Aqilla melangkah memasuki ruangan yang minim pencahayaan. Sebuah tempat yang dipenuhi dengan banyak senjata api dan senjata tajam. Di sana, ada banyak ruangan yang berbentuk seperti jeruji besi.
Aqilla tersenyum smirk. “Akhirnya, dia tertangkap juga,” kata Aqilla dengan nada datar. Matanya mengamati sosok Lexi yang terborgol di dalam salah satu jeruji besi.
“Apa yang harus kami lakukan kepadanya, Nona?” tanya Reno.
Aqilla melirik Reno sekilas, lelaki itu berhasil membuktikan diri dan masuk ke dalam pasukan khusus di bawah kepemimpinannya. Hebat juga.
“Siksa dia!”
Ely, Reno, dan ketujuh anggota lainnya membelalakkan mata. Mereka menatap Aqilla tak percaya.
“Siksa, Qill? Kamu gila?!” seru Ely tak menyangka. Ia tidak peduli jika bahasa yang ia gunakan non-formal. Perintah Aqilla barusan terlalu mengejutkan.
Aqilla mengangguk santai. “Siksa dia sampai lumpuh!” ucapnya memperjelas perintahnya.
“Tapi, Qill—”
“Kenapa, El? Kamu keberatan?” Aqilla menatap Ely datar. Dan, si El ini langsung menciut nyalinya, tidak berani membantah lagi.
“Siksa dia di depanku! Sekarang!”
...👑👑👑...
Sesuai perintah Aqilla, Lexi disiksa hingga berjam-jam lamanya—langit bahkan sudah menggelap sekarang. Tubuh pria itu berlumuran darah di mana-mana. Kaki dan tangannya dipatahkan, dicambuki pula.
Semua orang menatap Aqilla ngeri. Gadis itu masih duduk santai sambil menikmati tontonan di mana Ely tengah memukuli tubuh Lexi tanpa ampun. Ely sendiri tidak berani membantah.
“Cukup!”
Ely berhenti bergerak. Ia mundur beberapa langkah, menjauh dari Lexi yang berbau anyir. Pria itu masih hidup, hanya sekarat saja.
“Siapkan penerbangan untuk kita kembali ke Kanada besok!” titah Aqilla seraya melenggang pergi dari tempat itu.
Sepeninggalan Aqilla, Ely dan anggota lainnya menghembuskan napas lega. Mereka seperti sedang berada dalam satu ruangan dengan malaikat pencabut nyawa.
“Gila! Qilla kenapa mendadak jadi kejam begini?” ucap Ely masih tak menyangka.
“Nona Qaill mengerikan sekali,” ngeri Reno.
Ely terkekeh melihat delapan anggota pilihan Aqilla merinding melihat penyiksaan barusan. Ia menepuk bahu Reno sekali dengan senyum penuh arti tersungging di bibirnya,
“Santai aja. Qilla menggal kepala orang aja masih bisa senyum, kok. Masa begini aja kalian udah merinding?”
...👑👑👑...
Berjalan sendirian di tengah gelapnya malam mungkin mengerikan bagi beberapa orang. Suasana jalan cukup sepi, hanya dilalui beberapa kendaraan. Sayangnya, itu tidak berlaku untuk Aqilla.
Gadis itu berjalan santai di trotoar tanpa rasa takut sama sekali. Sudah terbiasa soalnya.
Hidup Aqilla memang selalu seperti ini. Sendirian. Tidak ada yang menemani.
Mau dimanja Ayang, tapi Ayangnya nggak ada.
Ada, sih, sebenarnya. Tapi, sibuk terus. Huh!
“Apa salahku, Chels?! Kenapa kamu ngelakuin ini?!”
Aqilla refleks menoleh ke asal suara. Matanya menyipit, memperhatikan lamat-lamat sosok yang baru saja berteriak kencang. “Tuan Muda?” gumamnya.
“Itu nggak benar!”
Aqilla bisa melihat dengan jelas, Rayhan sedang marah-marah kepada sosok gadis di depannya. Aqilla menggigit bibir bawahnya dengan sorot tak yakin. Jujur saja, otaknya penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Namun, hatinya menyuruh agar tidak berbuat lancang karena ia dan Rayhan tidak memiliki hubungan apa-apa.
Aqilla menggeleng kuat, mengenyahkan pikiran itu dari kepala. Ia mengendap-endap ke tempat Rayhan—efek karena terlalu kepo jadi makin nekat.
Posisi Rayhan saat ini sedang berada di samping gedung Hotel Refals, salah satu properti milik keluarga Refalino juga. Aqilla bersembunyi di balik dinding dengan telinga terpasang baik, dia siap menguping, hehe.
“Aku nggak mau berhubungan sama laki-laki mandul kayak kamu, Ray!” seru gadis itu.
Rayhan menggeleng kuat. “Itu nggak benar, Chels! Aku cuma—”
“Apa?! Bukan mandul, tapi susah punya anak?! Iya?!” bentak gadis itu yang ternyata adalah Chelsea, mantan kekasih Rayhan.
Rayhan terdiam dengan tangan terkepal.
“Aku nggak mau, Ray! Aku mau punya pasangan normal yang bisa ngasih keturunan! Bukan mandul kayak kamu!” teriak Chelsea.
“Sudah, Sayang. Jangan marah-marah.”
Kedua mata Aqilla terbelalak. Sosok lelaki lain datang menghampiri Chelsea dan memeluknya mesra. Bahkan, lelaki itu mengecup bibir Chelsea.
Sosok lelaki yang sangat Aqilla kenal.
Sial! Jadi kamu berselingkuh dariku?!
Kedua tangan Aqilla mengepal erat, matanya menyorot tajam, dan gigi saling menggertak. Tanpa berkata apa pun, ia bergerak keluar dari persembunyian dan mendekati sosok lelaki itu.
Brukk!!
“Stevan!” pekik Chelsea kaget.
Aqilla menatap Stevan dengan mata elangnya selepas menendang kuat tubuh lelaki itu hingga terpental. Ia sangat marah, sungguh.
Chelsea yang tidak terima kekasihnya ditendang pun menghunuskan mata tajamnya pada Aqilla. “Kamu siapa, hah?! Kenapa kamu menendang kekasihku?!” teriaknya.
Rayhan yang melihat kehadiran Aqilla yang tiba-tiba juga tak kalah terkejut. Apalagi ketika gadis itu menendang tubuh Stevan. Aqilla di sini? Dia sedang apa?
Aqilla terus menatap Stevan tajam tanpa memedulikan suara Chelsea yang meneriakinya. “Jadi begini kelakuan kamu di belakangku, Stev?!”
Stevan menatap Aqilla tak percaya. “Qill, aku—”
“Kita putus!” seru Aqilla datar.
Rayhan yang mendengar itu mendadak paham. Ia ingat, Aqilla pernah mengatakan kalau ia memiliki kekasih sewaktu di club saat pertemuan pertama mereka. Jadi, selingkuhan Chelsea adalah kekasih Aqilla?
Wow.. dunia sesempit ini ternyata.
Chelsea berjongkok di samping Stevan, membantu lelaki itu bangun. “Kamu nggak pa pa, Stev?” tanyanya khawatir.
Aqilla tersenyum sinis. “Cih, jadi ini balasan kamu untuk kebaikanku, Stev?”
“Qill, aku—”
“Ho? Jadi kekasih yang kamu maksud itu dia, Qill?” tanya Rayhan memotong kalimat Stevan.
Aqilla terdiam dengan tatapan yang terus mengarah pada Stevan. “Ya, cowok brengsek ini..” jawabnya.
Rayhan tersenyum miring. Ia mendapat ide bagus di kepalanya. “Jika mereka bisa berselingkuh, kenapa kita tidak?”
Aqilla beralih menatap Rayhan.
Rayhan merangkul pinggang Aqilla mesra dan mencium bibir gadis itu. Kali ini, Aqilla tidak menolak. Ia ikut membalas ciuman yang Rayhan berikan.
“Ray, kamu—” Chelsea menutup mulutnya yang terbuka.
Rayhan melepas tautan bibirnya. “Bagaimana kalau kita juga melakukan apa yang sudah mereka buat, Qill?”
Aqilla yang mengerti maksud Rayhan ikut tersenyum miring. “Tentu, kenapa tidak?”
Rayhan menatap Chelsea remeh. “Mulai sekarang, kita tidak ada hubungan lagi sesuai keinginan kamu, Chels. Karena sekarang... aku punya kekasih lain yang jauh lebih baik dari kamu.”
...👑👑👑...
Malam ini, Rayhan dan Aqilla sama-sama tahu bahwa mereka dikhianati. Keduanya memiliki amarah besar yang tersimpan di hati masing-masing. Hanya saja, mereka tidak tahu bagaimana caranya untuk meluapkan semua.
Yaahh.. awalnya memang tidak tahu.
Tapi, sekarang keduanya sudah tahu.
Berdiri di dekat hotel membuat keduanya tanpa sadar masuk ke dalam. Memesan satu kamar dan menghabiskan malam di sana.
Ya, tanpa sadar mereka melakukan hubungan terlarang.
Hati keduanya terlalu kalut, terlalu sakit, dan terlalu kacau untuk berpikir jernih. Mereka sama-sama pertama kali jatuh cinta dengan seseorang, dan pertama kali dikhianati pula.
Hubungan Aqilla dan Stevan sudah mencapai tahap serius. Kedua keluarga sudah pernah bertemu dan membicarakan soal pernikahan. Lalu apa sekarang? Dia dikhianati?!
Hah! Kenapa takdir kejam sekali?!
Karena itu.. jangan salahkan Aqilla jika dia benar-benar sakit hati.
Sekuat apa pun dirinya, Aqilla tetaplah manusia yang berjenis kelamin perempuan!
Dia punya hati dan hati perempuan begitu perasa bukan?
Malam ini... biarkan Aqilla melampiaskan rasa sakitnya bersama Rayhan.
Lelaki yang juga memiliki nasib yang sama dengan Aqilla.
Dikhianati kekasih tersayang...
^^^To be continue...^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Joveni
tukang nguping nih... awas loh ntar telinganya lebar..🤣🤣🤣
2022-11-13
1
Joveni
ga nyangka.. kirain lemah lembut polos sopan...ternyata.. qilla is killer..
2022-11-13
1
Icha Santana
si stev bloon nyelingkuhin qilla
2022-04-15
1