2 : Saya Disini..

Di sebuah gedung nan gagah dan mewah, beramai-ramai orang berkeliaran kesana kemari, kehidupan hiruk pikuk di kota besar memang tidaklah mudah. Itulah yang dirasakan lelaki cuek dan tampan seperti Sato Mafuyu. Lelaki itu menjalani kehidupannya sebagai direktur utama di salah satu perusahaan ternama di kota Shibuya. Walaupun terlihat masih muda, Sato selalu berusaha berwibawa di depan semua orang, termasuk di kantor. Dia juga termasuk vokalis band yang cukup populer disaat itu.

Pagi hari ini, Sato harus bekerja seperti biasanya. Datang ke kantor lebih awal itu adalah bukan kebiasaan Sato.

"Whats up bro? Tumben datengnya pagi banget nih.."

"...."

"Lah lah kenapa ini?" tanya seorang temannya yang bernama Hiiragi.

"Udah ah berisik pagi-pagi nanya mulu kayak tamu.." kata Sato sebal sambil merebahkan dirinya di meja kerjanya.

Hiiragi adalah asisten direktur di perusahaan tersebut, sekaligus menjadi sahabat Sato sejak zaman sekolah.

"Ada apa sih? Cerita-ceritalah sama gua. Kali aja gua bisa bantu gitu." kata Hiiragi sambil menawarkan minuman kaleng kepada Sato.

Sato hanya melirik minuman kaleng itu lalu menutup seluruh wajahnya dengan lengan kelar miliknya.

"Gua di putusin.."

"Hah?"

"Gua di putusin oi!! Gua di putusin!!" seru Sato

"Pfftt... Lah kok bisa? hahaha.."

Bukannya ikut bersedih, Hiiragi malah meledek nya dan menertawainya.

"Dasar temen laknat lo ya malah ketawain gua lagi..." ketus Sato.

"Hahaha sorry sorry gak bermaksud begitu gua... Tapi maksud gua kok bisa sih? Alesannya apaan?" tanya Hiiragi penasaran.

Sato langsung memasang wajah cemberut sambil menompang dagunya malas.

"Dia udah gak cinta lagi sama gua, makanya dia cari laki-laki yang lain.." jawab Sato dengan suara yang sedikit lemas.

Terkejut Hiiragi mendengarkan hal itu tentunya. Sejatinya Sato adalah salah satu laki-laki yang tertampan dan mapan. Banyak juga yang menyukainya, tapi kisah cintanya selalu berakhir seperti ini.

"Yaudah bro belum jodoh kali..." kata Hiiragi sambil menepuk-nepuk baju Sato dengan tujuan memberikannya support.

"Ya... Berarti gua jagain jodoh orang selama ini gitu?" ceteluk Sato.

Hiiragi ingin menahan tawa mendengar celetukan polos dari sahabatnya itu. Tapi gagal.

"Pfftt ya mungkin bisa di bilang lo cuman jagain jodoh orang.. Sekaligus ngasih makan jodoh orang.. Hahahaha..." kata Hiiragi sambil tertawa.

Sato kembali cemberut mendengar ledekan Hiiragi itu. Tapi anehnya...

Biasanya Sato akan sangat sedih atau tak jarang dia menangis jika di putusin oleh pacarnya. Sudah 3 kali dia merasakan seperti ini, tapi baru kali ini dia merasakan seperti biasa saja. Bahkan sedihnya hanya sesaat.

'Kok aneh ya.. Kenapa bisa-bisanya gua biasa banget kayak gini...'

"Kamu gapapa?"

'Gadis itu....'

"Kamu harus kuat...."

'Kenapa....'

"... mau sesakit apapun..."

'..Kenapa bisa tahu apa yang gua rasain kemarin?'

Gadis itu benar-benar membuat Sato terfokus. Bahkan kata-katanya pun masih melekat sekali di pikiran Sato.

'Gua... Gua penasaran banget sama dia..'

"Woi! Nah kan dia malah bengong.."

Seperti tersadar dari lamunannya, Sato langsung salah tingkah dan buru-buru bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi.

"Bentar bentar gue ke toilet dulu..."

BRAK!

Terdengar sedikit dibanting pintu kamar mandi cukup keras. Hiiragi tentunya merasa aneh dengan sahabatnya itu.

"Bocah aneh dasar... Kagak jelas.."

...🍁🍁🍁...

"NaaChan, mau pulang bareng?"

"Hmm? Eh enggak dulu ya Ritsuka-chan, aku lagi mau ketemuan sama—"

"Sama si sialan itu?"

"Eh?"

"NaaChan, mau sampe kapan sih kamu berharap sama dia terus? Mau sampe kapan??"

"Tapi Ritsuka-chan, aku tuh—"

"Masih cinta??"

"Ya, aku masih cinta sama dia, maksudku aku mau tahu aja kejelasannya."

"Kejelasan apaan lagi sih? Dia itu udah selingkuhin kamu, NaaChan. Dan kamu masih aja harepin dia?!"

Kelas jam kuliah sudah selesai, Nadya kali ini akan bertemu dengan—kekasihnya, Yuki. Namun selalu saja di cekal oleh kedua temannya, Ritsuka dan juga Hitoka.

"Tolong... Aku mau ketemu sama dia kali ini aja, habis itu aku bakalan turutin kemauan kalian deh.. Yah yah yah? Please..." katanya sambil memohon kepada dua temannya itu.

Ritsuka dan Hitoka hanya saling menatap satu sama lain, seperti heran tak habis pikir dengan Nadya yang masih saja mempertahankan hubungannya dengan lelaki bernama Yuki itu.

"Haaahh.. Susah emang orang keras kepala kayak kamu, NaaChan.." kata Ritsuka sambil menghela nafasnya kasar.

"Yaudah kamu boleh ketemu dia tapi inget langsung hubungin kita kalo ada apa-apa.." kata Hitoka khawatir.

"Siap bos Ritsuka-chan, Hito-chan!! Laksanakan!!!" kata Nadya bersemangat.

Senyuman lebar selalu terukir dari bibir manisnya. Tapi yang Ritsuka dan Hitoka lihat bukanlah itu, melainkan sakit hati, kepedihan yang amat sangat dalam yang dideritanya. Percintaan yang amat toxic membuatnya menjadi korban.

......🍁🍁🍁......

TIK. TIK. TIK.

"Hujan lagi??"

"Lo gak pulang?"

"Gua mau jalan-jalan dulu nanti.."

"Jalan-jalan gigimu gendut, hujan begini mau jalan-jalan wong edan.."

"Bodo amat, udah sana pulang bawel banget kayak nyai-nyai.."

Pertengkaran kecil selalu menyelimuti kedua lelaki itu. Mau di manapun mereka, selalu saja ada pertengkaran walaupun hanya sebuah candaan kecil.

Hiiragi memutuskan untuk pergi dari tempat kerjanya begitu saja mengingat hujan yang tidak terlalu deras. Hanya bermodalkan jas hitam miliknya, dia pun berlari keluar dari tempat kerjanya.

"Mana mana mana halte... mana halte.... Ah! Itu!"

Sambil mencari tempat berteduh yang nyaman untuknya, Sato pun singgah sebentar di sebuah halte yang tak jauh dari kantornya.

"Kenapa hujan terus sih? Lama-lama bisa sakit gua.." keluh Sato sambil membersihkan jas kerjanya yang basah sedikit.

Hujannya tidak terlalu deras, melainkan hanyalah gerimis manja. Sesekali Sato menatap kearah langit yang sudah mulai gelap berganti menjadi malam. Lagi-lagi Sato teringat dengan si gadis pawang hujan kemarin.

"... Ayo kita berteduh..."

"Hmm... "

"Kalo ketemu lagi sama itu cewek, gua cubit pipinya." kata Sato sambil tersenyum sendiri mengingat wajah gadis itu.

"DASAR CEWEK MURAHAN!!!!"

Sato dikejutkan dengan suara seseorang yang begitu keras dan terdengar sangat tidak enak untuk di dengar. Kata-kata kasarnya sangat bergema di telinga Sato.

"TAHU DIRI DONG TOLOL!!"

Tentu saja Sato sangat risih mendengarnya, bukan hanya Sato tapi orang-orang yang berteduh di halte pun juga merasa risih dengan hal itu. Sato menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Ada sepasang laki-laki dan perempuan di pinggir jalan sedang berkelahi hebat. Dengan perilaku laki-laki yang tidak senonoh itu membuat Sato sangat geram. Tapi dia bisa apa? Dia tidak berhak ikut campur.

"Cowok apaan sih begitu? Mulutnya gak di sekolahin kayaknya, beraninya sama cewek. Sialan banget sih." keluh Sato kesal.

Kejadian itu terus saja berlanjut sampai Sato menyadari sesuatu saat lelaki itu mendorong tubuh sang gadis hingga terjatuh.

Sato benar-benar di buat terkejut. Gadis itu adalah Nadya.

"Eh? Itu kan... Si pawang hujan? Loh Kok??"

......🍁🍁🍁......

"DASAR CEWEK MURAHAN!!!"

"Aku mohon kasih aku kesempatan... Aku ingin tahu dimana letak kesalahanku... Sampai kau tega menduakan ak—"

"BERISIK!!! JANGAN BANYAK BACOT!!! LO ITU UDAH JELEK!! GUA UDAH GAK SUKA LAGI SAMA LO!!"

"M-Maaf... M-Maafin aku.."

"Aku ini ngelakuin ini itu buat kamu, Yuki.. Kenapa kamu giniin ak—"

"Lo masih ngarepin gua?? LO MASIH NGAREPIN GUE??"

"TAHU DIRI DONG TOLOL!!!"

BRUK!

Di dorong nya tubuh gadis itu hingga terjatuh. Pertengkaran hebat terjadi begitu saja sejak awal pertemuan.

"Gua jijik sama lo, mending lo pergi jangan sampe gua pake kekerasan.." kata laki-laki yang bernama Yuki itu.

Ya, dia adalah kekasih dari Nadya.

Nadya berusaha bangkit tanpa peduli orang-orang di sekitar melihatnya. Sambil menatap dengan wajah raut wajah yang sangat menyedihkan, terbesit kemarahan yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.

"DASAR COWOK GAK BERGUNA!!"

"COWOK BAJINGAN!!!"

Teriakannya benar-benar langsung membuat dada gadis itu sesak.

"Apa lo bilang??? Lo bilang apa???"

"Kamu cowok bajin—"

"BERANI-BERANINYA MULUT LO CEWEK SIALA—"

"Hiks... Hiks... Hiks... "

Hujan turun dengan deras, petir saling menyambar satu sama lain. Kini Nadya hanya bisa menangis sejadi-jadinya, seperti pasrah di perlakukan kasar oleh lelaki itu, Nadya hanya membuang wajahnya takut.

"Lo berani sentuh dia, gua pastiin tangan lo patah detik ini juga, sialan."

Tiba-tiba terdengar suara asing yang masuk diantara mereka berdua. Gadis itu berusaha membuka matanya dan melihat apa yang terjadi didepannya. Tangan kekasihnya yang hendak ingin melayangkan sebuah tamparan di tahan oleh tangan orang lain.

Nadya bingung, sambil menangis sesenggukan dia menoleh kebelakang untuk melihat siapa sang empunya tangan itu. Betapa terkejutnya Nadya, melihat Sato berada di belakangnya saat ini.

"K-Kamu..."

Sato hanya terdiam sambil menahan tangan laki-laki itu sambil memerasnya sesekali.

"Lo beraninya sama cewek, cowok pengecut!" teriak Sato keras.

Tanpa berpikir panjang, laki-laki yang bernama Yuki itu langsung menarik tangannya kembali sambil menunjuk kearah Sato.

"Jadi lo selingkuhannya Nadya? Heh... Ceweknya murahan, cowoknya sok jag—AAAKKKHHH!!!"

DUAG!

Sebuah pukulan melayang tepat di wajahnya Yuki. Laki-laki itu tersungkur di tempat.

"Sampe kapanpun... sampe kapanpun... Gua gak akan nyerahin dia ke siapapun, termasuk ke lo! Paham?!?"

Laki-laki itu hanya terdiam sambil mendecakkan lidahnya sambil berlalu pergi. Sedangkan Nadya, dia hanya menundukkan kepalanya dengan diam membisu.

Sato yang melihat kondisinya seperti itu, perlahan-lahan membalikkan tubuh Nadya hingga berhadapan dengan dirinya.

Raut wajah Sato begitu sulit diartikan, terlihat gadis di hadapannya saat ini benar-benar dalam kondisi yang sangat buruk.

Sato mendorong pelan kepala gadis itu dan mendekapnya perlahan hingga jatuh di pelukan. Tak peduli soal hujan yang deras, tak peduli apapun penglihatan orang-orang di sekitarnya. Sato hanya ingin memeluk gadis itu lebih lama.

"Saya tahu.."

"...."

"Saya tahu kamu lagi gak baik-baik aja..."

"...."

"Please... Jangan di tahan-tahan..."

"...."

"Saya... bakalan ada disini buat kamu..."

".... Hiks... "

"Iya..."

"Hiks... Hiks..."

"Iya saya paham..."

"AAARRRRGGHHH AAAHHHHHHH.... GAAAHHHHHH...."

Mendengar jeritan gadis itu tanpa sengaja Sato memeluknya begitu erat dan merasakan pukulan yang sangat amat dashyat dari hati gadis itu. Tanpa sadar juga Sato meneteskan air mata.

Hujan menjadi saksi, betapa menyakitkan mempertahankan hubungan yang seharusnya tidak perlu di tahan lagi. Pergi adalah solusi, agar keadaan hati kembali membaik.

...✨✨✨...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!