11 : Belajar Move On

"NaaChan, kemarin kamu pulang gapapa kan?"

"Maksudnya?"

"Iya maksudku kan kemarin hujan, kamu pulangnya gapapa kan? Gak kehujanan?"

"Engga kok, kan aku berteduh dulu sebentar di lorong kampus."

Hitoka adalah sahabat yang perhatian, walaupun dia tipe gadis penakut tapi sisi perhatiannya membuat Nadya dan juga Ritsuka betah dengannya.

"Terus lo kemaren pulang sama siapa?" tanya Ritsuka to the point.

Nadya yang mendengar pertanyaan Ritsuka seketika ekspresi wajahnya sulit di artikan. Memalingkan wajahnya yang sedikit memerah. Oh sayangnya Ritsuka sangatlah peka dengan respon itu.

"H-Hmm... A-Anoo... S-Sama... Sato.." jawab Nadya gugup.

Ritsuka dan Hitoka saling menatap satu sama lain dan tersenyum jahil.

"Oi.. Lo kenapa jadi malu begitu?" tanya Ritsuka blak-blakan.

"Eh??? Eh ah hmm... E-Engga kok sumpah gapapa asli deh..." kata Nadya sambil menutup wajahnya dangan kedua telapak tangannya.

'Ketahuan banget malunya tahu...' gumam Ritsuka dan Hitoka bebarengan.

"Gua lihat-lihat lo udah akrab kayaknya sama dia..." kata Ritsuka.

Nadya yang mendengar sahabatnya bicara begitu hanya bisa kembali menahan malu dan membuang wajahnya kearah lain tanpa menjawab pertanyaannya.

"Lo pantes kok sama dia..."

"Eh?"

Dia sangat terkejut mendengar Ritsuka berbicara seperti itu. Hitoka pun menganggukkan kepalanya bersemangat seolah-olah dia setuju dengan perkataan Ritsuka.

"Kamu pantes kok sama dia.. Ku pikir gak ada salahnya kalian kenal satu sama lain.." kata Hitoka sambil tersenyum.

Hanya sebuah senyuman lebar yang dibalas oleh Nadya. Menundukkan kepalanya malu dan memikirkan dirinya yang tidak sempurna.

"Aku ini harus bisa memantaskan diri lagi... Itu benar kan?" kata gadis itu sambil tersenyum tipis.

Ritsuka dan Hitoka hanya saling menatap satu sama lain saat mendengarkan ucapan dari gadis itu.

"Memantaskan diri sambil membuka hati tidak salah kan?"

"Ya memang agak egois kalau gua minta lo buat move on secepatnya tapi ini demi kebaikan lo kok.."

Nadya kembali tertunduk mendengar perkataan dia sahabatnya itu. Jujur saja, untuk bisa langsung move on itu benar-benar sulit bagi Nadya. Entah kenapa rasa cintanya itu begitu sangat dalam sampai dia susah sekali move on walaupun hanya sesaat.

"Kita gak akan maksa kamu buat harus cepet lupain dia kok, NaaChan.. Tapi setidaknya yuk belajar buka hati lagi.. Laki-laki itu gak semuanya kayak Yuki kok.." kata Hitoka meluruskan.

Lagi-lagi Nadya tertampar dengan kata-kata Hitoka. Dia sudah di sakiti berkali-kali, diberlakukan kasar secara fisik dan juga mental oleh laki-laki sialan itu, seharusnya mudah untuk bisa melupakan laki-laki itu.

'Tapi.. Apa aku yang kayak gini bisa apa? Aku gak berbuat apa-apa semenjak kejadian itu... Bahkan aku takut sampai sekarang...'

...🍁🍁🍁...

JREEENGGGG~~

Suara petikan gitar, basa dan diiringi dengan pukulan drum begitu sangat bergema di ruangan itu. Saat ini Sato sedang latihan band bersama anggotanya yang lain. Mengingat sebentar lagi akan debut, jadi band nya mati-matian latihan untuk menampilkan pertunjukan menarik saat berada di atas panggung nanti.

"Oi Sato!"

"Hmm?"

"Gimana sama lagu barunya? Udah ketemu nadanya?" tanya seseorang yang memegang sebuah gitar berjalan kearahnya dengan wajahnya yang terlihat dingin dan sangat cuek, Uenoyama.

"Hmm.. Bentar lagi sih jadi, nanti gua kasih rekamannya." jawab Sato sambil mengelap sedikit gitar Gibson miliknya.

"Yosh!! Jadi semangat gua!! Bahannya juga gua udah siapin, dan gua udah konfirmasi kebagian penyelenggara acara buat atur jadwal kapan kita tampil di publik sekaligus nanti untuk debut juga.." kata sangat bassist yang bernama Nakayama.

Baik Sato dan juga Uenoyama yang mendengar hal itu terlihat begitu tampak semringah di wajahnya. Padahal mereka sudah menginjak umur 28 tahun tapi tingkah tetap saja masih seperti Anak-anak.

"Yosh~ Gua cuman tinggal ikutin nada kalian aja, karena gua pastinya bisa ikutin alur~" sahut sang drummer dengan ke perawakannya yang sedikit barbar, Akihiko namanya.

"Oke deh, jadi lusa kita latihan lagi sekaligus latihan buat bikin not nadanya ya?"

"YOSH!!!!"

Setelah bercakap-cakap dengan satu band mengenai pertunjukan konser dan juga debut, Sato dan Uenoyama pun pulang bersama seperti biasanya, sedangkan Nakayama dan Akihiko mereka pergi bersama karena sedang menyelesaikan studi S3 nya.

Sato dan Uenoyama menyempatkan waktu mereka berdua untuk duduk di sebuah halte sambil menunggu bis yang akan datang selanjutnya. Karena Sato hari ini tidak membawa kendaraan miliknya, makanya dia naik bis.

Sambil sesekali menenggak minuman kaleng matcha nya, Sato melihat ke kiri ke kanan dengan was was karena takut bisnya terlewat.

"Oi Sato..."

Dengan reflek Sato menoleh kearah Uenoyama sambil menenggak minumannya.

"Gua denger lo putus sama Yuri, itu beneran?" tanyanya to the point.

DEG!

Hampir saja Sato tersedak minumannya sendiri setelah mendengar omongan Uenoyama itu.

'Sial.. Ini anak gak ada basa-basinya amat sih... Kenapa langsung nanya begitu? Untung gua kagak mati keselek..' gerutu Sato dalam hati.

"Iya, gua sama dia udah putus. Ya biasalah, dia udah punya pacar lagi selain gua. Dan gua pertahanin pun, dia tetep milih selingkuhannya. Yaudah gua nyerah.." jawab Sato panjang lebar.

Uenoyama tampak sedikit terkejut mendengarkan hal itu.

"Hah? Gimana? Tumben banget lo nyerah gitu aja pas dia minta putus, biasanya kekeuh banget gak mau putus.." kata Uenoyama memastikan.

Sato tertunduk sesaat lalu menghela nafasnya kasar.

"Ya mungkin gua sedikit tersadar kali ya kalo pertahanin hubungan yang udah rusak cuman sia-sia aja.." sahut Sato pasrah.

Uenoyama sebenarnya tahu kalau Sato masih ada rasa sayang dengan mantan pacarnya itu, Yuri. Tapi di sisi lain Uenoyama terlihat sedikit bangga karena temannya ini akhirnya tersadar dan memilih keputusan yang tepat.

"Yaudah gua dukung dah kalo begitu, tapi sekarang gimana? Lo uring-uringan gak semenjak putus sama dia?" tanya Uenoyama lagi.

Sato dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Justru gua malah nyaman begini."

"Kenapa emang?" tanya Uenoyama penasaran.

"Karena..."

Sato lagi-lagi mengingat senyuman manis gadis itu, wajah kesalnya, bibir manyunnya, pelukannya pada saat itu. Bahkan tanpa sadar wajah Sato memerah dan itu membuat Uenoyama terkejut melihat reaksi temannya.

"Karena udah ada yang lebih dan jauh mengerti dan tahu kondisi gua..."

......🍁🍁🍁......

"Silakan minumannya, Tuan.."

"Terima kasih, Nona.."

Sebuah ruangan yang begitu ramai dan pencahayaan yang sedikit remang, di ikuti dengan suara musik Jazz klasik yang terdengar di telinga. Nadya saat ini berada di tempat kerjanya di salah satu bar yang tak jauh dari pusat kota.

Meskipun bekerja di bar, tapi bar itu masih cukup tergolong bar umum yang bisa di masuki oleh siswa menengah atas hingga orang-orang yang bekerja. Ditambah privasi untuk masalah yang ada didalam bar itu benar-benar sangat ketat penjagaannya.

"Apa ada lagi minuman yang harus di antar, Kapten?" tanya Nadya kepada seseorang yang sedang mengelap dengan telaten gelas-gelas dan juga botol-botol wine yang tertata disana.

"Tidak ada, hari ini cukup ramai dan kamu bekerja dengan sangat baik seperti biasanya, Terima kasih NaaChan~" jawab sangat Kapten yang lain dan tak bukan itu adalah bartender di bar itu.

"Dan 15 menit lagi bar akan tutup, jadi lebih baik kau bersiap untuk pulang ya~"

Nadya yang mendengar hal itu tentu saja semringah. Nadya menganggukkan kepalanya dan berlari kecil ke arah pantry untuk segera melakukan closing bar. Namun tiba-tiba saja langkah Nadya terhenti saat mendengar sebuah pintu masuk terbuka lebar dan mendapati seorang perempuan dan juga laki-laki yang membuat Nadya langsung terkejutnya bukan main. Nadya yang tadinya terpaku melihat dua orang itu, langsung seketika sadar dan berlari ke arah pantry dengan tergesa-gesa.

BRAK!

Di banting pintu pantry dengan keras oleh Nadya yang tampak terengah-engah. Anehnya, tiba-tiba saja tangannya mengalami tremor luar biasa dan langsung menangis sejadi-jadinya tanpa suara.

Sedangkan di luar, si Kapten alias bartender melayani dua orang itu dengan ramah. Walaupun sudah bar sudah mau tutup tapi jika ada pelanggan harus di layani dengan baik.

"Silakan Tuan, Nona, wine kalian.." tegur si Kapten.

Dua orang itu langsung mengambil wine yang di suguhi bartender dan meminumnya dengan lahap.

"AAAHHHHH... NIKMATNYA..."

"Aku gak menyangka akan bertemu denganmu di sini, kak.."

"Ya aku memang disini sudah setahun yang lalu semenjak disuruh dengan bekas pacarku itu.." jawab laki-laki itu dengan sarkas.

"Heehh.. Kau putus dengannya?"

Sambil meneguk tetesan wine terakhir miliknya, laki-laki itu tersenyum menyeringai.

"Ya jelaslah, aku putusin dia. Dia sudah tidak enak lagi, bahkan ketika aku melakukan yang ketiga kalinya, dia malah berontak dan meminta ampun untuk gak mau ngelakuin hal itu. Dasar cewek munafik emang." jawab laki-laki itu kesal.

Si perempuan yang mendengar perkataan laki-laki itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menenggak wine miliknya yang masih banyak.

"Hahahaha yang penting kan udah jebol... Jadi yaudah slow aja sih kak tinggal cari aja cewek lagi yang lain, masih banyak ini.." sahut perempuan itu.

"Hahahahaha yoi lah, ngapain pake yang bekas kalo emang masih banyak yang lebih oke.."

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!