Chapter 13 | Welcome Twins J

“Duh, Qilla, kamu jangan banyak gerak gini dong. Aku ngeri liatnya,” tutur Ely ngilu yang dibalas tawa renyah dari Aqilla.

Bukan apa-apa, ya, ini masalahnya si Aqilla ini mau melahirkan, lho. Itu perut yang isinya dua bocah udah kayak mau meletus aja. Ngerinya.. naudzubillah.

Katanya, sih, dia sedang membantu memperlancar persalinan dengan banyak berjalan di masa kontraksi seperti ini. Biar jalan lahirnya lebih cepat terbuka.

“El, kita ke rumah sakit sekarang aja, yuk. Tolong siapin mobil, ya,” pinta Aqilla. Sesekali wanita itu meringis menahan nyeri ketika kontraksi semakin terasa. Sepertinya, bayi di dalam kandungannya ini sudah tidak sabar melihat wajah cantik ibunya, hehe.

Cih, narsisnya nggak ketulungan ini mah. Maklumi saja.

Ely tidak menjawab, tapi langsung ngacir keluar rumah usai menyambar kunci mobil. Sementara Aqilla masuk ke kamar untuk mengambil tas berisikan perlengkapan bayinya. Sesekali tangannya mengusap lembut perutnya yang buncit.

Sebentar lagi kalian akan lahir, Sayang..

Kita akan segera bertemu..

...👑👑👑...

“Qill?”

“Em?”

“Gimana rasanya melahirkan?” tanya Ely penasaran.

Aqilla yang baru sadar berusaha mengulas senyum dengan sisa tenaganya. Bayi dalam kandungannya sudah lahir dengan selamat tanpa kekurangan apa pun sekitar satu jam yang lalu. Sekarang wanita itu sudah merasakan bagaimana menjadi wanita yang hampir sempurna.

Hanya kurang satu saja. Menikah. Aqilla kita, kan, belum menikah.

“Sakit, tapi bahagia,” jawab Aqilla pelan dengan sepenuh hati. Sebelumnya, kontraksi yang dirasa memang begitu menyakitkan, udah kayak jiwa dan tubuhnya dipaksa terpisah. Namun, setelah suara tangis sang anak bergema, rasa nyeri yang menyengat seolah terbang tak bersisa.

Buat kalian yang sudah menikah dan punya anak pasti mengerti perasaan Aqilla, kan? Pokoknya, ya, begitulah. Tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.

Aqilla sangat bersyukur anak-anaknya lahir dengan baik—walaupun tanpa kehadiran sang ayah maupun suami.

Ely menanggapi jawaban Aqilla dengan senyum. Ia mengerti kalau saat ini sahabatnya sedang dalam momen mengharukan.

Ceklekk..

“Excuse me,” ucap suster yang datang sembari mendorong dua box kaca. “This is your baby, Miss. They are beautiful and handsome.”

Dibantu oleh Ely, Aqilla berusaha untuk duduk bersandar dengan lapisan bantal yang tinggi. Ia meminta sang suster membawa bayinya lebih dekat, ingin melihat mereka lebih jelas. Dan, ketika paras sang anak terekam oleh mata Aqilla, wanita itu menangis haru.

Di umurnya yang baru menginjak angka 21 (hampir 22 sekitar bulan depan nanti), Aqilla sudah merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Apalagi ketika ia menggendong si sulung yang dengan tenangnya tetap memejamkan mata, membuat hati Aqilla terenyuh.

“Ini Mommy, Sayang,” bisik Aqilla tepat di telinga putranya.

Bayi tampan itu menggeliat pelan. Lanjut mengukir senyum menggemaskan tanpa membuka mata sama sekali. Momen indah yang sukses Ely rekam dengan ponsel Aqilla ini benar-benar memancing air mata kebahagiaan. Ah, hebat sekali pokoknya.

“Udah kembar, ganteng sama cantik pula. Mukanya mirip—” Sontak kalimat Ely terhenti. Paras kedua anak Aqilla seperti duplikat paras sang daddy yang jauh di sana. Ia takut suasana bahagia ini seketika hancur jika ia menyebut nama—

“Mirip Tuan Muda Rayhan,” lirih Aqilla dengan senyum tipisnya.

Ely tersenyum saja. Ia beralih merekam putri Aqilla yang masih berada di box kaca. Agak kasihan karena bayi cantik itu harus menanti giliran untuk merasakan pelukan sang mommy. “Eh, Qill, yang cewek udah bangun, nih. Warna matanya sama kayak punya kamu!” pekik Aqilla heboh.

“Oh, ya?” Aqilla menaruh balik putranya di box kaca, lanjut menggendong putrinya yang sudah bangun. Bola matanya sama seperti dirinya. “Ululu.. gemesin banget, sih, anak Mommy.”

Bicara soal bola mata, Aqilla terlahir dengan warna iris yang cukup langka. Sayangnya, ia selalu menutupi kelebihannya itu dengan menggunakan lensa kontak hitam agar sama seperti orang Asia pada umumnya. Namun, ketika hamil, ia memutuskan untuk melepas lensanya dan membiarkan warna asli matanya terekspos ke dunia luar.

Warna bola mata Aqilla itu violet, ungu gitu, lho. Unik, cantik, dan jernih.

Dan, itu menurun pada putri Aqilla yang memiliki bentuk mata bulat yang menggemaskan.

“Keren gila! Lucu banget matanya,” gemas Ely. Dia suka sekali bola mata putri Aqilla yang begitu terang, tanpa dosa yang terpancar. Bayi baru lahir emang masih suci, kan?

“Btw, namanya siapa, nih, Qill?”

Aqila tidak langsung menjawab. Ia berusaha berdiri dan menaruh bayinya ulang di box kaca.

“Qill, kamu masih belum pulih. Duduk dulu,” pinta Ely khawatir.

Aqilka menyunggingkan senyum, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Jadi, Ely cuma bisa pasrah dan membantu sahabatnya dengan mendekatkan tiang infus. “Tolong berdiri di situ, El,” kata Aqilla menunjuk posisi di antara dua box bayi.

“Hah? Ngapain?”

“Berdiri aja dulu, elah.”

Ely menghembuskan napas pasrah. Ia berdiri berhadapan dengan Aqilla yang juga berada di tengah-tengah box bayi. “Terus aku ngapain?”

“Tutup telinga kiri mereka, ya.”

“He?”

“Cepetan, ih!” kesal Aqilla.

Ely menurut lagi. Ia menutup telinga kiri kedua bayi dengan tangannya. Aqilla pun sedikit membungkuk dan menarik napas perlahan.

“Allahu akbar, allahu akbar...”

Ely terdiam seribu bahasa. Suara merdu Aqilla ketika sedang mengumandangkan adzan benar-benar menggetarkan hatinya. Bahkan, kedua bayi itu langsung membuka mata dan menatap lekat-lekat Aqilla, seolah sedang berusaha mengenali suara mommy mereka.

Lima menit penuh penghayatan, Aqilla selesai mengumandangkan adzan. Ia mengusap kedua pipi anaknya bersamaan, lanjut berkata dengan lantang,

“Hari ini, kalian lahir dengan sejuta harapan. Kalian yang akan jadi sumber kekuatan Mommy, kalian juga akan menjadi cahaya Mommy. Dan, hari ini, Mommy memberi kalian nama...”

“Jovanka Revalino Jonesa untuk putra Mommy. Dan, Jovinka Revalina Jonesa untuk putri Mommy.”

Detik itu juga, tangisan kedua bayi menggema. Mereka menyambut nama yang mommy mereka berikan dengan suara lantang yang menunjukkan persetujuan.

Selamat datang di dunia, Jovan, Jovin..

...👑👑👑...

Satu tahun kemudian...

“Jovin! Jangan main-main sama pistol Mommy, ya,” peringat Aqilla geram.

Bukannya takut, Jovin malah tertawa. Ia merangkak menjauhi mommy-nya yang mengejar sambil membawa pistol di genggaman. Untungnya, sih, pistol itu tidak ada pelurunya.

Sementara Aqilla sibuk mengejar Jovin yang merangkak dengan kecepatan super, Jovan berulah dengan memainkan ponsel Aqilla. Ia melempar ponsel itu ke dinding hingga—

“Jovan! Ponsel Mommy pecah lagi! Astaghfirullah...”

Aqilla duduk dengan lesu di lantai. Kenapa kedua anaknya berubah jadi iblis kecil begini?

Ya Allah, hamba tidak kuat!

Belum selesai dengan ponsel, Jovan merangkak mendekati mainan mobilnya dan melemparnya ke arah Aqilla.

Buk!

“Aw..” Aqilla meringis merasakan hantaman di lengannya. “Jovan,” geramnya.

Jovan tertawa girang. Lalu merangkak menjauh, menghampiri Jovin yang sedang berjalan pelan sambil membawa pistol.

Tanpa diduga, pistol itu dijatuhkan ke lantai dan diinjak dengan sengaja oleh Jovin.

Krakk!

Aqilla melotot melihat pistolnya pecah. “JOVINKA!! ITU PISTOL KESAYANGAN MOMMY!”

Jangan ditanya Ely di mana. Gadis itu sudah kabur duluan karena tidak mau berurusan dengan dua iblis nakal ini.

Apa salah saya sampai punya anak seperti ini, Ya Allah??

^^^To be continue...^^^

...👑👑👑...

Hai, kita udah ketemu sama si kembar, nih. Jovanka dan Jovinka siap menghibur kalian dengan kocaknya tingkah mereka.

Tenang aja, Ay akan berusaha ngebuat cerita ini berbeda dari cerita kembar genius lainnya. Ay suka banget, lho, baca cerita kembar genius beginian.

Kalian punya rekomendasi? Tulis di kolom komentar coba.

Cuma.. kadang Ay kurang puas sama tulisan orang. Jadi, Ay memutuskan untuk menulis genre yang sama, tapi versi Ay sendiri. Ini murni dari otak Ay, oke.

See you di chapter selanjutnya:)

Terpopuler

Comments

Norfadilah

Norfadilah

Bahagianya...😃😍😍

2023-06-26

1

Tua Jemima

Tua Jemima

ini salh thor biadax kalau hmil diluar nikah dapat sangsi diberhwtikn gk noleh dinas lgi piye toh iki

2023-02-17

0

Joveni

Joveni

pertemukan mereka ma bapaknya donk... biar bpknya tau ulah si twins...

2022-11-13

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 | Pertemuan
2 Chapter 2 | Hanya Ingin Membantu
3 Chapter 3 | Penjelasan
4 Chapter 4 | Tentang Tuan Muda
5 Chapter 5 | Tentang Aqilla
6 Chapter 6 | Bertemu Lagi
7 Chapter 7 | Usaha Penangkapan
8 Chapter 8 | Tertangkap
9 Chapter 9 | Hubungan Terlarang
10 Chapter 10 | Pamit
11 Chapter 11 | Hamil?
12 Chapter 12 | Izin Hiatus
13 Chapter 13 | Welcome Twins J
14 Chapter 14 | Keseharian Aqilla
15 Chapter 15 | Bukan Anak Haram!
16 Chapter 16 | Ketakutan Aqilla
17 Chapter 17 | Kemenangan Jovan
18 Chapter 18 | Hadiah dari Jovin
19 Chapter 19 | Kondisi Keluarga Refalino
20 Chapter 20 | Di Mana Daddy Kami?
21 Chapter 21 | Ingin Bertemu
22 Chapter 22 | Dia Daddy Kami!
23 Chapter 23 | Siap Bertemu
24 Chapter 24 | Cerita Masa Lalu
25 Chapter 25 | Tiba di Indonesia
26 Chapter 26 | Data Keluarga Aqilla
27 Chapter 27 | Dad vs Son
28 Chapter 28 | Kasih Sayang Aqilla
29 Chapter 29 | Belanja
30 Chapter 30 | Bertemu Jessie
31 Chapter 31 | Aunty Pulang!
32 Chapter 32 | Calon Menantu?!
33 Chapter 33 | Penyerangan
34 Chapter 34 | Ajakan ke Mansion
35 Chapter 35 | Makan Bersama
36 Chapter 36 | Rencana Berhasil!
37 Chapter 37 | Grandpa, Grandma
38 Chapter 38 | Grandpa, Grandma (2)
39 Chapter 39 | Pesta: Akhirnya Bertemu
40 Chapter 40 | Pesta: Tidak Tahu Malu!
41 Chapter 41 | Pesta: Pencari Masalah
42 Chapter 42 | Pesta: Dia Tidak Mandul!
43 Chapter 43 | Pesta: Daddy!
44 Chapter 44 | Pulang ke Mansion
45 Chapter 45 | Pulang ke Mansion (2)
46 Chapter 46 | Berkumpul Bersama
47 Chapter 47 | Kebiasaan Si Kembar
48 Chapter 48 | Ayo Menikah
49 Chapter 49 | Ingin Lebih Dekat
50 Chapter 50 | Kesempatan Berdua
51 Chapter 51 | Kesempatan Berdua (2)
52 Chapter 52 | Perpisahan
53 Chapter 53 | Ikut ke Kantor
54 Chapter 54 | Pelaku Korupsi
55 Chapter 55 | Hilang
56 Chapter 56 | Fathur?
57 Chapter 57 | Selamanya Sahabat
58 Chapter 58 | Mommy Pulang!
59 Chapter 59 | Jalan-Jalan Keluarga
60 Chapter 60 | Jalan-Jalan Keluarga 2
61 Chapter 61: Jalan-Jalan Keluarga (3)
62 Chapter 62 | Gadis Itu
63 Chapter 63 | Diculik
64 Chapter 64 | Aksi si Kembar
65 Chapter 65 | Tidak Diizinkan!
66 Chapter 66 | Selesaikan Masalah!
67 Chapter 67 | Tidak Ada?
68 Chapter 68 | Janji Sebelum Tidur
69 Chapter 69 | Kapan Menikah?
70 Chapter 70 | Tidak Boleh Pergi!
71 Chapter 71 | Misi Penyergapan
72 Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
73 Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
74 Chapter 73 | Mommy Daddy Sedang Apa?
75 Chapter 74 | Aqilla Setuju
76 Chapter 75 | Pergi dan Datang
77 Chapter 76 | Sedang Apa di Sini?
78 Chapter 77 | Takut Mommy
79 Chapter 78 | Melepas Rindu
80 Chapter 79 | Bertemu Chelsea
81 Chapter 80 | Permintaan Chelsea
82 Chapter 81 | Selamat Ulang Tahun, Aqilla
83 Chapter 82 | Aku Saudara Kembarnya
84 Chapter 83 | Dibawa Pergi
85 Chapter 84 | Kebenaran Masa Lalu
86 Chapter 85 | Kebenaran Masa Lalu (2)
87 Chapter 86 | Tekad Rayhan
88 Chapter 87 | Mansion Kenzie
89 Chapter 88 | Dari Dulu Begitu
90 Chapter 89 | Maksud Kedatangan
91 Chapter 90 | Kebenaran
92 Chapter 91 | Kebenaran (2)
93 Chapter 92 | Kebenaran (3)
94 Chapter 93 | Baikan
95 Chapter 94 | Meminta Izin
96 Chapter 95 | Happy Birthday, Twins
97 Chapter 96 | Direstui
98 Chapter 97 | Kisah Aqilla-Kenzie
99 Chapter 98 | Kisah Aqilla-Kenzie (2)
100 Chapter 99 | Kisah Aqilla-Kenzie (3)
101 Chapter 100 | Wali Nikah Aqilla?
102 Chapter 101 | In the Seoul
103 Chapter 102 | Fakta Masa Lalu
104 Chapter 103 | Kembali Bersama
105 Chapter 104 | Kembali Bersama (2)
106 Chapter 105 | The Last: Hari Bahagia
107 Chapter 106 | The Last: Hari Bahagia (2)
108 Bonus Chapter 1
109 Bonus Chapter 2
110 Bonus Chapter 3
111 Bonus Chapter 4
112 Bonus Chapter 5
113 Question??
114 Promosi [Cruel Mafia vs Cool Mafia]
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Chapter 1 | Pertemuan
2
Chapter 2 | Hanya Ingin Membantu
3
Chapter 3 | Penjelasan
4
Chapter 4 | Tentang Tuan Muda
5
Chapter 5 | Tentang Aqilla
6
Chapter 6 | Bertemu Lagi
7
Chapter 7 | Usaha Penangkapan
8
Chapter 8 | Tertangkap
9
Chapter 9 | Hubungan Terlarang
10
Chapter 10 | Pamit
11
Chapter 11 | Hamil?
12
Chapter 12 | Izin Hiatus
13
Chapter 13 | Welcome Twins J
14
Chapter 14 | Keseharian Aqilla
15
Chapter 15 | Bukan Anak Haram!
16
Chapter 16 | Ketakutan Aqilla
17
Chapter 17 | Kemenangan Jovan
18
Chapter 18 | Hadiah dari Jovin
19
Chapter 19 | Kondisi Keluarga Refalino
20
Chapter 20 | Di Mana Daddy Kami?
21
Chapter 21 | Ingin Bertemu
22
Chapter 22 | Dia Daddy Kami!
23
Chapter 23 | Siap Bertemu
24
Chapter 24 | Cerita Masa Lalu
25
Chapter 25 | Tiba di Indonesia
26
Chapter 26 | Data Keluarga Aqilla
27
Chapter 27 | Dad vs Son
28
Chapter 28 | Kasih Sayang Aqilla
29
Chapter 29 | Belanja
30
Chapter 30 | Bertemu Jessie
31
Chapter 31 | Aunty Pulang!
32
Chapter 32 | Calon Menantu?!
33
Chapter 33 | Penyerangan
34
Chapter 34 | Ajakan ke Mansion
35
Chapter 35 | Makan Bersama
36
Chapter 36 | Rencana Berhasil!
37
Chapter 37 | Grandpa, Grandma
38
Chapter 38 | Grandpa, Grandma (2)
39
Chapter 39 | Pesta: Akhirnya Bertemu
40
Chapter 40 | Pesta: Tidak Tahu Malu!
41
Chapter 41 | Pesta: Pencari Masalah
42
Chapter 42 | Pesta: Dia Tidak Mandul!
43
Chapter 43 | Pesta: Daddy!
44
Chapter 44 | Pulang ke Mansion
45
Chapter 45 | Pulang ke Mansion (2)
46
Chapter 46 | Berkumpul Bersama
47
Chapter 47 | Kebiasaan Si Kembar
48
Chapter 48 | Ayo Menikah
49
Chapter 49 | Ingin Lebih Dekat
50
Chapter 50 | Kesempatan Berdua
51
Chapter 51 | Kesempatan Berdua (2)
52
Chapter 52 | Perpisahan
53
Chapter 53 | Ikut ke Kantor
54
Chapter 54 | Pelaku Korupsi
55
Chapter 55 | Hilang
56
Chapter 56 | Fathur?
57
Chapter 57 | Selamanya Sahabat
58
Chapter 58 | Mommy Pulang!
59
Chapter 59 | Jalan-Jalan Keluarga
60
Chapter 60 | Jalan-Jalan Keluarga 2
61
Chapter 61: Jalan-Jalan Keluarga (3)
62
Chapter 62 | Gadis Itu
63
Chapter 63 | Diculik
64
Chapter 64 | Aksi si Kembar
65
Chapter 65 | Tidak Diizinkan!
66
Chapter 66 | Selesaikan Masalah!
67
Chapter 67 | Tidak Ada?
68
Chapter 68 | Janji Sebelum Tidur
69
Chapter 69 | Kapan Menikah?
70
Chapter 70 | Tidak Boleh Pergi!
71
Chapter 71 | Misi Penyergapan
72
Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
73
Chapter 72 | Aqilla... Sakit?
74
Chapter 73 | Mommy Daddy Sedang Apa?
75
Chapter 74 | Aqilla Setuju
76
Chapter 75 | Pergi dan Datang
77
Chapter 76 | Sedang Apa di Sini?
78
Chapter 77 | Takut Mommy
79
Chapter 78 | Melepas Rindu
80
Chapter 79 | Bertemu Chelsea
81
Chapter 80 | Permintaan Chelsea
82
Chapter 81 | Selamat Ulang Tahun, Aqilla
83
Chapter 82 | Aku Saudara Kembarnya
84
Chapter 83 | Dibawa Pergi
85
Chapter 84 | Kebenaran Masa Lalu
86
Chapter 85 | Kebenaran Masa Lalu (2)
87
Chapter 86 | Tekad Rayhan
88
Chapter 87 | Mansion Kenzie
89
Chapter 88 | Dari Dulu Begitu
90
Chapter 89 | Maksud Kedatangan
91
Chapter 90 | Kebenaran
92
Chapter 91 | Kebenaran (2)
93
Chapter 92 | Kebenaran (3)
94
Chapter 93 | Baikan
95
Chapter 94 | Meminta Izin
96
Chapter 95 | Happy Birthday, Twins
97
Chapter 96 | Direstui
98
Chapter 97 | Kisah Aqilla-Kenzie
99
Chapter 98 | Kisah Aqilla-Kenzie (2)
100
Chapter 99 | Kisah Aqilla-Kenzie (3)
101
Chapter 100 | Wali Nikah Aqilla?
102
Chapter 101 | In the Seoul
103
Chapter 102 | Fakta Masa Lalu
104
Chapter 103 | Kembali Bersama
105
Chapter 104 | Kembali Bersama (2)
106
Chapter 105 | The Last: Hari Bahagia
107
Chapter 106 | The Last: Hari Bahagia (2)
108
Bonus Chapter 1
109
Bonus Chapter 2
110
Bonus Chapter 3
111
Bonus Chapter 4
112
Bonus Chapter 5
113
Question??
114
Promosi [Cruel Mafia vs Cool Mafia]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!