19 : Kisah di Musim Dingin

"Naa-chaaannnnn~~~"

BRAK!

"Astaga kaget.. Ada apa Hitoka-chan?" tanya Nadya yang sedang sibuk merapikan skripsinya.

"Nanti kamu jadi ke konsernya Sato?" tanya Hitoka bersemangat.

Nadya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan.

"Tentu saja aku jadi nonton, kamu mau ikutan juga?"

Hitoka pasti langsung mau karena pasalnya dialah orang yang benar-benar mendukung sekali.

"TENTU SAJA AKU MAU IKUT YEEYY!!"

Melihat tingkah Hitoka yang sangat ceria hari ini, dia juga ikutan tersenyum lepas. Sedangkan Ritsuka sedang mati-matian mengerjakan skripsinya dari awal dan membuatnya pusing 7 keliling.

"Ritsu-chan... Kamu gak apa-apa?" tanya Hitoka.

"Aahhh berisik ah! Gua lagi fokus ngerjain nih biar bisa setoran sedikit-sedikit." kata Ritsuka sambil mengotak atik laptop miliknya.

Nadya cukup senang sekali hari ini karena bisa hidup normal setelah melewati hari-hari yang sulit seperti kemarin. Di tambah lagi saat kemarin bersama Sato membuatnya terus mengingat pria itu. Benar-benar sangat melekat di otaknya.

FLASHBACK ON

"Terima kasih ya bunganya..."

"I-Iya.. Sama-sama.. Kenapa kamu belum pulang? Ini sudah mau jam 7 malam.."

"A-Aahh iya aku habis pengarahan untuk sidang TA minggu depan.."

"Sidang TA? Minggu depan? Maksudmu sidang akhir semester begitu?"

"Ya benar sekali..."

"W-Whoaa kamu keren... Ternyata sebentar lagi kamu lulus ya.."

"Iya.. Aku lulus dan mungkin aku gak akan tinggal disini lagi untuk waktu yang cukup lama.."

"Hah? Kenapa begitu?"

"Aku harus pulang ke negara asal ku, Sato. Aku disini hanya untuk menyelesaikan pendidikan ku."

"Jadi kamu akan pergi nanti?"

"Iya begitu lah.. Hehehe..."

"Meskipun kamu pergi..."

"Hmm?"

"... Meskipun kamu pergi... Aku bakalan ikut sama kamu..."

"E-Eehh??!! G-Gimana sama kerjaan kamu? Band kamu gimana?"

"Ya aku tetap ingin pergi..."

"S-Sato.. Mana bisa begitu..."

"Ya bisa saja kan?"

"Hmm... Kamu keras kepala juga ya..."

"Besok jangan lupa datang ya... Sekalian aku juga mau tampilin lagu buatanku sendiri.."

"WHOAAA!!! SERIUS??"

"Iya..."

"Pasti aku akan datang..."

"Aku tunggu kehadirannya ya? Maaf aku belum bisa mengantarmu pulang karena setelah ini aku harus latihan lagi.."

"Iya gak apa-apa kok, aku ngerti.."

"Jangan pulang malam-malan ya cantik..."

"....."

"Eh?"

"Bye bye..."

"B-Bye bye...."

FLASHBACK END

'K-Kenapa aku malah keinget sama kejadian kemarin sih? Aku malu banget kenapa juga dia manggil aku dengan sebutan cantik? Astaga...'

Nadya malah uring-uringan sendiri yang membuatnya tanpa sadar sudah di perhatikan oleh Ritsuka dan Hitoka sejak tadi.

"N-Naa-chan?"

"Oi lo gak apa-apa, Naa-chan?"

Wajahnya memerah padam layaknya kepiting rebus.

"A-Aaahhh... Aku.. A-Aku tidak apa-apa hehehehe..." kata Nadya sambil tertawa garing dan kembali fokus ke arah laptop di depannya.

Ritsuka dan Hitoka saling bertatapan satu sama lain. Mereka tersenyum penuh arti layaknya tahu apa yang di pikirkan Nadya saat itu.

"Heehhh~"

"Beneran gak apa-apa?" goda Ritsuka.

"E-Eehh... I-Iya aku gak apa-apa, sudah jangan menggodaku." kata Nadya sambil menutup wajahnya karena malu.

"HEEEHHHH~~"

"Stop ih!"

...🍁🍁🍁...

"Apa semuanya sudah di siapkan?"

"Sudah sih, cuman gak tahu tuh Sato dari tadi ngotak ngatik gitarnya dari tadi." kata Akihiko sambil menunjuk kearah Sato yang masih sibuk dengan gitar miliknya.

Spontan itu membuat Uenoyama menghela nafasnya kasar.

"Oi!"

Sato sedikit terkejut dengan suara Uenoyama itu.

"K-Kenapa?!"

"Lo kenapa? Jangan bilang gugup.."

Seperti membaca pikiran Sato, dia malah langsung menutup wajahnya sambil menahan malu.

"I-Ini.. Ini pertama kalinya gua manggung ya.. W-Wajarlah gua malu..." kata Sato dengan suara yang terbata-bata.

"HAAAHH??!! EMANGNYA LO ANAK KECIL?!"

"HAAH?! EMANG ORANG DEWASA GAK BOLEH GUGUP JUGA!?"

Bukannya saling menyemangati satu sama lain tapi mereka malah berkelahi kecil. Nakayama dan Akihiko yang melihatnya hanya bisa menghela nafasnya kasar. Pemandangan itu sudah amat sangat terbiasa terjadi di setiap pertemuan mereka.

"Haahhh... Kelakuan anak muda zaman sekarang begitu dah..."

"Hmm~ Tapi gua penasaran juga sama lagu yang di bawain Sato nanti.."

"GEH?! D-DIA BENERAN MAU BAWAIN LAGU??!!"

Akihiko menganggukkan kepalanya.

"Ya, dia sudah mempersiapkan itu semua dari jauh-jauh hari. Jadi yang harus berusaha keras itu kita kan?" kata Akihiko sambil cengar cengir.

Nakayama hanya tersenyum simpul sambil menggaruk tengkuk lehernya.

"Y-Yaa.. Mau bagaimana lagi kan.. Dia udah jadi bagian dari band kita jadi kita harus mengikuti aliran dia bernyanyi nanti..."

Sambil menatap Sato yang masih beradu mulut dan argumen dengan Uenoyama, Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya tentang hubungan pria itu dengan gadis yang bernama Nadya.

'Saa... Apa nanti lo bakalan ungkapin perasaan lo yang sebenernya ke dia? Atau lo bener-bener mau pergi dari dia? Semua tergantung lagu yang lo bawain..'

...🍁🍁🍁...

"Naa-chan kamu yakin mau pake baju itu?"

"Iya yakin, emang kenapa?" tanya Nadya yang bingung.

"Naa-chan please ini mau nonton konser bukan mau hunting main skateboard." kata Ritsuka sambil menepuk keningnya kencang.

Meskipun Nadya gadis yang pintar dan cerdas, tapi kalau soal masalah outfit dia sama sekali tidak memiliki pengetahuan apapun. Karena outfit yang ia miliki hanya kaos oblong, kemeja oversized dan sweater oversized nya. Ah, jangan lupakan juga celana bahan atau celana jeans dengan model gombrong.

"L-Lalu aku harus pakai baju apa? Aku tidak ada baju lagi selain yang modelnya ini semua." kata Nadya memelas.

"Ah, mumpung ada di rumahku, kamu harus coba baju yang satu ini." kata Hitoka sambil mencari baju yang cocok untuk Nadya pakai.

Setelah ketemu baju yang dicari, ia langsung memberikan baju itu kepada Nadya dan menyuruh Nadya untuk mengganti bajunya dengan baju yang diberikan Hitoka.

Saat Nadya keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti bajunya, Hitoka dan Ritsuka langsung menatap temannya itu dengan tatapan yang semringah.

"WAH GILAAAAA SIH!!!!"

"NAH INI BAGUSSS!!! COCOK BANGET SUMPAH!!

"Y-Yang bener aja masa aku pake baju kayak begini?" kata Nadya sambil menutupi pusar yang terlihat.

"Naa-chan sumpah kamu keren banget asli!"

"Cantik hey! Udah pake itu aja! Gak apa-apa terlihat cantik dalam semalam mah~"

Teman-temannya malah mendukungnya dia memakai baju itu. Sedangkan dirinya sendiri benar-benar belum terbiasa dengan pakaian itu.

'I-Ini emang model bajunya begini ya? Sumpah risih... Tapi gimana gak enak sama Hitoka-chan..'

"Ayo kita berangkat!! Taksinya udah nungguin kita di depan.."

"Ah! Ayoo!!!"

"Let's Go the party!!!"

...🍁🍁🍁...

Suara penonton hiruk pikuk dan sangat menikmati penampilan band yang sudah tampil sejak 20 menit lalu. Begitu banyak penonton dan itu membuat Sato tetap gugup seperti awal pertama. Sato mengintip dari gorden di balik panggung, band pertama sudah selesai dan sekarang giliran band nya lah yang akan tampil.

Masuk satu persatu ke panggung mulai dari Nakayama, Akihiko, Uenoyama lalu Sato yang terakhir masuk ke area panggung. Sambil memegang gitarnya dengan genggaman kuat, Sato mencoba untuk menenangkan dirinya.

"Oi Sato!"

Sato menoleh kearah Uenoyama yang berjalan mendekat kearahnya.

"Oi! Lo kenapa sih? Lo gak apa-apa kan?"

"Apa semuanya udah siap?" tanya Nakayama sekali lagi memastikan peralatan dan semua anggota band nya sudah siap untuk memulai.

"Aku sudah siap, cuman Sato..."

Perkataan Uenoyama sangat di mengerti oleh Nakayama dan juga Akihiko. Dan mereka sepakat untuk mengikuti irama permainan gitarnya, sedangkan mereka hanya tinggal mengikutinya.

Tirai penutup panggung perlahan di buka. Terdengar sorak sorai dari seluruh penonton yang ada di hadapan mereka.

Sato mencoba membuka matanya perlahan dan sekilas dia mengingat kembali wajah sang gadis yang tanpa sadar dia sudah jatuh hati pada gadis itu.

'Aku gak tahu harus apa...'

'Aku bahkan gak tahu bagaimana perasaan ini...'

'Tapi aku harap... Kamu bisa mengerti lagu ini...'

Suara gitar yang di mainkan Sato mulai memainkan nadanya, diikuti dengan Uenoyama sang gitaris kedua, Nakayama sebagai bassist dan Akihiko sebagai drummer. Penonton tampak antusias dengan band mereka. Sato menarik nafasnya dan dia mulai bernyanyi.

Seperti salju yang tidak bisa sepenuhnya meleleh

Di tempat teduh~~

Aku tetap hidup dengan perasaan ini~

Hei, dengan kata-kata apa~

Aku harus menutup pintu pada cinta ini?~

Suara Sato bergema begitu indah membuat penonton terhipnotis dengan suara Sato. Bahkan untuk lirik lagu di awal cukup membuat penonton tercengang.

Segala milikmu akan hilang besok~

Dan sekarang berputar memikirkan dalam keabadian~

Bersama denganku~

Yang tidak bisa mengatakan selamat tinggal atau move on~

Nakayama dan Akihiko sambil bertatapan satu sama lain saat mendengar lirik lagu yang di bawakan Sato. Begitu pun juga Uenoyama yang masih terlihat terkejut dengan ekspresi Sato yang begitu menghayati setiap lirik lagu yang Sato bawakan.

Seperti mantra yang masih belum terpecahkan

Atau semacam kutukan~

Aku masih membawa barang bawaan yang berat~

Hei, esok yang seperti apa~

Yang harus kucari di kota ini?~

Di bagian lirik ini Sato tiba-tiba berteriak cukup frustasi. Teriakan nyanyiannya itu sempat di beri applaus dari para penonton yang terbawa suasana lagu yang dibawakan Sato.

Air mata dingin yang jatuh~

Membeku di udara~

Mereka berpura-pura menjadi baik~

Dan seiring waktu, mereka jatuh di wajahku~

Dua orang yang selalu bersama, mereka berpisah~

Dan itulah cerita ini~

Meski kau kehilangan bentuk suatu hari~

Kau akan selalu disini bersama denganku~

Selama ku mencoba untuk maju lagi~

Meskipun aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal~

Kau akan disini bersamaku selamanya~

Sato kembali fokus memainkan gitar kesayangannya disusul dengan alunan nada dari gitar Uenoyama sampai lagu itu selesai.

Penonton langsung bertepuk tangan meriah dengan penampilan band ini.

Sato melihat sekitar dengan nafas yang terengah-engah. Tanpa sadar dia malah pergi terlebih dahulu ke belakang panggung, Uenoyama dan Akihiko mengerti suasana itu. Sedangkan Nakayama mencoba untuk mencairkan suasana dengan memainkan musik instrumental.

'Semoga aja itu anak gak apa-apa..'

Sementara Sato sudah berada di belakang panggung sendirian sambil memeluk gitar kesayangannya. Dia kembali mengingat wajah gadis yang membuat dia tergila-gila.

"Sato?"

"Iya aku suka banget..."

"Aku pengen deket sama kamu... Kamu jangan pergi..."

"Kamu janji bakalan disini terus kan sama aku..."

Perkataan gadis itu melayang-layang di kepala Sato dan membuat Sato tersenyum simpul seketika.

"Whoa! Selamat ya itu nyanyian yang bagus!"

Sato terkejut saat mendengar suara seseorang yang sedang menghampirinya.

"E-Eh?! K-Kalian?"

Ternyata Ritsuka dan Hitoka yang sudah berdiri di hadapan pria itu.

"Penampilanmu keren sekali, aku suka lagumu juga!!"

"Kenapa lagunya harus sesedih itu sih? Sial!" kata Ritsuka yang masih menahan air matanya.

Sato hanya terkekeh pelan melihat kedua gadis yang ada di hadapannya itu.

"Hehehe... Terima kasih.. Aku bahkan gak tahu kalian bakalan datang juga.."

"Iya kita dateng kan kita nemenin Nadya kesini..."

'Ah, iya. Nadya.'

"Eh iya, Nadya kemana?" tanya Sato penasaran.

Karena sejak tadi ia tidak melihat sosok gadisnya itu.

Ritsuka dan Hitoka hanya saling bertatapan satu sama lain lalu memberikan sebuah kotak yang berisikan strawberry bersiram coklat.

"Dia izin pergi duluan dan menitipkan ini untukmu. Jadi kita kesini mau memberikan ini untukmu." kata Hitoka sambil memberikan kotak itu kepada Sato.

Sato terkejut bukan main karena hari ini dia ingin membicarakan sesuatu yang penting kepada gadis itu.

"D-Dia pergi?? K-Kemana?? D-Dan kenapa?!!" tanya Sato dengan nada panik.

"Aku tidak begitu tahu dengan jelas kenapa dia pergi begitu aja, tapi pas kamu nyanyikan lagumu di lirik bagian tengah-tengah dia langsung memberikan ini."

"Dia gak ngomong apa-apa tapi saat gua tanya dia cuman bilang 'Aku mau pergi dulu sebentar... Aku sekarang sadar diri...' . Gua gak ngerti maksud dari kata-kata dia tap—"

"Minta tolong pegang ini ya aku mau cari dia sebentar, aku mohon!!"

Sato langsung menyerahkan kotak itu kembali kepada Hitoka dan langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu.

Hitoka dan Ritsuka hanya bisa diam dan bingung dengan sikap Sato yang tiba-tiba berubah.

Sato berlari sekuat tenaga dengan matanya yang mencari keberadaan Nadya.

'Nadya Nadya Nadya.... Kamu kemana sih? Kenapa pergi?'

Celingak celinguk kesana kemari berharap gadisnya bisa di temukan. Udara malam sudah mulai menusuk kulit, sepertinya akan turun hujan.

'Please.. Please.. Please... Jangan pergi jangan pergi....'

'Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Nadya....'

...🍁🍁🍁...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!