Wah, udah lama pake banget, nih. Wkwkwk..
Ay nggak mood. Cerita ini, kan, emang bukan prioritas, hehe.
...Happy reading:)...
.......
.......
.......
Aqilla dan Ely tiba di depan sebuah bangunan bertingkat. Perusahaan besar di Indonesia. RH Group.
“Haha, akhirnya aku bisa bertemu dengan Tuan Muda tampan!” pekik Ely heboh. Kedua matanya berbinar indah. Terlalu antusias. Bertepuk tangan juga.
Sedangkan Aqilla memutar bola matanya malas. Lebay!
“Bukannya semalem udah ketemu?” tanya Aqilla.
Ely mengangguk. “Iya, tapi, kan, nggak bisa ngobrol.”
“Kita di sini buat kerja, bukan buat liat laki-laki pemaksa itu!”
“Heh! Mulutnya!”
Aqilla menghela napas jengah. Ely terlalu menggilai lelaki bernama Rayhan itu. Padahal, di mata Aqilla, Rayhan tidak menarik sama sekali.
“Udah, ayo masuk.” Aqilla memimpin jalan. Ely mengekor bagaikan anak ayam yang mengikuti induknya. Pandangan diedarkan. Memantau interior lobby yang menakjubkan.
“Selamat datang di RH Group, Nona-Nona. Ada yang bisa saya bantu?” sambut resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan.
Aqilla mengedarkan pandangan seraya meraih lencana khusus dari dalam tas. “Saya ingin bertemu dengan pemilik gedung ini.”
Resepsionis tadi hampir memekik kaget ketika melihat lencana khusus yang Aqilla keluarkan. Namun, suaranya tak keluar setitik pun kala mendapati tatapan menusuk dari Ely.
Apa yang Tuan Muda lakukan sampai harus berurusan dengan polisi?
Setidaknya, itu yang resepsionis tadi pikirkan.
“Sa–saya akan menghubungi Tuan Alvin terlebih dahulu, asisten Tuan Muda.”
Aqilla tersenyum ramah. “Silakan.”
Resepsionis tadi nampak berbicara di telepon dengan nada pelan. Ia tidak ingin membuat keributan dengan menyerukan pasal kedatangan pihak hukum negara ke perusahaan mereka.
“Baik, Tuan.” Resepsionis tadi berusaha bersikap normal. Walaupun sebenarnya ia sulit untuk bernapas di sini. “Tuan Alvin meminta Nona untuk langsung naik ke atas. Lantai 34, Nona.”
Aqilla mengangguk paham. “Terima kasih.”
“Sama-sama, Nona.”
Aqilla berjalan lebih dulu. Sementara Ely menatap resepsionis tajam. “Jaga rahasia, oke?” Jari telunjuk ditaruh di depan bibir.
“I–iya, Nona. Saya akan diam,” balas resepsionis berbisik. Selepas kepergian Ely, wanita yang berjaga di lobby tersebut menghembuskan napas lega.
Haha, rasanya aku bisa mati hanya karena ditatap seperti itu oleh polisi tadi.
Iya, aura Aqilla dan Ely memang semenyeramkan itu.
...👑👑👑...
Aqilla dan Ely sampai di lantai 34. Alvin sudah berdiri di depan lift untuk menyambut keduanya.
“Nona Aqilla?” seru Alvin sedikit terkejut. Oh, jadi polisi yang dimaksud mereka?
“Halo, Asisten Alvin!” sapa Aqilla dengan cengirannya. Efek tidak tahu ingin memanggil seperti apa, jadi, ya begitu saja.
“Ada perlu apa, Nona?” tanya Alvin sesopan mungkin.
“Aku ingin bertemu dengan atasan di sini. Bisa, kan?” Menunjukkan lencana khusus diam-diam. “Ini bukan masalah sepele,” tambah Aqilla berbisik.
Alvin mengangguk paham. “Mari, Nona.”
Aqilla dan Ely mengikuti langkah Alvin. Sesekali dua gadis itu mengobrol santai agar tidak menimbulkan kecurigaan. Bahkan, sesekali mengajak Alvin bercanda yang hanya ditanggapi senyum kecil yang samar.
Tok tok tokk...
“Masuk!”
Alvin membukakan pintu. Mempersilakan Aqilla dan Ely untuk masuk terlebih dahulu. Semacam sopan santun ala lelaki yang tidak ingin mendahului perempuan.
“Eh, Aqilla?” Rayhan bingung. Alvin bilang, ada anggota kepolisian di lobby yang berkunjung. Ini, kok, jadi pacar barunya?
Tidak hanya Rayhan di sana. Ada Robert pula. Kedua lelaki berbeda generasi itu menatap Aqilla dan Ely yang nampak berpakaian santai dengan tas di punggung. Bingung menguasai kepala mereka.
“Selamat pagi, Tuan Muda. Maaf kalau kedatangan kami mengganggu aktivitas Anda,” ucap Aqilla sopan.
Rayhan menggeleng. “Tidak apa. Duduklah.” Menunjuk kursi di hadapan. Aqilla pun duduk di sana. Ely memilih berdiri di belakang Aqilla.
Biasa, jabatan Aqilla, kan, jauh lebih tinggi.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Robert penasaran.
Aqilla berdeham. Sorot matanya berubah serius. “Saya Qaill dari kepolisian nasional ingin meminta bantuan Anda, Tuan Muda, Tuan Besar.”
Robert dan Rayhan saling berpandangan sejenak. Ini mereka makin bingung, lho.
“Aku pasti bantu, kok. Memang kenapa?” Rayhan masih berbicara dengan non formal. Masih belum mengerti alasan kedatangan kedua gadis di hadapannya ini.
Aqilla menoleh pada Ely dengan tangan tersodor. Ely yang paham menyerahkan dokumen yang dibawa kepada Aqilla.
“Informasi kami dapat memastikan bahwa salah satu buronan internasional asal Inggris berada di perusahaan ini.” Berkata seraya menyerahkan dokumen.
“Apa?!” Rayhan menyambar dokumen. Data diri seorang lelaki bernama Lexi tercantum rapi di kertas tersebut. Lengkap dengan fotonya pula. “Aku tidak pernah melihat orang ini di sini!” Memberikan pada Alvin. Asisten Rayhan itu pun ikut memeriksa. Benar, ia juga tidak pernah melihat.
“Tentu saja Anda tidak akan melihatnya. Dia menyamar, Tuan.” Aqilla menjelaskan.
“Menyamar?”
Mengangguk. “Iya, dia menyamar.”
Aqilla menerangkan dengan sedetail mungkin. Rayhan, Robert, dan Alvin mendengarkan dengan serius. Aqilla menjelaskan soal Lexi. Dimulai dari kejahatannya di Inggris yang membunuh putri seorang petinggi di sana, lalu sempat tertangkap dan kabur hingga lari ke Indonesia.
Lexi memalsukan identitas selama di Indonesia. Untuk mendapat uang, ia masuk ke dalam perusahaan ini dengan data palsunya.
Rayhan dan Robert terkejut. Mereka baru tahu ada buronan yang bersembunyi di perusahaan mereka.
“Karena itu, kami ingin meminta izin untuk melakukan pemeriksaan di tempat ini.” Aqilla mengakhiri penjelasan dengan helaan napas. Ih, capek ngomong terus.
“Baiklah, saya memberi izin penuh untuk kalian melakukan pemeriksaan di sini.” Rayhan berubah tegas. Ini bukan masalah sepele.
Aqilla tersenyum lebar. “Terima kasih banyak. Untuk ke depannya, tolong bersikap normal saja, Tuan.”
“Heh? Kenapa?” Rayhan tak paham.
Plak!
Robert memukul kepala belakang Rayhan sebal. “Tentu saja agar tidak menimbulkan kecurigaan. Masa begini aja kamu nggak paham, sih, Ray?”
Rayhan meringis sakit. “Iya, Pi, iya. Tapi, nggak usah mukul-mukul juga dong!”
Aqilla terkekeh kecil. Ia mulai bekerja. Menyambungkan koneksi miliknya dengan milik perusahaan. Lalu disambung dengan sebuah alat proyektor yang menampilkan layar hologram.
“Periksa dengan teliti!” titah Aqilla.
“Iy—”
“Nona El...” Teguran keras. Lirikan tajam Aqilla berikan.
Ely meneguk saliva dengan susah payah. “Siap, Nona Qaill!” Menjawab dengan tegas.
Aqilla meretas seluruh data karyawan dan menampilkan di layar hologram. Tugas Ely menyamakan dengan data yang ia bawa di tablet.
Rayhan dan Robert ikut menatap cemas ke layar hologram. Mereka jadi khawatir dengan tidak tanduk buronan.
Semoga buronan itu segera tertangkap.
20 menit kemudian...
“Stop!” Memekik kencang.
Aqilla sampai terjingkat singkat. “Ada apa?”
“Dia!” Menunjuk layar hologram. Sebuah data seorang lelaki bernama Lezia tercantum di sana. Foto diburamkan dengan tanggal lahir dipalsukan. Bagian pemasaran.
Aqilla bergerak cepat meretas CCTV.
“****! Buronan itu kabur!”
“What?!”
^^^To be continue...^^^
...👑👑👑...
Ay suka cerita action. Tapi, kadang susah waktu buat adegan pertarungan. Soalnya, Ay nggak pernah ngelakuinnya.
Btw, itu Ay berimajinasi soal pekerjaan Aqilla, ya. Tidak ada maksud menyinggung ke depannya.
See you di chapter selanjutnya:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Icha Santana
ih seru bgt
2022-04-15
1