaki itu lebih dulu kehilangan kesadaran.
Bruk!
“Eh?”
Aqilla mengerjapkan matanya lucu. Rayhan jatuh tepat di atas tubuhnya. Kepala lelaki itu bertopang di bahunya. Kedua tangan Rayhan melingkar di pinggang Aqilla—seolah tengah memeluk guling.
Gadis itu terkekeh. Merasa lucu dengan situasi saat ini.
Aqilla membaringkan tubuh Rayhan di sofa. Selepas itu keluar dari ruang VIP untuk menjalankan tugas.
Aqilla berpura-pura berlagak seperti pengunjung lain. Ia membeli air putih dengan es sebagai penyamaran. Gerakan tangan dan tubuh Aqilla terlihat santai, seolah gadis itu memang tengah minum seperti yang lain. Sayangnya, lirikan mata Aqilla benar-benar tajam, seperti elang yang mengincar mangsanya.
Tidak ada? Apa orang itu tidak datang ke sini?
Tangan Aqilla merogoh tas selempang, mencari benda pipih kesayangan. Sudah pukul sepuluh malam. Hm, aku tunggu sampai jam sebelas, deh.
Aqilla kembali meneguk minumannya. Pandangannya masih awas ke sekeliling.
Semoga aku nggak kecolongan tadi.
...👑👑👑...
Satu jam berlalu...
Hasilnya nihil.
Aqilla tidak mendapat hasil apa pun malam ini. Dia ingin bertanya ke petugas yang ada atau mengecek CCTV. Sayangnya, Aqilla lupa membawa lencana miliknya.
Hufftt... nggak ada hasil hari ini. Mungkin aku harus ke sini lagi besok.
Aqilla memanggil bartender 1—orang yang melayani Rayhan sebelumnya.
“Iya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya bartender itu ramah.
Aqilla memperhatikan bartender itu dengan saksama. Tubuh lelaki itu nampak proporsional. “Anda bisa beladiri?” tanya Aqilla melenceng. Padahal, dia tadi ingin bertanya soal mangsa incaran.
Bartender tersebut tampak bingung. “Em, saya bisa, Nona.”
“Taekwondo? Silat? Karate? Atau... seperti apa?”
“Saya pernah mempelajari ketiganya, Nona. Hanya saja, tidak semahir itu,” jawab bartender 1 tetap sopan walaupun bingung kenapa ditanyai seperti itu.
Aqilla manggut-manggut. “Saya Nona Qaill dari Kepolisian Nasional Indonesia.”
Bartender 1 melotot kaget. Dia langsung bersikap tegak dan membungkuk hormat pada Aqilla. “Maaf, Nona. Saya tidak tahu jika Anda adalah Nona Qaill.”
Aqilla tersenyum tipis. “Saya butuh rekan baru. Datanglah ke kepolisian pusat Jakarta besok. Saya ingin Anda menjadi salah satu anggota rekan kepercayaan saya.”
Manik bartender 1 berbinar. “Be–benarkah, Nona?”
Aqilla mengangguk mantap. “Ini hari terakhir Anda bekerja di sini. Besok jam sepuluh pagi datang! Saya akan langsung mengusir Anda jika terlambat 1 detik saja,” ucap Aqilla serius.
“Baik, Nona!”
Akhirnya! Aku bisa keluar dari tempat terkutuk ini—batin bartender 1 senang.
Setiap malam melihat lelaki dan perempuan bercumbu bukanlah hal yang patut dibanggakan. Apalagi perempuan yang datang memakai pakaian kurang bahan—alias terlalu seksi. Tanpa tahu siapa yang berada di sebelahnya, mereka menari berlenggak-lenggok di lantai dansa.
Haishh... bartender 1 bisa terkena serangan jantung jika melihat itu terus.
Sayangnya, ia terpaksa menerima pekerjaan ini demi sang ibu. Ayahnya sudah tiada dan dirinya adalah anak tunggal. Jadi, bartender 1 merasa bertanggung jawab untuk menjadi tulang punggung keluarga dan mencari uang untuk ibunya.
“Siapa namamu?” tanya Aqilla mulai rileks.
“Reno Pratama, Nona!” jawab Reno tegas.
Aqilla tersenyum. “Saya suka orang yang tegas. Pertahankan! Mengerti?”
“Siap! Dimengerti, Nona!”
“Baiklah, berapa tagihan minumanku ini?”
Reno memberikan rincian pembelian minuman Aqilla dengan cermat walaupun hanya beberapa botol air biasa dan es batu. Ia akan berusaha menunjukkan kemampuannya dalam mengingat yang memang sangat baik sejak kecil. Aqilla sampai dibuat kagum.
“Ingatanmu sangat kuat, Reno. Kamu akan sangat berguna di pasukan nanti,” puji Aqilla tanpa segan.
“Terima kasih, Nona. Saya akan berusaha agar dapat berguna di pasukan Anda nanti.”
Aqilla mengangkat tangannya cepat—isyarat untuk berhenti. “Masih akan ada seleksi nanti. Saat ini, ada dua puluh orang yang akan mengikuti seleksi menjadi pasukan khusus di bawah pimpinan saya. Kamu akan mengikuti seleksi dahulu untuk bergabung menjadi pasukan saya. Saya hanya akan memilih 8 orang terbaik.”
“Terima kasih informasinya, Nona. Saya akan berusaha sebaik mungkin.” Reno membungkuk hormat.
Aqilla berdiri dari duduknya. Ia menepuk pundak Reno hingga lelaki itu terkejut.
Hebat! Kekuatan Nona Qaill sangat besar!
“Saya berharap bisa melihat kamu, Reno.” Aqilla tersenyum tipis.
Melihat hal tersebut, Reno seperti dibakar api semangat. Dia akan berusaha agar bisa masuk ke dalam pasukan khusus di bawah kepemimpinan Aqilla.
“Terima kasih, Nona Qaill.”
...👑👑👑...
Aqilla kembali ke ruang VIP. Di sana, Rayhan masih tertidur di sofa. Bedanya, posisi lelaki itu jadi meringkuk. Sontak Aqilla membekap mulutnya—berusaha menahan tawa.
Ternyata Presdir RH Group yang terkenal itu bisa ngiler juga, haha.
Aqilla menghampiri Rayhan. Tangannya terulur menepuk bahu lelaki yang tengah terjun ke dunia mimpi. “Tuan, bisa bangun sebentar? Saya akan antar Tuan kembali ke rumah.”
Tidak ada reaksi.
Aqilla menghela napas. “Kayaknya emang harus dipapah ke mobil.”
Aqilla berusaha mendudukkan tubuh Rayhan. Lanjut menariknya hingga berdiri dengan tumpuan tubuhnya sendiri. Lantas memapah Rayhan keluar dari ruang VIP.
“Kenapa tubuh Anda seperti gajah, sih, Tuan?” dumel Aqilla merasa keberatan.
Keduanya menerobos kerumunan lelaki dan perempuan yang tengah berlenggak-lenggok mengikuti irama lagu yang DJ bar mainkan. Aqilla merasa jijik pada setiap lelaki yang menatapnya dengan seringaian. Ingin menonjok mereka, tapi kedua tangannya sibuk.
Setelah perjuangan yang besar, Aqilla berhasil membuat Rayhan masuk ke dalam mobilnya. “Haahh... aku tua mendadak, nih. Punggungku sakit, ih.”
Menggeleng kuat, menolak perkataannya sendiri.
Aqilla masih mau muda. Jangan tua dulu.
Dia, kan, masih mau merasakan yang namanya menikah dan hidup bahagia.
...👑👑👑...
Di mansion keluarga Refalino...
“Saya tidak mau tahu, ya! Kalian semua telusuri setiap sudut kota ini dan temukan putraku!” perintah lelaki yang memiliki kisaran umur 35-45 tahun itu. Sayangnya, wajahnya masih terlihat tampan, hihi.
“Baik, Tuan!” sahut seluruh anggota.
Di belakang lelaki tadi, ada satu wanita dan satu gadis tengah saling menguatkan. Wanita itu khawatir pada keadaan putra sulungnya. Sedangkan si gadis berusaha menenangkan maminya itu.
Biar Ay perkenalkan. Lelaki yang memberi perintah barusan adalah Robert Van Refalino, kepala keluarga Refalino. Lalu wanita tadi merupakan istri Robert, Reva Putri Refalino. Dan, si gadis, putri bungsu Robert dan Reva, Jessica Refalino—panggilannya Jessie, oke?
Sementara Robert berseru memberi perintah kepada anak buahnya, Aqilla baru saja tiba di depan gerbang mansion Refalino.
Keluarga Refalino adalah keluarga yang paling disegani. Bahkan, ya, pemerintah di Indonesia saja menghormati keluarga tersebut. Jadi, Aqilla tahu letak mansion ini.
Tinggal cari di internet, kan.
“Itu rame-rame kenapa, ya? Masa iya bagi-bagi sembako?” gumam Aqilla bingung melihat kehebohan di luar mansion. Ia mengedikkan bahu tak acuh. “Bukan urusanku juga. Lagian, mana ada bagi-bagi sembako malem-malem.”
Aqilla turun dari mobil dan melangkah kecil ke depan gerbang. “Permisi!” serunya.
Suara Aqilla membuat semua pasang mata menoleh. Mereka terkejut melihat gadis cantik seperti Aqilla berdiri tengah malam di depan mansion Refalino.
“Permisi, maaf saya mengganggu. Saya ingin mengatakan kalau Tuan Muda Rayhan bersama saya.”
Bukan sambutan manis berupa kata terima kasih yang Aqilla terima. Melainkan todongan pistol dari semua anak buah Robert.
Deg!
Hei, hei, ada apa ini?
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Robert dingin.
Menyuruhku? Maksudnya apa?
Hei, ada apa di sini?!!
^^^To be continue...^^^
...👑👑👑...
Chapter 2 sudah meluncur, hehe. Ini masih chapter awal, jadi masih belum terlalu kelihatan seperti apa ceritanya nanti. Masih penuh misteri, wkwkwk.
See you di chapter selanjutnya:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Nony Suzana
Thor klu papa nya 45 tahun & Rayhan usia brp ?
2024-06-15
0
Icha Santana
hati2 nnti ujungnya bawa petaka
2022-04-15
1