Lima tahun kemudian...
“Jovan! Jovin! Udah siap belum, sih, kalian? Ini udah hampir telat, lho!” teriak Aqilla dari dapur masih dengan celemek yang menggantung di lehernya. Tangannya sibuk menata makanan yang sudah siap saji di meja makan.
Yang dipanggil bergegas menghampiri. Bahkan, sampai dorong-dorongan karena terlampau buru-buru. Si kembar yang saat ini sudah berusia 6 tahun benar-benar membuat kepala Aqilla pusing dengan segala kelakuan ajaib mereka.
Ingin dihempas, tapi anak sendiri. Nggak tega banget. Dulu waktu ngeluarinnya sakitnya nggak kebangetan.
“Kami datang, Mom,” seru keduanya bersamaan. Tapi, bibir mereka cengengesan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kalian ngapain di kamar, hm? Udah tau mau telat, kok, malah santai-santai. Cepet sarapan!” suruh Aqilla.
Sontak Jovan dan Jovin menaruh tangan di dahi, membentuk sikap hormat ala prajurit yang hampir membuat tawa Aqilla tersembur. “Siap, Ibu Negara!” kata mereka lantang.
Aqilla melotot. “Heh!”
Jovin nyengir. “Sorry, Mom. Bercanda, kok.”
Aqilla cuma bisa geleng-geleng merasakan tingkah mereka yang super aktif, ia tidak bisa marah ataupun menegur lebih lanjut. Situasi saat ini sangat tidak mendukung untuk dirinya bertengkar dengan kedua buah hati. “Ya udah, makan sana.”
Tanpa membantah lagi, Jovan dan Jovin duduk di kursi makan dengan tenang, lanjut menyantap hidangan yang disediakan oleh mommy mereka. Sementara Aqilla masih sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa oleh si kembar ke sekolah.
Huh, jangan ditanya Ely pergi ke mana. Gadis itu pasti selalu menghilang di pagi hari dan baru akan muncul setelah Jovan dan Jovin berangkat ke sekolah.
Temen lucknut banget, kan?
“Mommy nggak makan?” tanya Jovan yang melihat Aqilla sibuk sendiri.
“Iya, ini mau makan.” Usai mengecek ulang isi kotak bekal si kembar, barulah Aqilla ikut sarapan. “Hari ini pulang kayak biasanya, kan?” tanyanya memastikan. Takutnya kejadian kemarin terulang, si kembar pulang cepat, tapi ia tidak tahu.
“Iya, Mom. Nanti kalau pulang cepat, kami bisa hubungi Mommy. Kan, Kakak bawa ponsel,” kata Jovin. Jovan yang duduk di sebelahnya mengangguk membenarkan.
Aqilla tersenyum saja. Ketiganya pun memakan jatah sarapan masing-masing dengan khidmat. Ketika waktu tersisa 15 menit lagi sampai gerbang sekolah ditutup, mereka selesai sarapan.
“Ini nggak dirapiin dulu, Mom?” tanya Jovan.
Aqilla menggeleng. “Nanti aja biar Mommy rapikan. Kita langsung berangkat aja.” Menatap Jovan dan Jovin bergantian. “Ada yang ketinggalan?”
“Insya allah, sih, nggak, Mom.”
Aqilla mengangguk. “Oke, kita berangkat!”
...👑👑👑...
Aqilla melambaikan tangan, membalas lambaian tangan anak-anaknya yang sudah masuk ke dalam pekarangan sekolah. Berkat kegesitan Aqilla dalam mengendarai mobil, si kembar tiba tepat 3 menit sebelum gerbang ditutup. Sampai-sampai di tengah jalan, Jovan dan Jovin berteriak heboh karena merasa takjub dengan si pembalap baru yang berada satu mobil dengan mereka.
Jika kalian berpikir sekolah yang Aqilla maksud adalah taman kanak-kanak, maka kalian salah besar.
Jovan dan Jovin terlahir dengan kecerdasan otak di atas rata-rata. Kegeniusan Aqilla dan kepintaran Rayhan menyatu dengan sempurna di dalam diri mereka. Di umur mereka yang baru menginjak angka 6, si kembar sudah bisa melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan oleh orang dewasa.
Itulah mengapa, kadang Aqilla merasa kerepotan ketika mengurus Jovan dan Jovin.
Saat Aqilla ingin memasukkan si kembar ke taman kanak-kanak, keduanya langsung protes keras. Katanya, ya, aura kebocilan di sana terlalu dahsyat rasanya. Mereka mana tahan!
Jadi, Aqilla mendaftarkan keduanya di sekolah elit dalam kancah internasional yang ada di Kanada. Sistem belajar di sana sangat mendukung anak-anak yang memiliki kemampuan hebat seperti Jovan dan Jovin. Bahkan, ya, guru-guru yang ada sangat menyayangi si kembar yang geniusnya di luar nalar.
Aqilla entah harus bersyukur atau mengeluh. Anaknya sangat tidak normal untuk ukuran bocah kayak mereka. Tapi, mengingat populasi manusia pintar di dunia mulai menipis, Aqilla lumayan senang, sih.
Aqilla berjanji pada dirinya sendiri akan mendidik mereka dengan baik hingga menjadi sosok genius yang dermawan, suka membantu orang lain.
Baiklah, sudah cukup ceritanya. Aqilla masih ada urusan setelah ini.
Selepas mengantar si kembar sekolah, biasanya Aqilla akan menggunakan waktunya untuk pergi ke markas IAF atau melakukan kegiatan lainnya sambil menanti panggilan misi dari pusat. Dia, kan, hanya menanggung misi kelas A dan S saja sekarang.
Di markas, ia akan melatih anak-anak didiknya yang kelak akan menjadi penerus Aqilla di masa depan. Pasalnya, Aqilla sendiri tidak tahu sampai kapan dia akan bekerja di IAF. Jadi, untuk berjaga-jaga, ia menyiapkan pasukan khusus yang mendapat pelatihan di bawah pengawasannya langsung.
Sayangnya, untuk hari ini, Aqilla tidak akan pergi ke markas, melainkan supermarket besar untuk belanja kebutuhan rumah yang sudah menipis.
Oke, karena Aqilla ingin berbelanja, kita tinggalkan saja dulu, ya. Biar dia sibuk dengan dunianya sendiri. Kita beralih ke si kembar yang tampak lesu mengikuti pelajaran di kelasnya.
Bicara soal kelas, saat ini keduanya berada di kelas 5 sekolah dasar. Tepuk tangan dulu dong👏👏
Setelah menjalani kelas yang membosankan, keduanya sedang memakan bekal dari sang mommy di kelas saat jam istirahat.
“Dek,” panggil Jovan.
“Iya, Kak?”
“Kakak bosen di kelas ini. Minta mommy lompat kelas lagi, yuk,” ajak Jovan sumringah.
Jangan pernah berpikir jika salah satu dari Jovan ataupun Jovin memiliki sikap dingin yang cool seperti cerita pada umumnya. Nggak sama sekali! Mereka itu berbeda.
Cerdas, tapi aura kebocilannya masih terasa kuat.
Jovin mengangguk setuju. “Iya, sih, Kak. Adek juga bosen di sini. Tapi, kan, baru bulan kemarin kita lompat kelas ke sini, masa iya lompat lagi, sih? Em.. mommy nggak marah nanti?”
Jovan yang baru mengingat hal tersebut jadi sedikit lesu. “Iya, sih. Kakak takut mommy marah. Mommy kalau marah, kan, seremnya kayak...” Jovan menggantung kalimatnya.
“Kayak iblis betina,” lanjut keduanya bersamaan. Lalu mereka sama-sama tertawa, puas meledek Aqilla yang tidak akan bisa mendengar cibiran keduanya.
“Tapi, Kakak beneran nggak enak di sini. Pelajarannya terlalu gampang, Kakak mah bisa semua,” ucap Jovan berlagak sombong.
Jovin berdecih. “Nggak cuma Kakak yang pinter, ya. Adek juga,” kesalnya.
“Iya, Bawel!” Jovan terdiam sejenak, lalu kembali menatap adiknya dalam. “Nanti temani Kakak ngomong sama iblis betina kita, ya.”
“Siap, Kak! Adek akan bantu bernegosiasi dengan penuh sukacita.”
Sementara itu, di supermarket...
“Haattciimm..” Aqilla mengusap hidungnya yang mendadak gatal. “Ini kenapa, sih? Perasaan aku baik-baik aja, deh, nggak sakit flu,” gumamnya bingung.
Setelah sadar apa yang terjadi, wanita itu berdecak keras. “Pasti tuh dua iblis ngomongin aku. Huh, lihat aja nanti, hehe. Aku kerjain habis-habisan.”
Yah, beginilah hubungan ibu dan anak yang sebenarnya. Jarang sekali ada adegan sayang-sayangan, lebih sering hantam-hantaman. Tapi, tenang aja..
Mereka saling menyayangi satu sama lain. Hanya saja dengan cara mereka sendiri.
^^^To be continue...^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments