Chapter 14 | Keseharian Aqilla

Lima tahun kemudian...

“Jovan! Jovin! Udah siap belum, sih, kalian? Ini udah hampir telat, lho!” teriak Aqilla dari dapur masih dengan celemek yang menggantung di lehernya. Tangannya sibuk menata makanan yang sudah siap saji di meja makan.

Yang dipanggil bergegas menghampiri. Bahkan, sampai dorong-dorongan karena terlampau buru-buru. Si kembar yang saat ini sudah berusia 6 tahun benar-benar membuat kepala Aqilla pusing dengan segala kelakuan ajaib mereka.

Ingin dihempas, tapi anak sendiri. Nggak tega banget. Dulu waktu ngeluarinnya sakitnya nggak kebangetan.

“Kami datang, Mom,” seru keduanya bersamaan. Tapi, bibir mereka cengengesan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“Kalian ngapain di kamar, hm? Udah tau mau telat, kok, malah santai-santai. Cepet sarapan!” suruh Aqilla.

Sontak Jovan dan Jovin menaruh tangan di dahi, membentuk sikap hormat ala prajurit yang hampir membuat tawa Aqilla tersembur. “Siap, Ibu Negara!” kata mereka lantang.

Aqilla melotot. “Heh!”

Jovin nyengir. “Sorry, Mom. Bercanda, kok.”

Aqilla cuma bisa geleng-geleng merasakan tingkah mereka yang super aktif, ia tidak bisa marah ataupun menegur lebih lanjut. Situasi saat ini sangat tidak mendukung untuk dirinya bertengkar dengan kedua buah hati. “Ya udah, makan sana.”

Tanpa membantah lagi, Jovan dan Jovin duduk di kursi makan dengan tenang, lanjut menyantap hidangan yang disediakan oleh mommy mereka. Sementara Aqilla masih sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa oleh si kembar ke sekolah.

Huh, jangan ditanya Ely pergi ke mana. Gadis itu pasti selalu menghilang di pagi hari dan baru akan muncul setelah Jovan dan Jovin berangkat ke sekolah.

Temen lucknut banget, kan?

“Mommy nggak makan?” tanya Jovan yang melihat Aqilla sibuk sendiri.

“Iya, ini mau makan.” Usai mengecek ulang isi kotak bekal si kembar, barulah Aqilla ikut sarapan. “Hari ini pulang kayak biasanya, kan?” tanyanya memastikan. Takutnya kejadian kemarin terulang, si kembar pulang cepat, tapi ia tidak tahu.

“Iya, Mom. Nanti kalau pulang cepat, kami bisa hubungi Mommy. Kan, Kakak bawa ponsel,” kata Jovin. Jovan yang duduk di sebelahnya mengangguk membenarkan.

Aqilla tersenyum saja. Ketiganya pun memakan jatah sarapan masing-masing dengan khidmat. Ketika waktu tersisa 15 menit lagi sampai gerbang sekolah ditutup, mereka selesai sarapan.

“Ini nggak dirapiin dulu, Mom?” tanya Jovan.

Aqilla menggeleng. “Nanti aja biar Mommy rapikan. Kita langsung berangkat aja.” Menatap Jovan dan Jovin bergantian. “Ada yang ketinggalan?”

“Insya allah, sih, nggak, Mom.”

Aqilla mengangguk. “Oke, kita berangkat!”

...👑👑👑...

Aqilla melambaikan tangan, membalas lambaian tangan anak-anaknya yang sudah masuk ke dalam pekarangan sekolah. Berkat kegesitan Aqilla dalam mengendarai mobil, si kembar tiba tepat 3 menit sebelum gerbang ditutup. Sampai-sampai di tengah jalan, Jovan dan Jovin berteriak heboh karena merasa takjub dengan si pembalap baru yang berada satu mobil dengan mereka.

Jika kalian berpikir sekolah yang Aqilla maksud adalah taman kanak-kanak, maka kalian salah besar.

Jovan dan Jovin terlahir dengan kecerdasan otak di atas rata-rata. Kegeniusan Aqilla dan kepintaran Rayhan menyatu dengan sempurna di dalam diri mereka. Di umur mereka yang baru menginjak angka 6, si kembar sudah bisa melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan oleh orang dewasa.

Itulah mengapa, kadang Aqilla merasa kerepotan ketika mengurus Jovan dan Jovin.

Saat Aqilla ingin memasukkan si kembar ke taman kanak-kanak, keduanya langsung protes keras. Katanya, ya, aura kebocilan di sana terlalu dahsyat rasanya. Mereka mana tahan!

Jadi, Aqilla mendaftarkan keduanya di sekolah elit dalam kancah internasional yang ada di Kanada. Sistem belajar di sana sangat mendukung anak-anak yang memiliki kemampuan hebat seperti Jovan dan Jovin. Bahkan, ya, guru-guru yang ada sangat menyayangi si kembar yang geniusnya di luar nalar.

Aqilla entah harus bersyukur atau mengeluh. Anaknya sangat tidak normal untuk ukuran bocah kayak mereka. Tapi, mengingat populasi manusia pintar di dunia mulai menipis, Aqilla lumayan senang, sih.

Aqilla berjanji pada dirinya sendiri akan mendidik mereka dengan baik hingga menjadi sosok genius yang dermawan, suka membantu orang lain.

Baiklah, sudah cukup ceritanya. Aqilla masih ada urusan setelah ini.

Selepas mengantar si kembar sekolah, biasanya Aqilla akan menggunakan waktunya untuk pergi ke markas IAF atau melakukan kegiatan lainnya sambil menanti panggilan misi dari pusat. Dia, kan, hanya menanggung misi kelas A dan S saja sekarang.

Di markas, ia akan melatih anak-anak didiknya yang kelak akan menjadi penerus Aqilla di masa depan. Pasalnya, Aqilla sendiri tidak tahu sampai kapan dia akan bekerja di IAF. Jadi, untuk berjaga-jaga, ia menyiapkan pasukan khusus yang mendapat pelatihan di bawah pengawasannya langsung.

Sayangnya, untuk hari ini, Aqilla tidak akan pergi ke markas, melainkan supermarket besar untuk belanja kebutuhan rumah yang sudah menipis.

Oke, karena Aqilla ingin berbelanja, kita tinggalkan saja dulu, ya. Biar dia sibuk dengan dunianya sendiri. Kita beralih ke si kembar yang tampak lesu mengikuti pelajaran di kelasnya.

Bicara soal kelas, saat ini keduanya berada di kelas 5 sekolah dasar. Tepuk tangan dulu dong👏👏

Setelah menjalani kelas yang membosankan, keduanya sedang memakan bekal dari sang mommy di kelas saat jam istirahat.

“Dek,” panggil Jovan.

“Iya, Kak?”

“Kakak bosen di kelas ini. Minta mommy lompat kelas lagi, yuk,” ajak Jovan sumringah.

Jangan pernah berpikir jika salah satu dari Jovan ataupun Jovin memiliki sikap dingin yang cool seperti cerita pada umumnya. Nggak sama sekali! Mereka itu berbeda.

Cerdas, tapi aura kebocilannya masih terasa kuat.

Jovin mengangguk setuju. “Iya, sih, Kak. Adek juga bosen di sini. Tapi, kan, baru bulan kemarin kita lompat kelas ke sini, masa iya lompat lagi, sih? Em.. mommy nggak marah nanti?”

Jovan yang baru mengingat hal tersebut jadi sedikit lesu. “Iya, sih. Kakak takut mommy marah. Mommy kalau marah, kan, seremnya kayak...” Jovan menggantung kalimatnya.

“Kayak iblis betina,” lanjut keduanya bersamaan. Lalu mereka sama-sama tertawa, puas meledek Aqilla yang tidak akan bisa mendengar cibiran keduanya.

“Tapi, Kakak beneran nggak enak di sini. Pelajarannya terlalu gampang, Kakak mah bisa semua,” ucap Jovan berlagak sombong.

Jovin berdecih. “Nggak cuma Kakak yang pinter, ya. Adek juga,” kesalnya.

“Iya, Bawel!” Jovan terdiam sejenak, lalu kembali menatap adiknya dalam. “Nanti temani Kakak ngomong sama iblis betina kita, ya.”

“Siap, Kak! Adek akan bantu bernegosiasi dengan penuh sukacita.”

Sementara itu, di supermarket...

“Haattciimm..” Aqilla mengusap hidungnya yang mendadak gatal. “Ini kenapa, sih? Perasaan aku baik-baik aja, deh, nggak sakit flu,” gumamnya bingung.

Setelah sadar apa yang terjadi, wanita itu berdecak keras. “Pasti tuh dua iblis ngomongin aku. Huh, lihat aja nanti, hehe. Aku kerjain habis-habisan.”

Yah, beginilah hubungan ibu dan anak yang sebenarnya. Jarang sekali ada adegan sayang-sayangan, lebih sering hantam-hantaman. Tapi, tenang aja..

Mereka saling menyayangi satu sama lain. Hanya saja dengan cara mereka sendiri.

^^^To be continue...^^^

Episodes
1 Chapter 1 | Pertemuan
2 Chapter 2 | Hanya Ingin Membantu
3 Chapter 3 | Penjelasan
4 Chapter 4 | Tentang Tuan Muda
5 Chapter 5 | Tentang Aqilla
6 Chapter 6 | Bertemu Lagi
7 Chapter 7 | Usaha Penangkapan
8 Chapter 8 | Tertangkap
9 Chapter 9 | Hubungan Terlarang
10 Chapter 10 | Pamit
11 Chapter 11 | Hamil?
12 Chapter 12 | Izin Hiatus
13 Chapter 13 | Welcome Twins J
14 Chapter 14 | Keseharian Aqilla
15 Chapter 15 | Bukan Anak Haram!
16 Chapter 16 | Ketakutan Aqilla
17 Chapter 17 | Kemenangan Jovan
18 Chapter 18 | Hadiah dari Jovin
19 Chapter 19 | Kondisi Keluarga Refalino
20 Chapter 20 | Di Mana Daddy Kami?
21 Chapter 21 | Ingin Bertemu
22 Chapter 22 | Dia Daddy Kami!
23 Chapter 23 | Siap Bertemu
24 Chapter 24 | Cerita Masa Lalu
25 Chapter 25 | Tiba di Indonesia
26 Chapter 26 | Data Keluarga Aqilla
27 Chapter 27 | Dad vs Son
28 Chapter 28 | Kasih Sayang Aqilla
29 Chapter 29 | Belanja
30 Chapter 30 | Bertemu Jessie
31 Chapter 31 | Aunty Pulang!
32 Chapter 32 | Calon Menantu?!
33 Chapter 33 | Penyerangan
34 Chapter 34 | Ajakan ke Mansion
35 Chapter 35 | Makan Bersama
36 Chapter 36 | Rencana Berhasil!
37 Chapter 37 | Grandpa, Grandma
38 Chapter 38 | Grandpa, Grandma (2)
39 Chapter 39 | Pesta: Akhirnya Bertemu
40 Chapter 40 | Pesta: Tidak Tahu Malu!
41 Chapter 41 | Pesta: Pencari Masalah
42 Chapter 42 | Pesta: Dia Tidak Mandul!
43 Chapter 43 | Pesta: Daddy!
44 Chapter 44 | Pulang ke Mansion
45 Chapter 45 | Pulang ke Mansion (2)
46 Chapter 46 | Berkumpul Bersama
47 Chapter 47 | Kebiasaan Si Kembar
48 Chapter 48 | Ayo Menikah
49 Chapter 49 | Ingin Lebih Dekat
50 Chapter 50 | Kesempatan Berdua
51 Chapter 51 | Kesempatan Berdua (2)
52 Chapter 52 | Perpisahan
53 Chapter 53 | Ikut ke Kantor
54 Chapter 54 | Pelaku Korupsi
55 Chapter 55 | Hilang
56 Chapter 56 | Fathur?
57 Chapter 57 | Selamanya Sahabat
58 Chapter 58 | Mommy Pulang!
59 Chapter 59 | Jalan-Jalan Keluarga
60 Chapter 60 | Jalan-Jalan Keluarga 2
61 Chapter 61: Jalan-Jalan Keluarga (3)
62 Chapter 62 | Gadis Itu
63 Chapter 63 | Diculik
64 Chapter 64 | Aksi si Kembar
65 Chapter 65 | Tidak Diizinkan!
66 Chapter 66 | Selesaikan Masalah!
67 Chapter 67 | Tidak Ada?
68 Chapter 68 | Janji Sebelum Tidur
69 Chapter 69 | Kapan Menikah?
70 Chapter 70 | Tidak Boleh Pergi!
71 Chapter 71 | Misi Penyergapan
72 Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
73 Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
74 Chapter 73 | Mommy Daddy Sedang Apa?
75 Chapter 74 | Aqilla Setuju
76 Chapter 75 | Pergi dan Datang
77 Chapter 76 | Sedang Apa di Sini?
78 Chapter 77 | Takut Mommy
79 Chapter 78 | Melepas Rindu
80 Chapter 79 | Bertemu Chelsea
81 Chapter 80 | Permintaan Chelsea
82 Chapter 81 | Selamat Ulang Tahun, Aqilla
83 Chapter 82 | Aku Saudara Kembarnya
84 Chapter 83 | Dibawa Pergi
85 Chapter 84 | Kebenaran Masa Lalu
86 Chapter 85 | Kebenaran Masa Lalu (2)
87 Chapter 86 | Tekad Rayhan
88 Chapter 87 | Mansion Kenzie
89 Chapter 88 | Dari Dulu Begitu
90 Chapter 89 | Maksud Kedatangan
91 Chapter 90 | Kebenaran
92 Chapter 91 | Kebenaran (2)
93 Chapter 92 | Kebenaran (3)
94 Chapter 93 | Baikan
95 Chapter 94 | Meminta Izin
96 Chapter 95 | Happy Birthday, Twins
97 Chapter 96 | Direstui
98 Chapter 97 | Kisah Aqilla-Kenzie
99 Chapter 98 | Kisah Aqilla-Kenzie (2)
100 Chapter 99 | Kisah Aqilla-Kenzie (3)
101 Chapter 100 | Wali Nikah Aqilla?
102 Chapter 101 | In the Seoul
103 Chapter 102 | Fakta Masa Lalu
104 Chapter 103 | Kembali Bersama
105 Chapter 104 | Kembali Bersama (2)
106 Chapter 105 | The Last: Hari Bahagia
107 Chapter 106 | The Last: Hari Bahagia (2)
108 Bonus Chapter 1
109 Bonus Chapter 2
110 Bonus Chapter 3
111 Bonus Chapter 4
112 Bonus Chapter 5
113 Question??
114 Promosi [Cruel Mafia vs Cool Mafia]
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Chapter 1 | Pertemuan
2
Chapter 2 | Hanya Ingin Membantu
3
Chapter 3 | Penjelasan
4
Chapter 4 | Tentang Tuan Muda
5
Chapter 5 | Tentang Aqilla
6
Chapter 6 | Bertemu Lagi
7
Chapter 7 | Usaha Penangkapan
8
Chapter 8 | Tertangkap
9
Chapter 9 | Hubungan Terlarang
10
Chapter 10 | Pamit
11
Chapter 11 | Hamil?
12
Chapter 12 | Izin Hiatus
13
Chapter 13 | Welcome Twins J
14
Chapter 14 | Keseharian Aqilla
15
Chapter 15 | Bukan Anak Haram!
16
Chapter 16 | Ketakutan Aqilla
17
Chapter 17 | Kemenangan Jovan
18
Chapter 18 | Hadiah dari Jovin
19
Chapter 19 | Kondisi Keluarga Refalino
20
Chapter 20 | Di Mana Daddy Kami?
21
Chapter 21 | Ingin Bertemu
22
Chapter 22 | Dia Daddy Kami!
23
Chapter 23 | Siap Bertemu
24
Chapter 24 | Cerita Masa Lalu
25
Chapter 25 | Tiba di Indonesia
26
Chapter 26 | Data Keluarga Aqilla
27
Chapter 27 | Dad vs Son
28
Chapter 28 | Kasih Sayang Aqilla
29
Chapter 29 | Belanja
30
Chapter 30 | Bertemu Jessie
31
Chapter 31 | Aunty Pulang!
32
Chapter 32 | Calon Menantu?!
33
Chapter 33 | Penyerangan
34
Chapter 34 | Ajakan ke Mansion
35
Chapter 35 | Makan Bersama
36
Chapter 36 | Rencana Berhasil!
37
Chapter 37 | Grandpa, Grandma
38
Chapter 38 | Grandpa, Grandma (2)
39
Chapter 39 | Pesta: Akhirnya Bertemu
40
Chapter 40 | Pesta: Tidak Tahu Malu!
41
Chapter 41 | Pesta: Pencari Masalah
42
Chapter 42 | Pesta: Dia Tidak Mandul!
43
Chapter 43 | Pesta: Daddy!
44
Chapter 44 | Pulang ke Mansion
45
Chapter 45 | Pulang ke Mansion (2)
46
Chapter 46 | Berkumpul Bersama
47
Chapter 47 | Kebiasaan Si Kembar
48
Chapter 48 | Ayo Menikah
49
Chapter 49 | Ingin Lebih Dekat
50
Chapter 50 | Kesempatan Berdua
51
Chapter 51 | Kesempatan Berdua (2)
52
Chapter 52 | Perpisahan
53
Chapter 53 | Ikut ke Kantor
54
Chapter 54 | Pelaku Korupsi
55
Chapter 55 | Hilang
56
Chapter 56 | Fathur?
57
Chapter 57 | Selamanya Sahabat
58
Chapter 58 | Mommy Pulang!
59
Chapter 59 | Jalan-Jalan Keluarga
60
Chapter 60 | Jalan-Jalan Keluarga 2
61
Chapter 61: Jalan-Jalan Keluarga (3)
62
Chapter 62 | Gadis Itu
63
Chapter 63 | Diculik
64
Chapter 64 | Aksi si Kembar
65
Chapter 65 | Tidak Diizinkan!
66
Chapter 66 | Selesaikan Masalah!
67
Chapter 67 | Tidak Ada?
68
Chapter 68 | Janji Sebelum Tidur
69
Chapter 69 | Kapan Menikah?
70
Chapter 70 | Tidak Boleh Pergi!
71
Chapter 71 | Misi Penyergapan
72
Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
73
Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
74
Chapter 73 | Mommy Daddy Sedang Apa?
75
Chapter 74 | Aqilla Setuju
76
Chapter 75 | Pergi dan Datang
77
Chapter 76 | Sedang Apa di Sini?
78
Chapter 77 | Takut Mommy
79
Chapter 78 | Melepas Rindu
80
Chapter 79 | Bertemu Chelsea
81
Chapter 80 | Permintaan Chelsea
82
Chapter 81 | Selamat Ulang Tahun, Aqilla
83
Chapter 82 | Aku Saudara Kembarnya
84
Chapter 83 | Dibawa Pergi
85
Chapter 84 | Kebenaran Masa Lalu
86
Chapter 85 | Kebenaran Masa Lalu (2)
87
Chapter 86 | Tekad Rayhan
88
Chapter 87 | Mansion Kenzie
89
Chapter 88 | Dari Dulu Begitu
90
Chapter 89 | Maksud Kedatangan
91
Chapter 90 | Kebenaran
92
Chapter 91 | Kebenaran (2)
93
Chapter 92 | Kebenaran (3)
94
Chapter 93 | Baikan
95
Chapter 94 | Meminta Izin
96
Chapter 95 | Happy Birthday, Twins
97
Chapter 96 | Direstui
98
Chapter 97 | Kisah Aqilla-Kenzie
99
Chapter 98 | Kisah Aqilla-Kenzie (2)
100
Chapter 99 | Kisah Aqilla-Kenzie (3)
101
Chapter 100 | Wali Nikah Aqilla?
102
Chapter 101 | In the Seoul
103
Chapter 102 | Fakta Masa Lalu
104
Chapter 103 | Kembali Bersama
105
Chapter 104 | Kembali Bersama (2)
106
Chapter 105 | The Last: Hari Bahagia
107
Chapter 106 | The Last: Hari Bahagia (2)
108
Bonus Chapter 1
109
Bonus Chapter 2
110
Bonus Chapter 3
111
Bonus Chapter 4
112
Bonus Chapter 5
113
Question??
114
Promosi [Cruel Mafia vs Cool Mafia]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!