Pagi menyingsing. Mentari mulai menampakkan diri di ufuk timur, sinarnya menyelimuti bumi dengan kehangatan yang mendominasi. Memaksa setiap insan di hunian untuk segera bangun dan beraktivitas.
Sama seperti kedua sejoli ini.
Merasakan silaunya cahaya, mata Aqilla perlahan mengerjap-ngerjap. Ia terbangun dalam keadaan tubuh remuk redam.
“Aww... shh..” ringis Aqilla kesakitan.
Detik berikutnya, kedua mata gadis—salah! Kedua mata wanita itu terbuka lebar menyadari apa yang terjadi. Sontak Aqilla menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Ia menoleh ke samping, menatap sosok lelaki yang tertidur pulas di sana.
Tubuh lelaki itu sama polosnya dengan dirinya.
Aarrgghh...! Jadi semalem itu beneran?! Bukan candaan, khayalan, atau gurauan semata?!!
Aqilla masih terus mengamati Rayhan di sebelahnya. Senyum tipisnya terukir tiba-tiba, sebelah tangannya terulur mengusap rambut Rayhan pelan.
“Kenapa aku nggak nyesel, ya?” gumam Aqilla.
Kenangan semalam terputar di kepala Aqilla. Bagaimana dia membalas ciuman Rayhan, pelukan, sentuhan, bahkan.. suara erangan itu—aaarrgghh! Aqilla pasti sudah gila!
Tak ingin berlama-lama, Aqilla bergegas turun dari ranjang dan memakai pakaiannya semula, mengabaikan segala rasa sakit di pusat tubuhnya. Bersih-bersihnya nanti saja. Selepas itu, ia menulis pesan untuk Rayhan di secarik kertas.
“Maaf, Tuan Muda.” Aqilla menatap Rayhan sekali lagi sebelum pergi.
“Hubungan kita hanya sampai di sini.”
Terima kasih...
...👑👑👑...
Pukul delapan pagi, Rayhan baru terbangun dari tidurnya. Efek kelelahan, ya, jadi begini, nih. Tiga menit duduk, Rayhan tampak mengedarkan pandangan ke segala arah.
“Aqilla?” panggilnya.
Tidak ada sahutan.
Dia di mana?
Rayhan keheranan. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya, berniat ingin turun dan mandi. Namun, atensinya terfokuskan pada bercak merah yang tertinggal di seprai ranjang. Senyum tipis lelaki itu terbit.
Dia milikku!
Rayhan mandi dalam tempo cepat, lalu mengenakan pakaiannya dengan kilat. Baru saja ia ingin keluar untuk mencari wanitanya, sepucuk kertas yang berada di dekat ponselnya membuat lelaki itu tertarik.
Rayhan mengambil kertas tersebut dan membacanya.
...••••••••••...
Selamat pagi, Tuan Muda..
Sudah bangun? Anda baik-baik saja, kan?
Saya harap, Anda baik-baik saja. Ngomong-ngomong, soal semalam, saya minta maaf. Karena terlalu marah kepada mantan kekasih saya, saya melampiaskan semuanya kepada Anda.
Tetapi, entah kenapa saya sendiri tidak merasa menyesal telah melakukan ini pertama kali dengan Anda. Alasannya kenapa, saya juga tidak tahu. Saya sedang berusaha menemukan jawabannya. Karena itu, saya ucapkan banyak terima kasih kepada Anda karena mau menemani saya semalam.
Saya senang bahwa laki-laki itu Anda, bukan orang lain, hehe:)
Dan, untuk pagi ini, maafkan saya karena pergi tanpa pamit. Sebenarnya, saya ingin berpamitan secara langsung dengan Anda. Tapi... Tuan Muda terlihat pulas sekali, jadi saya tidak tega membangunkan Anda.
Tuan Muda.. maafkan saya, tapi saya harap, setelah ini Tuan tidak mencari saya lagi. Saya pamit pergi, Tuan. Pergi jauh. Dan, mungkin.. tidak akan pernah kembali lagi.
Maaf, maaf, dan maaf karena membuat keputusan sepihak. Saya merasa bersalah karena meninggalkan Anda dalam keadaan seperti ini. Tapi.. saya punya alasan lebih besar kenapa saya harus pergi. Jika saya memilih untuk tetap bersama Anda, saya takut Anda akan terkena masalah.
Terima kasih dan maaf saya ucapkan. Terima kasih, Tuan Muda. Saya.. juga menyukai Anda.
^^^Dari Aqilla^^^
^^^Kekasih dadakan Anda:)^^^
...••••••••••...
Rayhan terduduk lemas usai membaca isi surat. Aqilla memilih untuk pergi karena suatu alasan. Padahal, pikir Rayhan, ia ingin bertanggung jawab atas kejadian semalam dan menikahi Aqilla—gadis yang selama ini membuatnya tertarik.
Huh! Rayhan menghela napas kasar. Dia menyambar jas miliknya dan berlari keluar hotel.
Aku akan mencarimu, Qill! Lihat saja!
...👑👑👑...
“Woi, Qill! Kamu ke mana aja, sih?!” pekik Ely melihat sahabatnya baru kembali pagi hari.
Aqilla terkekeh pelan. “Ada urusan,” katanya.
Ely mencibir. Setiap Aqilla ditanya, ia selalu menjawab hal yang sama. Tidak pernah mau berbagi.
“Mandi sana! Bentar lagi kita berangkat ke Kanada!” titah Ely seraya berjalan meninggalkan Aqilla ke dapur.
Aqilla tersenyum getir. Dia benar-benar akan meninggalkan Rayhan seperti ini? Tanpa berpamitan?
Tapi, kalau takdir Allah seperti ini, mau bagaimana lagi? Aqilla tidak mungkin menolak, kan?
Maafkanlah hamba, Ya Allah, atas semua kesalahan dan kekhilafan hamba.
Aqilla percaya, setiap kejadian yang dialami sudah ditentukan. Ia percaya, insiden semalam akan membawa hikmah tersendiri suatu hari nanti.
Aqilla selalu percaya itu...
...👑👑👑...
“Semoga sampai di tujuan dengan selamat, Nona Qaill.”
Aqilla mengangguk dengan raut wajah dingin, menguarkan aura ketegasan dalam dirinya. “Terima kasih, Jenderal.”
Saat ini, Aqilla dan Ely bersiap untuk kembali ke Kanada dengan penerbangan khusus yang disediakan oleh pihak TNI. Pesawat khusus lengkap dengan pilotnya siap mengantar kedua perempuan itu kembali ke tempat asal. Ditambah Lexi juga, jangan lupa.
Hukuman setimpal akan diberikan.
“Saya harap, saya bisa bertemu kembali dengan sosok hebat seperti Anda lagi di masa depan nanti,” pinta Jenderal penuh harap.
Aqilla mengangguk kecil dengan senyum tipis. Dia memberi kode kepada Ely agar membawa Lexi masuk ke dalam pesawat dahulu. Sementara ia berpamitan untuk terakhir kali kepada pasukan-pasukan yang ada.
Sebelum masuk ke dalam pesawat, Aqilla menyempatkan diri untuk menemui anggota pasukan pilihan yang berada dalam pimpinannya. Ia menepuk bahu Reno. “Saya percayakan pasukan ini kepadamu.”
Reno berdiri tegak dengan tangan ditaruh di dada kiri. “Saya siap melaksanakan tugas, Nona Qaill!”
Sebelumnya, Aqilla sudah memberikan tanggung jawab sebagai ketua pasukan kepada Reno. Dan, lelaki itu menyanggupi.
“Saya pamit. Terima kasih untuk semuanya.”
Dan, maaf karena meninggalkanmu.. Tuan Muda.
...👑👑👑...
“Apa?! Kamu melakukan ‘itu’ dengan Aqilla?!” pekik Reva terkejut. Robert, Jessie, dan Alvin yang ikut mendengar cerita Rayhan pun tak kalah kaget.
“Jangan bercanda, Ray. Papi nggak suka, ya,” peringat Robert tak main-main.
Rayhan menghela napas berat. “Ray tidak bohong, Pi, Mi. Itu benar-benar terjadi.. semalam.”
Robert memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kenapa putranya ini malah menimbulkan masalah semacam ini? Kalau memang suka, ya perjuangkan. Bukan dengan cara seperti ini.
“Bagus dong!”
Reva dan Robert menoleh pada Jessie. Gadis muda itu terlihat senang dengan cerita kakaknya.
“Kakak cepat cari Kak Qilla, terus Kakak menikah sama dia! Jessie mau Kak Qilla jadi kakak iparnya Jessie,” seru Jessie semangat.
Reva yang mendengar itu menjadi berpikir ulang. Ada benarnya juga perkataan putrinya ini. “Benar juga. Kita lamar Aqilla jadi menantu Mami!”
Rayhan tersenyum kecil melihat keantusiasan keluarganya. Dia juga berharap yang sama. Sayangnya, semua itu tidak semudah bayangan mereka.
“Aqilla sudah pergi, Mi.”
“Apa?! Pergi?!!”
^^^To be continue...^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Icha Santana
dtunggu kisah kita nya selese dlu biar cerita ini gaspooolllll
2022-04-15
2