"Hah?"
"Apaan?"
"Kenapa yang ini??"
"Ya mau gimana lagi kan.."
Saat ini Nadya, Ritsuka dan juga Hitoka sedang berada di kantin untuk makan siang. Siapa sangka, Nadya yang mengincar Onigiri rasa Tuna Mayo malah di belikan Ritsuka yang Chicken Teriyaki.
"Aku... Aku gak terlalu suka Chicken..."
"Makan aja udah yang ada... Mumpung habis jam makan siang kita langsung pulang..." kata Ritsuka yang masih fokus sama makanannya.
Sedangkan Hitoka hanya melihat tingkah Nadya yang seperti kebakaran jenggot hanya masalah Onigiri.
"Mau aku belikan di luar?" tawar Hitoka.
"Gaaaakkkk!!! Gak mauuu!!! Maunya beli disiniiiii.... Be-li... Di-si-ni.... HUWEEE!!!"
Nadya malah merengek didepan kedua temannya itu, Ritsuka masa bodo amat. Sedangkan Hitoka sedikit khawatir.
TIK. TIK. TIK.
"Eh?"
"Hujan..."
"Yaaahh..."
"Kamu pulang sendiri kah?" tanya Hitoka pada Nadya.
"Ya iyalah, aku pulang sendiri. Memang aku mau sama siapa?" jawab Nadya ketus.
"Lah bukannya lo kemarin di jemput sama cemceman lo kan?"
"Cemceman?" tanya Nadya bingung.
"Itu loh yang cowok keren kemarin yang jemput lo.." sahut Ritsuka.
DEG.
Ah. Sato maksudnya?
"O-Oohh... Yang kemarin? M-Mungkin dia lagi sibuk... Hahahaha.." jawab Nadya sambil tertawa garing.
"Yakin?"
"Dia ganteng juga loh.."
Nadya yang mendengar kedua temannya itu berkomentar tentang Sato hanya bisa menghela nafasnya kasar sambil menepuk keningnya beberapa kali.
"Kalian naksir dia?" tanya Nadya spontan.
"Lah? Emangnya lo gak naksir dia?"
JLEB.
Lagi-lagi pertanyaan Nadya menjadi boomerang buat dirinya sendiri. Ritsuka melempar pertanyaan yang sama kepadanya itu membuat Nadya langsung terdiam.
"Dia ganteng loh, NaaChan.. Masa kamu gak naksir dia sih? Aneh deh.." jawab Hitoka membenarkan perkataan Ritsuka.
"A-Aku... A-Aku sama dia... C-Cuman teman..." jawab Nadya gugup.
Tanpa sadar wajah Nadya memerah seperti kepiting rebus. Ritsuka dan Hitoka saling bertatapan dan sudah paham dengan kondisinya saat ini.
"Ya ya.. Lo gak naksir, tapi yakin gak mau buka hati sama dia?"
DEG!
Nadya benar-benar sangat malu sekali saat mendengar perkataan Ritsuka yang terlalu blak-blakan.
"I-Iiihh stoopp!! Kalian kenapa ngomong begitu? Please jangan bahas itu..." jawab Nadya gugup.
"NaaChan... Wajah kamu merah banget loh.." tegur Hitoka jahil.
"AAAAA STOOPPP JANGAN LEDEKIN AKU!!!!"
...🍁🍁🍁...
"Ya elah hujan lagi..."
"Ya biarin lah, bagus malah.."
"Wedus... Apanya yang bagus? Hari ini bawa motor gua tuh.."
"Lah mobil lo?"
"Ke bengkel..."
"Mau gua anterin?"
"Lah motor gua gimana... Dasar kambing..."
Bukan Sato dan Hiiragi namanya kalau tidak ribut sehari saja. Mereka berdua saat ini sedang berada di ruang kerja mereka sambil merapikan beberapa berkas dan dokumen penting perusahaan.
"Eh nanti gua pulang cepet ya.. Ada urusan gua.." kata Sato sambil menutup sebuah map berwarna biru yang baru saja ia tanda tangan.
"Nah kan tinggalin gua aja terus dah lo.. Mau kemana lagi?" keluh Bagas.
"Biasa gua ada latihan band dulu.."
"Ya gua sekalian mau jemput orang..."
CLING🌟
Tiba-tiba saja Hiiragi langsung bangkit dari duduknya lalu berpindah tempat ke bangku yang ada di hadapannya Sato.
"Nah... Mau jemput siapa lo?" tanya Hiiragi intens.
"Ngapain sih lo tiba-tiba begitu? Jadi takut gua.." jawab Sato bergidik ngeri.
"Ya lo mau jemput siapa... Cewek nih pasti..." kata Hiiragi.
Sato hanya melirik kearah sahabatnya itu sambil mengangguk.
GUBRAK!
"NAH KAN!!!!"
"Bisa gak sih lo jangan begitu? Gua kaget dong.." balas Sato sambil mengelus-elus dadanya.
"Gua udah duga nih... Pasti lo jemput cewek... Dari kemarin lo buru-buru soalnya.. Gua jadi curiga..."
"Halah... Gak mau banget lihat gua seneng sih lo.. Ya kali gua mau sedih terus terus gak bisa move on.." jawab Sato santai.
Benar apa yang dikatakan Sato. Berlarut dalam masa lalu hanya membuatnya sakit. Lebih baik move on, lebih cepat lebih bagus.
"Ya bener sih.. Gak ada sala—"
TOK. TOK. TOK.
Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu di ruangan mereka. Awalnya Sato dan Hiiragi saling bertatapan satu sama lain.
"Masuk!"
Kreeett~
Pintu terbuka lebar dan berdirilah sosok gadis cantik dengan berambut panjang menggunakan pakaian cukup ketat dengan rok span rapi. Hiiragi membulatkan matanya saat melihat sosok itu, sedangkan Sato hanya menatapnya malas dan membuang matanya kearah lain.
"Yu-Yuri???!!"
Gadis itu hanya melambaikan tangannya dengan senyuman manis di bibirnya.
"H-Halo.. Apakah aku menganggu kalian?" kata Yuri malu-malu.
"T-Tidak, tidak sama sekali. Tapi ada apa ya?" tanya Hiiragi.
"Aku ingin berbicara berdua dengan Sato, apakah boleh?" tanya Yuri gugup.
"Sorry.."
Sato akhirnya angkat bicara dan mulai merapikan barang-barangnya.
"Gua ada urusan.. Jadi gua gak ada waktu.."
Saat Sato berkata begitu, tiba-tiba saja Yuri berlari mendekat kearah Sato dan langsung menahan lengan laki-laki itu.
"Sato.. Aku mohon jangan pergi dulu..." ucap Yuri.
"Apaan lagi sih? Kita kan udah putus mau ngapain lagi?" tanya Sato jutek.
Hiiragi yang mulai mengetahui kondisinya makin kurang kondusif, langsung bergegas pergi dari ruangan dan menutup pintunya perlahan. Entah seperti apa nantinya Hiiragi hanya berharap semuanya nanti akan baik-baik saja.
'Gua gak tahu apa yang mau mereka omongin tapi mudah-mudahan gak ada apa-apa..'
Sedangkan di dalam ruangan hanya ada Sato dan juga Yuri. Sato dengan cepat melepas pegangan tangan Yuri secara paksa.
"Gak usah pegang-pegang, sekarang langsung aja ke intinya ada apaan..." kata Sato ketus.
Sato benar-benar menjadi sosok yang berbeda saat berada di depan gadis itu, gadis yang sudah menyuruhnya untuk mengakhiri semuanya.
"Sato... Aku tahu ini agak kurang ajar tapi.. aku ingin kamu kembali sama aku lagi.."
"Hah???"
"Balik? Sama lo lagi??? Buahahaha..."
Sato yang mendengar ucapan gadis itu hanya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha aduh duh... Jangan bikin gua ketawa ngakak dah... bahahahaha..."
"Kenapa? Kok malah ketawa?"
"Ya kocak aja gitu... Lo tiba-tiba malah ngomong begitu ke gua.. Bukannya kemarin lo yang putusin gua?" tanya Sato sambil bertolak pinggang menghadap gadis itu dengan seringaian nakalnya.
Yuri yang melihat tingkah Sato menjadi sedikit merasakan kengerian.
"Y-Ya... Kemarin memang aku yang putusin, tapi sekarang aku sadar... A-Aku masih butuh kamu, Sato... T-Tolong.. Ayo kita balikan..." kata gadis itu sambil memohon.
Sato yang awalnya tersenyum dan tertawa entah mengapa raut wajahnya berubah seketika saat mendengar gadis itu ingin balikan dengannya.
"Yakin?"
"Hah?"
"Yakin lo mau balikan sama gua?" tanya Sato.
Yuri dengan cepat menganggukkan kepalanya semangat.
"Tapi sayang..."
"Eh? Kenapa?"
"Gua udah move on dari lo..." jawab Sato terang-terangan.
"Heh?? K-Kenapa... Kenapa bisa??" tanya Yuri yang seolah-olah tak percaya.
Yuri sangat tahu sekali kalau Sato adalah tipe laki-laki yang sangat bucin kalau sudah cinta dengan satu gadis. Tapi dia tidak menyangka kalah laki-laki itu akan cepat move on darinya padahal baru mau masuk dua minggu setelah mereka putus.
"Ya karena gua udah sadar kalau cewek ya bukan lo doang..."
"T-Tapi... K-Kenapa... Kenapa cepat sekali?" tanya gadis itu lagi yang masih bingung tak menentu.
"Ya karena memang gua sadar kalau cewek bukan lo doang dan masih banyak kok cewek yang mungkin mau menghargai gua..."
"Haahhh?"
"Karena gua sadar pas kejadian itu...."
Kata-kata yang diucapkan gadis itu...
Perasaan berkecambuk itu..
"Kau pikir kau ini siapa melarang ku seenaknya?"
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Sato. Please lepaskan aku dengan yang lain. Aku mencintai lelaki lain. "
"Kau ingin tahu alasannya mengapa aku lebih memilih lelaki lain dibanding kamu?"
"Aku sudah bosan denganmu, Sato. Aku sudah tidak cinta lagi padamu. Kau terlalu cuek, kau sama sekali tidak memperhatikan aku, membiarkanku begitu saja. Ku pikir kau memang sudah tidak cinta lagi kan seperti yang aku rasakan?"
"Sudah cukup, Sato!!"
"Aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mulutmu itu. Izinkan aku pergi sekarang dan aku ingin kita putus."
"Good bye, Sato. I'm so sorry..."
Sato mengingat semua kata-kata yang di lontarkan gadis itu saat akan memutuskan hubungannya begitu saja. Alasan yang sangat tidak masuk di akal dan keputusan yang berat sebelah.
Sakit.
Itu yang di rasakan laki-laki itu.
"Disaat kejadian itu gua sadar... Kalo gua bukan yang terbaik buat lo. Dan lo... bisa cari cowok yang lebih baik dari gua..."
Sato melangkah pergi begitu saja meninggalkan gadis itu sendirian di ruangan. Terlihat sedih dan juga kesal bercampur menjadi satu di wajah gadis itu. Sedangkan Sato hanya bisa diam sambil mengingat lagi kejadian itu bersamaan dengan datangnya gadis yang memberikannya kehangatan.
"Kamu gapapa?"
"Jangan hujan-hujanan begini, nanti kamu sakit gimana? Mau cari tempat berteduh?"
"Ayo kita kesana mungkin kamu ingin berteduh dulu sejenak.."
"Ya gak ada hubungannya sama sekali sih.. Tapi coba deh sesekali jadi payung.."
"Karena payung... walaupun di serang sama rintikan hujan yang datangnya beratus-ratus kali atau bahkan beribu-ribu kali, dia masih bisa melindungi siapapun orang yang ada di baliknya.."
"Kita harus kuat apapun segala cobaan dan rintangannya demi menjadi keutuhan hati kita sendiri... Dengan begitu, kita masih bisa bertahan di tempat yang sama walaupun itu menyakitkan."
'Gadis itu.. udah hadir di kehidupan gua disaat gua terpuruk... gak ada salahnya gua buka hati buat dia kan?'
...✨✨✨...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments